Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Delapan Sembilan "TSJC"


__ADS_3

Citra masih berjalan dengan cepat meninggalkan Riko. Citra melewati Anton dengan tatapan sinis yang sedang berada di lapangan basket bersama Arman.


"Dia kenapa?" tanya Arman heran melihat tatapan sinis Citra kepada Anton.


"Kayaknya dia masih marah sama gue." ucap Anton.


"Marah kenapa?" tanya Arman lagi.


Sementara Riko masih mengikuti Citra dan tiba di dekat Anton dan juga Arman.


"Hee Ntonn, ini semua gara-gara lo tau ngga, lo ngatain Citra gendut, sekarang dia juga marah sama gue." gerutu Riko kesal ke lalu kembali mengejar Citra.


"Wahhh,, ternyata lo dalangnya, tp emang bener sih, akhir2 ini Citra gemukan." gumam Arman lagi.


"Udah, ngga usah urusin mereka,, kita main basket yuk, gimana." ajak Anton.


"Ogah,, gue udah capek, tadi gue udah main 4 ronde dan sekarang gue haus." keluh Arman lalu pergi menuju kantin dan Anton pun ikut.


Sementara Riko masih mengejar Citra dan membujuknya agar tidak marah.


"Sayang, kamu dengerin aku dulu dong." ucap Riko sambil menahan tangan Citra agar berhenti.


Citra pun berhenti dan menoleh kearah Riko dengan wajah cemberut.


"Sayang, aku tanya kenapa kamu marah saat orang lain mengatai kamu gendut?" tanya Riko.


"Ya aku ngga suka aja, kalau aku gendut nanti aku kelihatan jelek." ucap Citra datar.


"Hei,, kenapa kamu berpendapat seperti itu, bahwa jika kamu gendut kamu kelihatan jelek,, justru aku suka kalau kamu yang kayak gini, kamu jauh lebih seksi dimata aku." ucap Riko meyakinkan Citra.


Citra tersipu malu mendengar perkataan Riko memujinya seksi. Citra perlahan-lahan tersenyum tipis.


"Akhirnya luluh juga." batin Riko puas dengan gombalannya.


"Nah gitu dong, kan cantik kalau senyum." ucap Riko lagi memuji Citra lalu mencubit pipi Citra.


Citra semakin melebarkan senyumannya saat Riko kembali memujinya dan mencubit pipinya lembut, Citra pun memukul dada Riko.


"Aakkhhh,, sakit sayang." keluh Riko kesakitan sambil mengelus dadanya.


"Ya udah, untuk mendinginkan hati dan pikiran kamu, sekarang kita makan ice cream. kamu mau?." ajak Riko, dan langsung disambut dengan anggukan Citra yang sangat antusias.

__ADS_1


"Ya udah sekarang kita pergi, tapi sebelum itu sini tas kamu biar aku yang bawain." pinta Riko lalu Citrapun menyerahkan tasnya kepada Riko.


Saat Riko sedang memasang tas Citra, Citra yang sudah sangat antusias meninggalkan Riko dan membuat Riko bingung.


"Citraa.." panggil Riko dengan nada merengek.


Citrapun menoleh mendengar panggilan suaminya dan melihat ekspresi Riko yang memasang wajah imut sambil mengulurkan tangannya agar Citra menariknya.


Citra kembali tersenyum melihat tingkah imut suaminya yang dibuat-buat itu, Citrapun kembali kearah Riko lalu menarik tangan Riko.


Lalu merekapun pergi ke kafe ice cream dengan bergandengan tangan sambil mengayunkan tangan mereka, layaknya remaja yang sedang dimabuk asmara.


Setelah mereka tiba dikafe ice cream yang jaraknya tidak jauh dari kampus, Rikopun menanyakan rasa yang diinginkan Citra, dan Citra menginginkan rasa vanila.


"Bukannya Coklat yah,, biasanyakan kamu pesan rasa coklat dengan ukuran yang jumbo." ucap Riko.


"Aku lagi ngga mau rasa coklat kak,, soalnya coklat membuat kita semakin gendut, apalagi dengan porsi jumbo, itu bisa bikin aku wow semakin lebar,, aku ngga mau. Makanya aku pesan rasa vanila yang ukuran sedang." jelas Citra membuat Riko tersenyum dengan tingkah Citra yang menurutnya imut.


"Ya udah, kamu tunggu disini, pesanan akan segera datang." ucap Riko sambil mencubit pipi Citra dengan gemas.


"Ahkkk, kak Riko sakit." keluh Citra melepaskan cubitan Riko.


"Habisnya kamu imut banget sih, aku jadi gemas." ucap Riko tersenyum lalu meninggalkan Citra untuk memesan ice cream dan Citra menunggu Riko dikursi pelanggan.


"Si,, Citra ada hubungan apa sih sama Riko? kok mereka deket banget, kayak orang pacaran." ucap Dona penasaran.


