
Silfa masih berdiri mematung di depan ruangan Riko, sementara Romi yang sudah tiba di kantor dan berjalan menuju ruangan Riko merasa heran melihat Silfa berdiri di depan ruangan Riko.
"lo ngapain berdiri disitu." ucap Romi tiba-tiba dan membuat Silfa terkejut dan menyadarkannya dari lamunannya.
"Lo bisa ngga sih ngga ngagetin orang." gerutu Silfa kesal lalu meninggalkan Romi menuju meja kerjanya.
Saat hendak duduk, dia kemudian terfikir dengan perkataan Riko dan penasaran, dia pun menarik tangan Romi untuk menjauh dari ruangan Riko, untuk mengintrogasi Romi..
"Kenapa lo narik tangan gue." ketus Romi sambil melepaskan tangannya dari genggaman Silfa.
"Jelasin, Citra itu siapa?" tanya Silfa penasaran.
"Kenapa tiba-tiba lo nanyain itu?" tanya Riko balik..
Silfa semakin frustasi dengan Romi yang bertanya balik, bukannya menjawab pertanyaannya.
"Ihhh,, jawab dulu dong pertanyaan gue, habis baru lo nanya." gerutu Silfa kesal.
"Lo tanya aja langsung sama Riko, Citra itu siapa." ketus Romi, karna Romi tidak mau mengatakan kalau Citra itu istrinya Riko. Padahal Riko udah memberi tahu Silfa.
"Pak Riko bilang Citra itu istrinya." ucap Silfa.
"Itu lo udah tau, kalau Citra istrinya Riko, kenapa masih nanya, lemot banget sih." gerutu Romi kesal.
"Maksud gue tuh,, Pak Riko kapan nikah? kenapa tiba-tiba dia punya istri." gerutu Silfa lagi.
"Ya karna dia nikah, jadi dia punya istri. Pertanyaan lo ngga mutu banget sih. Udah ahh,, malas gue berurusan dengan lo, Kalau lo penasaran, lo tanya Riko langsung, jangan tanya gue, gue juga ngga tau." gerutu Romi frustasi lalu Meninggalkan Silfa.
*******
Citra sedang membongkar kopernya yang sudah berada di dalam kamarnya untuk mengambil hadiah untuk teman-temannya.
Sementara Mita dan Indah berada di ruang tamu, mereka sedang menonton sambil menunggu Vivi yang tadi sudah mereka telfon untuk ke rumah Riko.
Tidak lama kemudian Vivi pun tiba dengan menggunakan ojek online yang dia pesan untuk mengantarnya ke rumah Riko, karna dia belum mengetahui area Jakarta.
Vivi pun menatap rumah Riko yang terlihat sangat sederhana.
__ADS_1
"Rumah pengusaha sukses kok, sederhana banget." gumam Vivi lalu memencet bel rumah Riko. Mitapun segera membuka pintu untuk Vivi.
Saat Mita dan Vivi bertemu, kegaduhan pun terjadi, suasana yang berisik akibat ulah mereka, membuat Citra terkejut dan segera turun ke bawah sambil meneteng paper bagyang berisi oleh-oleh buat teman-temannya dari korea.
Saat citra tiba di lantai bawah, segera Mita dan Vivi merebut paper bag dari tangan Citra.
"Gue yang ini.. ucap Vivi lalu mengambil 1 papaer bag, yang belum dia ketahui isinya.
"Gue yang ini. ucap Mita juga mengambil.
"Sisanya buat Indah." ucap Mita sambil menyerahkan paper bag ke Indah, dan Indah hanya menerima dengan sukarela.
"Isinya apaan sih, boleh diliat sekarang ngga?" tanya Mita penasaran.
"Boleh, buka aja." ucap Citra mempersilahkan.
Mereka semua memeriksa paper bag mereka, dan mereka semua mengeluh kecewa saat mengetahu punya mereka sama semua. hanya paper bagnya yang berbeda.
"Ngapain kita milih, isinya sama aja." gumam Mita kecewa.
