Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Tiga Dua "TSJC"


__ADS_3

Sehari sebelum Riko tiba dari Amrik. Citra terlihat duduk sendiri di kantin karna Citra masih marahan dengan Indah.


Disisi lain, Indah sedang makan bersama Mona teman satu fakultasnya.


Disisi lain juga Kevin makan dengan teman satu Fakultasnya Tobi.


Citra berada di bangku posisi tengah yang di antarai oleh Kevin di sebelah kanan dan Indah di sisi sebelah Kiri. Kevin terus menatap Citra dan Indah terus menatap Kevin yang sedang menatap Citra.


Disisi lain kantin, ada Doni dan Anton. Anton sedang memperhatikan mereka, tiba-tiba Arman datang dari arah yang tidak di ketahui, tapi Doni dan Anton tidak menghiraukan kedatangannya.


"Indah sama Citra kenapa, kok mereka ngga bareng, terus Kevin juga kenapa ngga bareng sama Citra, biasanya kan Kevin selalu ngejar-ngejar Citra. Sebenarnya mereka bertiga kenapa?" gumam Anton penasaran, sambil menatap mereka bertiga gantian.


"Lo juga ngapain disini, kan biasanya lo juga ngejar ngejar Citra." ketus Doni.


"Kayaknya mereka lagi ada masalah tentang perasaan deh." ucap Arman tiba-tiba dan mengagetkan mereka berdua.


"Ehh, kapan lo tiba disini." ucap Doni heran melihat Arman.


"Gue dari tadi disini, tapi gue di kacangin." gerutu Arman kesal lalu duduk.


"Kapan lo balik dari bali, terus gimana liburan lo disana?" tanya Doni.


"Pokoknya seru deh. Banyak bule disana, bule cantik." ucap Arman antusias.


"Ehh, Riko mana sih, gue telfon ngga di angkat, gue chat ngga di bales, kemana sih dia,, gue kangen banget ama tuh anak." ucap Arman penasaran.


"Dia ke Amrik bareng Romi." ucap Anton tanpa melihat Arman masih fokus menatap Citra.


Arman heran dengan tingkah Anton, dan mengikuti tatapan Anton yang bergantian menatap Citra, Indah dan Kevin.


"Kayaknya Citra sama Indah lagi berantem soal Kevin deh, Kevin kelihatannya suka sama Citra, tapi perasaannya ngga di bales


Terus Indah sukanya sama Kevin, tapi perasaannya ngga di bales juga. Terus Citra sama sekali ngga perduli dengan perasaan Kevin. Wah.. wahh.. kisah cinta yang rumit." ucap Arman menebak tiba-tiba dan membuat Anton dan Doni terkejut.


"Sotoy luuu." ucap Anton.


"Ini kenyataan, ini real dan gue bisa nebak orang. Nih yah, lo liat tatapan Kevin selalu melihat ke arah Citra itu artinya dia suka sama Citra, si Indah di terus menerus menatap Kevin berarti dia suka sama Kevin nah sementara si Citra sama sekali ngga perduli." ucap Arman menjelaskan dengan rinci.


Anton hanya mengangguk mengerti dan menyetujui Arman, sementara Doni hanya geleng-geleng melihat tingkah mereka yang kepo sama urusan orang lain.


Skip


Citra berjalan keluar kampus menuju ke tempat biasa dimana pak Cecep menjemputnya, tiba-tiba Arman datang menghampiri Citra.


"Hayy..." sapa Arman


"Oohh, Hayy.." jawab Citra santai tanpa mengetahui bahwa Arman adalah senior.


"Kenalin gue Arman, senior fakultas teknik tingkat akhir." ucap Arman memperkenalkan dirinya.


"Ohh,, maaf kak, aku ngga tau kalau ternyata kakak senior, aku Citra." ucap Citra memperkenkan dirinya.


"Ngg apa-apa santai aja 😊." Ucap Arman santai.


"Lo mau balik?" tanya Arman.


"Iya kak." jawab Citra.


"Gue anterin yah." tawar Arman.

__ADS_1


"Ehh, ngga usah kak, aku udah ada yang jemput." ucap Citra.


