
Pagi hari, Citra membuka matanya pelan dan melihat sosok yang paling dia cintai sedang memeluknya erat.
Citra menatap wajah Riko, Citra tersenyum kembali mengingat masa dimana mereka belum menjadi siapa-siapa dan sekarang mereka saling mencintai.
Citra mengecup bibir Riko, sebagai kiss morning kemudian hendak bangun.
Sementara Riko yang dari semalam susah untuk tidur terbangun karna kecupan Citra, Riko menahan Citra yang hendak bangun dengan mempererat pelukannya.
"Kak Riko udah bangun." ucap Citra saat melihat mata Riko mulai terbuka walaupun masih terkantuk-kantuk.
"Lepasin kak, aku mau buat sarapan." ucap Citra berusaha melepaskan pelukan Riko.
"Ngga, ngga akan aku lepaskan, aku mau sarapan disini aja." ucap Riko dengan nada serak khas bangun tidurnya.
"Maksud kak Riko apa?" tanya Citra bingung sambil menatap Riko yang matanya masih tertutup.
Riko membuka matanya dan menatap Citra tajam.
"Semalam aku ngga bisa tidur gara-gara kamu, phpin aku." ucap Riko kesal.
Citra belum mengerti maksud dari perkataan Riko, karna memorinya belum pulih sepenuhnya. Dalam beberapa detik Citra pun mengerti maksud Riko dan menatap Riko.
"Aku minta maaf kak, semalam aku ketiduran." ucap Citra.
Riko hanya memutar matanya kesal.
"Lagian kak Riko yang salah, kenapa ngga bangunin aku." ucap Citra membela dirinya.
"Aku udah mencoba bangunin kamu, tapi kamu malah mukul aku, kayak gini." ucap Riko kesal lalu mempraktekkan bagaimana Citra memukulnya.
"Ohh gitu yah,, ya udah aku minta maaf, lagian aku ngga sengaja kak." ucap Citra.
Riko masih belum menerima permintaan maaf Citra, dia sengaja ngambek biar Citra memberikannya pagi ini.
"Maafin aku kak, maafin yah, yahh.." ucap Citra sambil bertingkah imut. melihat Citra yang seperti itu, seketika Riko langsung menindih Citra.
"Aku akan maafin kamu, tapi aku mau itu." ucap Riko.
Citra terkejut dengan permintaan Riko, Citra berusaha untuk kabur dari Riko dengan mendorong Riko menyingkir dari dirinya, tapi apalah daya tenaganya sangat kuat.
"Kak Riko, ini udah pagi, lagian aku hari ini ada kuliah, dan kak Riko juga kan harus kerja." keluh Citra sambil mendorong dada Riko.
"Ngga ada kuliah, ngga ada kerja, hari ini juniorku meliburkan semuanya." gerutu Riko menatap Citra mesum.
Citra terkejut saat benda keras milik Riko menyenggol perutnya, Citra menelan ludahnya menatap Riko yang wajahnya penuh dengan nafsu, tanpa basa basi Riko pun memulai aksinya.
__ADS_1
Riko ******* bibir Citra, leher dan telinga Citra, Citra hanya pasrah dengan perlakuan Riko.
Tangan Riko mulai meraba kemana-mana, dan membuat Citra mendesah.
Desahan Citra membuat Riko semakin bersemangat, dia kemudian melepaskan seluruh pakaiannya dan piyama Citra.
Riko menatap **** d*d* Citra dengan kagum, seketika dia bermain disana. Citra hanya mendesah dengan perlakuan Riko.
Riko terus mengerayangi tubuh Citra seperti adegan yang sudah dia nonton kemarin.
Wahh baru sehari kursus langsung praktek langsung dapat nilai A+.
Riko bermain-main dengan tubuh Citra selama 20 menit. Tibalah saat yang ditunggu-tunggu dari semalam, juniornya sudah mau masuk kandangnya. Riko membuka tokonya lebar-lebar dan .....
Citra menjerit kesakitan karna memang ini pertama kali baginya.
Riko juga bingung kenapa sangat susah, sementara adegan yang dia nonton kemarin sangat mudah dan si perempuan tidak kesakitan.
Tapi, Riko yang nafsunya sudah di ubun-ubun langsung mendorong, Citra pun berteriak kesakitan dan menangis.
Riko menghentikan aksinya beberapa detik, karna kasihan dengan Citra, dia menatap Citra yang sudah menangis, Riko mengusap air mata Citra dan mengecup mata Citra, seolah-olah dia menenangkan Citra.
Merasa Citra sudah tenang, diapun melanjutkannya pelan-pelan, meskipun masih ada jeritan dari Citra, tapi lama kelamaan mereka menikmatinya.
Mereka bertempur selama hampir 1 jam sampai akhirnya dia kalah.
Setelah melakukannya Riko berbaring di samping Citra dengan wajah yang puas dan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Ternyata tidak sesulit yang kukira." batinnya menyayangkan kejadian yang lalu.
