Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
TSJC EP. Special Mita&Doni "Last Part"


__ADS_3

Mita dibangunkan oleh alarm keras yang berdering diponselnya. Dengan mata yang masih terpejam dia meraba-raba nakas hingga mendapatkan benda yang dia cari. Dengan mata setengah terbuka, dia pun melihat jam. sudah jam setengah enam pagi.


Semalam Mita memang sengaja memasang alarm agar dia bisa bangun lebih awal untuk bersiap dan mengemasi beberapa barang pakaian Doni. Karena hari ini mereka akan berangkat ke Amrik.


Setelah Mita menggeser layar guna mematikan alarmnya, dia kembali meletakkan benda pipih itu diatas nakas.


Saat Mita hendak bangun tubuhnya terasa terkunci akibat lengan kekar Doni memeluknya sangat erat.


Mita menoleh, melirik sekilas wajah teduh suaminya yang masih terlihat sangat lelap dalam tidurnya, helaan nafas halus dan teratur itu menerpa sebagian wajahnya. Karena memang jarak wajah mereka sangat dekat.


Mitapun mengubah posisi badannya hingga menghadap suaminya. Diperhatikannya wajah pria itu lekat-lekat, sambil jemari kecil nan halusnya mengusap lembut setiap inci wajah suaminya, lalu perlahan telunjuk mungilnya mengusap alis tebal milik suaminya itu, yang sangat khas membuat pria itu terlihat sangat manis.


Sudut bibir Mita tertarik berbentuk sabit yang sangat cantik. Dia merasa sangat bahagia saat ini. Wajah teduh Doni saat tertidur seperti ini, akan terus dia lihat setiap pagi. Perlahan tatapan Mita tertuju pada bibir seksi milik suaminya. Perlahan ibu jarinya mengelus dua belah bibir itu dengan lembut. Bayangan bagaimana bibir itu mengecupnya, mencumbui setiap lekuk tubuhnya kembali melalang buana dalam otaknya.


Mengingat kembali momen menggairahkan itu membuat pipinya langsung memerah disertai dengan senyuman malu saat dia mengingat bagaimana ekspresi wajahnya saat menikmati setiap permainan Doni. Mita kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang Doni yang polos.


Tingkah Mita yang seperti itu berhasil membuat Doni terbangun saat merasakan tubrukan pelan di dadanya. Mata Doni terbuka pandangannya tertuju pada Mita yang bersembunyi didadanya. Sudut bibirnya tertarik sedikit saat dia melihat istrinya begitu menggemaskan.


"Good morning!!"


Suara bariton yang terdengar serak khas orang bangun tidur itu berhasil membuat Mita tersadar dari pikiran liarnya, wajahnya terangkat menatap wajah Doni yang sudah menatapnya.


"Morning!" balas Mita dengan tersenyum manis.


Mita masih menatap lekat wajah Doni dengan bibirnya masih terus tersenyum manis. Raut wajah Mita terlihat begitu bahagia saat memandangi pria tampan itu, bahkan semakin tampan saat baru bangun tidur seperti ini. Wajah bantal serta rambut yang acak-acakan membuat Mita semakin terpesona.


"Aku akui aku memang tampan sayang!? Cetus Doni membuat dahi Mita mengerut heran. PeDe sekali pria ini, sejak kapan dia menjadi narsis seperti Anton dan Arman. Pikir Mita dengan memutar bola mata malas. Tapi nggak salah sih, dia memang tampan. Mita meralat pikirannya menatap kagum wajah suaminya.


"Dari pada hanya menatap kagum seperti itu!? Lebih baik kamu melakukan sesuatu hal yang lain, seperti kecupan di pagi hari misalnya." cetus Doni lagi.


Mita terkekeh kecil, saat Doni mengetahui isi kepalanya, lalu perlahan Mita mendorong tubuhnya lebih dekat hingga mendaratkan kecupan di bibir suaminya.


