
"Aku minta maaf!!
Mita bersuara sangat lirih di ceruk leher Doni dan memecah keheningan yang sudah terjadi bermenit-menit lamanya.
Mereka masih pada posisi yang sama, dengan Mita yang duduk miring dipangkuan Doni sambil kedua lengannya memeluk erat leher suaminya dan wajahnya yang terbenam di ceruk leher Doni.
"Kamu tidak bersalah, kenapa minta maaf!! Jawab Doni tak kalah lirih membuat Mita perlahan mengangkat wajahnya menatap Doni dengan sendu.
"Aku yang harusnya minta maaf!! Sambung Doni lagi menatap lekat netra hitam istrinya.
"Maafkan aku sayang!! Aku salah, aku meragukan cinta kamu!! Tuturnya lagi penuh penyesalan.
"Kamu sudah tahu!? Tanya Mita dengan tatapan sendunya, dan Doni hanya menangguk lemah.
"Tadi, Setelah acara selesai! pria itu datang menemuiku, memberi ucapan selamat dan menjelaskan semuanya." jelas Doni lagi.
Doni memang berkata jujur, setelah acara selesai tadi saat semua tamu dan keluarganya pulang, Doni masih tinggal di gedung itu bersama sebagian orang dari pihak WO, dan tiba-tiba David datang menghampirinya lalu menjelaskan semua kesalahpahaman yang dilihat oleh Doni. David bahkan mengatakan jika dirinya melihat mobil Doni saat itu. Dia sudah merasa menang saat melihat ekspresi Doni yang marah dan berharap hubungan mereka berakhir sekarang juga. Namun, pikiran David salah, Mita menolaknya secara halus, meminta maaf dengan lembut membuat David merasa tercambuk perih.
.
.
.
.
Jika dia sudah mengetahuinya kenapa masih mengabaikannya. pikir Mita
"Lalu!? Kenapa masih seperti ini!? Kenapa kamu masih terus mengabaikan aku!? Hmm. Lanjut Mita penasaran.
Doni diam! Dia tidak menjawab pertanyaan istrinya. Doni memeluk pinggang kecil istrinya menariknya ke dalam dekapannya lalu meletakkan dagunya di pundak Mita.
"Aku merasa bersalah pada pria itu." lanjut Doni lagi dengan lirih.
"Dia yang berjuang begitu lama dariku, membuatmu nyaman dan berakhir dianggap teman, bukankah itu menyakitkan!? Lirih Doni
"Aku bisa merasakan hal yang sama saat aku memposisikan diriku, pada posisinya, itu yang membuatku semakin merasa bersalah." sambungnya lagi membuat Mita memejamkan matanya membiarkan setetes air matanya menetes. Perlahan Mita menarik diri dari pelukan Doni, lalu memukul pundaknya gemas.
"Kamu jahat!? Cetus Mita dengan tatapan sendunya.
"Kamu bahkan memposisikan dirimu, pada posisinya, karena merasa bersalah, kamu bahkan lebih melihat perjuangannya.. Mita kembali bungkam dengan netra yang sudah penuh dengan air mata, tak sanggup, diapun merebahkan kepalanya pada dada bidang suaminya. Sementara tangan Doni refleks mengelus kepala Mita dengan lembut lalu mengecupnya.
"Kau tau!? Perjuanganku lebih berat Don. Lirih Mita. "Pria itu tantangan yang sangat berat untukku, untuk mempertahankanmu disini." Mita menunjuk dada Doni. "Dia berjuang dengan ketulusan yang sangat tulus membuatku berfikir untuk melupakanmu!! Membuatku berfikir, apakah sebaiknya aku memulai lembaran baru dengan pria ini." Lirih Mita dengan tatapan sendunya yang tertuju pada Doni.
__ADS_1
"Tapi tidak bisa!? Mita berucap dengan suara bergetar "entah sudah beratus-ratus kali aku mencoba untuk melupakanmu dan mengalihkan hatiku kepadanya." Mita menjeda ucapannya "Namun, berjuta-juta kali juga, aku semakin mencintaimu dan berakhir menyakitinya. Dan itu sangat menyakitkan Don!! Mempertahankan rasa yang tak pasti, itu sangat menyakitkan." sambungnya lagi dengan sangat lirih, jika saja sunyi tidak ada, suara Mita mungkin tak akan terdengar oleh Doni.
Doni diam!! Lehernya tercekat mendengar pengakuan Mita. Manik mata Doni menatap jauh ke dalam netra hitam Mita.
Doni tak menemukan keraguan di manik mata indah itu. Seketika Hati Doni berkedut sakit, merasa bersalah karena lebih melihat perjuangan orang lain tanpa melihat perjuangan pujaan hatinya. Doni kembali menarik Mita ke dalam pelukannya lagi, merengkuh tubuh kecil istrinya, mengelus serta mengecup lembut pucuk kepala Mita.
