
Matahari semakin meninggi,operasi Alexi masih berjalan dengan lancar.
Winda pamit keluar untuk membeli makan siang,Histi sudah pulang karna gadis itu harus mengurus surat pernikahan dirinya dengan Serkan.
Sebenarnya Histi sangat sibuk,banyak yang harus gadis itu pikir dan lakukan,waktu mereka tak banyak lagi.
Berhubung Serkan tak akan sempat jadilah Histi mengurus seorang diri tapi gadis itu tak mempermasalahkan karna ia tau kekasihnya pria sibuk.
Yuni masih menunggu,doa demi doa wanita itu lafazkan untuk kedua anaknya yang sedang berjuang.
Dari kejauhan seorang wanita parubaya berjalan tergopoh2 seraya mengandeng tangan seorang gadis kecil.
Keduanya mendekati Yuni dan menegur perempuan itu.
" Gimana Alexi ?" tanya Rena khawatir.
" Masih didalam Ma " jawab Yuni mendongak.
" Kamu udah pulang ?" tanya Yuni kepada putrinya.
" Udah Bu,aku dapat nilai 80 " jawab Byanca.
" Nanti ibu periksa ya,kamu udah makan belum ?" tanya Yuni lembut.
" Belum Yun,Mama gak sempet lagi " jawab Rena mewakili.
" Iya Ma gak papa,Winda keluar beli makanan " Kata Yuni paham.
" Winda anaknya Sindi ?" tanya Rena seperti mengenali nama gadis itu.
" Ya " Jawab Yuni.
Rena mengangguk paham,wanita itu terlambat datang karna harus menunggu Byanca pulang sekolah dulu.
Tak lama Winda kembali dengan menenteng kresek hitam.
" Nenek " Sapa Winda menyalami Rena.
" Iya sayang,aduh kamu dah gede " Kata Rena mengusap wajah gadis itu.
" Hehe iya Nek " Jawab Winda malu.
" Oh iya,ini Nek makan siang dulu " Kata Winda memberi bungkusan.
" Loh kamu cuma beli 2 ?" Tanya Yuni kaget.
" Iya Bi,aku gak tau Nenek bakal kesini " Jawab Winda.
" Ya udah ini buat kamu aja " Kata Yuni memberi kantong untuk gadis itu.
" Ehh gak usah Bi,aku beli lagi gak papa warungnya kebetulan deket " Tolak Winda sopan.
" Tapi kan kamu..
" Gak papa Bi,kasihan Byanca pasti lapar juga " Potong Winda tersenyum.
Byanca mengangguk polos,dirinya memang sedang lapar karna belum makan siang.
" Maaf ya Win " Ucap Rena tak enak.
" Gak papa Nek " kata Winda ramah.
Rena tersenyum haru,gadis itu memang sangat baik dan pengertian dari Winda masih kecil.
Winda pun berjalan menjauh membawa lagi uang kembalian Yuni.
Saat berjalan dilorong gadis itu tak sengaja berpapasan dengan pria yang pernah ia lihat di mall.
__ADS_1
Lelaki itu juga melihat kearahnya dengan wajah kaget.
Keduanya saling berbalik badan dengan langkah tetap kedepan.
" Dia kenapa disini ?" Gumam Winda mengernyit.
Lelaki itu masih melihat Winda,Winda berbalik badan tapi naas lelaki itu tak melihat kearahnya lagi.
Keduanya langsung dipisahkan tembok pembatas.
Winda menuju keluar dan berpapasan dengan Romi.
" Kamu kenapa ?" tanya Romi mengernyit melihat wajah gadis itu aneh.
" Ehh Paman " Kata Winda kaget.
" Kamu mau kemana Winda ?" tanya Romi.
" Beli makanan Paman " Jawab Winda.
" Paman udah beli nih " Kata Romi menunjuk keresek yang ia bawa.
" Bibi kamu udah makan ?" tanya Romi.
" Tadi udah aku beliin makanan buat Bibi,barusan Nenek sama Byanca datang " Jawab Winda.
" Oh ya udah,ayo masuk " Ajak Romi merangkul bahu gadis itu..
Winda mengangguk,keduanya pun berjalan beriringan.
Winda celingak celinguk melihat kearah dimana ia bertemu dengan pria tadi.
" Kamu cari sesuatu ?" tanya Romi.
" Hm gak " Jawab Winda tersentak.
Disana terlihat Yuni,Rena dan Byanca sedang makan lesehan dilantai dialasi tikar kecil.
Romi melihat kesederhanaan mereka tersenyum haru.
