
Disebuah tempat seorang pria berdebat hebat dengan pacarnya,Samuel ketemuan dengan Naya dan memutuskan hubungan mereka.
Naya yang baru mengetahui fakta baru sangat terlihat syok dan tak menyangka dengan keputusan lelaki itu.
" Maafin aku Nay,aku benar2 gak bisa lagi " ucap Samuel serius.
" Kamu lebih milih gadis sakit2an itu daripada aku ?" Tanya Naya tak habis pikir.
Samuel diam,lelaki itu baru menyadari perasaan nya kepada Winda setelah beberapa bulan kenal dan mendalami gadis itu.
Samuel menyadari bahwa punya rasa yang tak bisa dijelaskan kepada Winda.
" Kamu benar2 kelewatan Sam !" Bentak Naya mendorong dada Samuel.
Samuel hanya diam,pikiran lelaki itu mulai campur aduk apalagi Winda di vonis Dokter tak akan bertahan lama lagi.
" Aku tau Nay,aku begitu bodoh dengan keputusan ku ini " Ucap Samuel lirih.
" Kau akan menyesal Sam,kita sudah menjalani hubungan bertahun2 dan kau tau apa yang telah aku lakukan selama ini kepada mu " Kata Naya mulai menangis.
" aku minta maaf " kata Samuel menatap gadis itu dalam.
" Gadis sialan itu benar2 membuat masalah,sejak kau kenal dengan dia dan keluarganya kau sudah berubah kepada ku !" kata Naya tajam.
" iya aku akui itu " Balas Samuel.
Plakkkk...
Pria itu mendapat tamparan cantik dipipi sebelah kanannya.
" Bajingan !" Umpat Naya geram.
" Aku harus pergi Nay " ucap Samuel bersikap tenang.
" Kemana ? menemani pelakor itu menjemput ajalnya ?" tanya Naya tersenyum miring.
Deg...
Samuel yang ingin melangkah tiba2 terdiam mendengar celetukan sadis gadis yang ia pacari bertahun2 itu.
Samuel berbalik badan dan menatap Naya dengan mata tajamnya.
" Jika pun dia tak selamat,setidaknya dia dikelilingi oleh orang2 yang menyayanginya " Ucap Samuel tegas.
Naya tersenyum geli mendengar jawaban mantan kekasihnya itu.
" Yaya,terserah kau saja,gadis penyakitan itu memang sudah membutakan kamu " Balas Naya bersedekap dada.
" Wajahnya aja polos tapi hobynya sama pacar orang,****** !" Gumam Naya lagi.
Samuel mengepalkan tangannya mendengar gumaman Naya yang begitu menusuk hati,Samuel merasa tak terima gadis yang mulai ia khawatirkan itu di katai yang bukan2.
Tanpa bicara lagi,Samuel langsung pergi dari tempat tsb menuju rumah sakit karna ia tau Winda dirawat disana sudah 3 harian.
Pikiran lelaki itu benar2 sudah kalut,ia begitu takut Winda pergi meninggalkannya.
__ADS_1
" Bertahanlah Win " Ucap Samuel lirih seraya menambah kecepatan.
" akhhhh berengsek ! harusnya gadis itu mati lebih awal sebelum ketemu Samuel !" Umpat Naya mengepalkan tangan melihat pria yang ia cintai melesat pergi meninggalkan dirinya.
Samuel akui dirinya memang bersalah telah menduakan Naya tanpa gadis itu tau,tapi ia dan Winda memang belum berstatus pacaran,Samuel hanya sering menganjak Winda keluar jalan2 atau sekedar mengobrol keseharian mereka bahkan juga menemani Winda cek up ke dokter.
Tanpa Samuel sadari dari rasa remeh dan jijik melihat Winda dulu kini menyerang balik dirinya dengan rasa haru dan nyaman.
Pria itu sudah memutuskan akan selalu berada disamping Winda apapun yang terjadi.
Dirumah sakit,kondisi Winda benar2 sudah kritis,gadis itu berusaha berjuang mati2an agar tetap sadar.
" Maafin aku Win " Ucap Alexi menangis memegang tangan sahabatnya.
" Gak pa pa Lex " Balas Winda lembut.
" Harusnya aku menemani kamu selama ini " Kata Alexi terlihat begitu menyesal.
Winda tersenyum kecil mengusap tangan Alexi yang menggenggam tangannya.
" Jika aku beneran pergi,,ikhlasin aku ya " Ucap Winda lembut.
