
Ketika semua orang diruangan itu tengah fokus pada objek yang sedang menjelaskan di depan, tiba-tiba saja semuanya terkesiap tatkala benda pipih berwarna hitam itu berdering keras memenuhi ruang rapat, tanpa terkecuali sang pemilik benda pipih tersebut.
Semua pasang mata kini beralih fokus menatapnya. Namun dengan ekspresi yang datar, dia hanya melirik sekilas ponselnya itu, di layarnya terlihat jelas bahwa yang menelfonnya adalah ibunya.
Dengan tenang diapun beranjak dari kursinya sambil tangannya meraih benda pipih itu lalu segera melesat keluar ruangan, namun sebelum dia pergi, dia memberi kode pada pria tinggi yang tengah berdiri diseberangnya untuk tetap melanjutkan persentasenya itu.
Dahinya mengernyit sesat sebelum akhirnya dia menggeser tanda terima panggilan di ponselnya lalu menempelkannya di telinga.
"Ada apa Mah!?" Tanpa basa basi pria tampan itu langsung bertanya pada intinya, karena dia tau ibunya itu sangat jarang sekali menelfonnya kecuali jika ada hal yang sangat penting dan pasti saat ini pun begitu. pikirnya.
"Rik! Citra mau melahirkan! ini mama lagi nganter dia ke rumah sakit, kamu nyusul yah!!
Ucapan mamanya yang terdengar panik barusan membuat tubuh Riko seketika terkesiap, bola matanya membulat sempurna, perasaan cemas kini menyelimutinya, apalagi dia mendengar suara rintihan seorang wanita yang seperti sedang kesakitan, dan Riko sudah menebak jika itu pasti adalah istrinya.
Pikirannya ternyata benar, ternyata mamanya menelfon karena ada suatu hal yang penting, dan ternyata istrinya mau melahirkan.
"Baik mah!! jawabnya singkat, detik berikutnya sambungan telefon terputus secara sepihak.
Sambil memasukkan ponselnya kesaku celana Riko kembali masuk ke dalam ruang rapat itu dengan gerakan setengah panik, karena mendorong pintu dengan kuat hingga menimbulkan suara bising membuat konsentrasi semua orang kembali buyar dan dia kembali menjadi sorotan.
"Maaf!!!
Hanya kata itu yang terucap saat dia menyadari bahwa kebisingan yang dia buat, membuat mereka terganggu.
"Semuanya, sebelumnya saya minta maaf, karena saya tidak bisa melanjutkan rapat ini lagi. ucapnya kepada orang yang berada di dalam ruangan itu yang ternyata adalah kliennya. "Tapi kalian tenang saja, disini ada asisten dan juga manager saya yang akan menghandle semuanya. Mereka sangat profesional." sambungnya lagi.
Romi dan Doni yang berada di ruangan yang sama pun mengernyitkan dahi bingung melihat tingkah Riko yang terlihat terburu-buru dengan raut wajah cemas.
"Ada urusan apa? yang membuat pak Riko terlihat sangat terburu-buru dan meninggalkan kami semua." tanya salah satu kliennya mewakili semua orang yang ada ditempat itu terutama Romi dan Doni.
"Istri saya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, karena akan melahirkan! jadi saya harus segera menyusulnya sekarang!" jelasnya membuat semuanya manggut-manggut paham.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Saya serahkan pekerjaan ini kepada asisten dan manajer saya." Sambungnya lagi dan kembali di angguki oleh semuanya.
"Romi, Doni saya percayakan semuanya kepada kalian."
"Ok!
"Baik.
Jawab mereka bersamaan, tanpa berlama-lama Riko menarik jas kerjanya yang menggantung di sandaran kursi lalu melesat pergi.
Riko berjalan sangat cepat menyusuri koridor kantornya dengan perasaan khawatir dan juga cemas! Namun jika dilihat dari ekspresi datarnya dia terlihat biasa saja disertai dengan sorot matanya yang tajam menampakkan aura kharismatiknya. Membuat semua orang berfikir bahwa dia baik-baik saja.
Pria jangkung itu melewati pintu utama kantornya. Berkat langkah panjangnya, kini dia sudah berdiri disamping mobilnya, secepat kilat dia masuk ke dalam, detik berikutnya mobil itu pun melesat pergi meninggalkan area parkir kantornya.
...***...
Sebuah mobil taksi berhenti di depan rumah sakit. Kemudian pintu taksi depan dan belakang terbuka secara bersamaan.
Dari pintu depan nampak wanita paruh baya berbadan sedikit gemuk dan berpampilan sedikit berantakan hanya mengenakan daster rumahan saja dan diakhiri sendal jepit bertengger di sepasang kakinya.
Sementara di pintu belakang, nampak wanita yang juga sudah setengah baya itu turun keluar dari taksi itu, namun berbeda dengan wanita yang pertama wanita yang ini jauh lebih rapi dengan pakaian modis dari ujung rambut hingga kaki, semua yang dia kenakan barang mahal.
__ADS_1
"Bi!! panggil perawat!! cetus wanita cantik berpenampilan modis itu.
"Baik, Nya." jawabnya cepat lalu segera berlari melewati pintu masuk dengan tergopoh-gopoh sambil tangan kanannya mengangkat sedikit dasternya agak keatas.
Sementara wanita paruh baya itu, berusaha membantu seorang wanita hamil keluar dari taksi dengan sangat hati-hati.
"Mah,, perut aku sakit banget mah." Keluh Citra sesaat setelah dia turun dari taksi.
Saat ini Citra sangat merasakan sakit yang luar biasa!! kerutan di wajahnya menjadi tanda bahwa saat ini dia tengah berusaha menahan sakitnya ingin melahirkan.
Sementara Ayu juga sudah sangat cemas dengan keadaan menantunya ini yang tengah dia rangkul setelah keluar dari taksi, menunggu bi Sumi kembali dari dalam.
Citra merintih pelan dengan terus menggigit bibir bawahnya karena menahan sakit.
Tidak butuh waktu lama, Bi Sumi pun muncul bersama dua orang perawat sedang mendorong brankar kearah mereka.
Citra pun langsung berbaring dengan dibantu oleh perawat dan juga mertuanya di atas brankar tersebut. Detik berikutnya brankar itu melesat masuk ke dalam rumah sakit.
Ayu menggenggam tangan menantunya sambil berjalan beriringan di samping brankar itu. Guratan di wajahnya tergambar jelas jika saat ini dia sangat cemas dengan kondisi Citra yang terlihat sangat kesakitan dan bahkan mengeluh padanya.
"Iya sayang, sebentar lagi kamu akan baik-baik saja, kamu tenang yah, ada dokter yang akan menangani kamu."
Hanya kalimat itu yang bisa dia ucapkan kepada menantunya. agar menantunya itu bisa sedikit tenang.
Sebelum kejadian!
Tiga puluh menit yang lalu, Ayu yang merasa bosan di rumah sendiri. Akhirnya memutuskan untuk pergi berkunjung ke rumah anaknya Riko. Lagi pula dia merasa sangat rindu dengan menantunya karena sejak usia kandungan Citra memasuki sembilan bulan, menantunya itu jadi jarang mengunjunginya. Sebelumnya Citra selalu berkunjung ke rumahnya.
Saat dia tiba di rumah menantunya itu, Ayu langsung masuk dan betapa terkejutnya dia saat melihat darah mengalir di betis menantunya yang tengah duduk di sofa ruang tamu!! Dan kini menantunya itu juga sudah menangis merintih kesakitan. Sementara tidak ada siapa-siapa di rumah itu, bi Sumi sedang keluar untuk membeli sesuatu.
Dengan tergopoh-gopoh dia kembali keluar rumah untuk mencari taksi, dan keberuntungan berpihak padanya, baru saja ada seseorang turun dari taksi, dengan sigap Ayu memanggil supir taksi itu.
Sangat susah menemukan taksi dengan cepat di kompleks ini, Karena jalan ini jarang sekali di lewati taksi.
Sementara Bi Sumi yang sudah kembali dari toko yang tak jauh dari rumah, dia masih di jalan. Dahinya mengernyit merasa heran saat netranya menangkap sosok yang seperti dia kenal, dan yah! itu adalah nyonya Ayu, mertua majikannya.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi saat dia sudah dekat dari rumah, dia melihat majikannya di papah oleh pria yang merupakan supir taksi.
Dengan langkah cepat Sumi menghampiri mereka. "Apa bu Citra sudah mau melahirkan?" tanyanya panik sesaat setelah dia sudah berdiri disamping taksi itu.
Namun detik kemudian Sumi bergidik saat netra Ayu menatapnya sinis. "Masuk!!! Ucapnya dengan nada yang terdengar sangat dingin, mendengar perintah itu membuat tubuh Sumi refleks masuk ke dalam taksi.
Saat itu Sumi tengah keluar untuk membeli bumbu penyedap rasa, karena dia dan Citra ingin memasak namun persediaannya habis di rumah, makanya Citra yang memintanya intuk membelinya di toko yang jaraknya tidak begitu jauh. Namun saat Sumi pergi majikannya itu masih terlihat baik-baik saja.
Flashback off
Sumi duduk bersandar di sandaran kursi dengan kepala menunduk menatap lekat bumbu penyedap rasa yang masih ada di tangannya. Yah! dia membawa bumbu itu ke rumah sakit, karena tadi dia tidak sempat masuk rumah untuk menyimpannya.
Saat ini dia juga merasa sangat khawatir dengan keadaan majikannya yang masih melakukan pemeriksaan di dalam ruangan tepat di depannya.
Begitupun dengan Ayu, wajahnya sudah sangat cemas memikirkan kondisi menantunya, sambil terus merapalkan doa di dalam hati, semoga menantu dan cucunya baik-baik saja.
Sementara Riko yang juga sudah tiba di rumah sakit, langsung melesat masuk ke dalam rumah sakit, setelah memarkirkan kendaraannya.
__ADS_1
...***...
Setelah satu jam yang lalu Romi sudah selesai dengan pekerjaannya yaitu meyakinkan klien, dan dia bersama Doni berhasil meyakinkan klien itu. Alamat perusahaan mendapat untung banyak hari ini. Bisa dapat bonus lagi nih. batinnya merasa senang.
Dengan ekspresi yang terlihat bahagia Romi berjalan menyusuri koridor kantor untuk segera pulang. Dia harus mengantar istrinya untuk memeriksakan kandungannya ke Dokter, karena dia sudah berjanji, sekalian menjenguk Citra yang sedang melahirkan.
Masih dengan ekspresi yang sama, dengan suasana hati yang terlihat sangat senang.
Entah apa yang membuatnya merasa begitu senang hari ini, apa karena dia berhasil meyakinkan klien sehingga membuat perusahaan untung banyak?.
Apa tentang dia yang akan mendapatkan bonus?
Atau mungkin karena pekerjaannya yang hari ini begitu cepat selesai membuat dia bisa pulang cepat dan bertemu istrinya?
Entahlah!? kejadian yang mana yang membuatnya seperti sekarang!! Yang pasti saat ini dia sangat senang titik.
Doni yang saat ini jalan beriringan bersama Romi, mengernyitkan dahi saat dia melihat tingkah Romi yang saat ini tengah melamun detik berikutnya dia senyum-senyum sendiri, semakin membuat kerutan didahinya menjadi jelas.
"Kenapa lo!? Doni bertanya sambil menyenggol lengan Romi membuatnya terkejut lalu menatap orang di sampingnya. Alisnya terangkat saat dia melihat Doni sudah berjalan beriringan di sampingnya. sejak kapan? pikirnya.
"Gue lagi bahagia!! nggak usah ganggu!! cetusnya nyolot.
"Lebayy." Doni mencibir pelan tapi masih bisa terdengar jelas di telinga Romi, membuatnya mencebikkan bibirnya.
Langkah Romi terhenti di depan pintu masuk kantor karena ponselnya yang tiba-tiba berdering! Melihat Romi berhenti membuat Doni juga ikut berhenti.
"Iya bi! ada apa?"
Romi bertanya sesaat setelah menerima telefon yang ternyata panggilan dari rumahnya.
Detik berikutnya senyum di wajah Romi perlahan mengkerut dan wajahnya berubah suram, netra coklatnya menatap nanar jauh ke depan, benda pipih yang menempel di telinganya perlahan-lahan melorot beriringan dengan tangannya yang melemas.
Doni yang masih berdiri di samping Romi mengerutkan dahi heran saat melihat perubahan dari sahabatnya itu.
"Ada ap-
Belum sempat Doni menyelesaikan kalimatnya. Romi dengan ekspresi paniknya langsung berlari dengan cepat menghampiri mobilnya. Doni yang merasa ada yang aneh, akhirnya menyusul Romi ke parkiran.
Setibanya di parkiran dia semakin yakin pasti terjadi sesuatu dengan Romi, karena saat ini Romi terlihat seperti orang yang lupa diri, dia sibuk merogoh sakunya, baju, celana dia rogoh dengan kasar. Seperti orang yang kesetanan. Ada apa? batin Doni heran.
"Naik mobil gue aja!" ajaknya lalu menarik Romi dengan cepat menuju mobilnya.
Setelah mereka naik, Doni yang mengambil alih kemudi bertanya.
"Kemana?"
"Rumah sakit. Buruan." mendengar itu Doni langsung menancapkan gas dengan laju yang bisa dibilang tidak pelan.
Doni yang tadinya berniat untuk makan siang, tiba-tiba saja dia batalkan saat melihat sahabatnya seperti ini. Sebenarnya dia sangat penasaran, dia ingin sekali bertanya, kenapa Romi bisa seperti ini? Tapi niatnya dia urungkan saat melihat Romi yang sudah meneteskan air mata. Doni hanya mampu menatap iba sahabatnya ini. Apapun yang tengah menimpanya saat ini, semoga saja semuanya baik-baik saja. Batin Doni berdoa.
-tbc-
...-Semoga doanya terkabulkan, bang-...
__ADS_1