
Setelah Antoni selesai diperiksa,satu persatu Dokter keluar ruangan.
Serkan yang terakhir keluar langsung ditahan oleh Histi.
" Ada apa ?" Tanya Serkan mengernyit.
" Ikut aku bentar " Jawab Histi tersenyum.
Serkan melihat Nisa dan Aktam yang juga melihat kearah mereka.
" Cepetan " Ucap Histi menarik paksa lelaki itu.
Serkan menunduk sopan kepada Nisa dan berlalu keluar.
Setelah keduanya keluar,Nisa melihat kearah Aktam yang diam saja.
" Bukannya itu anak Romi ?" tanya Nisa memastikan.
" Iya,itu pacar barunya Histi " Jawab Aktam tenang.
" Oh jadi beneran anak Romi ya ?" tanya Nisa syok
" Iya Nis,Ayah pas tau juga kaget banget " Celetuk Antoni diranjangnya.
" Astaga,karna pria itu Histi batalin pertunangannya sama Bryan ?" tanya Nisa lagi.
Aktam mengangguk.
Nisa menghela nafas panjang,dirinya sebagai Nenek tak bisa memaksakan kehendak.
Bukan hanya Nisa tapi 1 keluarga besar tak bisa memaksa gadis itu tetap bersama Bryan karna Histi punya pendirian sendiri dan gadis itu bertanggung jawab dengan tindakannya.
Sebenarnya Reno malu kepada Ben selaku sahabat atas ulah cucunya tapi beruntung Ben dan keluarga bisa memaklumi,meski menerima sakit hati dan merasa direndahkan oleh gadis gesrek itu.
Tapi sikap profesional kedua belah pihak menjadikan itu sebagai pelajaran bahwa tak ada yang dapat mengatur jodoh,semuanya sudah Tuhan rencanakan dengan sebaik mungkin.
Ben dan Reno pun merasa flashback saat muda dimana,Ben mempacari Nisa lalu dinikahkan dengan Reno.
Suatu hal yang kebetulan terjadi dalam hidup mereka,tapi semuanya kembali lagi,mereka hanya bisa memetik hikmah yang telah terjadi dan mengambil langkah damai untuk kebaikan keduanya.
" Nanti Bunda mau bicara sama Serkan " Ucap Nisa tenang.
" Iya Bunda " Jawab Aktam patuh.
Aktam berjalan keluar dan berpapasan dengan istrinya yang ingin masuk.
" Kenapa mukanya kek lap basah gitu ?" tanya Lulu heran.
" Gak papa,cuma cape aja " Jawab Aktam berlalu.
" Yank " Panggil Lulu.
Aktam berjalan menaiki anak tangga tanpa menoleh.
" Ada apa dengan suami ku ?" Gumam Lulu heran.
Wanita itu pun masuk kedalam melihat perkembangan Antoni.
Disebuah ruangan musik sepasang kekasih sedang berhadapan.
" Kenapa ?" tanya Serkan melihat gadis itu menatapnya dalam.
" Kenapa pesan aku semalam gak dibalas ?" Tanya Histi berkacak pinggang.
" Aku lagi baca buku " Jawab Serkan.
" Ya kan bisa sambilan " Kata Histi kesal.
" Aku gak konsen " Jawab Serkan datar.
__ADS_1
" Terus kenapa gak kirim pesan juga pas selesai baca buku ?" tanya Histi mencoba sabar.
" Aku tidur " Jawab Serkai santai.
" Kamu tidur ?" Ulang Histi syok.
Serkan mengangguk polos.
" Astaga,kenapa kamu cuek banget sih sama aku,aku nungguin kamu semalaman sampe gak bisa tidur tau gak " Kata Histi marah.
" Aku gak minta kamu nunggu " Kata Serkan ingin berlalu tapi tangan lelaki itu kembali ditarik.
" Apalagi ? aku harus kerumah sakit " Ucap Serkan berusaha sabar.
" Kita belum selesai " kata Histi geram.
" Nanti aja lanjutin,sekarang mau cari biaya nikahin kamu dulu " Balas Serkan mengusap rambut gadis itu.
Deg....
Histi yang tadinya marah2 langsung terdiam dengan wajah berubah merah merona.
" Gak enak disini ntar dikira orang kita mesum lagi " kata Serkan menarik tangan gadis itu keluar.
Histi mengangguk menutup wajahnya malu.
Gadis itu tak menyangka dibalik sikap cuek Serkan ternyata lelaki itu bisa juga membuat Histi meleleh dalam sekejab hingga menerbangkan rasa kesalnya.
Saat mereka sudah diruang tamu,Serkan menggenggam tangan gadis itu erat seraya menatap Histi dalam.
" Kamu harus sabar,aku bukan gak mau kasih kabar hanya saja saat ini bukan kamu aja prioritas aku,aku banyak kerjaan yang harus diselesaikan " Ucap Serkan lembut seraya mengusap rambut gadis itu.
" Aku cuma kangen sama kamu " Cicit Histi malu.
" Aku juga,tapi nanti ketemu " Kata Serkan tersenyum kecil.
