
Sore hari Sindi pulang kerumah dan mendapati pria penyelamat anaknya sedang duduk didepan teras seorang diri.
" Assalamualaikum " Sapa Sindi tersenyum hangat.
" Waalaikumsalam " Jawab Samuel tersenyum dan berusaha bangun.
" Gak usah duduk aja " Kata Sindi menahan pria itu.
Samuel mengangguk menyalami Sindi dengan takzim.
" Kamu sendirian ? Winda mana ?" Tanya Sindi mengernyit.
" Didalam " Jawab Samuel.
Sindi mengangguk paham.
" Tante bawain makanan enak buat kalian,mumpung tadi pesanan nya di cancel " Ucap Sindi ceria.
Samuel diam melihat bungkusan kresek ditangan wanita tersebut.
" Em maksudnya ini bukan sisa tapi gak kesentuh sama yang punya " ralat Sindi melihat expresi Samuel yang terlihat beda.
" Iya " Jawab Samuel mengangguk pelan.
" Duh aku lupa lagi nih anak bukan orang sembarangan,mana mau dia makan sisa " Batin Sindi merutuki dirinya.
" Om sudah pulang ?" tanya Sindi mengalihkan.
" Belum " Jawab Samuel tenang.
" Mas Malvin pasti pulang malam " gumam Sindi yakin.
" Ya udah masuk yuk " Ajak Sindi ceria.
" Aku pengen duduk disini dulu " Tolak Samuel.
" Baiklah,tapi gak boleh kemana mana ya " Kata Sindi ngeri.
" Iya " Jawab Samuel paham.
Wanita itu pun masuk dengan hati2 memantau Samuel yang kembali rebahan di kursi.
Sebenarnya Sindi sangat takut meninggalkan Samuel tanpa penjagaan karna ia tau lelaki itu sedang dicari keluarganya,Sindi takut lelaki itu diketahui oleh orang karna Samuel menjadi ujung tombak keluarganya saat ini.
Jika Samuel ditemukan dengan keadaan sekarang,besar kemungkinan keluarga kecil Malvin akan berpisah.
Romi begitu meminta Sindi dan Malvin sangat hati2 bertindak,sedikit kesalahan akan membuat fatal seluruhnya.
Tapi Sindi tak bisa berdiam diri dirumah dan hanya mengandalkan Malvin mencari nafkah,mereka butuh uang yang sangat banyak untuk pengobatan Samuel dan Winda,ditambah Doni dan hutang mereka kepada Romi yang tak sedikit.
Sindi tak bisa membayangkan jika ia tak punya sahabat seperti Yuni,hidup wanita itu pasti akan lontang lantung dengan masalah yang datang silih berganti tanpa memberi jeda..
Sindi masuk kedalam dan mendapati anak gadisnya sedang memasak dikuali.
" Masak apa sayang ?" tanya Sindi tersenyum.
" Capcai Ma " Jawab Winda tersenyum.
" Wahhh,kamu udah enakan ?" tanya Sindi.
" Udah,aku ikutin perintah dokter " Jawab Winda.
" Iya,untuk sementara harus ingat peraturan Dokter ya " Kata Sindi lembut.
" iya Ma,oh iya Doni dibawa keluar sama Ayah Romi tadi " Ucap Winda teringat.
" Iya tadi nelfon Papa kamu,kasihan Ayah kamu gak punya temen dirumah,Bibi sama Byanca keluar negeri bareng Alexi " Kata Sindi tenang.
__ADS_1
" Ya,Alexi dah gak sabar pengen ketemu pacarnya " Balas Winda terkekeh.
" Haha iya " Balas Sindi tersenyum.
Keduanya saling mengobrol hangat,setiap hari kondisi Winda terus membaik tapi gadis itu tak boleh berpuas hati karna ia masih dalam pengobatan 1 tahun kedepan.
Ginjal Samuel benar2 cocok dengan gadis itu,Winda jarang merasakan sakit seperti dulu,lain hal dengan Samuel yang masih sering mual bahkan muntah.
Diluar,Samuel termenung menatap jalanan kosong yang sepi melompong.
Rumah yang ia tempati saat ini jauh dari tetangga,bahkan bisa dibilang tak ada tetangga karna rumah mereka masuk plosok hutan.
Setiap hari Samuel teringat akan orang tuanya terutama Lutfia yang pasti akan sangat mengkhawatirkan dirinya.
" Maafin aku Ma,aku bakal pulang dan berkumpul bersama kalian lagi " Gumam Samuel berbicara dengan angin.
Hati lelaki itu merasa sesak,kadang Samuel merasa tak sanggup menahan gejolak dihatinya.
Kini pria itu baru merasakan sakitnya menahan rindu kepada orang yang selama ini mengkasihi dirinya.
