Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
TSJC EP Romi Sad Ending Part 5


__ADS_3

Sebuah mobil hrv berwarna hitam terlihat berbelok masuk melewati pintu gerbang yang sudah terbuka lebar. Setelah melewati pintu gerbang, mobil hitam itu terparkir di depan halaman rumah.


Detik berikutnya sang pengemudi mobil itu turun dari mobilnya yang ternyata adalah Riko, Riko menatap ke arah gerbang dengan dahi mengerut heran. Kenapa gerbang itu tak tertutup. pikirnya.


Tak mau ambil pusing terkait pintu gerbang itu, Riko langsung mengambil langkah panjangnya untuk masuk ke dalam rumah itu, yang ternyata adalah rumah Romi.


Yah, tujuannya kesini adalah untuk mengecek apakah Romi sudah kembali dari rumah mertuanya atau belum!! karena sejak hari dimana dia mengantar Silfa ke kampung halamannya untuk di kebumikan, dia tidak pernah lagi mendengar kabar Romi, nomornya telfonnya juga tidak aktif, Romi juga tak pernah ke kantor.


Dan ini sudah lima hari sejak Silfa meninggal. Jika memang dia masih di rumah mertuanya, kenapa dia tidak memberi kabar kepadanya.


Dahinya kembali mengernyit heran, saat langkahnya kini sudah di depan pintu. namun pintu bercat putih itu terlihat tidak tertutup rapat. Apakah dia sudah di rumahnya? pikirnya lagi.


Lalu detik berikutnya dia pun melesat masuk ke dalam rumah itu, kaki panjangnya melangkah tanpa ragu, langsung menuju ke kamar Romi.


Tatkala Riko sudah berada di dalam kamar Romi, dia mendapati pria itu meringkuk di atas tempat tidurnya. Namun, tiba-tiba saja raut wajahnya berubah khawatir saat dia melihat wajah Romi terlihat sangat pucat dan penampilannya sangat berantakan.


Perlahan Riko mengulurkan tangannya ke dahi Romi. seketika Riko panik saat merasakan suhu tubuh Romi sangat panas. Tanpa pikir panjang dia langsung menggendong sahabatnya itu untuk dia bawa ke rumah sakit, karena saat ini kondisi Romi memang sudah sangat lemah.


...****************...


Riko duduk di sebuah sofa yang berada di ruangan itu, sementara pandangannya terus menatap pria yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang infus yang terpasang di tangan kanannya.


Sudah tiga hari dia sakit, itu artinya sudah tiga hari pula dia tidak melakukan apapun, hanya terbaring lemah di atas ranjang sendirian di rumah itu. Karena memang Siti sudah berhenti bekerja.


Dokter mengatakan, bahwa Romi kelelahan karena kurang istirahat. Saat mengingat ucapan dokter tadi membuat Riko merasa kasihan dengan sahabatnya itu, bagaimana tidak? Dia baru saja menemukan kebahagiaannya, tapi kebahagiaan itu kembali terenggut. yang membuat dia seperti sekarang ini. Mungkin Allah sangat menyayanginya. Makanya dia di beri cobaan yang berat. pikir Riko.


"Rik!?


Suara berat namun terdengar sangat lemah itu membuat Riko tersadar dari lamunannya. Dengan sigap dia menghampiri sahabatnya itu yang saat ini sudah duduk.


"Gimana keadaan lo? Apa ada yang-


Belum sempat Riko menyelesaikan pertanyaannya, tubuhnya terkesiap heran tatkala Romi langsung menggenggam lengannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tolongin gue Rik!!


Suara lirih itu semakin membuat Riko heran, apa maksudnya?


"Tolongin gue!! sekali lagi Romi memohon dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya. Membuat Riko menatap iba sahabatnya itu.


"Apa yang bisa gue bantu?


Jawaban Riko berhasil membuat pandangannya terangkat menatap Riko dengan penuh harap.


"Gue mau pergi dari sini!!