"Maafkan aku sayang!! Doni berucap sangat lembut membuat Mita kembali meneteskan air matanya dan mempererat pelukannya.
Doni menarik Mita dari pelukannya, mereka saling bertukar pandang.
Doni mengamati wajah sembab Mita dengan buliran air mata di pipinya, istrinya terlihat sangat sedih karena dirinya, tangan Doni terangkat dan mendarat di pucuk kepala Mita lalu mengelusnya dengan lembut sementara tangan lainnya menghapus air mata di pipi Mita.
"Aku minta maaf!! Aku sangat bodoh!! Lirih Doni
"Maafkan aku!! lirihnya lagi penuh penyesalan. Mita mengangguk lemah membuat Doni tersenyum tipis.
Mereka diam dan kembali bertukar pandang selama beberapa menit. Tatapan yang tadinya adalah tatapan rasa bersalah kini berubah menjadi tatapan yang lain. Sudut mata Doni melirik bagian tubuh Mita yang terekspos, melihat pemandangan indah itu sekilas membuat Doni meneguk salivanya dengan susah payah. Apa dia bisa melakukannya sekarang!? Apa gadisnya sudah baik baik saja sekarang!? Apakah aku pria egois jika aku memulainya sekarang!? Pertanyaan itu memenuhi kepalanya dengan segenap keberanian dia bertanya.
"Apakah!?...
Doni berucap lirih dengan tatapannya yang teduh. Namun, belum sempat menyelesaikan kalimatnya Mita mengangguk pelan, membuat sudut bibir Doni tertarik sedikit karena mendapat persetujuan.
Perlahan Doni mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan ciuman lembut dipipi istrinya. Tidak ada reaksi dari Mita, dia hanya diam, manik mata Doni melirik sekilas wajah istrinya yang terlihat pasrah, detik berikutnya Doni mengangkat dagu istrinya mendekatkan bibirnya pada bibir ranum istrinya. Tak butuh waktu satu detik kini bibir mereka sudah menempel dengan sempurna dan sangat lama.
Namun berselang beberapa detik Doni menghentikan permainannya, menyadari tak ada respon dari Mita. Dia tahu jika istrinya ini masih baru dalam hal ini, terbukti dari tubuh Mita yang bergetar.
"Apa kamu belum siap!?"
Doni berbisik sangat lembut di telinga Mita, membuat bulu halus di sekitar leher dan telinga Mita merinding saat diterpa hembusan nafas berat Doni. Mita menggeleng lemah sebagai jawaban.
"Lalu apa!? apa kamu takut!? bisik Doni lagi, dan Mita menggeleng lagi. Doni tersenyum tipis lalu kembali berbisik "Kalau begitu nikmati saja!! pelan-pelan kamu akan terbiasa sayang!!" bisiknya lagi lalu mengecup lembut telinga Mita dan langsung kembali beralih ke bibir istrinya yang sangat manis itu.
Beberapa menit Mita mencoba mengimbangi permainan antara bibir itu, berusaha menikmatinya, dan yah Mita menikmatinya terbukti saat Mita membalas tautan bibir Doni dan lidahnya. Doni membuka matanya menintip melihat ekspresi wajah Mita yang sudah menikmati permainannya, detik berikutnya permainan Doni yang tadinya begitu lembut berubah menjadi lebih bergairah, Doni semakin menekan tengkuk leher Mita demi memperdalam ciumannya dan Mita menyukainya. Detak jantung dan deru nafas mereka kini sudah tidak beraturan lagi.
Masih pada posisi saling beradu bibir, lalu cumbuannya beralih ke dagu dan leher Mita, sangat lama Doni mencumbui setiap inci leher putih nan halus Mita hingga meninggalkan tanda merah disana, lalu semakin turun ke area dada yang masih tertutupi kain tipis.
Hasrat Doni semakin menggebu, dia tidak tahan lagi, ada sesuatu yang sudah mendesaknya dari balik celananya. Doni menghentikan cumbuannya, tatapan birahinya menatap netra hitam Mita menuntut sesuatu dan Mita mengangguk lemah, karena kini diapun menginginkannya.
Doni kembali meraup bibir Mita dengan ganas lalu perlahan Doni memundurkan kursinya dan bangkit dari duduknya, Doni berjalan keluar sambil membopong tubuh kecil Mita menuju kamarnya, berjalan masuk kamar lalu meletakkan tubuh mungil istrinya diatas kasur king size bertabur mawar merah itu.
