Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Tujuh Sembilan "TSJC"


__ADS_3

Riko dan Pak Aaric sedang rapat berdua tanpa siapapun yang mengganggu mereka, karna memang pak Aaric hanya ingin bertemu Riko.


Sementara di depan ruang rapat ada Silfa, Romi dan asisten pribadi pak Aaric, tapi asisten pak Aaric sedang menelfon.


Romi dan Silfa hanya saling diam-diam tanpa saling tegur. Silfa ingin sekali mengucapkan terima kasih dengan Romi karna kejadian kemarin saat dia sakit, tapi dia enggan mengatakannya karna pasti Romi akan mengejeknya lagi. Romipun juga enggan berbicara dengan Silfa karna dia juga merasa canggung karna sudah mengejeknya.


*******


Setelah kuliah Citra selesai, Citra berjalan di koridor menuju keluar kampus, sementara Mita dan Indah yang juga sudah selesai dengan kuliahnya menunggu Citra di area depan kampus.


Tidak lama kemudian Citra pun muncul dan bergabung dengan mereka berdua.


"Cit, kamu ngapain nyuruh kita nungguin kamu disini?" tanya Mita penasaran.


"Kita ke rumah aku yuk, aku ada sesuatu untuk kalian." ucap Citra.


"Apaan?" tanya Indah lagi.


"Ada deh, makanya kalian ke rumah aku, sekalian temanin aku di rumah, soalnya aku sendirian." pinta Citra.


"Ya udah deh, aku juga penasaran sama rumah kamu,, rumah mantan calon suami aku." ucap Mita ber'angan-angan.


Mendengar ucapan Mita, Citra hanya tersenyum sementara Indah merasa perkataan Mita tidak masuk akal, diapun memukul Mita..


"Awww, Sakit tau." keluh Mita kesal dengan Indah, dan Indah hanya menatap Mita sinis.


"Udah ngga usah berantem,, tunggu dulu yah, aku mau nelfon kak Riko dulu." ucap Citra lalu menelfon Riko.


"Halo.." ucap seseorang di seberang telfon menjawab telfon Citra.


Citra merasa aneh dengan suara itu, karna itu bukan suara Riko. Dan itu adalah Romi.


"Emm, maaf kak, aku mau ngomong sama kak Riko, Kak Riko mana?" ucap Citra mencari Riko.


"Riko masih meeting.." Ucap Romi.


"Gitu yah kak, ya udah deh kalau kayak gitu." ucap Citra lagi hendak memutuskan sambungan telfon.


"Ehhh, tunggu.. kamu udah selesai ngampus?" tanya Romi mencegah Citra untuk memutuskan sambungan telfon.


"Iya kak." jawab Citra.


"Ya udah, sekarang aku akan kesitu untuk jemput kamu,, tunggu aku di depan kampus, 5 menit lagi aku nyampe." ucap Romi.


"Ngga usah kak, aku naik taksi aja." ucap Citra menolak tawaran Romi, karna dia merasa tidak enak kalau yang mengantarnya pulang bukan suaminya.


"Ngga ppa kok, ini juga perintah dari Riko. Riko yang menyuruh aku untuk jemput kamu." ucap Romi lagi.


Citra pun menerima tawaran Romi,dia tidak ada pilihan lain selain menerima, karna itu adalah permintaan suaminya.


Setelah memutuskan sambungan telfon, Citra, Indah dan Mita menunggu Romi di depan kampus.


Sementara Romi, setelah berbicara dengan Citra, diapun menghampiri Silfa.

__ADS_1


"Gue mau keluar bentar. Nanti kalau misalnya Riko udah selesai meeting dan gue belum dateng, terus dia nyariin gue, lo bilang aja gue lagi jemput Citra." ketus Romi.


"Lo ngomong aja langsung ke Pak Riko, kenapa nyuruh gue." ketus Silfa lagi.


"Lo kan tinggal ngomong ke pak Riko, susah amat sih diajak kompromi, lagian gue juga ngga mungkin ngomong langsung sama Riko, dia lagi meeting, lo mau gue dipecat." ketus Romi lagi.


"Lagian, lo juga sih,, ini masih jam kerja lo malah mau nge date." ketus Silfa lagi kesal dengan Romi.


"Ngomong apaan sih lo, siapa juga yang mau ngedate. aahhh bodo ah, terserah lo mau nyampein ke Riko apa ngga." gerutu Romi lagu, menyudahi perdebatan mereka, karna Romi takut Citra nunggu terlalu lama, nanti dia bisa disemprot sama Riko.


Romipun meninggalkan Silfa, dengan wajah Silfa kesal.


Silfa menatap punggung Romi yang sudah jauh.


"Nyebelin banget sih, ngapain juga dia nyuruh gue nanyain pak Riko, kalau dia lagi jemput Citra. Emangnya siapa itu Citra, permaisyuri yang haru di jemput. ihhh nyebelin." gerutu Silfa kesal dengan Romi.


******


"Cit, suami kamu lama benget sih, katanya 5 menit, ini udah 10 menit aku berdiri disini, lama-lama aku jadi patung kalau kqyak gini." gerutu Mita tidak sabaran.


"Sabar dong Mit,, bentar lagi dia dateng kok. ucap Citra membujuk Mita untuk sabar.


Tidak lama mobil pun tiba di depan mereka. Citrapun menyuruh teman-temannya untuk naik.


Citra duduk di belakang bersama Indah, karna yang menjemputnya bukan Riko, sementara Mita duduk di depan dan dia tidak tau bahwa yang menyetir adalah Romi.


