
Kebesokan paginya seorang pria terbangun dengan tubuh segar,wajah pria itu berseri melihat istrinya sedang menyisir rambut didepan kaca.
" Sayang " Panggil Samuel serak.
Winda menoleh dan tersenyum menghadap lelaki itu.
" Udah bangun ?" tanya Winda basa basi.
" Hm,kenapa kau mandi duluan ?" tanya Samuel mengkrucut.
" Ada Mama didepan,gak enak kalo aku masih pake baju tidur " Jawab Winda.
" Mama ? kenapa Mama kesini ?" tanya Samuel kaget.
" Hm gak tau,silahturahmi mungkin " Jawab Winda tersenyum.
Samuel langsung bangun mendekati pintu.
Lelaki itu melihat keluar dan terdiam saat maniknya tak sengaja melihat Lutfia dan Sindi serta Risa sedang bercengkrama.
" Ada apa ya ? kenapa Mama kesini ?" Gumam Samuel bingung.
Winda melihat dari cermin dengan mata berkaca kaca,wanita itu tau kenapa Lutfia datang kerumah neneknya karna ini hari terakhir ia melihat sang suami.
" Udah,mandi sana " Kata Winda menarik Samuel masuk.
" Mandiin " rengek Samuel.
" Kan udah gede " kata Winda malas.
" Gak papa mau dimanjaain istri " balas Samuel mengerlingkan mata.
Winda mengangguk tersenyum,wanita itu pun menyeret Samuel menuju kamar mandi.
Samuel begitu girang dengan respon istrinya yang jarang terlihat.
Dengan telaten Winda membuka baju Samuel hingga menyisakan celana bokser saja.
Lelaki itu benar2 dimandikan layaknya anak kecil,wajah Samuel tak lepas dari senyuman.
Saat akan menyiram badan,Winda meminta Samuel berbalik badan.
" Hadap kebelakang " Ucap Winda lembut.
" Gak mau,mau nya lihat kamu " Tolak Samuel manja.
" Gimana nyiram nya kalo hadap sini " kata Winda mengangkat shower air.
Samuel tersenyum dan berbalik badan.
Winda manatap punggung putih suaminya dengan nanar,sungguh moment2 seperti ini membuat Winda berat melepaskan lelaki itu.
" Jangan nangis Win " Batin Winda menguatkan dirinya.
" Sayang " panggil Samuel merasa tak ada gerakan.
" Iya ehm " kata Winda berdehem mendengar suara bergetarnya.
" Kam...
" Jangan berbalik,ayo cepetan nanti masuk angin " Kata Winda menahan Samuel agar tetap seperti semula.
Wanita itu kembali membasuh badan suaminya,Samuel terlihat tenang seraya bernyanyi ria.
Setelah selesai,Winda juga membantu Samuel berpakaian.
Semua tugas nya menjadi seorang istri hari ini Winda tuntaskan.
" Aku akan menyimpan kenangan kita sampai aku mati Sam " Batin Winda saat memasangkan kemeja Samuel semalam.
__ADS_1
Dirasa sudah rapi dan wangi,keduanya keluar kamar.
Lutfia berdiri melihat anaknya berjalan mendekat.
" Sudah selesai ?" tanya Lutfia tersenyum.
" Kenapa Mama kesini ?" tanya Samuel bingung.
" Mama jemput kamu,Papa Winda bilang kamu kesini malam tadi " jawab Lutfia.
" Ya aku menemui istri ku " Balas Samuel.
Lutfia mengangguk,wanita itu memegang tangan anaknya.
" Mau kemana Ma ?" tanya Samuel menolak.
" Pulang,Papa bilang kamu harus masuk kerja hari ini " jawab Lutfia.
" Aku bisa sendiri naik taxi " Balas Samuel heran.
Lutfia melihat Winda,perempuan malang itu perlahan melepas tangan Samuel dan meremas bajunya.
" Sayang " panggil Samuel merasa aneh dengan tingkah Winda.
" Pulang lah,kamu harus kerja " Kata Winda berusaha tenang.
" Aku bisa izin hari ini " Tolak Samuel.
" Gak bisa,hari ini kamu banyak klain,Papa sama Kakek udah nunggu dikantor " Balas Lutfia.
" Tapi Ma..
" Sam " tegur Lutfia tegas.
Samuel melihat Winda,perempuan itu berusaha tersenyum meski hatinya tercabik.
" Gak papa Sam,kan nanti bisa ketemu lagi " Kata Risa tersenyum.
Winda menunduk malu begitu pun Samuel yang memerah mendapat godaan mertuanya.
" Kamu kerja aja aku gak papa " Kata Winda memegang tangan Samuel.
" Kamu ikut ya ? kita pulang kerumah " Ajak Samuel.
Winda menggeleng pelan.