"Gue juga ngga tau,, ko Riko bisa deket banget sama bocah itu, Riko ngga biasanya seperti itu, dia itu cuek banget sama perempuan, gue aja ngga pernah di ajak ngobrol sampai segitu dekatnya sama Riko. Ihhhh mereka ada hubungan apa sih." gerutu Lusi kesal.


Setelah selesai memesan Riko pun kembali menghampiri Citra yang sudah menunggunya tidak sabar.


"Nih ice cream tuan putri, rasa vanila dengan ukuran sedang." ucap Riko.


"Makasih.." ucap Citra lalu tersenyum.


Lusi dan Dona yang dari tadi gelisah galau merana melihat kedekatan Riko dan Citra pun menghampiri mereka.


"Rik,, lo ada hubungan apa sama dia?" tanya Lusi penasaran.


Riko dan Citra terkejut dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba.


"Kenapa emangnya?" ketus Riko.

__ADS_1


"Rik, gue nanya dan lo malah balik nanya." ucap Lusi lagi, sementara Citra hanya menunduk karna Dona terus menerus menatap Citra sinis.


"Citra siapa gue, itu bukan urusan lo,, mending lo urus diri lo sendiri, ngga usah kepoin hidup gue.".ketus Riko lagi lalu berdiri hendak pergi dan mengajak Citra.


Lusi yang sakit hati mendengar perkatan Riko, langsung memeluk Riko dengan erat. Riko terkejut dengan tindakan Lusi dan Citra sudah panas melihat Riko dipeluk oleh Lusi.


"Gue berhak tau siap lo, karna gue suka sama lo Rik, gue cinta sama lo. jangan bilang kalau bocah ingusan ini pacar lo. gue ngga terima, lo satu-satunya milik gue." ucap Lusi sambil terus memeluk Riko dengan erat, Riko berusaha melepaskan pelukan Lusi tapi sangat susah karna Lusi memeluknya dengan erat.


"Apa-apaan sih lo,, lepasin gue ngga." pinta Riko sambil terus mencoba melepaskan pelukan Lusi.


"Ngga, gue ngga akan ngelepasin lo Rik,, lo milik gue seutuhnya, hanya milik gue." ucap Lusi.


Citra semakin geram mendengar perkataan Lusi yang menurutnya sangat murahan, Citra yang sudah terbakar api cemburu, mengumpulkan tenaganya lalu mendorong Lusi dengan keras hingga membuat Lusi terdorong kebelakang dan terjatuh, tindakan Citra membuat Riko terkejut dan juga Dona.


"Kak Riko itu milik aku, bukan milik kak Lusi, kenapa kak Lusi berkeyakinan kalau kak Riko hanya milik kak Lusi seorang." gertak Citra kesal.


"Lo anak kecil, berani lo sama senior lo." gertak Lusi balik.


"Berani." tantang Citra lagi.


Riko semakin panik melihat istrinya yang tidak biasanya, Riko khawatir terjadi apa-apa dengan Citra, apalagi sekarang Citra sedang hamil.


"Sayang, kamu ngga usah ladenin dia, kita pergi sekarang." ajak Riko sambil merangkul Citra untuk pergi meninggalkan kafe, tapi Citra langsung melepaskan rangkulan Riko dengan keras.


"Kok dia jadi kuat sih." batin Riko tidak percaya.


"Lo ngga ada hak buat ngelarang gue deket sama Riko, emangnya apa hubungan lo sama Riko." bentak Lusi kepada Citra sambil mendorong Citra menggunakan jari telunjuknya. Perlakuan Lusi membuat Riko geram, karna Riko tidak terima istrinya diperlakukan seperti itu.


Riko langsung menjauhkan Lusi dari Citra dengan kasar.


"Dia istri gue,, dan dia yang paling berhak atas diri gue jadi lo ngga usah bentak istri gue." Bentak Riko lagi membuat Dona dan Lusi ciut dan tidak percaya dengan perkataan Riko.


Sementara Citra memasang wajah songongnya, dia merasa sudah menang. Karena Lusi sudah tidak bisa berkata apa-apa.


Riko masih menatap Lusi dengan tatapan tajam.


"Rik, lo lagi bercanda kan, sejak kapan lo nikah?" tanya Lusi syok.


"Gue udah lama nikah dengan dia,, tapi kita belum melakukan resepsinya, dan sebentar lagi akan kita adain, dan lo tenang aja,, gue akan memberi kalian undagan." ketus Riko lagi, membuat kaki Lusi lemas dan hampir terjatuh, tapi Dona langsung memapahnya.


"Yuk kita pulang." ajak Riko lagi, lalu merangkul Citra, tapi Citra tidak menerima rangkulan Riko dan langsung pergi meninggalkan Riko.

__ADS_1


Riko merasa malu karna dicuekin oleh Citra, lalu diapun langsung mengejar Citra.


__ADS_2