
Beberapa hari kemudian,seorang pria pulang dari luar kota.
Malvin membawa banyak oleh2 untuk anak dan istrinya apalagi si bontot yang sudah ngidam ingin dibelikan robot2.
Malvin menepikan mobilnya didepan rumah dan langsung keluar membawa semua barang.
" Kenapa halaman kotor ?" Gumam Malvin melihat banyaknya daun2 berhamburan dihalaman.
Pria itu masuk lebih dalam dan kaget rumah terkunci.
" Loh kenapa dikunci ?" Gumam Malvin kembali bingung.
Lelaki itu meraba saku celananya dan melihat sebuah kunci tergantung dipintu.
Malvin kembali bingung,karna penasaran lelaki itu pun membuka pintu rumah dan langsung disambut keheningan.
" Yankkkk,sayaaaaang " Panggil Malvin berjalan masuk.
" Windaaa,Doniiii Papa pulang " Pekik Malvin semangat.
Heningg...
Tak ada suara apapun.
Malvin terus melangkah hingga pria itu merasa ada sesuatu yang hilang dari ruang tamunya.
" Apa ini ?" gumam Malvin kaget melihat sebuah foto keluarga yang tidak menampilkan wajah Winda dan Sindi.
" Kenapa foto Ratu dan anakku ada disini ?" gumam Malvin bingung.
Pria itu melepas tasnya dan melihat beberapa foto lama terpajang disana,bahkan foto pernikahan pun ikut terpajang.
Deg...
Tiba2 otak lelaki itu berhenti berpikir.
" Sindi " Gumam Malvin terbelalak.
Lelaki itu melepas foto dan langsung berlari menaiki anak tangga.
" Sindiii,Windaaaaa,Doniiiii " Teriak Malvin menggelegar.
Brakkk...
Pintu kamar terbuka,lelaki itu masuk kedalam dengan wajah panik melihat ruangan kosong dengan tatanan rapi.
" Kemana Winda ?" gumam Malvin menelan ludah kasar.
Lelaki itu kembali memanggil nama anaknya tapi naas tak ada sahutan.
" Sindiiiiii " teriak Malvin berlari kekamar mereka.
Saat pintu kamar terbuka,Malvin terbelalak melihat tak ada foto pernikahan mereka disana,bahkan Foto Winda dan Doni masih kecil juga lenyap didinding kamar.
" Ya Tuhan,kemana mereka ?" Gumam Malvin terduduk diranjang.
Tak ada apapun yang tersisa,Malvin membuka lemari pakaian dan terdiam melihat semua gantungan kosong hanya menyisakan baju lelaki itu saja.
" Apa yang terjadi ?" Gumam Malvin lirih.
Malvin sangat syok dengan apa yang terjadi kepadanya saat ini.
__ADS_1
Ia tak menyangka Sindi dan anak2nya kabur begitu saja..
Malvin berjalan kekamar putranya dan mendapati lukisan sebuah keluarga kecil yang saling bergandengan tangan dengan senyum merekah,terlihat sangat abstak tapi Malvin tau itu hasil karya putranya.
" Kemana kalian ?" Gumam Malvin berkaca kaca.
Malvin sengaja tidak memberitahu Sindi ia akan pulang berharap anak istrinya akan terkejut,tapi apa yang terjadi sekarang malah Malvin yang dikejutkan.
Pria itu mulai menangis,hati Malvin begitu pedih mengingat cinta dan buah hatinya pergi tanpa pamitan.
" Apa salah aku ? kenapa kalian ninggalin aku ?" Gumam Malvin terus menangis memeluk lukisan sang putra.
Ditempat lain,seorang wanita berjalan mendekati warung2 makanan.
Ditemani anak bungsunya,Sindi terus menayakan lowongan pekerjaan kepada pemilik warung atau restoran yang ia tempuh.
" Maaf Bu,kami butuhnya seorang gadis buat jadi pelayan " Ucap pemilik warung tak enak hati.
" Ohhh gak bisa ya kalo saya aja ?" tanya Sindi.
" Gak bisa,kalo ibu punya anak gadis,kami bisa bantu " Ucap pria itu sopan.
" Anak gadis ? saya punya tapi..." Ucap Sindi menggantung.
" Kenapa ?" tanya Pria itu menunggu..
" Hm gak papa Pak,ya udah makasih ya " Kata Sindi tak jadi bicara.
Ibu dan anak itu pun keluar dari warung dengan wajah lesu.
" Ma " Panggil Doni mengayunkan tangan Sindi.
" Iya sayang ?"
" Hm,Mama juga harus bantu Papa kerja " Jawab Sindi berbohong.
" Kasihan Papa Ma,pasti dia nyariin kita pas pulang " Kata Doni sedih.