" Aku masih ingin disini " kata Winda melas.
" Tapi aku ini suami kamu Winda,,masa kamu gak mau ngurusin semua kebutuhan aku ?" tanya Samuel mulai kesal.
Semua orang terdiam,Winda kembali menunduk dengan mata berkaca kaca.
" Udah gak papa,kasih waktu buat Winda kumpul sama orang tuanya Sam " kata Lutfia menyudahi.
" Kamu gak perduli sama aku,aku ini suami kamu loh " kata Samuel masih kesal.
Winda tak menjawab,sekali saja ia mengeluarkan suaranya maka bocor sudah air mata yang ia tahan dari tadi.
" akhh terserahlah " kata Samuel geram.
Lelaki itu berjalan duluan dengan wajah kesal,suami mana yang tak emosi melihat istrinya tak merespon padahal Samuel hanya ingin bersama Winda selalu.
" Saya pamit " Ucap Lutfia tenang.
Semua orang mengangguk,Winda mengangkat kepalanya melihat sang suami pergi dengan keadaan marah.
Ia tak bisa melakukan apapun,Winda merasa benar2 sudah kehilangan suaminya.
" Kamu yang sabar ya " Ucap Risa menepuk bahu cucunya.
__ADS_1
Winda mengangguk lemah,Malvin dan Sindi merasa sedih melihat keadaan anaknya saat ini.
" Ayo siap2 " Ajak Rudi menegur.
" Iya Pa " Balas Malvin.
Mereka mulai berjalan memisah,Malvin mengangkut semua baju2 mereka keluar.
Tekad kepala keluarga itu sudah bulat,Malvin akan membawa sanak keluarganya menjauh dari Samuel demi mental Winda.
Tak berapa lama kemudian,sebuah mobil mendekati rumah disusul mobil lainnya.
Yuni sekeluarga datang kesana mendengar berita bahwa sang sahabat akan pergi jauh.
" Kalian sudah siap ?" tanya Yuni menegur.
" Iya Yun,kasihan Winda " Jawab Sindi sedih.
" Aku ikut prihatin Sin,aku harap setelah ini kalian menemukan kebahagiaan " Balas Yuni memeluk sahabatnya.
" Aku ingin sekali menyerah Yun,aku cape " Adu Sindi menangis.
" Kamu yang sabar ya,aku yakin Tuhan menitipkan masalah ini agar kita bisa lebih bersyukur " Kata Yuni mengusap punggung Sindi.
Sindi mengangguk melepas pelukan.
" Sindi " Panggil seseorang.
Sindi menoleh kebelakang dan terdiam melihat iparnya berdiri menjulang.
Sita mendekat dan menepuk pelan pundak wanita itu.
" Aku turut berduka " Ucap Sita pelan.
" Terima kasih " balas Sindi sopan.
" Rumah kalian disana sudah siap,orang2 ku akan mengantar kalian nanti " Kata Sita tersenyum.
" itu rumah Kakak ?" tanya Sindi kaget.
" Iya Sin,itu rumah Sita kemarin dikontrak orang tapi sekarang kalian yang akan mendiaminya " jawab Risa mendekat.
" apa itu benar Kak ?" tanya Sindi syok.
" Hm,tinggal lah disana secara gratis dan urus anak mu baik2 " Jawab Sita.
Yuni terdiam,wanita itu tak menyangka ipar yang sangat jahat dan biang masalah kepadanya kini berbaik hati memberikan tempat tinggal.
" Kami akan membayarnya setiap bulan " Kata Sindi tak ingin besar kepala.
" Tidak usah,itu hadiah untuk kamu,rumah itu sudah Mama beli " Kata Risa ramah.
" Apa !" Pekik Sindi terbelalak.
Yuni juga terkejut tapi perempuan itu berusaha untuk tidak ikut campur.
" Hadiah kesabaran kamu selama ini,Mama gak tau harus membalas bagaimana " Kata Risa menunduk.
" Itu bukan masalah Ma,kita akur saja aku sudah sangat bahagia " kata Sindi terharu.
" Maafkan Kakak,dulu Kakak terlalu egois hingga membenci semua keturunan mu,tapi kini Kakak akan berusaha berubah " Kata Sita memegang tangan Sindi.
" Apa aku bermimpi ?" tanya Sindi masih tak percaya.
" ini nyata,Kakak harap semua masalah kamu segera selesai dan Winda maupun Doni bisa hidup bahagia " Kata Sita tersenyum.
Sindi mengangguk,kedua perempuan itu pun berpelukan hangat tanda damai.
Ucapan Risa kemarin sore mengubah pola pikir Sita yang begitu membenci istri Malvin,ia merasa ikut kasihan mendengar pengorbanan Winda yang hanya dilakukan 1:1000 orang didunia ini.
__ADS_1
❤❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,like,coment ya.