Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
585


__ADS_3

Tak terasa sudah 4 bulan berlalu,kehidupan Samuel berjalan dengan lancar.


Lelaki itu terlihat sibuk dengan pekerjaan yg ia tekuni selama ini bahkan omset perusahaannya semakin meroket.


" Pak,besok pembagian gaji karyawan apa punya Restu juga dibagikan ?" tanya Sekretaris Samuel hati2.


Samuel yg sedang mengetik sesuatu langsung diam sejenak dan melihat lelaki itu.


" Maaf Pak,tapi dia belum masuk juga jika kita seperti ini maka karyawan lain akan merasa iri " Ucap Secretaris Samuel.


" Dia juga sudah ditanya dewan direksi,mereka meminta persetujuan Bapak untuk proses pemecatan " Sambung lelaki itu.


" Mereka ingin memecatnya ?" Tanya Samuel kaget.


" Ya,posisi yg Restu pegang sekarang pun sudah diambil karyawan lain,kita tidak mungkin membiarkan posisi itu kosong bukan ?"


" Ya kau benar " Jawab Samuel menghela nafas.


" Jadi bagaimana ?" tanya Secretaris meminta pendapat.


" Lakukan saja apa yg kalian rasa itu bagus,dan jika benar ingin melakukan pemecatan,jangan lupa beri dia pesangon " Jawab Samuel tegas.


" Sebenarnya saya iba Pak kepada dia,tapi apa boleh buat " Kata Secretaris lesu.


Samuel mengangguk paham,lelaki itu pun meminta asistennya untuk keluar.


Samuel diam melihat kaca bening yg menampakkan ramainya ibu kota.


Helaan nafas terdengar berapa kali,pria itu juga sebenarnya pusing dengan langkah yg ia ambil sekarang.


Disisi lain,Samuel kasihan kepada Restu tapi disisi lain,ia juga harus memikirkan karyawannya yg pasti akan iri dengan ketidakseimbangan Samuel.


" Maafkan aku Res " Gumam Samuel nanar.


Lelaki itu berbalik badan dan kembali bekerja.


Ditempat lain,seorang perempuan termenung didapur dengan wajah yg sulit dimengerti.


Sejak bangun dan keluar dari rumah sakit,Winda menjadi wanita pendiam.


Kondisi psikisny sedikit terganggu membuat wanita itu seperti mayat hidup.


Suara tangisan bersaung2,Winda masih tak bergeming dari tempat ia berdiri.


" Mamaaaaaa " panggil Seseorang sedikit berteriak.


Winda masih diam.


" Maaaaa adikk nangissssssssss " Teriak Nur berjalan tergopoh2 dengan kedua tongkatnya.


Brugkkkkk....


Gadis itu tersungkur kedepan terlalu cepat berjalan.


" Aduhhhhhh " Ringis Nur mencoba bangun.


Winda terkejut,tapi kakinya masih diam ditempat.


" Maaaa Nur jatuh " Ucap Nur berkaca kaca.


" Nurrrrrr......" Teriak Sindi kelabakan melihat cucunya berada dilantai.


Wanita baru pulang dari pasar itu sontak berlari dan membantu cucunya berdiri.


" Ya Tuhan,kamu kenapa Nak ?" tanya Sindi mengangkat cucunya.


" Adik nangis Nek " Ucap Nur bergetar.


Sindi melihat Winda,wanita itu menghela nafas panjang.


Winda berjalan begitu saja tanpa menghiraukan mereka.


" Winda..." Ucap Sindi lirih.

__ADS_1


" Tolong adik Nek " Pinta Nur ingin menangis.


Sindi mengangguk,wanita itu membantu cucunya berjalan menuju kamar.


Oekkkkk oekkk oekkkk....


Suara tangisan masih sangat kencang,Winda masuk kedalam dan terdiam didepan pintu melihat seorang lelaki mencoba menenangkan anaknya.


" Winda " Ucap Restu lembut.


Winda berjalan dan mengambil putranya yg masih menangis.


" Dia lapar " Ucap Restu hati2.


Winda diam dan membuka bajunya lalu duduk membelakangi lelaki itu.


Restu menatap Winda nanar,lelaki yg sedang terbaring itu hanya bisa bersabar dengan sikap dingin istrinya sekarang.


" Maafin aku Win " Ucap Restu pelan.


Sindi dan Nur berdiri didepan pintu melihat Winda menyusui anaknya.


" Papa " Panggil Nur berjalan masuk.


Restu menarik nafas dan tersenyum melihat sang putri.


" Papa kenapa ?" Tanya Nur khawatir.


" Gak papa Nak " jawab Restu lembut.


" Aku tadi jatuh Pa " Ucap Nur memberitahu.