Tautan mereka terlepas, dengan nafas yang sudah memburu Doni menatap setiap lekuk tubuh istrinya yang terbaring di atas kasur itu. Lingerie dress warna hitam berbahan tipis itu membuat bra dan dalaman berwarna senada itu nampak begitu jelas, serta warna kulit Mita yang sangat kontras dengan lingerie itu membuat tubuh Mita terlihat sangat seksi dan itu membuat Doni semakin berhasrat.
Doni merangkak diatas tubuh Mita dan menindihnya.
__ADS_1
"Apa kamu sengaja memancingku dengan ini!? hmm. Doni kembali berbisik di telinga Mita. suara berat nan seksi itu terdengar sangat lirih membuat tubuh Mita semakin menegang.
"Mama yang menyiapkan semuanya." jawabnya tidak kalah lirih dengan deru nafas yang sudah tidak beraturan lagi.
Doni menyeringai "Kalau begitu, kita harus membuat momen yang paling indah, agar usaha mama tidak sia-sia." ucap Doni lagi masih berbisik dan Mita hanya mampu mengangguk lemah.
Mendapat respons positif dari Mita, secepat kilat Doni melepas pakaian tipis Mita dengan sekali tarik dan membuangnya ke sembarang arah, lalu detik berikutnya Doni melucuti bra hitam.
Hasrat Doni kian menjadi-jadi melihat pemandangan didepan matanya, tatapan kagum tertuju pada buah dada Mita yang terlihat montok itu.
Mita yang merasa malu melihat tatapan itu, refleks menutupi dadanya lalu mengalihkan pandangannya. Doni tersenyum tipis melihat tindakan istrinya itu.
Doni meraih tangan Mita meletakkannya diatasi kepala, lalu kembali berbisik.
"Tubuhmu sangat indah, aku suka." bisiknya lagi membuat Mita tersipu malu.
Doni melirik wajah Mita yang memerah lalu detik berikutnya dia kembali mengulur bibir ranum istrinya itu dengan sangat buas, serta tangannya tidak tinggal diam, dia meraba gundukan itu membuat desahan Mita tertahan. Cumbuan Doni beralih ke ceruk leher lalu turun ke gundukan itu membuat tubuh Mita semakin meliuk dan "ahhhhh" hanya desahan itu yang keluar dari bibirnya.
Mata Mita hanya terpejam dengan bibir yang terbuka mengeluarkan desahan karena kenikmatan yang diberikan Doni disetiap sentuhan, kecupan dan elusan dari Doni.
Hingga waktunya tiba, Doni tidak bisa menahan lebih lama lagi, Doni bangkit lalu melucuti semua pakaiannya sendiri hingga mereka kini sejajar, bugil tanpa sehelai benangpun yang melekat pada diri mereka.
Raut wajah Mita kembali berubah nikmat saat Doni kembali menyerang area sensitif Mita, detik berikutnya Mita menggigit bibir bawahnya saat benda besar itu mengoyak keperawanannya, jeritan kecil meluncur dari bibirnya membuat Doni mengunci bibir istrinya dengan bibirnya.
Doni mengecup setiap inci wajah cantik Mita, karena merasa sangat bahagia, mahkota Mita masih terjaga untuk dia persembahkan hanya untuknya.
Doni menghentikan sejenak aksinya sesaat saat benda itu sudah tertanam penuh di dalam milik istrinya, Doni menatap wajah istrinya lalu mengusap sudut mata Mita yang basah, mereka saling memandang, tatapan Doni begitu teduh menenangkan Mita, detik berikutnya Mita mengangguk sebagai tanda agar Doni melanjutkan aksinya.
Doni tersenyum lembut lalu kembali melakukan aksinya dengan pelan dan lembut membuat Mita tak mampu menahan kenikmatan itu. Doni menjadi semakin bergairah karena respon dari tubuh Mita dan semakin mempercepat pergerakannya membuat ruangan itu dipenuhi suara desahan kenikmatan selama hampir satu jam lamanya, hingga mereka terkulai lemas dan tertidur. Mita tertidur pulas dalam dekapan Doni dengan lengan kekar Doni sebagai bantalannya.
-tbc-
Author's Note π_π
...Maafkan atas kelancangan author membuat part dewasa ini 🙈, setelah hampir seminggu author tidak up, muncul-muncul langsung membuat part ini. aduhhh, maafkan author yah....
...untuk readers di bawah umur harap bijak dalam membaca, maaf karena ini malam pertama....
...Maaf juga yah, karena baru up, soalnya beberapa hari kemarin author sibuk di dunia nyata....
...Awalnya author ingin mengakhiri cerita ini, tapi karena partnya Udah kepanjangan, makanya author sudahin sampai sini, dan masih ada satu part lagi, tungguin yah. ...
... Happy reading ❤...
__ADS_1