"Udah terima aja,, aku sengaja beli masker wajah buat kalian, biar kalian cantik kayak artis korea, bukannya kalian selalu bermimpi jadi artis korea, nah pake maskernya aja dulu, siapa tau besok dapat kontrak buat jadi artis, meskipun bukan sebagai artis korea. hhhhh." Celetuk Citra sambil tertawa.
"Eh kalian laper ngga?" tanya Indah tiba-tiba.
"Iya.." ucap Mita dan Vivi bersamaan.
Kemudian mereka pun menatap Citra, seolah-olah memerintah Citra untuk menyiapkan mereka makanan.
"Mending kalian aja yang masak, aku lagi capek, lagi malas ngapa-ngapain." keluh Citra, karna memang dia sedang malas ngapa-ngapain alias mager.
"Kok kamu tiba-tiba mager sih Cit, padahal kamu kan paling antusias kalau soal masak." ucap Mita heran.
"Iya, emang, tapi saat ini kondisi aku yang sekarang, sudah berbeda daripada yang dulu." ucap Citra lagi.
"Maksud kamu apa Cit?" tanya Indah penasaran.
"Ya ampun, aku lupa ternyata aku belum ngasih tau kalian yah." ucap Citra menyadari ternyata dia belum memberitahu kehamilannya kepada teman-temannya.
__ADS_1
"Apaan sih,, buruan ngomong, kita udah penasaran." celetuk Mita tidak sabar.
"Aku lagi hamil, jadi mood aku tuh selalu berubah, kadang mager, kadang rajin." jelas Citra santai, sementara ketiga temannya masih belum percaya.
"Kamu hamil?" tanya Mita lagi ingin memastikan dan Citra mengagguk antusias.
"Serius?" tanya Vivi lagi memastikan.
"Iyaaaa." gerutu Citra frustasi karna mereka tidak mempercayainya.
Seketika mereka pun langsung memeluk Citra dengan senang dan terharu.
"Selamat yah say, sebentar lagi kamu jadi momi.." ucap Mita terharu yang masih memeluk Citra.
"Aku ngga nyangka, kita sebentar lagi jadi tante." ucap Vivi lagi karna senang akan menjadi seorang tante.
"Selamat yah Cit, semoga kamu dan anak kamu sehat selalu sampai melahirkan." ucap Indah lagi memberi ucapan selamat kepada Citra.
Mereka berpelukan selama beberapa menit, sampai akhirnya mereka gerah.
"Ok, sekarang aku akan masak untuk keponakan aku." ucap Mita antusias sambil melepaskan pelukan mereka dari Citra.
"Aku juga." imbuh Vivi.
"Dapurnya dimana?" tanya Mita yang sudah hendak naik tangga.
"Dapurnya disana Mit, kamu ngapain naik tangga, diatas bukan dapur tapi tempat tidur. kamu mau masak atau mau tidur." gerutu Citra sambil menunjuk arah dapur.
Mita dan Vivi pun berjalan ke dapur, sementara Citra dan Indah mengikuti mereka.
Citra duduk di meja makan dapur sambil melihat kekacauan yang mereka buat, Citra hanya tersenyum melihat tingkah konyol mereka. Mita menjadi kepala chef yang bertugas menghandle dapur, sementara Vivi dan Indah hanya mengikuti perintah atasannya.
********
Riko terlihat sedang santai di meja kerjanya, dia menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya sambil memejamkan mata, dia sedang menunggu sesuatu.
Tiba-tiba sebuah notif masuk di ponselnya, Riko segera mengecek ponselnya dan melihat ternyata perusahaannya yang ada di Jepang sudah kembali jatuh ke tangannya dan sudah menjadi atas namanya. Dan dia juga melihat beberapa artikel yang mengatakan bahwa Alex sudah bangkrut.
__ADS_1
Rikopun sangat senang melihat keberhasilannya, diapun buru-buru meninggalkan ruangan dan segera pulang, karma dia sudah sangat merindukan istrinya. Disaat seperti ini dia hanya ingin berbagi kesenangan dengan istrinya.
Berita kebangkrutan Alex sudah sampai di telinga semua mitra bisnis maupun saingan bisnisnya, berita ini juga sampai ketelinga papa Indra dan membuat dia semakin bangga dengan Riko.