"Siapa,, kok gue ngga liat ada jemputan sih." ucap Arman melihat sekeliling dan tidak melihat mobil jemputan.


"Oh, dia disana kak, aku duluan." ucap Citra menunjuk ke arah jemputannya lalu meninggalkan Arman.


Arman menatap Citra yang sudah meninggalkannya.


"Dia lumayan, pantesan Anton kepincut." gumam Anton lalu bergegas ke parkiran.


Skipp.


Di ruangan pertemuan khusus terlihat Riko dan Romi sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Riko terlihat mengucek matanya akibat terlalu lama menatap layar laptopnya. Lalu Riko kembali fokus, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu agar dia bisa segera pulang ke Indonesia.


Entah kenapa Riko merasa sangat cemas dengan Citra. Sudah 2 malam Riko tidak bisa tidur nyenyak karna terus menerus mimpi buruk tentang Citra, makanya dia bertekad untuk segera menyelesaikan pekerjaannya sampai-sampai dia mengorbankan kesehatannya.


Sementara Romi sedang menelfon sesorang untuk mengurus tiket untuk kepulangan mereka ke Indonesia hari ini. Setelah menelfon, Romi menatap Riko yang sedang fokus menatap layar laptopnya sambil sesekali mengucek matanya karna perih.


Romi memperhatikan wajah Riko yang terlihat pucat akibat kurang tidur.


Romi menghampiri Riko dan mengambil laptop itu dari Riko.


"Rik, lo istirahat aja dulu, lo tidur, lagian miting di laksanakan 30 menit lagi, nanti gue bangunin lo kalau pak Robert udah menuju kesini, biar gue yang selesain pekerjaan ini," ucap Romi


Riko menuruti perkataan Romi, karna memang dia sudah sangat lelah, akhirnya Riko tertidur di kursi itu.


Beberapa menit kemudia saat Riko mulai tertidur dia kembali bermimpi buruk tentang Citra.


"Citraa..." gumam Riko dalam tidurnya


Romi menghampiri Riko dan mencoba membangunkan Riko.


"Rik.. Rik.. bangun Rik.." ucap Romi membangunkan Riko sambil menepuk-nepuk pundak Riko.


"Citraaa.." gumam Riko terkejut dan dia terbangun.


"Gue mimpi lagi,, sebenarnya ini pertanda apa sih." batin Riko lalu mengusap wajahnya.


Romi menatap Riko dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya, begitu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada Riko, tapi dia tahan karna melihat keadaan Riko yang sepertinya sedang tidak baik.


"Rik,, lo nggapapa kan, muka lo pucat banget Rik, kalau lo lagi ngga enak badan, lo balik aja ke hotel, biar gue yang menangani proyek ini, lo percaya sama gue." ucap Romi menatap Riko khawatir.


"Gue nggapapa kok,, lagian ini kan pekerjaan kita yang terakhir, setelah itu kita balik ke Indonesia. Lo udah pesan tiketnya kan." ucap Riko dan Romi pun hanya mengangguk heran.


"Ok, berapa menit lagi pak Robert tiba disini?" tanya Riko.


"Pak Robert 10 menit lagi tiba disini." ucap Romi sambil melihat jam tangannya.


"Ya udah, gue ke toilet bentar, gue mau basuh wajah gue." ucap Riko lalu meninggalkan Romi menuju toilet.


Romi menatap Riko heran, dia melihat Riko yang berbeda bukan Riko yang dia kenal.


Batin Romi dipenuhi tanda tanya "Siapa Citra". siapa perempuan itu yang merubah Riko 360°. Romi kemudian memikirkan Citra yang dia kenal yang kuliah di kampus Riko.


"Ehhhh,, ngga mungkin Citra yang itu kan." gumam Romi ngga percaya.


Sementara di toilet Riko menyiram wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Ada dengan gue, kenapa gue selalu memimpikan perempuan itu. Kenapa gue merasa kalau dia butuh perlindungan, dan anehnya gue sangat ingin melindunginya. Kenapa..." gerutu Riko kesal menatap dirinya di cermin.


Pak Robert tiba di ruangan pertemuan itu dan Romi mempersilahkannya duduk, tidak lama kemudian Riko juga kembali dari toilet, lalu mereka pun memulai rapatnya.