Histi mengangguk lemah dengan senyum malunya.
Histi menggeleng pelan.
" Baguslah,sekarang aku pergi ya " Ucap Serkan hati2.
" Iya,nanti kalo ada waktu lenggang hubungin aku ya " Pinta Histi memelas.
" Iya sayang " Jawab Serkan tersenyum.
Lelaki itu melihat kiri kanan dan mengecup kening Histi secepat kilat.
Histi yang tak siap menutup wajahnya sangat malu dengan gerakan tiba2 pria itu.
" Dah " kata Serkan melepaskan tangan mereka dan berlalu keluar.
" Take care sayang " Ucap Histi melambaikan tangan.
Serkan tersenyum dan melesat masuk kemobil.
" Aaaahhhh Dokter Serkaaaaannnnnn,meleleh adek banggg " Rengek Histi mendrama saat mobil dinas rumah sakit itu menjauh.
Tanpa gadis itu sadari,dari tadi ia di intip oleh 3 wanita sekaligus mulai dari ruang musik hingga ruang tamu.
Ketiga wanita beda usia itu menggeleng pelan melihat Histi berjoget sendiri seperti orang gila.
" Anak kamu bener2 bucin sama anaknya Om Romi " Kata Ana menggeleng pelan.
" Iya Na,aku juga gak nyangka Histi bisa gitu " Kata Zaiva ikut menggeleng.
" Biarin aja,namanya juga anak muda "Celetuk Nisa.
" Aku dulu gak gitu Bun " kata Zaiva menghadap wanita itu.
__ADS_1
" Haha kamu mana sempat begituan,keduluan dikawinin sama Bang Bara " Kata Ana tertawa.
Nisa terkekeh geli mengangguk setuju dengan ucapan putri sengkleknya.
" Iya,semua gara2 Bunda " Tuduh Zaiva kesal.
" Kenapa Bunda ?" tanya Nisa kaget.
" Ya Bunda maksain aku nikah sama Bang Bara " Jawab Zaiva ketus.
" Hahaha,tapi sekarang udah cinta kan sama Bara ?" Goda Nisa menyenggol body perempuan itu.
" Behhh bucin akut Nek " Celetuk Histi tiba2.
Ketiga wanita itu menoleh dan terkaget melihat Histi ikut berbaris bersama mereka.
" Loh kapan datangnya ?" tanya Ana syok melihat gadis itu tepat disampingnya.
" Kalian gibahin aku ya !" Tuduh Histi.
" Gak,kita gak ngomongin kamu kok " Kata Ana menelan ludah kasar.
" Cih aku tau kali kalian ngintip2 " Kata Histi bersedekap dada.
Ketiga wanita itu seketika diam diskak mat oleh Histi.
" Mama ngatain aku bucin sama dokter Serkan,padahal Mama sendiri bucin akut sama Papa " Cibir Histi.
" Ih mana ada " kata Zaiva tak mengaku.
" Asal Nenek dan Onty tau ya,tiap hari hp Papa diperiksa sama Mama,bahkan Papa sering disidak kalo udah malam " Kata Histi membongkar kedok ibunya.
" Gak ada Bunda,aku gak gitu " Kata Zaiva kelabakan.
" Cih dulu nangis2 pas kawin,eh sekarang udah 4 aja anaknya hahahah " Cibir Ana tertawa renyah.
Nisa mengulum senyum melihat wajah Zaiva bersemu malu.
" Ya kan sekarang beda " Kata Zaiva membela diri.
" Ya sekarang udah cinta " Lanjut Ana terkekeh.
Zaiva langsung kabur tak mau melanjutkan lagi obrolan yang menyudutkan dirinya.
Ketiga perempuan yang tersisa tertawa ngakak melihat Zaiva melarikan diri.
" Habis ini kamu juga bakal bucin akut sama si Dokter mata itu " Tebak Ana yakin.
" Ya,,tapi tak lama lagi Dokter Serkan yang bakal termehek2 sama aku " Kata Histi menepuk dadanya bangga.
" Nanti bucin2an,kalo serius nikah dulu " Kata Nisa mencubit gemas lengan cucunya.
" Hehe iya Nek,biar bisa kasih cicit ya " Kata Histi cengengesan.
" Apa !" Pekik Ana dan Nisa kaget
Histi langsung kabur mengikuti jejak ibunya.
" Dasar gila tuh anak,baru seumur jagung udah mikir cicit !" Hujat Ana kesal.
" Kalo Histi nikah terus punya anak,jadi kamu dipanggil Nenek dong " Kata Nisa menggoda Ana.
" Ihh ogah,aku masih muda gak mau ah " Kata Ana merinding.
Nisa berjalan menjauh sambil tertawa membayangkan masa depan.
" Masa iya aku cakep strong gini dipanggil Nenek sih,aku masih mau punya anak gak mau punya cucu,woiii Histii jangan kawin sekarang !!!" teriak Ana melengking.
❤❤❤❤
__ADS_1
Hay guys jangan lupa Vote,Like Coment ya.