Dahi Riko mengernyit heran saat mendengar ucapan Romi, dan semakin mengernyit tatkala dia kembali berucap.


"Gue mau pergi jauh dari tempat ini, gue ngga sanggup jika terus berada disini. Rik!!


"Lo egois yah!? cerca Riko sambil menarik keras tangannya yang di pegang oleh Romi.


"Gue tau perasaan lo setelah kehilangan Silfa! gue tau saat ini lo tidak sedang baik-baik saja! tapi coba lo pikir! lo ngga sendiri!! Riko membeda ucapannya menatap tajam Romi.


"Anak lo sedang berjuang di dalam inkubator, dia sedang berjuang dengan hidup dan matinya!! dia butuh dukungan ayahnya! dia butuh ayahnya terus ada di sampingnya! tapi kenapa lo bersikap seolah hanya lo yang saat ini paling sakit di dunia ini!? haaa!! Riko menyentak kuat ke arah Romi, yah dia sangat marah dengan apa yang sahabatnya itu pikirkan. Romi hanya menunduk.


"Lo fikir anak itu tidak merasa sakit saat ini!! harusnya dia belum lahir, tap-


Kalimat Riko terpotong tatkala Romi juga menyentaknya dengan kuat..


"Itu dia Rik!! itu yang membuat gue harus pergi jauh!! anak gue lahir sebelum waktunya itu karena gue!! karena kesalahan gue!! jika saja gue tidak becus sebagai suami!! bayi kecil itu tidak harus berjuang di ruang inkubator itu!! jika saja gue menjadi suami yang lebih peka. mungkin saja Silfa masih ada!! Sentak Romi menyalahkan dirinya sendiri.


Riko memalingkan wajahnya dari Romi. Dia merasa salah dalam berucap. Karena ucapannya barusan membuat Romi kembali menyalahkan dirinya.


Tak ingin melanjutkan perdebatan ini, karena jika dia kembali berucap meskipun ucapannya bermaksud baik, itu tak akan mempan lagi. Romi tak akan berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Menghela nafas berat dia mengalah, dia meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah kata lagi, dengan maksud menenangkan pikirannya dan juga pikiran Romi.


Sementara Romi hanya menatap punggung Riko yang langsung menghilang di balik pintu.


...****************...


Sejak tadi Riko bergeming, dia masih memikirkan perdebatannya tadi bersama Romi. Apa yang harus dia lakukan? apakah dia harus menuruti Romi? tapi, kenapa dia harus menurutinya? harusnya dia itu berfikir sedikit dewasa, kenapa dia terus menerus menyalahkan dirinya sendiri? pertanyan-pertanyaan itu membuat kepalanya terasa pusing.


Menghela nafas berat lalu mengangkat pandangannya. Seketika itu pula tubuhnya tersentak kaget saat pandangannya langsung tertuju pada wanita yang tengah menatapnya tajam.


"Kamu ngagetin aku tau!! cetus Riko.


"Kamu lagi ngelamunin apa sih!? tanya wanita berstatus ibu dan istrinya itu penasaran.


"Siapa yang melamun!! Riko menyangkal kebenaran yang dilihat istrinya, seketika dahi Citra mengernyit menatap penuh selidik suaminya ini.


"Jadi kamu nggak melamun? tanyanya memastikan.


"Iya!! ngga ada yang melamun!! sangkanya lagi.


"Ya udah mana!? Citra menadahkan tangannya di depan Riko, seketika alisnya terangkat bingung.

__ADS_1


"Apa?


"Yang aku minta tadi!!


"Emang kamu min-ta... a..pa?" kata terakhirnya tersendat tatkala dia menyadari bahwa dia sudah ketahuan, lalu melirik Citra sekilas.


Mendengus pelan Citra beranjak meninggalkan suaminya itu sambil berkata sarkas.


"Dasar pembohong!!?


Riko hanya menghela nafas pasrah saat mendengar istrinya berucap seperti itu.


Ternyata sejak tadi memang Citra terus berbicara kepada Riko untuk mengambilkan popok anak mereka, namun setelah beberapa kali memanggil tak ada sahutan dari sang suami, ternyata dia sedang melamun.