Skipp..


Apartemen Indah.


Indah terlihat sedang melamun di meja belajarnya dia memikirkan Citra. Dia merasa tidak enak terus menerus marahan dengan Citra hanya karena masalah sepele.


Indah mengakui bahwa sebenarnya dia yang salah, harusnya dia mengikuti apa yang dikatakan Citra untuk berusaha mendekati Kevin dengan caranya, bukan menunggu Kevin yang menyadari perasaannya, secara Kevin bukan peramal yang bisa menebak isi hati seseorang.


Indah juga menyetujui perkataan Citra yang mengatakan dia bodoh,, Indah merasa dia memang bodoh, dia sudah menyukai Kevin sejak lama bahkan mengikuti Kevin kuliah di kampus yang sama, tapi dia ngga bisa mendapat apa-apa kan dia rugi pikirnya.


Indah masih terus berperang dengan pikirannya, tiba-tiba bel apartemennya berbunyi, Indah segera berjalan ke arah pintu apartemennya dan membukanya.


"Indaaahhhh..." teriak Mita dengan suara cemprengnya dan membuat Indah tercengang tidak percaya melihat Mita.


"Kok kamu disini?" tanya Indah bingung melihat Mita yang datang dengan koper yang besar.


"Orang, kalau nerima tamu itu di persilahkan masuk, di sediain minum, di sediain makanan, habis itu di tanya. Sedangkan kamu, ngga sopan nanya-nanya tamu di depan pintu. udah minggir aku mau masuk." gerutu Mita lalu nyelonong masuk ke Apartemen Indah.


Indah yang masih terkejut dengan kedatangan Mita segera menutup pintu nya lalu mengikuti Mita yang sudah duduk di sofa dan menyalakan tv sambil memakan cemilan.


"Ehh duduk - duduk,, ngga usah sungkan." ucap Mita menepuk-nepuk sofa mempersilahkan Indah duduk.


"Ini itu apartemen aku, ngga usah sok deh." ketus Indah kesal lalu duduk dan Mita hanya cengengesan.


"Sekarang jelasin, kamu mau kemana bawa kper sebesar itu?" tanya Indah bingung.


"Aku kabur dari rumah, terus ke Jakarta." ucap Mita santai.


"Kamu udah gila yah Mit, kenapa kamu kabur?" tanya Indah bingung.


Mita menatap Indah Sinis.


"Karna aku ngga mau kuliah di Bandung, kalian bertiga jahat yah,, ninggalin aku sendirian di Bandung sementara kalian bertiga kuliah di Jakarta." gerutu Mita kesal.


"Bukannya Vivi kuliah di Bandung." ucap Indah bingung.


"Ngga, Vivi ngga kuliah di Bandung, dia juga kuliah disini." gerutu Mita lalu memakan cemilannya.


"Vivi kuliah disini juga, kok dia ngga ada kabar sih." ucap Indah bingung.


"Ngga tau." ketus Mita.


Indah membuang nafasnya kasar melihat tingkah Mita yang lagi ngambek.


"Ya udah terus rencana kamu sekarang apa?" tanya Indah.


"Aku akan tinggal disini sampai mama papa aku mau mindahin aku kuliah di sini." ucap Mita.


"Kamu mau tinggal disini, ngga aku ngga mau, kenapa kamu ngga tingga sama Kevin dia kan sepupu kamu." ucap Indah.


"Ngga, kalau aku tinggal sama Kevin, nanti mama papa aku lebih gampang nemuin aku. jadi untuk sementara aku tinggal disini yah, yah yah.." rengek Mita ke Indah.


"Ngga.." ucap Indah menolak.


"Kamu tuh jahat banget sih jadi teman,, ok kalau kamu ngga mau kampung aku disini, aku akan tinggal bareng Citra." gerutu Mita lalu kembali menarik kopernya.

__ADS_1


Indah menyadari kalau dia ngga mungkin tinggal sama Citra karna Citra udah punya suami. Indah pun menahan Mita dan menyetujui untuk Mita tinggal di Apartemennya selama beberapa hari dan Mita pun berteriak kegirangan.


__ADS_2