
Next..
Riko sudah tiba di Korea, tempat yang pertama kali dia tuju adalah penginapan teman mamanya, Riko menginap disana selama 1 malam.
Setelah Ajhumma itu menyapa Riko, Riko pun berjalan-jalan di sekitar rumah itu. Riko berjalan menuju kamar mandi, dan mengingat saat Citra sangat terkejut melihat Riko telanjang di kamar mandi, adegan itu sangat tergambar jelas di ingatan Riko. Setelah itu dia kembali berjalan menuju dapur dan mengingat senyuman Citra saat dia mengajak Citra untuk mencari makanan yang lebih enak. Mengingat hal itu Riko tersenyum tapi matanya berkaca-kaca, karna dia sangat merindukan Citra.
Riko kemudian berjalan-jalan di tempat-tempat yang pernah dia datangi dengan Citra, yaitu di jembatan tempat dimana Riko pernah mengerjai Citra dengan hal-hal yang tidak masuk akal, mengingat hal itu membuat Riko tersenyum, dia kemudian mencoba membuang koin kedalam wadah itu dan masuk.
Tiba-tiba ponselnya berdering tanda notif pesan masuk, dia pun membuka ponselnya dan mengeceknya, ternyata itu adalah notif pesan yang masuk ke E-mailnya, setelah dia melihat dan membacanya, Seketika senyuman lebar terlukis di bibir Riko, Riko sangat bahagia, saking bahagianya dia bahkan melompat-lompat kegirangan lalu kemudian memeluk seorang ajhumma yang berada di sampingnya. Ahjumma itu sempat terkejut dengan perlakuan Riko, tapi dia kemudian ikut melompat-lompat bersama Riko karna kesenangan Riko menular.
"Thank you, thank you." ucap Riko melepaskan pelukannya, ajhumma itu hanya mengangguk pasrah dan ikut senang. Kemudian Rikopun meninggalkan tempat itu sambil bersorak ria karena suasana hatinya sangat bahagia.
Skip..
Berita yang diterima oleh Riko tadi, juga diterima oleh Romi, Romi juga sangat senang dengan pesan itu. Dan Romi sangat bangga dengan Riko.
Pemberitahuan yang masuk ke dalam E-Mail Riko adalah Riko berhasil menjalin kerja sama dengan Investor terbesar dari Jerman itu. Investor itu ingin bekerja sama dengan perusahaan Riko, itu yang membuat Riko sangat senang.
Berita tentang keberhasilan Riko menjalin kerja sama dengan investor itu sampai ke telinga orang tua Riko, begitupun dengan saingan bisnis Riko. Terutama Alex sepupu sekaligus saingan bisnis Riko.
Saingan Riko semakin iri dengan keberhasilan Riko yang bisa mengajak bekerja sama investor yang dikenal akan memberikan keuntungan yang sangat besar bagi perusahaan, tetapi juga sangat sulit untuk di yakinkan, bagaimana Riko bisa meyakinkan investor itu. Pikir saingan bisnis Riko. Dan mereka juga mengakui kehebatan Riko.
Terlihat Alex juga sangat kesal setelah menerima telfon dari asisten pribadinya yang mengatakan bahwa mereka telah kalah, dia tidak bisa menahan amarahnya kemudian dia membanting ponselnya ke Lantai.
"Sial." gerutunya kesal.
Skipp..
Orang tua Citra sedang tidak ada di rumah, Citra tidak mengetahui mereka kemana, tadi mamanya sempat memberitahukan Citra, tapi Citra tidak begitu perduli dengan perkataan mamanya.
__ADS_1
Hari sudah malam, tiba-tiba Citra merasa sangat lapar, diapun melangkahkan kakinya menuju dapur, sampai dapur Citra kemudian makan, sambil memikirkan Riko.
"Apa sekarang kak Riko sudah makan." batin Citra lalu kembali meneteskan air mata, Dia tidak mengerti dengan kelakuan orang tua mereka, Citra merasa sangat putus asa dengan perlakuan orang tua mereka.
Kenapa tiba-tiba papanya mengatakan bahwa Riko itu sangat brengsek, Riko bukan laki-laki yang baik. memikirkan itu membuat Citra menangis hingga sesegukan, nafsu makannya hilang diapun melemparkan sendok di segala arah, hingga mengenai lemari kaca yang ada di dapur, kaca itu pun pecah, pecahannya berserakan kemana-mana, bahkan sampai mengenai jidat Citra hingga membuat jidat dan pipinya dan mengeluarkan darah.
"Akhhhh.." pekik Citra kesakitan saat merasakan perih teriris oleh kaca itu. Dia kemudian menangis sejadi-jadinya di dapur, dia menangis bukan karna rasa sakit di jidat dan pipinya, melainkan sakit di hatinya.