Riko menatap punggung istrinya yang saat ini tengah berjalan ke arah keranjang bayi untuk meletakkan bayi mereka disana setelah Citra mengganti popok putranya itu.


"Kenapa? ada apa? kenapa tadi kamu melamun? ada masalah?.


Pertanyaan beruntun itu membuat dahi Riko mengkerut. baru saja duduk di sampingnya, pertanyaannya sudah seribu. pikir Riko.


"Jadi! aku jawab yang mana dulu nih?


"Yang paling gampang!! cetus Citra.


Menghela nafas pelan, diapun menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Romi di rumah sakit tadi.


Setelah beberapa menit bercerita, suasana hening!! Citra bisa melihat raut wajah suaminya itu terlihat khawatir dan gelisah.


"Lalu apa keputusan kamu?"


Citra angkat bicara di tengah suasana hening itu.


Riko hanya menghela nafas pelan sebagai jawabannya, jujur saja dia tidak tau apa keputusannya? Dia sendiri bingung.


Citra menatap suaminya penuh kasih, tersenyum lembut ke arahnya lalu detik berikutnya dia meraih tangan suaminya.


Riko yang sejak tadi terdiam, tersentak saat jemari kecil istrinya menyentuh tangannya dengan lembut. Sangat menenangkan. pikirnya setelah melihat tatapan teduh istrinya itu.


"Aku tahu kamu khawatir sama Romi dan juga Nayla!! tapi kamu harus peka sama perasaan Romi juga. Sayang!! tuturnya lembut membuat Riko semakin bingung apa maksudnya.


"Gini deh!! mungkin kamu bisa menebak perasaan Romi saat ini, jika saat ini dia sedang terpuruk karena dia baru saja kehilangan seseorang yang berharga di hidupnya. Tapi tebakan yang seperti Itu sangat umum sayang!!terpuruk saat kehilangan itu adalah perkara yang umum, semua orang merasakan hal yang sama saat mereka tertimpa musibah, mereka semua pasti terpuruk.. Citra menjeda ucapannya.


"Tapi coba deh kamu pikir!! kenapa ada orang yang terpuruk, dia menjadi gila!? kenapa karena terpuruk, orang menjadi stress!? dan kenapa ada orang yang terpuruk, mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri!? Kenapa!? Riko menggeleng pelan tanda tak tahu apa jawabannya.


Citra mempererat genggamannya, lalu kembali berkata.


Riko hanya tertunduk berusaha mencerna perkataan Citra.


"Sayang!!!


Pandangannya terangkat tatkala Citra memanggilnya.


"Terkadang, kita harus berada di posisi orang itu!! Agar kita bisa merasakan apa yang mereka rasakan!!" jelas Citra membuat Riko tak berkutik. Riko masih mencerna setiap kalimat yang keluar dari lisan istrinya.


Riko menatap nanar istrinya sesaat setelah dia mengerti maksud dari kalimat panjang istrinya itu.


Citra tersenyum lembut, saat Riko sudah mengerti maksud dari perkataannya.


"Jadi!!! Dari pada kamu menghakimi Romi, mending kamu tanya alasan dia ingin pergi karena apa!? Aku yakin, tidak mudah juga bagi dia memutuskan untuk pergi meninggalkan anaknya." Tutur Citra lagi memberi saran dan Riko mengangguk pelan tanda setuju.


Citra tersenyum puas, saat suaminya menerima sarannya.


Riko masih menatap istrinya dengan tatapan kagum, ini yang Riko suka dari istrinya itu, kecerdasannya dalam berpikir dan kedewasaannya dalam bertindak serta ketenangannya dalam mengambil keputusan. Tidak sia-sia dia menikah dengan wanita ini. pikirnya.


"Makin sayang deh!! gumam Riko pelan dan masih bisa terdengar jelas di telinga Citra, membuat Citra mengerutkan dahi heran.