Saat Indah dan Citra sudah masuk duluan, Indah menatap Romi dan menyadari kalau bukan Riko yang menjemputnya.


Sementara saat Mita masuk ke dalam mobil, dan duduk di kursi depan, dia terkejut saat melihat Romi.


"Kak Romi." ucap Mita terkejut saat melihat orang yang disampingnya adalah sepupunya, sementara Citra dan Indah merasa heran dengan Mita yang mengenal Romi.


"Ngapain lo disini?" tanya Romu datar.


"Yahh, aku teman Citra lah kak, kak Romi sendiri ngapain disini?" tanya Mita lagi.


"Yah gue nyetir lah,, lo pikir ni mobil jalan sendiri." ketus Romi.


"Kalian saling kenal?" tanya Citra penasaran.


"Iya Cit, dia sepupu aku, yang paling nyebelin dan perjaka tua." ejek Mita lalu tertawa keras.


Romipun menjitak kepala Mita, yang mengejeknya perjaka tua.


"Sakit kak." teriak Mita kesal.


"Makanya kalau ngomong di saring dulu, jangan keluar sama ampasnya." ketus Romi kesal.


"Ihh, emang kenyataan kan, kalau kak Romi itu perjaka tua,, sampai sekarang aja ngga punya pacar, dasar ngga laku." celetuk Mita lagi, yang membuat Romi merasa malu, karna Indah dan Citra sudah tersenyum mendengar perkataan Mita yang sudah heboh.


Romi merasa terganggu dengan kegaduhan Mita,, dia pun langsung menginjak rem tiba-tiba dan membuat Mita hilang keseimbangan akhirnya kepalanya terjedot ke depan membuat dia mengeluh kesakitan.


Citra dan Indah juga terkejut dengan tindakan Romi.

__ADS_1


"Ada apa kak?" tanya Citra khawatir.


"Maaf Cit,, tadi ada cicak yang terus ngomel,, makanya aku buat dia diam." ketus Romi menyinggung Mita, Mita pun tersadar dengan singgungan Romi lalu menatap Romi sinis.


"Cicak?" gumam Indah heran.


"Itu aku." ketus Mita kesal.


Indah dan Citra tertawa mendengar pernyataan Mita, ternyata ejekan dia Cicak yang diberi oleh Romi.


*******


Di ruang rapat, setelah Riko menjelaskan semua keuntungan yang akan mereka peroleh apabila pak Aaric mau berinvestasi dengan perusahaan Riko.


Pak Aaric pun menyetujui kerja sama ini, mereka pun menandatangani kontrak tanda kerja sama mereka.


Riko juga mengajak pak Aaric agar dia mau berinvestasi untuk perusahaannya yang berada di Jepang, yang sedang berusaha di rebut oleh Alex, yaitu sepupu sekaligus saingan bisnis Riko, dan tanpa ragu pak Aaric menyetujuinya, karna dia sudah percaya dengan Riko.


Mereka pun bersalaman. Pak Aaric merasa bangga bisa melakukan kerja sama dengan Riko, karna Riko yang sangat cerdas dalam mengurus perusahaannya sampai dia sangat terkenal di dunia bisnis.


Riko dan pak Aaric kemudian keluar dari ruang rapat itu, dan di luar sudah di sambut oleh Silfa dan juga asisten pribadi pak Aaric.


Setelah pak Aaric berpamitan dengan Riko, diapun segera meninggalkan perusahaan Riko dan segera kembali ke negaranya karna dia masih banyak pekerjaan disana.


Rikopun melangkahkan kakinya menuju ruangannya, diikuti oleh Silfa.


Silfa merasa heran, kenapa Riko tidak menanyakan keberadaan Romi.


"Pak, Romi lagi keluar, untuk menjemput Citra." ucap Silfa tiba-tiba memberi tahu Riko.


"Aku sudah tau." ketus Riko.


"Pak Riko sudah tau, bukannya tadi Romi tidak minta izin dengan pak Riko." ucap Silfa merasa heran.


"Untuk apa dia minta izin, kan saya yang menyuruh dia untuk menjemput Citra." jelas Riko lagi.


Silfa terdiam mendengar perkataan Riko.


"Citra itu sebenarnya siapa sih? kok Pak Riko nyuruh Romi buat jemput dia." batin Silfa penuh tanda tanya.


"Kamu kenapa bengong?" tegur Riko melihat Silfa melamun.


"Aku penasaran pak, sebenarnya Citra itu siapa? kenapa pak Riko nyuruh Romi jemput dia di saat jam kerja." tanya Silfa penasaran.


"Kenapa kamu nanyain itu? kamu cemburu kalau aku nyuruh Romi jemput Citra." ucap Riko tiba-tiba dan membuat Silfa salah tingkah karna malu, pipinya memerah.


"Ngga kok pak, saya ngga cemburu." ucap Silfa terbata dan tertunduk.


Riko memahami gerak gerik Silfa, karna istrinya juga seperti itu.


"Kamu tenang aja, Citra itu istri aku, jadi Romi ngga akan macam-macam." ucap Riko datar lalu meninggalkan Silfa masuk ke dalam ruangannya.


Mendengar pengakuan Riko membuat Silfa mematung, tidak percaya dengan ucapan Riko yang mengatakan bahwa Citra adalah istrinya. Sejak kapan Riko menikah?. Batin Silfa.

__ADS_1


__ADS_2