
Citra masih menatap mobil Riko yang sudah meninggalkan pekarangan rumah.
Citra kemudian beranjak menuju kamar Riko dan kembali menyusun pakaiannya ke dalam lemari.
Citra kembali tersenyum saat mengingat segala hal yang terjadi antara dia dengan Riko.
"Kak Riko itu susah banget di tebak yah,, kadang baik, kadang hangat kadang cuek, kadang ngeselin, pokoknya semuanya kadang-kadang." gumam Citra sambil menyusun pakaiannya.
Citra kemudian mengambil bukunya di koper lalu berjalan menuju lemari nakas untuk menyusunnya, Citra kemudian terfokus dengan foto yang ada di lemari nakas itu dan kemudian mengambilnya.
"Ya ampun imut banget sih, terus wajahnya polos banget, tapi sayang sekarang beda jauh banget." gumam Citra lalu kembali meletakkan foto masa kecil Riko.
skipp
Di kampus saat jam istirahat Kevin sibuk mencari Indah, dan seperti biasa Indah di kantin sedang makan. Kevin menghampiri Indah.
"Indah, kamu tau Citra kenapa?" tanya Kevin panik. Indah yang melihat tingkah Kevin bingung.
"Emangnya Citra kenapa Vin?" tanya Indah bingung.
"Tadi pagi, aku kirim pesan ke dia, tapi balasannya tuh aneh aneh Ndah." ucap Kevin lalu memperlihatkan ponselnya ke Citra.
Indah fokus membaca pesan Citra lalu dia menatap Kevin.
"Aku juga ngga tau Vin, mungkin dia lagi sensitif makanya dia balasnya kayak gitu." ucap Indah sambil menatap wajah khawatir Kevin.
Sementara disisi lain Kantin, Disisi lain kantin Doni terlihat melamun memikirkan sesuatu, tiba-tiba Anton datang dan memukul meja yang membuat Doni terkejut.
"Lo itu bisa ngga sih, ngga ngagetin orang." ucap Doni kesal.
"Ya habisnya gue perhatiin lo dari tadi melamun." ucap Anton membela dirinya.
Dona hanya menatapnya sinis, lalu kembali memikirkan sesuatu.
"Lo lagi mikirin apa sih." tanya Anton bingung.
lalu melihat sekeliling kantin mencari Citra.
"Hari ini Citra ngga dateng yah.." tanya Anton tanpa melihat Doni hanya melihat ke arah Indah dan Kevin.
"Iya,, tadi walinya nelfon gue katanya dia ngga bisa masuk hari ini, karna Citra lagi ngga sehat." ucap Doni.
"Yahh, sayang banget sih dia ngga dateng hari ini, padahal ini hari terakhir ospek, gue kan mau ngasih dia kejutan." ucap Anton lalu melirik Doni yang masih memikirkan sesuatu.
"Lo tuh dari tadi mikirin apa sih,, gue tanya dari tadi juga, lo ngga jawab." gerutu Anton kesal.
"Lo tau ngga, tadi pagi wali nya Citra nelfon gue, tapi suara dan gaya bicaranya tuh mirip Riko." ucap Doni menatap Anton bingung.
"Ya elah Don, gue fikir apaan,, cuma itu doang.. heyy bung dimana-mana suara itu mirip kalau di telfon. suara lo aja mirip Justin Bieber kalau di telfon." ucap Anton PD.
"Masa sih.." ucap Doni ngga percaya lalu Anton pun mengangguk yakin.
Skipp
Citra berbaring di atas kasur sambil memeriksa ponselnya dengan bingung karna ponselnya tadi ada di Riko.
Citra mengutak atik dan melihat-lihat isi ponselnya, tapi tidak ada yang salah isinya semuanya sama seperti saat dia menggunakan ponselnya terakhir kali.
__ADS_1
"Kok ngga ada apa-apa sih,, terus kak Riko ngapain pegang ponsel aku." gerutu Citra frustasi lalu berhenti menatap ponselnya.