Citra memukul lengan suaminya pelan. "Ngapain sih tatap aku kayak gitu!! jijik tau nggak!!" Cerca Citra saat Riko masih menatapnya, membuat dahi Riko mengerut bingung.


"Ini tatapan sayang!!" bantahnya cepat.


"Tatapan sayang apanya!? tatapan mesum kayak gitu, di bilang tatapan sayang!!" Cercanya lagi lalu beranjak meninggalkan suaminya menuju keranjang putranya.


Bukan tanpa alasan Citra berkata seperti itu, itu karena dia malu dengan tatapan suaminya itu.


"Mesum!?" beo Riko kesal tak terima di katai mesum.


Citra tersenyum tipis di depan keranjang putranya mendengar suaminya yang kesal.


"Ya udah sekarang kamu ke rumah sakit!! ngapain kamu masih duduk disitu!!?


Citra berbalik menatap suaminya yang masih duduk di sisi ranjang.


"Ingat!!! jangan berdebat! kamu bicara sama dia dengan kepala dingin! biar masalahnya cepat selesai!! sambungnya lagi.


Menghela nafas pelan, Riko beranjak dari duduknya menghampiri istrinya yang masih berdiri di samping keranjang putra mereka.

__ADS_1


"Ya udah aku pergi dulu yah!! pamitnya sambil lengan kekarnya memeluk pinggang Citra dari belakang. Citra hanya mengangguk lalu detik berikutnya Riko mengecup pipi istrinya itu, lalu mengecup kening putranya yang sedang tertidur. Setelah itu diapun melesat meninggalkan anak dan istrinya. Citra hanya menatap punggung tegap suaminya yang perlahan menghilang dari balik pintu.


...****************...


Sesaat setelah Romi masuk ke dalam ruangan melalui pintu coklat itu. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat pandangannya tidak sengaja melihat pria yang tengah duduk di sofa. Mereka saling bertukar pandang sejenak, sebelum akhirnya Romi melanjutkan langkahnya ke arah ranjang rumah sakit tanpa menghiraukan pria itu lagi.


Sementara Riko menyadari jika pria itu sedang mengabaikannya.


"Kita perlu bicara Rom!!"


"Nggak ada yang mau gue bicarakan!" jawabnya terdengar ketus.


"Sekarang kesini atau-


Belum sempat kalimat ancamannya selesai, Romi langsung berbalik arah menujunya.


"Lo habis dari mana?" tanya Riko basa basi setelah mereka kini duduk berdampingan.


"Dari ruang NICU, nengok Nayla." jawabnya singkat.


Lalu suasana hening setelah percakapan basa basi itu. Sejenak Riko berfikir, dia harus memulai dari mana?


"Kenapa lo tiba-tiba ingin pergi? alasannya!".


"Bukankah sudah jelas Rik! kenapa bertanya lagi!


"Apa karena rasa bersalah? cetusnya tidak yakin dan Romi mengangguk.


Menghela nafas ringan sesaat sebelum dia kembali berucap


"Rom!! harus berapa kali sih gue harus ngomong ini, be-


"Berhenti menyalahkan diri kamu sendiri, semuanya terjadi di luar dari kehendak kita." Riko tersentak saat Romi mengucapkan kalimat yang ingin dia ucapkan itu. "Itu kan yang ingin lo omongin! sambungnya lagi menatap Riko tapi Riko hanya bergeming.


"Gue udah mencoba Rik!! gue udah ngeyakinin diri gue sendiri, tapi tetap ngga bisa Rik!! Bayangan Silfa terus muncul, bayangan Silfa yang memohon terus muncul, membuat gue menyalahkan diri gue sendiri." tuturnya panjang lebar.


"Rik!! gue cuma mau nenangin diri gue, menyibukkan diri, agar fokus gue teralih." sambungnya lagi.


"Kenapa harus ke tempat jauh!? Kenapa ngga di-


Kalimat Riko kembali terputus tatkala Romi kembali angkat bicara.