" Mas " Panggil Yuni melihat suaminya datang.
" Belum selesai ?" tanya Romi.
Yuni menggeleng.
" Masih ada 1 jam waktu mereka " Ucap Romi pelan.
Yuni mengangguk paham.
Keluarga kecil itu pun makan lesehan seraya menunggu operasi selesai.
Didalam ruangan keringat Serkan bercucuran,kondisi Alexi melemah saat dirinya sedang mencoba membersihkan sisa obat yang selama ini Alexi gunakan.
Lelaki itu terlihat panik dan menjadi tak fokus lagi.
" Hei tenang " ucap Dokter lain menegur Serkan yang langsung mundur mendengar detak jantung Alexi melemah.
" Tidak apa2,bukankah hal seperti ini sering terjadi " Kata Dokter itu tenang.
Tangan Serkan gemetar,perjuangannya tinggal sedikit lagi tapi Alexi menunjukkan tanda2 yang tak ia inginkan.
" Bisa kalian lanjutkan " ucap Serkan pucat.
" Lakukan hingga akhir " Ucap Dokter tegas.
" Saya merasa tak bisa " Jawab Serkan takut.
__ADS_1
" Tidak,kau bisa ayo ini sedikit lagi,adik mu benar2 akan melemah jika kau biarkan seperti ini " Kata Dokter itu tegas.
Serkan menelan ludah kasar dan melihat monitor yang memberitahu detak jantung adiknya.
" Cepat,nanti mengering " Ucap Doktet lain gemas.
" I ya " jawab Serkan kembali maju dan mengambil alat khusus.
Lelaki itu kembali bekerja meski sangat deg degan.
Mental Serkan benar2 ditempa habis2an hari ini,belum pernah Serkan sebegitu takutnya seperti sekarang.
Hampir setengah jam berkutat akhirnya operasi pun selesai.
Serkan menyeka keringatnya dengan nafas lega setelah pekerjaan nya berjalan dengan lancar meski sedikit kendala.
Pria itu sudah sedikit tenang,tapi Serkan tak meninggalkan Alexi langsung pria itu masih memantau Dokter lain yang menyelesaikan tugas akhir.
Setelah semua selesai dan Alexi siap dipindahkan,Serkan keluar ruangan.
Lelaki itu langsung disambut ramai keluarganya.
" Gimana Alexi Serkan ?" tanya Yuni paling depan.
" Operasinya lancar Bu dan Alexi sebentar lagi akan dipindahkan " Jawab Serkan.
" Apa ada kendala ?" tanya Romi.
" Hm,sedikit Yah,Alexi sempat menunjukkan tanda2 lemah " jawab Serkan jujur.
" Ya Tuhan " Ucap Yuni menutup mulutnya kaget.
" Tapi sekarang kondisi Alexi mulai membaik Bu,aku akan memantaunya langsung " Kata Serkan menenangkan.
" Tolong adik kamu Serkan " Pinta Yuni memelas.
Serkan mengangguk paham,lelaki itu pun harus pergi untuk segera tau hasil operasi yang baru saja ia lakukan.
2 orang perawat mendorong brangkar Alexi,pria itu melewati orang tuanya dengan manik tertutup perban.
" Ya Tuhan,Alexi " Gumam Rena seketika menangis melihat cucunya tak berdaya.
" Lexi " Panggil Winda ikut menangis sedih.
" Dia gak papa Ma,Alexi akan sembuh " Kata Romi menenangkan mertuanya yang sangat syok.
" Kasihan Alexi Rom,pasti ini berat untuknya " Kata Rena sedih.
Romi mengangguk,ia pun merasa tak tega melihat anak nya menderita.
Diruangan sepi,Alexi berbaring seorang diri pria itu belum boleh dijenguk kecuali Serkan.
Meski Yuni memaksa ingin melihat tapi Serkan belum mengizinkan karna sangat fatal jika terjadi sesuatu kepada Alexi.
Yuni berusaha bersabar dan menataati peraturan anaknya demi kebaikan Alexi.
Ditempat lain,seorang pria mengintip dari kejauhan gadis yang ia lihat tadi.
" Siapa yang dirawat ?" Gumam lelaki itu mengintip dari lorong melihat seorang gadis berdiri didepan sebuah ruangan rawat inap.
Lelaki itu mendekat dan naas gadis yang ia intip malah berbalik badan membuat keduanya saling melihat.
Lelaki itu seketika kebingungan harus lari kemana.
" Shiitt ketahuan lagi " Umpat lelaki itu kelabakan.
❤❤❤
__ADS_1
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.