Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
489


__ADS_3

Kepergian rombongan para dokter membuat luka mendalam bagi desa yang ditinggalkan,5 tahun berlalu dengan cepat terlalu banyak kenangan yang menyisa dihati para warga yang sudah menganggap para dokter sebagai penyelamat hidup mereka.


Dulu desa itu penuh kekurangan,untuk akses berobat saja warga desa mengandalkan jampi2 dukun yang memang sudah turun temurun,kedatangan para relawan dokter membuka mata warga bahwa dunia kesehatan itu sangatlah luas dan tidak sepele.


Banyak warga yang dulunya sulit melihat kini bisa menatap dunia dengan leluasa,ada juga anak2 yang kurang gizi kini bisa tumbuh sehat seperti anak lainnya.


Serkan dan Histi mulai memasuki bis,Histi tak bisa menahan tangis saat ia melihat Sania menunduk dengan wajah berderai air mata.


Wanita itu tak bisa bertahan karna memang mereka harus pergi dari kampung.


" Udah jangan nangis lagi,nanti kalo Sania udah dewasa Bapak temani temuin Sutar dikota " Ucap Ayah Sania menenangkan anaknya.


Sania masih menunduk dengan isakan semakin keras terdengar.


" Yank " Tegur Serkan melihat Histi diam.


Histi memejamkan mata dan masuk kedalam bis tanpa melihat lagi gadis itu.


Air mata yang ia tahan terjun dengan bebas,Serkan mendekati Sania dan mengecup kening bocah itu dengan lembut.


" Maafkan Om dan Tante ya,Om janji nanti kalo Sania main ke kota Om akan menerima Sania sepenuhnya " Ucap Serkan serius.


" Om " Panggil Sania mendongak.


" Iya sayang,jangan nangis lagi Tante dan Om gak tega liat Sania nangis gini " Kata Serkan mengusap air mata gadis itu.


" Sania sayang Om,Tante dan Sutar apa kalian juga menyayangi aku ?" Tanya Sania polos.


Serkan tersenyum,pria itu melihat anaknya yang juga sedang tersenyum.


" Sutar sayang gak sama Kak Sania ?" tanya Serkan kepada sang putra.


" Cayang " Jawab Sutar polos.


" Sayang nya gimana ?" tanya Serkan lagi.


Sutar meminta turun dan menatap Sania dalam.


" Sutal cayang Kak Nia " Ucap Sutar dengan wajah lucunya.


" Beneran ?" tanya Ibu Sania.


" Iya Mak,Aku uga cayang ama Mak " Jawab Sutar tersenyum.


" uluh2 pinternya anak emak " kata Ibu Sania memeluk bocah itu.


Sania ikut tersenyum dan memeluk Sutar dengan erat,hatinya merasa sangat berat harus berpisah dengan keluarga kecil itu,tapi Sania juga tak bisa melakukan apapun selain menerima kenyataan yang ada.


" Angan edih ya Kak,anti kita ain agi " Kata Sutar ramah.


" Jangan lupain Kakak ya " Pinta Sania nanar.


Sutar mengangguk dan mundur mendekati Papanya.


" Kami berangkat " Ucap Serkan pamit.

__ADS_1


" Hati2 Nak Serkan " Ucap Ayah dan Ibu Sania ramah.


" Iya Pak Bu,kalian juga assalamualaikum " Balas Serkan menyalami keduanya.


" Waalaikumsalam " Balas orang tua Sania hangat.


Serkan pun mulai melangkah seraya menggendong anaknya masuk kedalam mobil.


Dari dalam,Histi menatap kampung dengan duka mendalam,air matanya tak bisa berhenti menetes apalagi manik Histi tak sengaja melihat Sania yang juga sedang melihatnya.


" dadah " Ucap Histi melambaikan tangan dengan senyum getir.


Sania perlahan mengangkat tangan membalas lambaian perempuan yang sudah ia anggap seperti ibu sendiri.


Mobil itu pun membawa rombongan dokter pulang ketempat asal.


Sania diam melihat Histi masih melihat kearahnya ditambah lambaiyan tangan Sutar yang mengisyaratkan perpisahan.


" Udah gak papa " Ucap Serkan menenangkan Histi yang kembali duduk dengan tenang seraya menyebu ingus.


" Kenapa sangat berat Yank " Ucap Histi bergetar.


" Ya aku juga merasa hal yang sama " Balas Serkan kasihan.


