
Pagi menjelang,bunyi ayam berkokok terdengar begitu nyaring ditelinga,seorang perempuan terbangun dari tidurnya saat pintu kamar diketuk lumayan kencang.
Manik Winda terbuka perlahan dengan lenguhan panjang.
" Iya " Ucap gadis itu serak.
" Kakak bangunnnn" Balas sang adik dibalik pintu.
Winda perlahan bangun membuka selimutnya,matahari sudah cerah dibalik jendela kamar.
" Wah udah pagi " Ucap Winda merapikan rambut.
Perempuan itu pun bergegas bangun membuka pintu kamar.
" Kamu udah mandi ?" tanya Winda kepada sang adik.
" Udah,badan aku lengket banget semalam " Jawab Doni polos.
" Bagus lah,Mama sama Papa mana ?" tanya Winda.
" Mama nemenin Papa ke rumah rt,Kak bikinin aku susu dong " Jawab Doni.
" Ya ayo kedapur " Balas Winda paham.
Keduanya pun berjalan kedapur,meski sudah besar tapi Doni tetap minum susu apalagi kemarin Neneknya sudah menyiapkan susu khusus agar bocah itu tetap ternutrisi meski jarang makan.
" Oh ini rumah nya " Gumam Winda melihat sekeliling.
Rumah baru mereka berbeda jauh dengan rumah lama tapi lebih bagus dari rumah kontrakan,disana hanya dipasangi asbes tanpa plafon.
" Udaranya sejuk ya Dek " Ucap Winda membuka jendela dapur.
" Iya Kak,banyak kebun kayak dirumah dulu " Jawab Doni.
" Iya nanti kita jalan2 lihat kampung " Balas Winda.
Doni mengangguk semangat,bocah itu duduk di kursi makan menunggu susunya selesai dibuat.
Setelah semua beres,Winda berjalan keluar.
Ia duduk di teras rumah yang mengarah langsung kerumah warga..
" Hm udaranya enak banget " Gumam Winda menghirup oksigen sebanyk2 nya.
Perempuan itu masih dengan piyama,bahkan Winda belum sempat cuci muka.
Dari kejauhan manik Winda tak sengaja melihat sepasang suami istri berjalan ceria menyusuri jalan setapak.
" Papa,Mama " Ucap Winda tersenyum..
Malvin dan Sindi terlihat bahagia bergandengan tangan seraya mengobrol hangat,sudah lama sekali Winda tak melihat pemandangan indah tersebut karna kemarin terlalu banyak masalah hidup yang harus mereka hadapi..
" Hay " Sapa Malvin mendekat.
" Hay " Balas Winda ramah.
" Wah2,iler udah kering bukannya dielapin malah nongkrong disini " Cibir Malvin terkekeh.
" Hah masa sih ?" Tanya Winda meraba mulutnya.
" Kamu udah sarapan ?" tanya Sindi tersenyum.
" Belum Ma,tapi Doni udah aku beri susu sama roti " Jawab Winda.
" Ya udah,nanti kita kepasar " Balas Sindi.
__ADS_1
" Emang ada ?"
" Ada tadi Mama udah tanya sama Pak Rtnya " Jawab Sindi.
Winda mengangguk paham,ketiganya pun masuk kedalam rumah.
Kini Malvin tak jadi menutup pintu rumah seperti dikota besar,ia membiarkan saja pintu rumahnya terbuka lebar agar udara masuk,selain itu rumah warga2 lain juga terbuka meski tak ada yang menunggu didepan.
Malvin pikir itu memang sudah kebiasaan orang kampung yang tidak takut barang berharganya hilang dicuri orang dan menandakan bahwa kampung tersebut memang aman dari hal2 negatif.
Keluarga kecil itu begitu aktif hari ini,mereka semua bahu membahu membersihkan rumah,menyiapkan berkas2 pindah dan juga mengurus sekolah Doni yang harus pindah untuk kesekian kalinya.
" Win " Panggil Sindi saat melihat putrinya menata baju dilemari.
" Iya Ma " jawab Winda menoleh.
" Hm kamu masih kepikiran Samuel ?" Tanya Sindi hati2.
" Sedikit,tapi aku yakin lama kelamaan pasti lupa kok " Jawab Winda tenang.
" Hm harus dibiasakan ya Nak,ini untuk kesehatan mental kamu juga " Balas Sindi.
" Iya Ma,aku janji akan lupain dia secepatnya " Balas Winda ramah.
Sindi mengangguk tersenyum,ia tau anaknya pasti memikirkan Samuel apalagi mereka berpisah dengan cara yang tak lazim,tapi Sindi juga tak bisa melakukan apapun selain berpasrah diri.
Ia tak mau anaknya terus berkorban untuk mereka,Sindi berharap anaknya menemukan kebahagiaan..