Mata Doni terpejam sesaat menikmati kecupan singkat namun sangat candu itu, lalu Doni perlahan membuka matanya, menatap lekat wajah polos tanpa make up istrinya di pagi hari.


Doni mengulas senyum kecil, saat dia sadar jika saat ini dia tidak akan terbangun sendirian lagi melainkan dengan seorang wanita di sampingnya. Interaksi kecil sebelum memulai aktivitas di pagi hari membuat Doni merasa sangat bahagia.


Perlahan lengan kekar Doni kembali memeluk erat tubuh polos istrinya yang hanya tertutupi selimut putih. Mita tersenyum lalu membenamkan wajahnya di dada Doni lalu memberi kecupan kecil.


Doni menyeringai dengan mata yang tertutup saat merasakan kecupan basah di dadanya. Pikiran Doni berubah liar, perlahan tangannya bergerak nakal membuat Mita terbelalak, lalu segera menghentikan tangan itu.


"A-apa kamu tidak ingin bangun!?


Mita bertanya lalu menatap wajah suaminya semata-mata untuk menghentikan aktivitas Doni. Jangan lagi, dia baru tertidur beberapa jam yang lalu, dibawah sana masih terasa nyeri, dan dia ingin lagi. Pikir Mita frustasi.


"Ini masih terlalu pagi sayang!" ucap Doni.


"iya, aku tau. Tapi kita harus siap-siap." ucapnya.


"Kamu lupa yah, kita akan ke Amrik hari ini." sambungnya lagi.


Doni mengerut heran "Penerbangannya sebentar malam sayang, jadi masih lama." jawabnya lagi lalu kembali menggerakkan tangannya namun di tahan oleh Mita.


"Iya aku tau, tapi tetap saja kita harus mengepak barang-barang kamu." bantah Mita lagi dengan detak jantung yang sudah tidak beraturan. Bagaimana tidak meskipun dia menahan tangan Doni tapi tetap saja jari-jarinya masih nakal menggelitiki kulit polos Mita.


Doni terkekeh kecil mendengar setiap bantahan dari istrinya, dia tau bahwa istrinya itu mencoba menghindar dari permainan nikmat yang akan terulang lagi.


"Sehari sebelum acara pernikahan kita, aku sudah menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa." jawab Doni santai membuat Mita terdiam, tekanan di tangan Doni melonggar, secepat kilat tangan nakal itu kembali beraksi.


"Tapi!!


Mita kembali berucap sambil menahan tangan Doni lagi membuat pria itu mendengus kecewa.


"Pakaian kamu!? Pasti semuanya belum kamu packing." cetus Mita lagi lalu buru-buru bangkit dari posisi tidurnya.


Namun!!


"Akhhh."


Mita meringis sakit saat dia menggerakkan tubuh bagian bawahnya dan terasa sangat nyeri dan ngilu pada pangkal pahanya.


"Jangan bergerak dulu!! Ucap Doni dengan raut wajah khawatir lalu kembali membaringkan Mita.


"Kondisi kamu belum membaik." sambung Doni lagi.


"Ini juga karena kamu!? Ketus Mita menatap Doni tajam membuat kening pria itu mengerut heran.


"Kamu bermain sangat cepat, hingga membuat aku seperti ini! Sambung Mita kesal membuat Doni terkekeh kecil.


"Makanya aku menyuruh kamu untuk tidak bergerak dulu." cetus Doni.

__ADS_1


"Iya, kamu melarang aku untuk bergerak, tapi tangan kamu bergerak kemana-mana." cetus Mita.


"Itukan cuman tangan aku sayang!! Apa salahnya sih." bantah Doni lagi.


"Iya! Awalnya memang tangan kamu yang bergerak. Tapi, beberapa menit kemudian seluruh tubuh kamu juga ikut bergerak." Cetus Mita lagi dengan nada kesal.