Saat asik2nya diam diterpa angin sore yang menyejukkan tiba2 pundak lelaki itu ditepuk dari belakang.
Samuel tersentak dan menoleh cepat.
" Kamu " Ucap Samuel menghela nafas lega.
" Kenapa diam disini ?" tanya Winda lembut.
" Gak papa " Jawab Samuel melihat kedepan lagi.
" Kangen sama keluarga kamu ya ?" Tebak Winda.
" Ngak " jawab Samuel berbohong.
Winda tersenyum dan mengambil tangan lelaki itu.
" Hm " Jawab Samuel menatap gadis itu sejenak.
" Nanti aku janji bakal minta Papa buat balikin kamu ke keluarga,tapi belum sekarang karna kondisi kamu..." Kata Winda menggantung.
" Ya aku belum sembuh dan kau sudah bisa menangkap kijang " jawab Samuel malas.
" Hah " pekik Winda melotot.
" Haha tidak,aku berjalan saja masih gemeteran " Kata Winda tertawa.
" Kau lebih baik dariku " Balas Samuel tersenyum miring.
Winda terdiam,ia merasa Samuel begitu menyindirnya.
" Apa aku perlu mengembalikan ginjal mu ?" tanya Winda.
" Kau pikir sekarang kita sedang bermain monopoli ?" Tanya Samuel tajam.
" Em gak sih,hanya saja aku pikir aku tidak berhak mendapatkannya " Balas Winda menunduk.
" Kau hampir membuat ku mati dan sekarang kau ingin membuat sekali lagi !" Kata Samuel geram.
Winda menggeleng dengan wajah sendu.
" Aku ingin kau selamat,aku tidak pernah menginginkan kamu pergi " Kata Winda lirih.
" Kau harus membalasnya seumur hidup !" Kata Samuel tenang.
" Membalas ? gimana caranya ?" Tanya Winda mengernyit.
Samuel diam menatap kedepan lagi.
__ADS_1
" Aku bertanya " Kata Winda memegang lengan lelaki itu.
" Aku tidak mau menjawab " Balas Samuel.
" Jika kau tak menjawab bagaimana aku bisa tau apa keinginan mu ?" Tanya Winda heran.
" Papa mu sudah tau,tanyakan padanya " Jawab Samuel datar.
" Papa tau ?" Ulang Winda terkejut.
" Ya,kau pikir aku memberi mu ginjal dengan suka rela ? hei tak ada yang gratis didunia ini " Kata Samuel berdecih.
Winda terdiam.
" Lalu apa mau mu ?" tanya Winda mulai deg degan.
Samuel kembali diam,lelaki itu terlihat belum mau menjawab apa yang ia inginkan karna waktu belum pas menurut lelaki itu.
Ntah apa rencana dibalik semua permintaan Samuel,hanya dirinya yang tau dan Sindi maupun Malvin tidak akan pernah menolak karna mereka sudah menyepakati banyak hal bersama termasuk nasib Winda kedepannya.
" Apa maksud lelaki ini ? dia ingin apa dari ku ?" Batin Winda menebak.
Keduanya saling diam dengan isi kepala yang begitu berisik.
Malam harinya,Malvin pulang kerumah dengan penampilan sedikit berantakan.
" Papa " Panggil Winda menyambut Malvin dari arah kamar.
" hay " Sapa Malvin tersenyum hangat.
" Papa udah makan ?" tanya Winda ceria.
" Belum,Papa mana bisa makan diluar kalo gak sama kalian " Jawab Malvin menggoda.
" Heleh,biasa juga makan sendirian " Celetuk Sindi.
" Hehe sekarang gak lagi Yank " Balas Malvin gemas.
Sindi tersenyum kecil dan masuk kedapur.
" Papa pacaran dulu ya " Pamit Malvin kepada anaknya.
" Iya abg tua " Balas Winda malas.
Malvin mengecup pipi gadis itu dan melesat masuk dapur.
Samuel yang sedang menonton tv hanya diam memperhatikan kedekatan mereka.
" Yank " Panggil Malvin memeluk Sindi dari belakang.
" Hm " Jawab Sindi menyeduhkan kopi panas.
" Tadi ketemu Mama terus dia kasih uang ini buat biaya berobat " Ucap Malvin menunjukkan uang dalam kantong kuning.
" Apa !" Pekik Sindi terbelalak.
Malvin melepas pinggang istrinya ikut terkejut.
" Kamu nerima uang dari mereka ?" Tanya Sindi melotot.
" A aku bis a jela sin Yank " Kata Malvin ketakutan.
Jantung Sindi berdegub kencang,wanita itu begitu terkejut dengan kabar yang barusan disampaikan suaminya.
❤❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.
__ADS_1