Citra yang merasa frustasi merasa lapar, dia kemudian berjalan meninggalkan kamar menuju dapur.
Di dapur Citra tidak melihat bi Ina. Dia kemudian mencari sesuatu yang bisa di masak dan dia menemukan bahan di kulkas lalu ingin memulai memasak.
"Non Citra lapar, biar bibi aja yang masak non." ucap Bi Ina yang datang tiba-tiba.
"Eh bi Ina,, ngga usah Bi,, biar Citra aja yang masak." ucap Citra tersenyum ramah.
"Jangan non, nanti den Riko marahin bibi, ini kan kerjaan bibi." ucap bi Ina berusaha merebut pisau dari tangan Citra untuk mengambil alih memasak.
"Ngga kok bi,, kak Riko kan ngga ada disini, aku juga ngga akan ngadu sama Riko, jadi bibi tenang aja, lagian ini udah biasa kok buat Citra." ucap Citra meyakinkan.
"Ya udah kalau gitu bibi bantuin non Citra." ucap bi Ina menawarkan diri.
"Ya udah bibi ambil bahan lagi aja buat lauk pauk di kulkas." ucap Citra tersenyum ke arah bi Ina.
"Baik Non." ucap bi Ina mengiyakan lalu membuka kulkas dan mengambil beberapa ekor ikan untuk di goreng.
Di dapur itu Citra dan bi Ina sibuk membuat makanan sambil mengobrol dan bercanda, sesekali Citra menggoda bi Ina. Citra yang ramah membuat mereka berdua cepat akrab.
Skip..
Riko dan Romi sampai di hotel tempat mereka menginap.
Seorang pelayan hotel mengantar Riko dan Romi ke kamarnya.
"Kalau tuan tuan butuh sesuatu hubungi saya." kata pelayan itu menggunakan bahasa inggris.
Romi hanya mengangguk kepada pelayan itu, lalu pelayan itupun meninggalkan mereka.
"Lo ngapain ngikutin gue, lo kan punya kamar sendiri. udah sana pergi." usir Riko.
"Bentar doang Riko." rengek Romi tapi Riko menatapnya sinis.
"Lo tuh kenapa sih Rik,, biasanya juga kita sekamar, kenapa sekarang lo ngusir gue." ucap Romi bingung.
"Gue mau istirahat,, gue capek." ucap Riko ngeles padahal dia mau menelfon Citra untuk memberinya kabar kalau dia sudah tiba di Amrik, tapi dia tidak mau sampai ketahuan oleh Romi, dan berusaha mengusir Romi.
Romi dengan kesal meninggalkan Riko. Riko menatap punggung Romi yang keluar dari kamarnya. saat Riko mendengar suara pintu Romi tertutup Riko segera berjalan ke arah pintu kamarnya dan menutupnya.
Riko kembali ke ranjangnya lalu menelfon Citra, tapi tidak ada jawaban, Riko terus menelfon tapi tetap tidak ada jawaban.
"Dia kemana sihh, kok ngga ada jawaban. apa dia malu mengangkat telfon dari gue, karna tadi pagi.." gerutu Riko lalu mengingat wajah malu Citra dan tersenyum.
Riko kemudian berinisiatif untuk mengirimkan pesan ke Citra, Riko mengetik isi pesan ke Citra.
Isi pesan: Aku udah di Amrik sekarang
"Ngga ngga ini terlalu cuek." gumam Riko lalu menghapus isi pesannya dan mengetik ulang.
Ke-2 : sekarang aku udah sampai di Amrik.
Riko kembali memeriksa isi pesannya.
"Ahh apa gue tambahin emo yah" gumam Riko
Riko lalu membuka emo dan ingin menambahkan emo senyum 😄 tapi salah pencet malah memilih emo cium 😘, Riko ingin menghapus emo itu tapi tiba-tiba Romi membuka pintu kamar Riko dengan kasar dan membuat Riko terkejut, dan akhirnya Riko pun mengirim pesannya ke Citra.