Doni terkekeh gemas dengan tingkah istrinya ini. Memang benar yang wanitanya itu katakan, awalnya memang hanya tangannya yang bergerak, selang beberapa menit seluruh tubuhnya pun ikut bergerak. Mau bagaimana lagi, dia sudah merasa candu dengan tubuh indah Mita. Pikirnya.


Doni lalu merebahkan dirinya disamping istrinya, lalu menarik tubuh istrinya dalam dekapannya dengan kuat.


"Iya, aku tidak akan berbuat apa-apa lagi, sekarang kamu tidur, istirahat yang cukup. Penerbangan kita masih malam hari, itu masih lama sayang!" tuturnya lembut lalu mengecup lembut pucuk kepala istrinya.


"Lalu, pakaian kamu!? Tanya Mita lagi.


"Jangan pikirkan soal pakaian sayang, di Amrik banyak penjual pakaian, jika pakaianku kurang kita bisa membelinya disana. Kalau perlu tidak usah berpakaian, cukup telanjang saja setiap hari di dalam rumah." Doni berbicara asal membuat Mita mengerut heran tidak habis fikir dengan jalan pikiran suaminya ini. Apakah sifat Doni sebenarnya seperti ini, sangat mesum. Pikir Mita.


"Aku kira kamu itu pria yang tenang dan lembut, ternyata... Mita menggantung kalimatnya membuat Doni mendengus lucu.


"Kepribadianku memang tenang sayang, tapi jika menyangkut dengan hal dewasa aku berubah menjadi liar. Bukankah itu normal. Seekor kucing yang awalnya sangat tenang jika disuguhkan ikan kering, dia berubah menjadi liar saat mendapat kesempatan untuk memakan ikan itu." ucap Doni dengan santai.


Tatapan sinis Mita tertuju pada Doni, dia tidak terima, bagaimana bisa dia disamakan dengan ikan kering.


"Ak_


"Sudah jangan bicara lagi, mending kamu tidur sekarang, atau tidak tidur sampai sore!!" Ancam Doni memotong ucapan Mita.


Mendengar pernyataan itu membuat Mita merasa ngeri. Buru-buru Mita memejamkan matanya lalu mengeratkan pelukannya pada pinggang Doni. Bukannya menolak, hanya saja jika dia meladeni suaminya itu, bisa-bisa dia tidak bisa berjalan ke Bandara nanti.


Doni tersenyum sangat lebar hingga menampilkan deretan giginya yang rapi, dia merasa gemas saat melihat tingkah istrinya yang begitu takut, padahal dia yang paling menikmati permainannya. Doni mengeratkan pelukannya lalu kembali menutup matanya.


^Δ^


"Good night passengers. This is the preboarding announcement for flight....


Pengumuman mengenai informasi penerbangan itu menggema memenuhi bandara membuat pria tinggi nan tampan itu menghela nafas jengah. Sorot matanya tajam menatap tidak suka pada dua sosok wanita yang tengah berpelukan di depannya.


Dramatis sekali!! Apakah setelah ini, kisahnya berakhir happy ending, sad ending atau bahkan menggantung. Entahlah! hanya anak dan ibu itu yang tahu, berpelukan hampir dua puluh menit lamanya membuat kaki pria itu terasa kebas dan sebentar lagi akan mati rasa.


Sangat lelah!! Bukankah dia akan kembali lagi, lalu kenapa perpisahan ini menggambarkan seolah dia tidak akan kembali untuk selamanya.


"Jaga diri kamu baik-baik disana sayang. Kamu harus menjalankan kewajiban kamu sebagai seorang istri dan sebagai seorang wanita karir dengan baik, kamu harus menyeimbangkan itu nak. Mama tidak ingin mendengar kabar tentang hubungan kalian yang tidak baik.


Risal semakin jengah mendengar kalimat itu, entah sudah berapa kali kalimat itu terus terulang-ulang.


"Mau sampai kapan sih, kalian lebay seperti itu." Cetus Risal tidak tahan lagi.


Mita dan Sinta terkesiap mendengar celetukan Risal, merekapun melepas pelukan mereka lalu Mita menatap tidak suka pada pria menyebalkan itu.