Riko berbalik menatap Citra yang sudah memunggunginya.
Riko kemudian memeluk Citra dari belakang, dan mendengar Citra masih terisak, Riko terkejut kemudian dia hendak membalikan badan Citra, tapi Citra menahan tubuhnya agar tidak berbalik melihat Riko.
Rikopun panik, dia kemudian turun dari ranjang dan memakai celana boxernya, lalu berjalan ke arah Citra untuk melihat ekspresi Citra.
Riko berjongkok tepat di depan Citra dan dia sangat terkejut saat melihat Citra menangis.
"Apa sesakit itu?" tanya Riko panik dan ingin melihat punya Citra tapi Citra tahan tangan Riko sambil menggeleng.
"Terus kenapa kamu menangis seperti ini." tanya Riko lagi sambil mengusap air mata Citra.
"Kak Riko ngga akan ninggalin Citra setelah ini kan?" tanya Citra lirih.
Dalam pikiran Citra kembali terngiang kontrak mereka yang sudah mereka sepakati, dan Riko akan melepaskannya setelah papa Indra sembuh dan sekarang papa Indra sudah hampir sembuh. Pikirnya.
__ADS_1
Riko menatap Citra penuh kebingungan.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, apa aku ada alasan untuk meninggalkan kamu." ucap Riko dengan nada sedikit kesal karna Riko merasa dia seperti laki-laki brengsek yang meninggalkan perempuan setelah dia menidurinya.
"Tapi kontrak itu." ucap Citra lirih dengan suara pelan membuat Riko tidak begitu jelas mendengarnya.
"Tapi apa?" tanya Riko lagi.
"Kontrak." ucap Citra masih dengan suara pelan Riko kembali tidak begitu jelas mendengarnya, dia hanya melihat bibir Citra. bergerak tidak jelas.
"Yang jelas dong." ucap Riko lagi sambil mendekatkan telinganya di bibir Citra.
"Aku bilang, bagaimana dengan kontrak kita." teriak Citra di telinga Riko, Riko segera menjauhkan telinganya dari Citra.
"Ada apa dengan kontrak itu?" tanya Riko bingung sambil mengelus telinganya.
"Bukannya kak Riko akan melepaskan aku, kalau misalnya papa Indra sudah sembuh." ucap Citra lagi.
Riko tercengang mendengar perkataan bodoh Citra.
"Ya ampun Cit, kamu itu kenapa polos banget sih, itu hanya kertas Cit." ucap Riko lagi.
"Itu memang kertas, tapi disitu ada harga diri Citra." teriak Citra kesal dengan Riko karna dia menganggap kontrak itu hal yang sepele, tapi bagi dia itu hal yang sangat penting, karna dia akan jadi janda yang sudah tidak suci lagi.
Riko semakin frustasi melihat tingkah Citra, dia kemudian meninggalkan Citra dan berjalan masuk ke kamar Citra dan mencari kontrak itu, dia memeriksa semua lemari kemudian dia mencari di laci lemari nakas, dan dia menemukannya.
"Kontrak sialan." gerutu Riko memaki kertas itu.
Riko kembali ke kamarnya dan mengambil kontraknya juga, Citra hanya memperhatikan Riko tanpa tau maksud Riko.
Setelah dia mengambil kontraknya dia kemudian kembali berjongkok di depan Citra.
"Kamu nangis karna benda ini, dan kamu meragukanku karna benda ini, benda apa ini." gerutu Riko lalu merobek - robek benda itu dan membuangnya kemana-mana.
Citra tersenyum menatap Riko dia meras puas, Riko kemudian mengusap pipi Citra lembut.
"Cit, aku bukan pria brengsek yang seenaknya meninggalkan perempuan setelah dia menidurinya, ini pertama kali buat kamu begitupun aku, aku melakukan hal ini karna aku itu sayang sama kamu, aku mau kamu menjadi milikku seutuhnya. Lagian kalau kamu berpatokan dengan kontrak itu, aku sudah lebihndulu melanggar kontrak itu Cit, aku pernah bilang kan kalau aku akan melepaskan kamu dalam keadaan suci, tapi sekarang aku apa? akh menodai kamu, itu artinya aku ngga akan pernah meninggalkan kamu." ucap Riko lirih kemudian mengecup kening Citra dengan sangat dalam. dan membuat Citra tersenyum puas.
Riko kemudian menyentil kening Citra, membuat Citra mengeluh kesakitan.
"Dasar bodoh, kamu itu yah sangat suka bikin orang khawatir dengan hal-hal yang ngga masuk akal." omel Riko.
"Kak Riko." teriak Citra kesal.
"Apaa." balas Riko melototi Citra.
__ADS_1
"Sayang.." ucap Citra lembut dan tersenyum sambil merentangkan tangannya tanda ingin dipeluk.
"Cihh." gerutu Riko kemudian memeluk Citra dan menjatuhkan diri di kasur.