
Seorang gadis sudah menunggu dirumah sakit menanti keluarga dari calon suaminya datang.
Histi duduk sendirian dibangku receptionist sambil bermain ponsel.
Tak lama sebuah mobil berhenti digerbang pintu rumah sakit,Histi langsung berdiri berjalan mendekat.
Histi membuka pintu samping dan mendapati Winda duduk disana.
" Sini aku bantu " Kata Histi mengambil rantang yang ada ditangan Winda.
Winda menyerahkan benda itu dan turun dengan hati2.
Mobil Romi menyusul dari belakang.
Histi membantu Alexi turun dan mendorong kursi roda agar Alexi duduk disana.
" Apa aku terlambat ?" tanya Alexi.
" Tidak,bagaimana bisa terlambat sedangkan dokternya bersama kamu " jawab Histi terkekeh.
Serkan mendekati gadis itu dan mengecup cepat kepala belakang Histi.
" Ayo jalan " Kata Serkan sudah siap.
" Hm " Jawab Winda semangat.
Gadis itu mulai mendorong kursi roda Alexi menuju ruangan pemeriksaan.
Yuni ikut berjalan dibelakang mereka sedangkan Romi menghubungi seseorang.
Romi tak bisa lama2 dirumah sakit karna dirinya harus metting penting bersama sang bos.
Mereka sudah mengkonfirmasi sebelumnya dan Yuni menerima kesibukan sang suami,karna Yuni sudah ada Winda dan Histi yang akan menemani dirinya.
" Siapkan segalanya,jika kemungkinan buruk terjadi kita sudah siap !" ucap Romi berbicara ditelefon.
Tut.
Lelaki itu pun mengejar anak dan istrinya hingga semuanya berhenti diruang pemeriksaan.
" Ibu " panggil Alexi.
" Iya ini Ibu kenapa ?" tanya Yuni memegang tangan putranya.
" Aku takut Bu " Jawab Alexi gemeteran.
" Jangan takut,ibu selalu berada disisi kamu,yakinlah " Balas Yuni gemetar.
" Doakan aku Bu " Pinta Alexi nanar.
" Iya sayang,ibu akan selalu doakan kamu " Jawab Yuni tegas.
wanita itu mengecup wajah sang putra sebelum Alexi masuk.
" Kamu bisa Lex,aku akan menunggu diluar " Ucap Winda menggenggam tangan Alexi.
" Iya makasih Win,sampai jumpa " Kata Alexi mengusap tangan Winda.
" Semangat ya " Kata Histi memegang pundak Alexi.
" Iya makasih " Jawab Alexi tersenyum.
Romi mendekat dan mengusap kepala putranya lembut,mereka semua seolah mengucapkan salam perpisahan kepada Alexi sekaligus memberi semangat kepada pria itu.
__ADS_1
" Kamu bisa,anak ayah gak boleh lemah !" Bisik Romi tegas.
" Iya ayah,aku akan berjuang " Jawab Alexi ikut tegas.
Romi tersenyum dan mengecup kepala anaknya.
Serkan menghela nafas melihat Romi dan Yuni begitu berharap.
" Jangan takut,aku akan mendoakan mu " Bisik Histi mengusap punggung calon suaminya.
" Iya " Jawab Serkan memejamkan mata sejenak.
" Berusahalah Serkan,Ibu serahkan Alexi kepada kamu " Ucap Yuni mengusap tangan anak tirinya.
" Iya Bu " Jawab Serkan tegas.
Alexi pun dibawa masuk oleh Serkan,hanya saat ini mereka bisa melihat Alexi karna detik berikutnya Alexi akan langsung masuk ruang operasi.
Byanca tak ikut mengantar Kakaknya,gadis itu harus sekolah karna ini hari senin dan banyak pr yang harus gadis itu serahkan kepada sang guru.
" Kak " Panggil Alexi memegang tangan Serkan.
" Jangan takut " Jawab Serkan tegas.
" Kalo nanti gak berhasil,Kakak jangan menyerah ya,Kakak harus tetap jadi Dokter,jangan karna aku nanti Kakak berhenti membantu orang lain " Kata Alexi nanar.
" Jangan banyak bicara,kamu akan bisa melihat !" Kata Serkan tegas.
Alexi mengangguk lemah,pria itu tau Serkan saat ini pasti cemas juga sama seperti dirinya.
Alexi mulai dibaringkan dibrangkar,banyak alat canggih diatas kepala pria itu.
