
Next...
Riko terus menerus berjuang agar dia cepat wisuda karna itu adalah syarat agar Riko bisa kembali bersama Citra. Hari ini Skripsinya di ACC, langkah selanjutnya adalah dia harus meneliti, tapi dia harus meneliti di negara Korea karna judul yang dia angkat mengenai peran teknologi dalam dunia bisnis, karna Korea adalah salah satu negara maju dengan kecanggihan teknologi terbesar ke-3 di dunia, makanya dia memilih negara tersebut. sebenarnya dosennya menyarankan agar dia meneliti di Amerika karna Amerika menduduki posisi pertama dalam masalah kecanggihan teknologi, tapi dia memilih Korea, alasannya karna Citra (Paham kan, hehe)...
3 hari lagi Riko berangkat ke Korea, sebenarnya dia bisa saja langsung berangkat, tapi karna tuntutan pekerjaan dia mengundurnya. Hari ini dia akan ke Jerman untuk membahas proyek asing yang akan mereka rancang, kali ini dia berangkat sendiri tanpa Romi, karna Romi harus menghandle perusahaan di Jakarta.
Skip...
Indah sedang berada di kantin bersama Mita, sementara Arman, Doni dan Anton juga berada disana.
Riko tiba-tiba datang dan langsung menarik Indah, semua mahasiswa di kantin menatap Riko terutama Mita penggemar amatir Riko, begitupun dengan ke-3 sahabatnya menatap Riko heran yang sedang menggandeng tangan Indah keluar kantin.
"Apa itu istrinya Riko?" gumam Anton tidak percaya. Arman dan Doni langsung menjitak kepala Anton gantian karna dia bicara halu.
"Sakit tau, yah gue kan cuma nebak, kalau Indah bukan istrinya, ngapain dia narik-narik tangannya kayak gitu, lo pada kan udah kenal Riko, dia anti sama perempuan." gerut Anton kesal.
Skip..
Riko membawa Indah menuju ruang perawatan, hari ini ruang perawatan sepi, Luna sedang keluar membeli stok obat yang sudah berkurang.
"Ada apa kak?" tanya Indah bingung.
"Aku mau tau kabar Citra?" tanya Riko kemudian duduk di samping Indah.
Indah kemudian mencerikan kepada Riko, bahwa Citra sangat khawatir kepadanya,dia juga menceritakan bahwa Citra menangis.
Riko kembali khawatir dengan keadaan Citra. Indah melihat wajah khawatir Riko.
"Gimana kalau kak Riko telfon Citra aja, kak Riko yakinin Citra biar dia ngga khawatir dan jangan nangis lagi." ucap Indah memberi saran.
"Tapi, Kami dilarang berkomunikasi." ucap Riko sedih.
"Aduhh kak Riko, yang telfon Citra kan aku bukan kak Riko, yang dilarang telfon Citra kan kak Riko bukan aku, jadi aku yang telfon kak Riko yang ngomong, gimana?" tawar Indah dan Riko memgangguk menyetujui.
Indah menelfon Citra dan terhubung, terlihat Riko sudah sangat tidak sabar untuk mendengar suara istrinya.
"Haloo." Ucap Citra dengan suara serak akibat nangis.
Riko terdiam mendengar suara Citra yang serak. Citra terus berkata halo, tapi Riko masih belum menjawab.
__ADS_1
"Citra." ucap Riko lirih, Citra mengenal suara itu diapun kembali menangis.
"Kak Riko.." ucap Citra sambil menangis.
"Kamu jangan nangis lagi yah,, kamu jaga kesehatan kamu, aku akan segera menjemput kamu, kamu cukup jaga kesehatan kamu, jangan nangis, aku akan buktiin ke mereka bahwa aku itu pantas untuk kamu." ucap Riko meyakinkan Citra dan Citra pun mengangguk mengiyakan perkataan Riko.
"Kak Riko juga jaga kesehatan kak Riko, kak Riko harus banyak-banyak istirahat, jangan sampai sakit." ucap Riko lagi.
"Ya udah kalau gitu, kamu baik-baik yah, tunggu sebentar lagi, aku akan segera menjemput kamu, udah dulu yah istriku sayang aku harus pulang untuk berkemas, karena aku akan berangkat ke Jerman hari ini." ucap Riko berpamitan dengan Citra.
Citra kemudian mengiyakan, tidak lama telfon mereka terputus karena mama Ratna mengetuk pintu Citra.
Setelah berbicara dengan Citra, Riko merasa lebih tenang. dia kemudian memberikan ponsel Indah lalu berterima kasih dengan Indah kemudian pergi.
Indah menatap punggung Riko yang meninggalkannya.
"Kata Mita, Riko itu cuek, dingin dan ngga perduli dengan perempuan, tapi yang barusan aku lihat. Sepertinya Mita mengumpulkan informasi yang salah, katanya kenal sama Riko udah sangat lama, tapi menurut aku Citra yang lebih mengenal Riko." gumamnya lalu berjalan hendak keluar dari ruang perawatan.