" Kita hidup mandiri aja ya,nanti Mama cari kerja yang pas biar kamu dan Kakak mu bisa makan " Kata Sindi mengalihkan.
Doni mengangguk pelan,keduanya kembali berjalan.
Sindi menahan air mata nya dengan susah payah,sungguh ia pun tidak mau pergi dari sang suami tapi melihat kedatangan mertuanya dan beberapa orang suruhan wanita itu sungguh menyayat hati kecil Sindi,ia tak menyangka sang mertua tega mengusir dia dan anak2nya hingga keputusan berat Sindi ambil yaitu meninggalkan rumah yang memberinya banyak cinta selama ini.
Hampir sore,Sindi pun pulang kerumah barunya,terlihat diteras rumah seorang gadis duduk sendirian.
" Mama " Ucap Winda lirih dan langsung bangun.
" Hay Kakak " sapa Doni hangat.
" Hay " Balas Winda tersenyum.
" Gimana keadaan kamu ?" tanya Sindi.
" Baik Ma " Jawab Winda tersenyum.
" Oh iya aku udah masak,Mama udah makan belum ?" tanya Winda semangat.
" Tadi kita beli nasi bungkus Kak " Jawab Doni.
" Benarkah ?" Tanya Winda antusias.
__ADS_1
" Iya tapi cuma lauk Telur sama tempe " Lanjut bocah itu.
Senyum Winda yang tadinya cerah kini perlahan sirna.
" Hehe iya,enak Dek ya " Kata Sindi ceria.
" Hm ya " Jawab Doni melemah.
" Mama " Panggil Winda lirih.
" Ayo masuk,kamu masak apa ?" Tanya Sindi mengalihkan.
Wanita itu masuk duluan,Winda menatap punggung ibunya nanar.
" ayo Kak,aku lapar " Ajak Doni menegur.
" Iya " Jawab Winda mengangguk.
Mereka pun masuk kedalam rumah kontrakan kecil itu dan mengunci pintu.
Winda sebenarnya sangat sedih dengan keadaan mereka saat ini,semua uang yang ia miliki sudah Winda serahkan kepada Sindi.
Sindi juga banyak memegang uang tapi ia tak bisa egois,obat penyambung hidup Winda sangat mahal ditambah biaya pindahan sekolah Doni yang juga tak sedikit.
Sindi benar2 sudah bertekad akan pergi dari hidup Malvin,ia sudah lelah menahan semuanya seorang diri selama ini terlebih anak2nya menjadi korban.
Malam harinya mereka bertiga berbaring dikasur tipis yang disediakan oleh pihak kontrakan.
Sindi mengusap kepala Winda yang mengadu sakit.
" Ma " Panggil Winda lembut.
" Hm " Jawab Sindi sambil kedua tangannya sibuk mengusap punggung Doni juga.
" Kenapa kita gak minta bantuan Ayah Romi ?" Tanya Winda hati2.
" Kenapa kamu selalu mengharapkan orang lain ?" Tanya Sindi balik.
" Hm cuma mereka yang kita punya Ma " jawab Winda takut.
" Ya,memang hanya mereka yang kita punya sayang,Mama tidak mau lagi menyusahkan mereka,kita berhutang banyak,mereka juga punya masalah hidup sendiri " Kata Sindi tersenyum.
" Ya aku tau tapi saat ini kita..
" Kita harus mandiri Winda,kita gak boleh ngeluh,terus berpangku tangan sama orang,seberat apapun masalah kita,kita harus menyelesaikannya sendiri " Potong Sindi lembut.
" Aku dari tadi pengen cerita sama Alexi,aku sedih Ma " Kata Winda berkaca kaca.
" Sabar ya Sayang,kamu harus kuat,bantu Mama untuk membalikkan keadaan kita menjadi lebih baik,saat ini kamu dan Doni benar2 menjadi penguat Mama,obat Mama dikala sakit,jadi tolong kamu harus bertahan " Pinta Sindi memegang tangan putrinya.
" Maafin aku Ma,andai aku tidak sakit pasti aku.....
" Syuuutttt,jangan sedih,ini ujian kehidupan untuk kita,Tuhan tidak akan memberikan ujian kepada umatnya kalo kita gak sanggup " Ucap Sindi tersenyum.
" Mama " Lirih Winda memeluk wanita itu.
Winda menangis pilu,Sindi mengusap punggung anaknya seraya menahan tangis yang akan meledak2,tapi Sindi berusaha untuk kuat agar kedua anaknya ikut kuat !.
Disebuah jalanan seorang pria melihat kiri kanan dengan wajah khawatir.
Sungguh Malvin tak bisa berpikir jernih saat menyadari bahwa anak dan istrinya benar2 sudah pergi.
__ADS_1
❤❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya