
Disebuah ruangan seorang gadis terbangun dari tidurnya setelah meminum obat siang tadi.
Winda mengerjab2kan matanya dan berusaha bangun.
Tak ada siapa pun yang menjaga diruangan,Winda melihat jam didinding dan menghela nafas.
" Ternyata udah jam 5,pantesan sepi pasti Mama jemput adek les dan Bibi pulang memasak " Gumam Winda paham kesibukan 2 perempuan itu.
Setiap hari dijam2 tertentu Winda hanya akan ditunggu oleh suster karna Yuni maupun Sindi kembali sibuk.
Winda tak keberatan,gadis itu merasa bisa melakukan nya sendiri walaupun terkadang harus dibantu suster.
" Kayaknya suasana cakep nih kalo aku duduk santai diluar " Gumam Winda mengintip kearah jendela.
Gadis itu celingak celinguk dan mendapati sebuah kursi roda yang sering ia pakai tak jauh dari brangkar.
Winda diam sesaat mencoba mencari cara agar dirinya bisa duduk disana.
Kondisi gadis itu memang naik turun,Winda tak boleh banyak bergerak karna kondisi ginjalnya yang rawan cedera.
" Aku pasti bisa " Gumam Winda mulai menurunkan kakinya kelantai.
Gadis itu berusaha dengan keras hingga berhasil berdiri dengan tegak.
" Huhhhh lelahnya " Gumam Winda menyeka keringat.
Akibat sakit,kaki Winda pun sangat lemah digunakan untuk berdiri saja gadis itu harus mati2an.
" Aku gak boleh nyerah,mumpung gak ada suster jaga didalam,aku harus bisa mengambil kursi roda itu " Gumam Winda menyemangati dirinya.
Gadis itu mulai mengangkat sebelah kakinya dengan hati2.
Ceklek...
Pintu tiba2 terbuka,Winda langsung kaget dan brughhhh...
Gadis itu terjatuh kelantai.
" Windaaaa " pekik seorang pria langsung berlari mendekati gadis itu.
" Aduhh " Ringis Winda memegang kakinya yang terasa sakit.
" Ayo aku bantu " Ucap pria itu mengangkat tubuh Winda.
" Ehh " pekik Winda terkejut.
Lelaki itu mendudukkan Winda dibrangkar dengan hati2.
" Kamu gak papa ?" tanya Lelaki itu khawatir.
Winda mendongak dan mengernyit melihat lelaki asing didepannya.
" Kamu siapa ?" tanya Winda bingung.
Lelaki itu diam memperhatikan Winda.
" Kamu anaknya Om Malvin bukan ?" tanya pria asing itu tenang
" Iya " jawab Winda mengangguk.
" Aku Jonathan " Ucap lelaki itu tersenyum canggung.
Winda diam melihat tangan lelaki itu mengambang menunggu sambutan.
" Hm maaf,aku kesini tanpa pemberitahuan,Kakek meminta ku mengantarkan ini untuk mu " Ucap lelaki tampan itu memberikan seiikat bunga mawar merah.
" Hah " kata Winda kaget.
" Terimalah,dia tak sempat kesini lagi " Ucap lelaki itu tersenyum.
Winda menerimanya dan mengendus bau mawar tersebut.
" Terima kasih " Ucap Winda tersenyum kecil.
" Hm kamu siapanya Kakek ?" Tanya Winda.
__ADS_1
" Aku,aku anak Kakaknya Om Malvin " Jawab Jonathan.
" Hah " Kata Winda terbelalak.
" Jangan takut,aku tidak seperti saudra mu yang lain " kata Jonathan cepat.
" Maksud mu ?" tanya Winda.
" Kau tadi mau kemana ?" tanya Jonathan mengalihkan.
" Aku ingin ke taman " Jawab Winda.
" Baiklah,ayo kita kesana " kata Jonathan mengambil kursi roda.
Winda kembali diam melihat lelaki itu langsung bergerak.
" Jangan takut,aku orang baik,ini ktp ku " Ucap lelaki itu membuka dompet dan memberi kartu kecil.
Winda mengambilnya dan melihat nama disana.
" Hm benar " Kata Winda mangut2..
" Ayo,langitnya kekuningan bekas hujan " Kata Jonathan tersenyum.
Winda mengangguk,pria itu pun memapah Winda ke kursi roda.
Meski belum kenal,tapi Winda mencoba percaya kepada lelaki itu..
Keduanya menuju taman,Winda menghirup udara segar disepanjang lorong rumah sakit..
Tak lama mereka pun sampai ditaman,Winda ingin duduk di kursi tapi Jonathan melarang.
" Kau duduk disitu saja,jika hujan turun aku tidak susah payah memindahkan kamu " Kata Jonathan pelan.
" Aku bisa berpindah sendiri " kata Winda tersinggung.
" Ya tapi keadaan mu belum bisa,berdiri saja tadi kau jatuh " Cibir Jonathan.
Winda kembali terdiam dan pasrah saja daripada berdebat.
Lelaki itu pun menjelaskan siapa dirinya,Winda sangat terkejut dan tak menyangka keluarga Malvin masih ada yang menganggap dirinya ada.
" Kamu jangan sedih,itu masalah orang tua bukan kamu " Ucap Jonathan tersenyum.
" Aku tau,tapi karna aku Papa dan Mama menjadi sulit " Balas Winda menunduk.
" Tidak,jangan salahkan dirimu,aku tau Nenek dan Bibi tak menyukai dirimu,awalnya aku juga begitu,tapi setelah mendengar cerita Kakek aku pikir persepsi ku tentang kamu itu gak bener " Ucap Jonathan merasa bersalah..
" Memang Kakek cerita apa ?" tanya Winda kepo.
" Banyak hal,dari kamu kecil hingga dewasa bahkan saat sekarang " Jawab Jonathan.
" Jadi kamu tau kalo aku...
" Ya aku tau,aku juga diam2 mencari orang yang mau mendonorkan ginjalnya untuk mu,Kakek membyar mahal untuk itu " Kata Jonathan serius.
" Untuk apa ? 22 nya sudah rusak,aku tidak tau kenapa itu terjadi " kata Winda menghela nafas memegang daerah ginjalnya.
" Kamu pasti sembuh Win,jangan takut " Kata Jonathan merasa sedih.
" Hm terima kasih Jo,bisakah kita berteman ?" tanya Winda tersenyum.
Jonathan menatap Winda kaget,dirinya tak menyangka Winda yang lebih dulu menganjak pertemanan.
" Kenapa tidak,kita bersaudara " Ucap Jonathan tersenyum.
Winda ikut tersenyum,keduanya pun bercerita banyak hal.
Jonathan menceritakan kejadian apa saja yang ada dirumah Nenek mereka.
Winda menjadi pendengar yang baik dan masih tak menyangka Jonathan kini berteman dengannya.
Lama duduk ditaman seorang wanita baru saja masuk ruangan anaknya dan kaget melihat sang putri tidak ada di tempat tidur.
" Ya Tuhan,Winda mana ?" pekik Sindi terbelalak.
__ADS_1
Wanita itu melepas rantang dinakas dan langsung berlari keluar.
Sindi menyetop seorang suster yang sedang mendorong brangkar.
" Anak saya mana ?" Tanya Sindi pucat.
" Siapa Bu ?" tanya Suster.
" Winda diruangan Vip kelas 2 " Jawab Sindi.
" Sebentar saya tanya ke teman yang jaga " Ucap suster itu tenang.
Sindi mengangguk,keduanya pun langsung berlari ke pusat informasi.
Terlihat seorang suster sedang main hape dibalik meja.
" Anak saya mana Sus ?" tanya Sindi to the point.
Suster itu kaget dan langsung berdiri.
" Mana Winda ?" Tanya Sindi lagi.
" Oh,Winda tadi izin mau ketaman sama temannya " Jawab Suster.
" Hah siapa ?" Tanya Sindi terbelalak.
" Gak tau Bu,cowok sepantaran Winda " Jawab suster takut.
Sindi langsung berlari ketaman dengan tergesa2.
Perempuan itu sangat takut apalagi sebentar lagi Malvin pulang dan hari akan malam.
Tak bisa dibayangkan bagaimana marahnya Malvin mengetahui anak kesayangannya hilang.
Dari kejauhan seorang pria terlihat memapah Winda berjalan,sontak Sindi seketika emosi dan langsung berlari.
" Siapa kamu !" Bentak Sindi mendorong lelaki itu.
" Mama !" pekik Winda terbelalak.
Sindi mengambil alih lengan Winda dan mendudukan putrinya ke kursi roda.
" Siapa kamu hah ? berani2nya kamu bawa anak saya !" Bentak Sindi emosi.
" Maaf Bi,aku cuma temenin Winda duduk disini " Ucap Jonathan menelan ludah kasar.
" Winda " Panggil seseorang dari arah belakang.
Semua orang menoleh dan kaget melihat Malvin berdiri tak jauh dari mereka.
" Papa " Ucap Winda tersenyum.
Malvin berlari kearah anaknya dan memegang bahu Winda.
" Ada apa sayang ?" tanya Malvin lembut.
" Uh untung aku datang duluan " Batin Sindi ketar ketir melihat wajah Malvin yang masih polos belum tau kejadian.
" Gak papa Pa,Papa kenal dia ?" tanya Winda menunjuk Jonathan.
Malvin menoleh dan kaget melihat lelaki tersebut.
" Nathan,kenapa ada disini ?" tanya Malvin mengernyit.
" Aku diminta Kakek nganterin bunga buat Winda Om,soalnya kata Kakek,Winda suka mawar " Jawab Jonathan jujur.
Sindi dan Malvin terkejut,Winda tersenyum kepada Jonathan yang kini menjadi temannya.
" Ya udah,ayo keruangan ini sudah magrib " Kata Malvin tenang.
Semua orang mengangguk,Winda digendong oleh Malvin menuju keruangan,Sindi mendorong kursi roda milik sang anak sambil melirik Jonathan.
" Aku tidak yakin pria ini baik,ibunya begitu membenci ku dan Winda " batin Sindi khawatir.
❤❤❤❤
__ADS_1
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.