Saat dia keluar dari pintu, dia terkejut karna Mita sudah menatapnya sinis sambil melipat kedua tangannya di dadanya.
"Kamu udah dari tadi disini?" tanya Indah panik.
Indah yang merasa dirinya sudah terpojok, dia tidak ada pilihan lain selain menjelaskan semuanya. Indah menarik Mita masuk ke dalam ruang perawatan lagi, lalu menjelaskan panjang lebar.
"Apaaa,, jadi Citra udah nikah, dan suaminya adalah kak Riko." teriak Mita terkejut.
Indah tercengang melihat ekspresi Mita, Indah kemudian tersedak air liurnya sendiri kemudian menyadari bahwa ternyata Mita hanya menjebaknya.
"Mita,, kamu bener-bener yah, tadi kamu bilang kalau kamu udah tau semuanya, terus kenapa sekarang kamu terkejut. kamu bohongin aku kan." teriak Indah kesal dengan Mita.
"Kalau aku ngga kayak gini, kamu ngga akan buka mulut." ucap Mita membela dirinya.
Beberapa menit yang lalu saat Riko menarik Indah.
Mita menatap Indah dan Riko keluar dari kantin sambil Riko menarik Indah, Jiwa kepo Mita meronta-ronta, dia berfikir ini ada hubungannya dengan Citra, meskipun hatinya sakit saat orang yang paling dia kagumi menarik orang lain, tapi dia hilangkan perasaan itu sejenak.
Mita mengikuti Riko dan Indah, tapi tiba-tiba saja Mita tersandung akibat menginjak tali sepatunya sendiri, dia hanya melirik sepatunya sekilas dan kembali ingin mengejar Indah dan Riko, tapi mereka sudah hilang dari pandangan Mita.
Beberapa menit Mita berkeliling di dekat ruang perawatan mencari-cari mereka, tiba-tiba Mita melihat Riko keluar dari ruang perawatan denga wajah yang bahagia.
__ADS_1
Pikiran mesumnya muncul, dia marah dengan Indah, segera dia ingin melabrak Indah karna dia merebut Riko darinya, dia berdiri di depan pintu ruang perawatan hendak masuk, tapi Indah sudah nongol dengan wajah yang sangat terkejut, hatinya panas melihat ekspresi Indah, dia menyangka bahwa Indah terkejut karna kepergok, tapi ternyata...
Next...
Riko sudah selesai packing, dia kemudian mengambil berkas yang akan dia bawa ke Jerman, dia memeriksa 1 persatu berkas itu, tapi ada yang kurang, dia menyadari ternyata berkas yang satunya masih ada di Romi.
Riko kemudian menelfon Romi dan menanyakan berkas itu, Romi kemudian mengatakan bahwa berkas itu ada di rumahnya, dan tidak mungkin dia yang pulang untuk mengambil berkas itu, karna sebentar lagi dia akan miting dengan klien.
"Ya udah Rik, gue coba telfon sepupu gue, siapa tau aja dia udah di rumah, biar dia yang anterin berkas itu ke rumah lo." ucap Romi.
"Ok, gue tunggu." ucap Riko lalu memutuskan sambungan telfon.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya sepupu Romi pun datang dengan menggunakan sepede motor, Riko kemudian menghampiri sepupu Romi yang ternyata adalah Kevin.
Kevin yang sudah sampai di depan rumah Riko, merasa heran karna rumah itu adalah tempat tinggal Citra.
"Jadi ini ternyata Rumah bos kak Romi, ternyata keluarga Citra." Batin Kevin.
Kevin kemudian menatap orang yang berjalan kearahnya yaitu Riko.
"Mana.." ucap Riko meminta berkas itu.
"Ahh, ini kak." ucap Kevin sambil menyerahkan berkas itu.
Riko kemudian berbalik hendak meninggalkan Kevin.
"Kak, Citra sekarang dimana? Aku telfon dia, tapi ngga pernah dia angkat, aku sms juga ngga di balas, apa dia baik-baik saja." tanya Kevin tiba-tiba.
Riko terkejut mendengar perkataan Kevin, yang tanpa sungkan menanyakan istrinya kepadanya. Riko berbalik menatap Kevin, dia kemudian menyadari, ternyata Kevin orang yang pernah mengantar Citra pulang, dan menjemput Citra, dia juga pernah membalas pesannya melalui ponsel Citra.
"Jadi kamu itu sepupunya Romi." ucap Riko sambil memicingkan mata menatap Kevin.
"Iya kak." ucap Kevin.
"Terus untuk apa kamu mencari-cari istri saya." ketus Riko..
"Istri? saya mencari Citra kak, bukan istri kakak." ucap Kevin polos.
"Iya, istri saya adalah Citra Lestari Permana, jadi jangan coba-coba kamu mendekati istri saya lagi." ketus Riko lalu meninggalkan Kevin.
__ADS_1
Riko masuk ke dalam Rumahnya mengambil kopernya, lalu memasukkannya ke dalam mobil kemudian pergi meninggalkan Kevin yang masih melamun.