Tidak lama kemudian orang tua Citra pun tiba, Mama Ratna yang berjalan masuk ke dalam rumah, terkejut saat mendengar suara tangisan dari arah dapur. Mama Ratna kemudian berjalan menuju dapur dan dia terkejut saat melihat kekacauan di dapur, pecahan kaca berserakan, pandangannya pun tertuju ke Citra yang sedang menangis.
"Citra." teriak mama Ratna panik saat melihat jidat dan pipi Citra berdarah. Dia menghampiri Citra dan memeluk Citra sambil meneriaki suaminya.
Papa Bram yang juga sudah masuk ke dalam rumah, terkejut mendengar panggilan istrinya yang terdengar sangat khawatir.
"Ada apa mah." ucap papa Bram yang sudah berada di dapur, diapun terkejut saat melihat kekacauan itu.
Citra kemudian memberontak melepaskan diri dari pelukan mamanya, kemudian meninggalkan dapur, Citra berjalan dia atas pecahan kaca yang berserakan tanpa alas kaki membuat kakinya juga berdarah, Citra sama sekali tidak merasakan sakit, baginya yang paling sakit saat ini adalah hatinya.
"Pah, Citra pah." ucap Mama Ratna yang sudah menangis melihat keadaan anak satu-satunya.
Papa Bram yang juga dari tadi menghenghentikan Citra tapi tidak berhasil, merasa khawatir, diapun menggendong Citra dengan paksa menuju mobil, Citra terus memberontak tapi papanya sangat kuat.
Mereka membawa Citra ke rumah sakit, saat dokter mencabut pecahan kaca di telapak kaki,jidak dan pipi Citra, dokter merasa heran karna Citra tidak merintih kesakitan sampai lukanya selesai di obati. Orang tuanya juga sangat khawatir dengan keadaan anaknya.
Setelah dari rumah sakit, mareka pun tiba di rumah, papa Bram kemudian turun secepat kilat untuk membantu anaknya menuju kamar dengan menggendong, tapi kecepatan mereka kalah dengan Citra, Citra sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah, kakinya yang masih di perban, kembali mengeluarkan darah, karna memang lukanya belum keringa, Citra berjalan dengan tatapan kosong sudah seperti zombie.
Mereka menatap Citra dengan tatapan merasa bersalah, mama Ratna sudah menangis di pundak suaminya.
"Kita sudahi permainan ini pah, papa tidak kasihan melihat dia." ucap mama Ratna kasihan melihat keadaan anaknya.
__ADS_1
"Iya mah, papa akan menelfon Indra." ucap Papa Bram lalu menelfon besannya.
Skip..
Papa Indra yang suasana hatinya sangat senang karna keberhasilan Riko, tiba-tiba menerima telfon dari besannya.
Papa Indra pun segera mengangkat telfon itu dengan semangat, karna dia sudah tidak sabar memberitahukan keberhasilan Riko kepadanya. Tapi belum sempat Papa Indra memberitahukan berita bahagia itu, Papa Bram sudah lebih dulu menceritakan keadaan Citra kepada papa Indra, perkataan papa Bram membuat Papa Indra dan Mama Ayu yang sedang bersama terkejut saat mengetahui keadaan Citra.
Papa Indra memutuskan sambungan telfon, kemudian menelfon Romi.
Papa Indra tadinya menelfon Riko, tapi nomor Hp Riko tidak aktif, karna dia masih di luar negeri.
Romi yang sedang tertidur, terkejut mendengar suara ponselnya yang tepat berada di bawah telinganya.
"Halooo." ucap Romi dengan suara serak tanpa memgetahui siapa yang menelfonnya.
"Romi,, kapan Riko kembali ke Jakarta?" tanya papa Indra di seberang telfon dengan serius.
Romi terkejut mendengar suara yang tidak asing di telinganya, dia pun segera duduk, kamudian berbicara dengan lembut dengan Papa Indra.
"Aku juga ngga tau om, tadi dia hanya sms aku, dia bilang dia ngga langsung pulang ke Jakarta, tapi dia harus pergi ke suatu tempat dulu." ucap Romi.
"Ya udah, kalau misalnya kamu dapat kabar dari Riko, kamu hubungi saya yah." ucap Papa Indra serius.
"Iya om." ucap Romi.
"Ya sudah kamu tidur lagi." ucap papa Indra lagi lalu memutuskan sambungan telfon.
"Gimana pah?" tanya mama Ayu penasaran dengan hasil pembicaraannya dengan Romi.
__ADS_1
"Romi juga ngga tau mah, Riko kapan kembali dari luar negeri." ucap papa Indra merasa frustasi.
"Ini semua karna papa, karna ide gila papa, kalau saja papa tidak melakukan hal ini, mereka tidak akan seperti ini." ucap Mama Ayu menyalahkan suaminya, lalu meninggalkan suaminya yang masih di ruang keluarga.