"Gue ngga akan minta untuk pergi ke tempat yang jauh!! Kalau seandainya gue bisa disini! gue juga manusia biasa Rik!! hati dan perasaan gue lemah!!" Suara berat Romi sudah bergetar.


"Kenangan kita terlalu banyak disini Rik!! Di kantor..


Romi menjeda kalimatnya bersamaan dengan air matanya yang sudah mengalir. Dia kembali teringat momen-momen bersama Silfa yang berawal dari kantor Riko. Yang selalu mempermasalahkan masalah kecil, hingga menimbulkan pertengkaran dan perdebatan diantara mereka. Hingga akhirnya mereka saling mengerti keinginan satu sama lain, membuat Romi tertarik dengannya.


Sementara momen kebersamaan mereka di rumah juga sama, perhatian kecil yang selalu Silfa tunjukkan membuat Romi mengatakan jika Silfa itu sangat cerewet.


Lalu bagaimana fokusnya bisa teralihkan jika dia terus berada di lingkungan yang penuh kenangan manis diantara keduanya.


Lalu bagaimana bisa rasa bersalah itu hilang dari diri Romi, saat dia kembali teringat dengan wajah memohon Silfa saat itu. Dan dia tak menuruti istrinya itu, yang ternyata adalah permohonan terakhirnya.


Ingatan itu, membuat rasa bersalahnya semakin menyergap, membuat dadanya terasa sesak. membuat Romi kembali terisak. Sementara Riko yang duduk di sampingnya hanya mampu menenangkan Romi dengan tepukan lembut di punggung Romi. Riko kini sadar, apa yang membuat sahabatnya sesakit ini. Dia kembali terfikir perkataan istrinya yang mengatakan, terkadang kita harus berada di posisi orang itu!! agar kita tau bagaimana perasaannya.


"Pergilah ke Jepang!!


Romi terkesiap saat mendegar ucapan Riko, dia menoleh menatap Riko meminta kepastian.


"Iya!? Di perusahaan papah!! disana sedang dibutuhkan posisi direktur pemasaran, dan lo cocok dengan posisi itu. Riko menjeda ucapannya, lalu menepuk pundak Romi pelan.


"Bekerjalah dengan sibuk disana!! sampai rasa bersalah itu, tidak lagi menghantui perasaan lo!! dan kembalilah setelah beberapa tahun untuk anak lo!! sambungnya lagi.


Detik itu juga Romi menghambur ke pelukan Riko, dia tidak tau lagi harus berkata apa kepada sahabatnya ini. Dia sangat bersyukur memiliki Riko berada di sisinya. Selalu memahami dirinya. Rasa syukur yang dia rasakan membuat dia tak mampu menahan tangisnya dalam pelukan Riko.


...****************...


Setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Kini kedua pria bromance itu sudah berada di Bandara.


Hari ini Riko mengantar Romi yang akan berangkat ke Jepang untuk bekerja disana.


Saat jadwal penerbangannya hampir tiba, raut wajah Romi berubah cemas, dan Riko menyadari itu.


"Pergilah tanpa rasa khawatir. dan bekerjalah disana tanpa merasa resah dengan kondisi anak lo disini!! Gue dan Citra akan merawatnya dengan baik!! jelasnya membuat Romi bernafas lega.


Yah, mereka sudah sepakat, selama Romi di Jepang, Riko dan Citra yang akan merawat Nayla anak Romi dan Silfa.


Setelah waktunya tiba, Romipun melangkahkan kakinya masuk menuju pesawatnya. Dan Riko yang masih bergeming hanya menatap punggung Romi.


-tbc-


....Yuhuuuu!! kisah Romi dan Silfa berakhir menyedihkan guys. Aku juga turut bersedih dengan musibah yang menimpa mereka berdua, semoga saja ada secuil kebahagiaan untuk Romi....


...Nah!! setelah kisah sad ending Romi Silfa, kita menuju kisah Mita Doni, kalian penasaran kan? sama! aku juga. hehe....

__ADS_1


...happy reading guyss ❤...


__ADS_2