Alexi menggeleng.
" aku gak mau " Rengek Alexi terus menangis.
Pria itu seperti anak kecil yang takut kehilangan sosok yang ia sayangi,bagaimana tidak dari jaman orok Alexi sudah berteman akrab dengan Winda,disaat sulit pun gadis itu tanpa ragu menemani dirinya kemana pun dan mengurus Alexi seperti saudara sendiri.
" Cape Lex " Ucap Winda lemah.
" Pengen tidur,ngantuk banget " Balas Winda menyembunyikan rasa sakitnya.
Alexi terus menggeleng dan meminta Winda tetap membuka mata.
Diluar ruangan,Sindi terus menangis terisak.
Hati seorang ibu itu begitu tersayat2,Sindi sangat takut anaknya pergi untuk selamanya.
Malvin sudah tak tau lagi harus bagaimana,ia hampir gila mencari donor ginjal untuk putrinya tapi tak ada satu pun yang mau walaupun Malvin sudah mematok harga tinggi.
Saat ini pasangan itu hanya pasrah saja dengan keadaan dan berharap datangnya mukjizat bagi keluarga mereka.
Romi dan Yuni tak tinggal diam,pasangan itu sibuk saat ini mencari pendonor bahkan Yuni tak canggung mencari menggunakan situs internet meski awalnya dilarang Romi.
Semua rumah sakit dijamahi oleh pasangan itu,bukan hanya Sindi yang panik tapi Yuni juga tak kalah panik setelah mendengar perkataan Dokter yang membuat mental mereka down seketika..
" Maaf Pak,kami sudah berusaha mencari tapi saat ini tak ada yang tersedia " Ucap Dokter ahli kepada Romi yang menunggu jawaban.
" Bisa dicek sekali lagi Dok,kami sangat butuh " Kata Yuni belum menerima.
" Sudah kami lakukan Bu,tapi memang belum ada " Balas Dokter.
" Saya mohon Dok,kami akan membayar berapapun asal ginjal itu dapat !" Kata Yuni memaksa.
Dokter diam dan melirik Romi yang menatap istrinya memohon.
__ADS_1
" Tidak Bu " Ucap Dokter menunduk sopan.
" Ya Tuhan gimana ini,Winda gak akan selamat kalo gini ceritanya !" kata Yuni kembali panik.
" Yank,tenang " Ucap Romi menegur.
" Gimana aku bisa tenang Mas,Winda sudah lemah !" Kata Yuni kesal.
Romi menghela nafas panjang,ia juga bingung harus bagaimana.
Sudah berbulan bulan mereka mencari donor tapi belum juga ada angin segar.
Romi mencoba meminta bantuan Reno tapi sama halnya dengan yang lain,Reno bukanlah tangan Tuhan yang bisa mewujudkan keinginannya.
" Ayo kita cari ketempat lain " Ajak Romi.
" Kemana lagi ?" Tanya Yuni masih kesal.
" Ayo pergi dulu " Balas Romi bersikap tenang.
Yuni menarik nafas panjang dan mengangguk pelan.
Kemarin ada beberapa yang bersedia tapi tak ada yang cocok,bahkan Yuni tak ragu ikut daftar tapi hasil tak berpihak,ginjalnya tak cocok dengan Winda.
Diperjalanan,Yuni terus menangis ia begitu frustasi memikirkan nasib gadis yang sudah ia anggap anak sendiri.
Romi diam tak bersuara,lelaki itu memutar otak bagaimana caranya agar Winda selamat.
Dirumah sakit,2 orang pria saling berhadapan dengan wajah tegang.
" Kamu serius ?" tanya Malvin nanar.
" Iya Om,aku serius " Ucap lelaki itu mengangguk.
" Ini bukan permainan Samuel " Kata Malvin tegas.
" Aku tau Om " Jawab Samuel.
Malvin menatap pria itu dalam mencari kebenaran disana.
" Berapa yang kau mau ?" Tanya Malvin.
" Aku tidak meminta imbalan uang " Jawab Samuel.
" Lalu apa yang kau mau ?" tanya Malvin mengernyit.
" Om " Panggil seseorang dari belakang.
Keduanya menoleh dan terdiam melihat Alexi berdiri disana dengan mata sembab.
" Kamu " Gumam Alexi melihat Samuel menyelisik.
Samuel diam membalas tatapan pria yang sering diceritakan Winda.
❤❤❤
__ADS_1
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.