"Ini bukan perpisahan selamanya!! kenapa lebay sekali." sambungnya lagi semakin ketus.


"Kalau kamu tidak suka, kenapa malah ikut." ucap Mita kesal.


"Aku dipaksa sama mereka." cetus Risal lagi tak mau kalah sambil menunjuk kedua orangtuanya dengan dagunya.


"Sudah-sudah, tidak usah berdebat." Sinta menengahi perdebatan mereka.


"Sekarang sudah waktunya kalian masuk. sambung Sinta lagi.


"Papah, Risal. apa tidak ada yang ingin kalian ucapkan untuk mereka berdua!? tanya Sinta menatap suami dan anaknya.


"Papah harap, kamu bisa menjalankan perusahaan dengan baik." cetus Handoyo menepuk pelan pundak menantunya. Doni hanya mengangguk pelan dan tersenyum sebagai jawaban.


"Itu saja pah!? tidak ada yang lain!? tanya Sinta lagi dengan heran, suaminya ini bukannya mendoakan dan memberi nasihat yang baik untuk kepergian anak dan menantunya, malah memikirkan perusahaannya.


"Apa lagi mah!? tanya Handoyo sambil mengedikkan bahu tak acuh.


"Doakan mereka, nasehati mereka pah." Sinta berucap pasrah.


"Papah selalu mendoakan mereka dalam hati Papah, mah. Tidak harus di ungkapkan segala. Dan lagi, mereka sudah dewasa sekarang, mereka tahu mana yang baik dan yang buruk untuk diri dan kehidupan mereka. Papah percaya sama anak dan menantu papah. itu sudah cukup. tutur Handoyo panjang lebar membuat Sinta memutar bola mata jengah.


Lalu pandangan Sinta kembali menatap sendu putrinya dan mereka kembali ingin berpelukan, tapi dengan sigap Risal menarik tangan Mita lalu memeluk adiknya itu, tubuh Mita terkesiap, terkejut tatkala dipeluk oleh Risal.


"Berhenti menghabiskan waktumu dengan memeluk mamah! kamu bahkan tidak memeluk aku sama sekali, memangnya kamu tidak sedih berpisah dengan kakakmu ini." cetus Risal ditengah pelukannya.


"Tidak!! Singkat Mita.


"Dasar!! Cerca Risal sambil menjitak pelan kepala adiknya itu membuat semuanya terkekeh pelan begitupun dengan Mita.


"Aku harap kalian disana baik-baik saja, jangan bertengkar hanya karena masalah kecil, selesaikan dengan kepala dingin." ucap Risal menatap Doni. Mita dan Doni mengangguk patuh mendengar petuah dari sang kakak.

__ADS_1


Perlahan Risal melepaskan pelukannya.


"Dan kamu!! Risal menatap Mita tajam.


"Berhenti bertingkah seperti bocah, jangan menyusahkan Doni. Jangan sampai Doni kewalahan dengan sikap bobrok kamu." cercanya membuat Doni mendengus lucu sementara Mita sudah cemberut.


"Bukannya itu sifat Kak Risal." bantah Mita.


"Menurut kamu seperti itu!? tanya Risal dan diangguki oleh Mita.


"Kita itu mirip, karena kita saudara." cetus Risal lagi sambil tangannya mengacak pelan rambut Mita.


"Ishhhh.. rambut aku berantakan." keluh Mita kesal.


"Udah sayang, sekarang mending kamu masuk, itu nama kalian sudah di panggil. ucap Handoyo mengingatkan. Karena memang pengumuman final boarding sudah menyebut nama mereka, meminta mereka untuk segera menuju pesawat.


Lalu Doni dan Mita pun berpamitan untuk yang terakhir sebelum mereka menuju pesawat.


"Aku bakalan merindukan kamu lagi, Mit." Cetus Risal saat mereka hendak melangkah.