" Aku harap Sania tumbuh menjadi anak yang baik dan bisa membantu orang tuanya dimasa depan " Ucap Histi berharap.


" Amin " Balas Serkan lembut.


Keduanya saling tersenyum,Histi melihat sang putra,teringat bagaimana drama dulu saat ia datang kekampung,bersosialisasi sampai melahirkan anak disana.


Semua seperti berputar seperti kaset baru yang masih sangat hangat untuk diingat.


Tapi Serkan tak mau ketinggalan moment,berkat hapenya yang sudah full batre lelaki itu mengambil setiap moment keluarga mereka dan perpisahan tadi untuk dijadikan kenang2an.


" Lihat Yank mukanya si Sania gak ada senyum2nya " kata Histi melihat foto mereka saat tampil.


" Iya Yank,mencetut terus kek buyung puyuh " Kata Serkan terkekeh.


" haha iya,masih sedih dia,untuk aku make up in ulang,coba kalo enggak,beh bakal jadi apa pertunjukan tadi " Balas Histi ikut terkekeh.


Pasangan itu terus melihat foto dan Vidio mereka,bahkan Serkan tak lupa membagikan foto Sutar saat berlarian dengan anak yang lain.


Hampir 24 jam perjalanan panjang,akhirnya mereka tiba dikota.


Rombongan Serkan kembali diangkut oleh bis pariwisata yang khusus mengangkut para relawan baik hati itu.


" Kita pulang kemana ini Yank ?" tanya Histi bingung.


" Gimana kalo kerumah Ibu aja ?" tanya Serkan.


" Hm tapi aku mau kerumah Mama " Jawab Histi hati2.


" Dirumah Mama kan rame,aku ingin istirahat pinggang aku rasanya mau lepas " Kata Serkan cengengesan.


" Hm ya juga sih,ya udah terserah " kata Histi mengalah.

__ADS_1


" Yakin ?" tanya Serkan ngeri.


" Iya " Jawab Histi tenang.


" Oke,aku telfon Alexi " kata Serkan semangat.


Histi mengangguk setuju dan duduk dibangku melihat anaknya yang masih terlelap.


" Duh2 anak bujang Mama cape banget ya Nak,sekarang kita udah sampe dikota " Kata Histi mengusap pipi gembul Sutar.


Bocah itu terlelap dengan mulut sedikit terbuka,wajah menggemaskannya membuat Histi tak tahan untuk mencubit.


" Kita kerumah Nenek dulu ya,nanti baru kerumah Eyang,kerumah Kakek Bara dan ketemu sepupu yang lain " Lanjut Histi semangat.


Sutar tak menjawab,bocah itu masih terlelap dengan wajah tenang.


Tak lama yang ditunggu pun sampai,lama tak terlihat membuat Serkan kaget dengan perubahan adiknya.


" Wah2 subur banget Lex " Kata Serkan takjub.


" Hehe iya Kak " Jawab Alexi menggaruk kepala.


" Hm itu anak kalian ?" Tanya Alexi menunjuk seorang bocah yang berada dalam dekapan Histi.


" Gak nemu dikali tadi " Jawab Histi asal.


" ehhh " kata Alexi melotot.


Serkan terkekeh dengan anggukan kecil.


" Iya itu Sutar " Kata Serkan tenang.


" Wah dah gede aja ya,dulu mungil banget kek kacang rebus " Kata Alexi takjub.


" Enak aja anak aku disamain sama kacang rebus " Cibir Histi.


Alexi memutar mata,bertemu dengan Histi tak pernah membuat keduanya akur,Serkan kadang pusing melihat istrinya dan sang adik seperti kucing dan tikus.


" Ayo pulang,ada yang menunggu dirumah " Ajak Alexi membantu membawa tas.


" Siapa yang nunggu ?" tanya Serkan mengernyit.


" Ada deh " Jawab Alexi penuh ambigu.


Serkan menatap aneh adiknya,setau Serkan tak ada orang asing dirumah kecuali keluarganya sendiri.


" Hoaaammmm " Bunyi ngantukan terdengar,Histi menunduk kebawah dan kaget melihat anaknya sudah bangun.


" Ma cucu " Pinta Sutar mengusap mata.


" Bentar ya kita pulang kerumah Nenek dulu " Ajak Histi.


" Nenek ?" Ulang Sutar bingung.


Histi tak menjawab,mereka langsung menaiki mobil mewah Alexi dan melesat pulang.

__ADS_1


❤❤❤


Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.


__ADS_2