Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Sembilan Puluh "TSJC"


__ADS_3

Sekarang Riko dan Citra sedang berada di dalam mobil untuk pulang.


Didalam mobil tidak ada percakapan, Citra masih kesal dengan Riko, karna kejadian tadi. Citra kesal karna dia fikir Riko itu menikmati pelukan Lusi, dan menurutnya Riko hanya berpura-pura melepaskan pelukan Lusi.


Sementara Riko yang sedang fokus menyetir dan sekali-kali melirik Citra yang cemberut.


"Duhhh, dia kenapa lagi sih." gerutu batin Riko bingung.


"Sayang, gimana Finalnya tadi, lancar?" tanya Riko membuka percakapan.


"Hmm, gumam Citra cuek.


"Cuma itu?" tanya Riko lagi.


"Iya." ketus Citra lagi.


Riko yang merasa frustasi dengan tingkah Citra, berusaha bersabar karna dia tau kalau istrinya itu perasaannya selalu berubah-rubah.


Rikopun meminggirkan mobilnya di pinggir jalan dan berhenti.


"Kenapa kak Riko berhenti?" tanya Citra datar tanpa menatap Riko.


"Kalau kamu lagi bicara, tatap aku." ucap Riko lembut dan Citra tidak menghiraukannya dia malah mencoba menutup matanya untuk tidur.


"Cit, kamu kenapa, kenapa sikap kamu kayak gini, kamu marah, marah karna apa, jelasin, biar aku tau?" tanya Riko bersabar.


Citra kembali membuka matanya dan menatap Riko.


"Kak Riko tuh ngga peka banget sih, kenapa kak Riko ngga tau." ucap Citra datar.


"Sayang, aku itu bukan peramal yang bisa menebak pikiran dan isi hati kamu, aku hanya manusia biasa, aku ngga akan tau kalau kamu ngga jelasin, sebenarnya kamu kenapa?" ucap Riko.


"Aku cemburu sama kak Lusi." gumam Citra lirih dan Riko tidak mendengarnya.


"Sayang, ngomong yang jelas biar aku dengar." ucap Riko frustasi.


"Aku cemburu." teriak Citra membuat Riko terkejut.


"Sayang, suami kamu ini ngga tuli, jadi ngga usah teriak." protes Riko lagu membuat Citra mendengus kesal.


"Hhahah,, ok ok,, aku minta maaf,, sekarang jelasin kamu cemburu kenapa? dan cemburu sama siapa?" tanya Riko lagi dan Citra hanya melirik Riko sinis. Citra kesal karna Riko pura-pura tidak tau atau dia memang tidak tau.


"Oohh, jadi kamu cemburu dengan Lusi." ucap Riko menyadari tatapan sinis Citra.

__ADS_1


"Sayang, kamu ngapain sih cemburu sama cewek ngga jelas kayak dia,, dia itu ngga penting, kamu malah mikirin dia." jelas Riko.


"Bukannya kak Riko menikmati pelukannya yah." ketus Citra lagi.


"Ya ampun, kenapa kamu bilang kalau aku menikmati pelukannya, kamu ngga lihat aku susah payah melepaskan pelukannya karna aku tidak suka." jelas Riko lagi.


"Susah payah apanya,, jelas banget Citra liat, kak Riko ngga mengeluarkan kekuatan kak Riko untuk melepaskan pelukanya." tuduh Citra lagi tidak mau kalah.


"Sayang pelukannya itu erat banget, aku serius.".ucap Riko lagi membela dirinya tapi Citra tetap menyanggah perkataan Riko dengan terus menuduh Riko menikmati pelukan Lusi.


Riko sudah tidak tau harus berkata apa agar istrinya percaya dan Citra masih terus mengomel menuduh Riko.


Akhirnya jalan satu-satunya yang Riko akan ambil untuk menghentikan istrinya mengoceh adalah....


Riko melepaskan sabuk pengamannya, lalu mendekaptkan wajahnya kearah Citra, Citra terkejut melihat aksi Riko. sejenak Citra berhenti mengomel dan mereka saling tatap.


"Kak Riko nga...


Ucapan Citra terputus saat Riko sudah ******* bibir istrinya. Citra tidak ada perlawanan dia menikmati permainan suaminya..