"Makanya kak, segera tebar undangan, agar aku pulang lebih cepat." cetus Mita mengejek kakaknya


"Sial!! gerutu Risal kesal membuat semuanya kembali terkekeh. Risal lalu mengibaskan tangannya sebagai tanda agar mereka segera pergi, dan mereka pun kembali berjalan.


Sebelum benar-benar menghilang dari pandangan keluarganya, Mita dan Doni kembali berbalik sambil melambaikan tangan.


^Δ^


Senyum sabit itu terus terukir indah di bibir Mita. Rona bahagia terpancar jelas di wajahnya tatkala atensinya tertuju pada pria tampan yang duduk di kursi sampingnya sambil tangan mereka saling menggenggam seolah tak ingin berpisah.


Sama halnya dengan Doni, atensinya tak pernah sedetikpun teralih dari wanita pujaan hatinya itu.


Perlahan Doni kembali teringat akan kenangan yang mereka lalui sebelum akhirnya terpisah oleh jarak selama kurang lebih lima tahun lamanya tanpa komunikasi. Dari sini Doni bisa menyimpulkan jika dua orang sudah ditakdirkan untuk bersama, pada akhirnya mereka akan menemukan jalan kembali.


"Terima kasih, sudah kembali kepadaku." Doni berucap lirih menatap sayup wajah istrinya.


"Aku juga berterima kasih, karena mau mempertahankanku." ucap Mita tak kalah lirih sambil tangannya terulur mengelus lembut pipi suaminya.


Bola mata mereka saling beradu saat ini, cinta dan kasih sayang serta kebahagiaan tergambar jelas di manik mata indah mereka, hingga bermenit-menit lamanya hingga mereka tak menyadari ternyata pesawat yang mereka tumpangi kini telah terbang jauh, menuju pada kisah dan lembaran baru dari cinta sejati mereka.


Cinta sejati itu indah begitu kamu menemukannya. Tidak peduli risikonya, takdir akan selalu menyatukanmu dengan orang yang kamu cintai. -Mita-


Rasa sakit karena perpisahan membuatku menyadari bahwa kita jauh lebih bahagia saat kita kembali bersama. -Doni-


TAMAT


Author's Note π_π


Yuhuuuuu,, Ini adalah akhir dari kisah mereka. Maaf yah, jika endingnya tidak sesuai dengan harapan para readers. Tapi percayalah ketulusan Author terselip dalam tulisan ini, wkwkw.


Dari kisah mereka kita dapat mengambil kesimpulan:


Jika, takdir manusia sudah ditentukan.


Hidup, Mati, Kaya, Miskin dan Jodoh semuanya telah di atur.


Jadi, berjuanglah seperlunya, nikmati hidup secukupnya dan bersyukur sebanyak-banyaknya.


Karena sejatinya, rasa syukurlah yang akan mencukupimu, membuat dada sempitmu terasa lapang dan selalu bahagia.


Manusia hanya mampu berkeluh kesah jika mendapat musibah, tanpa sadar akan adanya sang Pencipta. Yang maha Kaya dan Maha Cinta.


Tatkala tertimpa musibah, mereka lupa dan menyalahkan tuhanNya menyalahkan takdirnya tanpa tahu jika tuhanNya mencintaiNya dengan ujian yang menimpa dirinya.


Ingatlah!!


Allah said I know everything.


What is good in your opinion, not necessarily good in my opinion, and bad for you is not necessarily bad in my opinion.


And Allah said : I am according to the expectations of my servant.


Jadi selalu lah berprasangka baik kepada Allah, bukan sebaliknya 😉


...Ok Sekian, salam hangat dari Author....


...Semoga novel ini bisa memberi kalian inspirasi, dan mohon maaf jika Author masih kurang dalam penulisan serta penempatan emosi yang masih belum membuat kalian puas....


...Dan terima kasih buat para readers setia Tak Sengaja Jatuh Cinta....

__ADS_1


...I Love You Guyss And Happy Reading ❤...


__ADS_2