__ADS_1
Riko menatap kembali layar ponselnya dan melihat pesan yang dia tulis sudah terkirim ke Citra dan Riko mulai panik.
"Lo bisa ngga sih, kalau mau masuk ketuk pintu dulu." ucap Riko kesal dan panik.
Romi bingung melihat tingkah Riko.
"Biasanya kan memang kayak gini Rik, lo tuh kenapa sih." ucap Romi bingung.
"Iya tapi lo tadi ngagetin gue,, dan sekarang liat.." ucap Riko panik sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Gawat dia bisa salah paham." gerutu Riko dan Romi mendengarnya.
"Siapa yang salah paham Rik?" tanya Romi yang sudah berada di samping Riko dan berusaha melihat ponsel Riko.
Riko terkejut lalu seketika menutup ponselnya agar Romi tidak melihatnya. Romi semakin bingung menatap tingkah aneh Riko.
"Ngga ada apa-apa, lo ngapain kesini?" ucap Riko cuek.
"Gue mau mandi, tapi gue lupa bawa pisau cukur, lo ada." tanya Romi masih menatap Riko dengan tatapan menyelidiki.
"Cari di koper." perintah Riko menunjuk ke arah koper dengan dagunya.
Romi ke arah koper dan membuka koper sambil terus memperhatikan tingkah aneh Riko yang sedang panik ngga jelas.
"Tu anak kenapa sih,, ngga biasanya." gumam Romi sambil membuka koper Riko.
"nghaaaaaa, ya ampun." gerutu Romi menatap koper Riko yang berantakan.
"Riko, lo bawa pakaian ganti atau pakaian kotor." ucap Romi menatap isi koper Riko.
Riko menghampiri Romi dan terkejut melihat isi kopernya yang berantakan.
"Kok bisa kayak gini." gumam Riko lalu kembali mengingat saat dia memasukkan pakaiannya dengan kasar ke dalam koper.
Riko menghela nafasnya kasar, lalu kembali ke ranjangnya.
"Lo cari aja apa yang lo butuhin" ucap Riko yang sudah berbaring sambil terus menatap layar ponselnya.
Romi kemudian mencari-cari apa yang dia cari tapi tidak menemukannya. Romi kemudian melihat semua isi koper Riko yang ternyata semuanya kemeja, Romi kembali heran.
"Ehh Rik,, lo tuh sebenarnya kenapa sih haa." tanya Romi frustasi.
"Lo ngga usah mulai deh,, lo cari aja apa yang lo butuihin, kalau udah dapet keluar sekarang." ucap Riko tanpa melihat Romi tapi terus menatap layar ponselnya menunggu balasan dari Citra.
"Yang gue cari ngga ada, dan lo lihat sendiri isi koper lo, liat apa yang lo bawa, semuanya kemeja ngga ada yang lain." ucap Romi kesal lalu meninggalkan Riko.
"Tuh anak kenapa jadi ngga konsen gitu, dia mencurigakan." gumam Romi berjalan menuju kamarnya.
Riko menghampiri kopernya dan mengeluarkan isinya 1 persatu dan ternyata isinya kemeja semua.
"Kok bisa kayak gini sih." gerutu Riko frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.
"Itu artinya gue harus belanja lagi." gerutu Riko stress memikirkan semuanya.
Riko menatap sinis ke arah ponselnya.
"Ini semua gara-gara perempuan itu." gumam Riko kesal kepada Citra, karna gara-gara Citra dia jadi ngga fokus dan membuat dia membawa barang-barang yang tidak jelas ke Amrik.
"Dia itu sok penting banget sih,, ngga angkat telfon gue, ngga bales pesan gue." gerutu Riko kesal.
__ADS_1
Padahal Citra sedang makan bersama bi Ina, dan ponselnya ada di kamarnya.