" Jatuh ? dimana ?" Tanya Restu kaget.


" Didapur,tapi aku gak papa kok ada Nenek yg tolongin " Jawab Nur tersenyum.


Restu menghela nafas lega seraya mengusap wajah putrinya.


" Maafin Papa ya Nak,Papa belum bisa jagain Nur " Kata Restu lembut.


Restu berkaca kaca,sejak semuanya keluar dari rumah sakit,keadaan sangat kacau.


Restu dinyatakan lumpuh oleh dokter,lelaki itu harus sering melakukan terapi agar badannya kembali seperti semula..


Berhari2 Restu hanya bisa berbaring,kondisi Nur dan Winda juga memperihatinkan membuat Sindi tak tega melepaskan mereka begitu saja.


Kini orang tua Restu sudah pulang kampung,wanita itu harus bekerja demi pengobatan putranya begitupun adik Restu yg juga melakukan hal yg sama.


" Winda " Panggil Sindi datar.


Winda diam masih menyusui anaknya.


" Mama akan masak,kamu jaga mereka " Titah Sindi tegas.


Winda mengangguk kecil tanpa menjawab.


Sindi berjalan menjauh,ia tau Winda tidak baik2 saja saat ini.


Istri mana yg kuat melihat suami dan anaknya terluka secara bersamaan.


Mental Winda benar2 ditempa,kadang Sindi merasa takut Winda lemah.


Tak lama seorang pria pulang dengan beberapa bungkus makanan.


" Mereka mana Ma ?" tanya Malvin membuka jaketnya.


" Dikamar Pa,Nur tadi jatuh lagi " Jawab Sindi sedih.


" Hah jatuh ?" Ulang Malvin kaget.


" Iya,Winda hanya melihat tanpa membantu " Jawab Sindi.


Malvin terdiam,lelaki baru pulang tersebut begitu terkejut meski itu terjadi bukan hanya satu kali.

__ADS_1


" Kita harus membawa Winda ke psikiater Pa " Kata Sindi serius.


" Iya Ma,nanti aku omongin dulu sama Mama " Balas Malvin.


" Aku takut Winda...


" Gak,anak kita masih waras Ma,dia hanya belum terbiasa,kamu jangan lemah dong " Pinta Malvin.


" Aku gak tega Pa " Balas Sindi ingin menangis.


Malvin mengusap bahu istrinya,lelaki itu tau apa yg sedang Sindi rasakan saat ini.


" Kamu tenang aja,aku udah kerja di perusahaan Papa,nanti kita cari solusinya " Kata Malvin menguatkan.


Sindi mengangguk paham,wanita itu pun melanjutkan acara masaknya.


Malvin berjalan kearah kamar sang anak dan mendapati Nur memijit kaki Restu.


" Kakekkj " Pekik Nur heboh.


" Hayy Cucu kakek,lagi ngapain ?" tanya Malvin mendekat.


" Pijit kaki Papa Kek,bial Papa bisa jalan lagi " Jawab Nur semangat.


" Waahh kamu rajin banget " Puji Malvin.


" Papa sudah pulang ?" Tanya Restu tersenyum.


" Iya,kamu gimana aman kah ?" Tanya Malvin.


" Aman Pa,pijatan Nur enak " jawab Restu terkekeh.


" Wah benarkah ? Apa Papa sudah bisa melasakannya ?" Tanya Nur semangat.


Restu mengangguk walau sebenarnya tak terasa apapun.


" Nanti kita pergi lagi " Kata Malvin tenang.


" Iya Pa,oh iya aku rasa gaji aku udah keluar deh,coba Papa cek " Kata Restu semangat.


" Iya nanti Papa cek " Balas Malvin tersenyum.


Restu ikut tersenyum,Malvin meminta Nur ikut dengannya keluar dari kamar.


Kini tinggalah Winda dan Restu didalam sana.


" Kamu lapar ?" tanya Winda kepada Restu.


" Hm " Jawab Restu mengangguk.


" Baiklah,aku akan membuatkan mu makanan " Balas Winda tenang.


" Tapi...


" Apa ?" tanya Restu mengernyit.


" Aku ingin keluar sore nanti " Jawab Winda hati2.


" Kemana ?" Tanya Restu syok.


" Hanya jalan2,kepala ku sangat sakit berada dirumah terus " Jawab Winda.


" Kau bosan ?" tanya Restu.


" Ya sepertinya begitu " Jawab Winda jujur.


" Baiklah,tapi jangan lama2 ya,kasihan adek nanti nangis " Kata Restu tersenyum.


Winda ikut tersenyum dengan wajah yg mencurigakan.


" Winda mau keluar kemana ?" Batin Restu melihat raut wajah istrinya.


❤❤❤❤

__ADS_1


Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.


__ADS_2