Selama beberapa menit mereka saling ******* bibir masing-masing, lalu perlahan-lahan Riko melepaskan lumatannya, dan menyeka bibir Citra yang basah karna air liur Riko.


"Please jangan ragukan aku." ucap Riko tulus dan Citrapun mengangguk pelan sambil tersenyum lembut.


"Tumben kak Riko ada waktu untuk aku hari ini?" tanya Citra.


"Iya sayang soalnya pekerjaan aku udah selesai,, sisanya aku serahin ke Romi." ucap Riko sambil menyetir.


*******


Setelah melakukan penadatangan kontrak dengan pak Danur, Romi dan Silfa sekarang sudah berada di mobil untuk kembali ke kantor.


Di dalam mobil tidak ada yang saling berbicara, Silfa sibuk dengan ponselnya sementara Romi fokus menyetir.


Tiba-tiba ponsel Silfa berdering tanda seseorang menelfon, Silfa tersenyum menatap layar ponselnya dan Romi menyaksikan itu.


"Siapa yang menelfonnya?" batin Romi penasaran.


"Halo Din, tumben nelfon, lo kangen yah." ucap Silfa lembut kepada orang diseberang telfon.


"Din?.. Kangen? siapa Din?" batin Romi lagi penasaran.


"Apaan sih lo,, ngatain gue jomblo, emangnya lo punya pacar?" tanya Silfa lagi dengan orang di seberang telfon.

__ADS_1


"Tuh kan,, lo sendiri juga jomblo, terus kenapa lo ngatain gue, dasar jomblo.hhhh" ucap Silfa.


"Ya udah,, kan kita sama-sama jomblo, gimana kalu lo ngelamar gue." ucap Silfa bercanda.


Romi yang dari tadi hanya menjadi pendengar merasa panas mendengar kata melamar.


"Yah pastilah gue akan terima lamaran lo,, tenang aja ngga akan gue kecewain kok. hehehe" ucap Silfa lagi bercanda.


Mendengar percakapan Silfa membuat Romi berdehem dengan keras, membuat Silfa terkejut dan melirik Romi dengan sinis.


"Tenggorokan gue lagi sakit." ketus Romi beralasan lalu Silfa kembali fokus menelfon.


Sepanjang perjalanan Silfa terus tertawa lepas dengan seseorang di seberang telfon tersebut, membuat hati Romi panas karna terbakar api cemburu. Romi terus melirik wajah bahagia Silfa dengan sinis hingga selesai menelfon.


Romipun langsung menginjak gas tiba-tiba karna kesal melihat ekspresi bahagia Silfa. Silfa terkejut dan ketakutan saat laju mobil sangat kencang.


"Lo apa-apaan sih Rom,, pelanin ngga." pinta Silfa panik.


"Gue ngga mau,, gue pengen cepet sampai, biar ngga lama-lama dideket lo." ketus Romi.


"Romi...." teriak Silfa panik.


"Apaaaa." teriak Romi menjawab Silfa.


"Ngeselin banget sih lo." teriak Silfa lagi.


"Bodo amat." ucap Romi sambil berbalik menatap Silfa dan mengejek Silfa dan tidak memperhatikan jalan di depannya.


"Rom, liat ke depan, itu lampu merah." ucap Silfa panik. mendengar perkataan Silfa membuat Romi langsung berbalik menatap jalan dan di depan sudah lampu merah, Romi langsung menginjak rem tiba-tiba, dan membuat kepala Silfa terjedot sangat keras.


"Sil,, lo ngga ppa kan." ucap Romi khawatir sambil memeriksa jidat Silfa dan jidat silfa memar.


Silfa dengan kesal langsung menghempas tangan Romi yang sedang memegang dagunya.


"Ngga usah sok perhatian deh." ketus Silfa kesal.


"Gue minta maaf Sil,, gue beneran ngga sengaja.".ucap Romi menyesal.


"Ngga usah minta maaf, lo memang sengaja kan, lo pengen ngebunuh gue kan." gerutu Silfa kesal, lalu turun dari mobil meninggalkan Romi lalu naik taksi.


Romi yang tadinya ingin turun mengejar Silfa tertahan karna lampu lalu lintas sudah hijau, dan taksi yang di naiki Silfa juga sudah pergi.


Romi yang merasa bersalah akibat perbuatannya, akhirnya mengikuti taksi yang ditumpangi Silfa.

__ADS_1


__ADS_2