Ditempat lain seorang pria terbangun dengan tubuh lemas..
Beberapa hari setelah Winda pergi,Samuel jatuh sakit lelaki itu seolah menghukum dirinya sendiri dengan tak makan apapun.
Ia tak merasa lapar sama sekali,yang ada diotak Samuel hanyalah penyesalan kenapa meninggalkan Winda saat itu dan ia pun merasa marah kepada istrinya tersebut.
Samuel menoleh dan mendapati adik perempuannya mendekat dengan semangkuk sup..
" Hm ini makan dulu Kak,aku bikinin khusus buat Kakak " Ucap Tania menunduk.
" Kakak gak laper " jawab Samuel tenang.
" Kakak harus makan dong,aku baru kali ini loh masak,panci mama aja ampe gosong " Balas Tania memelas..
Samuel terdiam,pria itu menatap baju adiknya sedikit basah dan kotor bekas keringat.
" Kak Taniaaaa " panggil seorang gadis masuk.
Keduanya menoleh..
" Ada apa ?" Tanya Tania heran..
" Kak nodanya gak hilang,gimana nih bentar lagi Mama pulang " Jawab Tini ketakutan..
" Udah kamu sikat belum ?" tanya Tania khawatir.
" Udah Kak tapi tetap gak hilang,mana tangan aku berdarah lagi " Jawab Tini menunjukkan tangannya luka ditelapak..
Kedua gadis itu melihat Samuel,sang kakak masih diam memperhatikan mereka.
" Kak " Rengek Tini melas.
" Sini Kakak obatin " Balas Samuel serak.
" Beneran ?" tanya Tini syok..
Samuel tak menjawab,pria itu bangun mengambil kotak obat yang selalu ia bawa saat bersama Winda kemarin,bahkan kotaknya pun berwarna orange cerah seperti kesukaan istrinya..
__ADS_1
Tania dan Tini terdiam,keduanya fokus melihat sebuah tanda love dan kata penyemangat disana yang ditulis dengan tinta hitam..
" Kak " panggil Tania nanar.
" Taruh saja buburnya di nakas abis ini Kakak makan " ucap Samuel datar.
Tania melotot melirik saudarinya yang juga kaget.
" Aku suapin mau ?" tanya Tania semangat.
" Terserah kamu aja " jawab Samuel.
" Yes oke,Kakak obatin Tini aku suapin Kakak makan " Kata Tania memutuskan.
Samuel mengangguk setuju,kedua gadis itu bersorak ria dan mulai beraksi.
Di luar rumah sepasang suami istri baru pulang joging,keringat bersimbur dibadan keduanya.
" Aku mandi dulu " Ucap Rafael masuk kerumah.
Lutfia mengangguk,perempuan itu menyusul langkah lebar suaminya.
" Astaga " Ucap Rafael saat masuk dapur.
" Apa ini ?" Gumam pria itu kaget melihat ramainya peralatan masak sang istri disana.
" Yank " panggil Lutfia.
" Aduh gawat,ini pasti kerjaan Tania sama Tini " Ucap Rafael kelabakan.
Lelaki itu pun langsung bergegas menaruh semua peralatan kotor diwastafel.
Ada 2 panci berisi bubur hangus disana membuat Rafael geleng2 kepala..
Saat si suami sibuk berbenah,Lutfia terheran2 melihat keadaan rumah sangat sepi,biasanya kedua anak perempuan mereka sangat berisik dengan acara tv atau senam dipagi hari.
" mereka kemana ya ?" gumam Lutfia heran.
Karna merasa was2,Lutfia pun naik keatas mencari buah hatinya..
Sesampainya dilantai 2,manik Lutfia melihat kamar putranya sedikit terbuka.
Wanita itu kembali mengernyit bingung,karna penasaran Lutfia pun mendekat.
" Apa yang mereka lakukan ?" Gumam Lutfia mengintip dicelah pintu.
Terdengar tawa Tania dan Tini begitu kencang seperti kegirangan..
" Sam " Ucap Lutfia saat maniknya beralih kepada sang putra yang juga menunjukkan hal yang sama.
Seketika senyum kecil terbit diwajah cantiknya,Lutfia merasa menghangat melihat keceriaan mereka bertiga.
" Yank " Panggil Rafael menegur.
Lutfia melonjak kaget dengan kehadiran lelaki itu..
" Hehe hm kayaknya kamu harus beli panci baru deh " Kata Rafael menggaruk kepala.
" Panci baru ? emang panci lama aku kenapa ?" tanya Lutfia kaget.
Rafael tak bisa menjawab,pria itu yakin setelah ini akan ada konser dadakan yang akan membuatnya menjadi hakim perdamaian..
❤❤❤
Hay guys jangan lupa vote,Like,coment ya.
__ADS_1