2 Dokter specialis pun diturunkan langsung untuk membantu proses,seharusnya hanya 2 orang dokter yang memegang tapi Romi meminta 3 orang takut2 Serkan berhenti tengah jalan karna tak sanggup.
Hampir 1 jam pemeriksaan,Serkan membaca hasilnya,dari sana Serkan mulai tau apa yang harus ia lakukan.
Alexi mulai dibius,pria itu terlihat pasrah saat tubuhnya merasa lemas dan maniknya masih menatap gelap.
Serkan yang melihat adiknya mulai kehilangan kesadaran melihat kearah lain,lelaki itu merasa tak rela adiknya harus seperti saat ini.
" Ayo bawa dia " Ucap Dokter lain tegas.
Serkan dan 1 dokter lainnya mengangguk,saat masuk ruang operasi beberapa perawat sudah siap dengan pakain hijau mereka.
Alexi dipindahkan dengan hati2.
Para perawat pun mulai memasangkan alat2 pendukung kehidupan untuk Alexi.
Diruang kebersihan,Serkan membersihka tangannya dengan sabun steril.
Lelaki itu menatap pantulan dirinya dibalik cermin,wajah tegas dengan mata tajam tercetak jelas disana.
Nafas Serkan memburu,kedua tangannya terus sibuk menggosok.
" Aku pasti bisa,aku Kakak yang bertanggung jawab !" Ucap Serkan tegas.
" Dok " Panggil seorang perawat membuka pintu.
" Sudah waktunya " Lanjut perempuan itu sopan.
Serkan mengangguk dan mencuci bersih tangannya lalu berjalan bersama perempuan itu.
Semua orang berkumpul disana.
__ADS_1
Dokter suruhan Romi mendekat dan menepuk pelan pundak lelaki yang sedang mamakai sarung tangan pelindung.
" Silahkan " Ucap Dokter itu tenang.
Serkan mengangguk dan mendekati brangkar Alexi.
Terlihat selang terpasang dimulut adiknya,Serkan memejamkan mata berusaha tegar.
Kakak mana yang tak terluka melihat adiknya tak berdaya.
" Dok " Tegur perawat.
" Ya,em nyalakan " Jawab Serkan tenang.
Semua orang mengangguk dan mulai bergerak teratur.
Serkan menjadi pemimpin hari ini,ia yang bertanggung jawab langsung operasi Alexi.
Lelaki itu mulai dihadapkan dengan bola mata adiknya.
Dengan tarikan nafas,Serkan mulai menunjukkan keahliannya.
Belum sepuluh menit keringat sudah berceceran di kening Serkan,seorang perawat berkali2 mengusap tisu kesana agar tak menganggu konsentrasi pria tersebut.
" Hmm lumayan berat " Gumam Dokter suruhan Romi melihat adanya kerusakan dimanik Alexi.
Serkan hanya diam sambil maniknya terus memantau kondisi jantung sang adik.
Diluar ruangan,Yuni tak berhenti berdoa.
Winda dan Histi sama diamnya,Winda memikirkan Alexi sedangkan Histi memikirkan keadaan Serkan didalam sana yang sedang berjuang.
" Bi,ayo makan dulu Bibi belum sarapan " Tegur Winda takut2.
" Bibi gak lapar Win " Jawab Yuni menoleh.
" Nanti bibi sakit " kata Winda sedih.
" Iya Te,Tante harus makan,Serkan dan Alexi sedang berjuang untuk Tante " Bujuk Histi.
" Mana bisa Tante nelan makanan sedangkan 2 anak Tante sedang diujung tombak " Kata Yuni mulai menangis.
" Bibi " Ujar Winda memeluk wanita itu.
" Bibi sangat takut Winda hiks hiks " Ucap Yuni menangis sedih.
Histi menghela nafas,bukan hanya Yuni yang takut dirinya juga sama takutnya.
Pernikahan dan nasib Serkan benar2 dipertaruhkan saat ini makanya Histi juga tak tenang jika operasi Alexi belum dilaksanakan.
Kedua gadis itu berusaha menyemangati Yuni yang begitu rapuh..
Ditempat lain,Romi masuk ruangan meeting pria itu datang terlambat karna banyak yang harus ia urus.
" Maaf Pak,saya terlambat " Ucap Romi kepada Reno yang sudah duduk dibangku kebesarannya.
" Ya gak papa,langsung aja Rom " Balas Reno tenang.
Romi mengangguk dan mulai membuka acara meeting mereka.
Meski otak Romi terus kepikiran anaknya tapi lelaki itu berusaha bersikap profesional.
❤❤❤
__ADS_1
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.