
" Ma maafin Sam Ma " Ucap Samuel lirih.
" Kenapa kamu pergi Nak ?" Tanya Lutfia menangis.
" Aku kangen Mama,jangan tinggalin aku Ma " Kata Samuel menahan tangan ibunya.
" Mama harus pergi,kamu juga gak sayang sama Mama " Kata Lutfia tegas.
" Aku rindu Mama,jangan tinggalin Sam Ma " Rengek Samuel.
" Kamu mengecewakan Mama Sam " Kata Lutfia melepas tangan anaknya dan menghilang.
" Mamaaaaaaaaaaa " Teriak Samuel.
" Sam,bangun Sam kamu kenapa ?" tanya Winda menggoyangkan lengan lelaki itu.
" Mama " Lirih Samuel banjir keringat.
" Ya Tuhan Sam badan kamu panas " Kata Winda panik.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka,masuklah Sindi dan Malvin buru2 mendekati mereka.
" Ada apa Winda ?" tanya Malvin.
" Samuel ngigo Pa,dia manggil Mama " Jawab Winda panik.
" Badannya panas Pa " Kata Sindi memeriksa kening Samuel.
" Ambil kompresan " kata Malvin cepat.
Sindi mengangguk dan berlari keluar.
" Kamu tenang diranjang mu,biar Papa yang bangunkan Samuel." Ucap Malvin tenang.
Winda mengangguk dan turun dari ranjang lelaki itu.
Winda menggigit jarinya takut,saat terbangun Samuel sudah teriak2 memanggil Mamanya dengan mata tertutup.
" Sam,bangun Nak " Ucap Malvin tenang.
" Mama " lirih Samuel pelan.
" Iya bangun Sam " Kata Malvin mengusap keringat Samuel dengan tangannya.
" Mamaaaaaaaaa " Teriak Samuel langsung terbangun duduk.
Malvin dan Winda kaget melihat lelaki itu begitu histeris.
" Om " Kata Samuel melihat Malvin dengan mata melotot.
" Iya tenang lah,minum dulu " kata Malvin berusaha enjoy.
Samuel mengangguk dan menerima minum dari lelaki dewasa itu.
" Ini Pa " Kata Sindi memberi baskom dan handuk kecil.
Nafas Samuel tercekat,lelaki itu terlihat masih belum sadar seutuhnya.
" Sudah enakan ?" tanya Malvin pelan.
" Iya " Jawab Samuel menarik nafas.
" Kamu kenapa Sam ?" Tanya Sindi memegang bahu Samuel.
" Aku mimpi Mama Te,dia nangis " Jawab Samuel menatap Sindi.
Sindi menoleh ke suaminya,Malvin menghela nafas merasa kasihan.
Sudah 2x Samuel mengigau seperti ini dan berakhir demam.
__ADS_1
Kondisi lelaki itu benar2 mengkhawatirkan,kadang ada niatan Malvin ingin mengunjungi orang tua pria itu,tapi Sindi selalu menolak dengan alasan yang masuk akal.
" Kamu sabar ya Sam,nanti kalo kondisi kamu udah baikan Om janji bakal balikin kamu ke keluarga " Kata Malvin serius.
" Iya Om,aku juga belum mau pulang dengan keadaan seperti ini " Balas Samuel mengerti.
Malvin tersenyum kecil dan menoleh ke arah putrinya yang menatap Samuel dalam.
" Ya udah,kamu dirawat Winda ya " Kata Malvin ramah.
Samuel mengangguk dan menoleh kearah gadis itu.
Winda tersenyum canggung dengan kepala tertunduk.
Malvin dan Sindi keluar kamar bersamaan.
" Kenapa kamu suruh Winda Pa,dia juga butuh istirahat " Kata Sindi menuju kamarnya.
" Biar nanti Winda terbiasa ngurus Samuel,bagaimana pun putri kita berhutang nyawa sama Sam " Kata Malvin tenang.
" Iya sih,tapi kan aku bisa urus " kata Sindi pelan
" Kalo kamu ngurus Sam terus aku sama Doni siapa yang urusin ?" Tanya Malvin
" Hah kan kalian gak sakit " Kata Sindi bingung
" Emang ngurusnya pas sakit doang ?" Kata Malvin mengkrucut.
" Ish modus deh kamu Mas " Jawab Winda mencubit pinggang lelaki itu.
" Udah ah mending kita tidur besok aku kerja kamu kerja,kita juga butuh istirahat,urusan Samuel biar calon istriny yang urus " Kata Malvin terkekeh.
" Kapan jaman Mas,Sam aja masih sakit gimana mau nikahin,belum masalah gak habis2 " Balas Sindi lesu.
" Ya sabar aja " Kata Malvin mulai berbaring disamping putranya.
Pasangan itu pun kembali tertidur.
Keringat dingin masih keluar bahkan membasahi tubuh pria itu.
" Mau ganti baju ?" tanya Winda.
" Hm " Jawab Samuel memang merasa risih.
Winda bangun dan berjalan kearah lemarinya.
Kini lemari keduanya digabung menjadi satu untuk menghindari kedatangan para sidak yang mencari Samuel.
Baju mereka pun diacak oleh Sindi,setiap Samuel ingin berpakaian pasti Winda atau Sindi yang ambilkan jika menyuruh Samuel wajah Winda akan berubah masam dan marah2 karna lipatan akan sangat berantakan.
Dengan hati2 Winda membuka baju kaos Samuel menaruh di lantai.
Terlihat bekas jahitan di dada lelaki itu membuat Winda mengingat kembali perjuangan diriny.
" jangan dipandang " ucap Samuel datar.
" Hm " Balas Winda tersenyum.
" Nanti akan aku tato agar tak terlihat seperti bekas luka " kata Samuel lagi.
" Hah jangan " Kata Winda kaget.
" Aku juga punya " Kata Winda dengan polos mengangkat bajunya.
Glekkkk...
Samuel melotot kaget menelan ludah kasar disuguhi kulit putih gadis itu.
" Eeh maaf duh jadi kebablasan " Kata Winda kaget sendiri.
Samuel terkekeh geli,ia kadang heran dengan sikap kekanakan Winda yang tak menganggap dirinya seorang pria.
__ADS_1
" kurang tinggi " kata Samuel tenang.
" Hei kau mesum " Kata Winda mencubit perut lelaki itu.
" auuuu " Ringis Samuel terkejut.
" Ups sorry2 duh kamu sih " kata Winda kelabakn sendiri.
" Cepetan nanti aku masuk angin " Kata Samuel mulai merasa dingin.
" eh iya iya " jawab Winda memakaikan lagi baju baru untuk lelaki itu.
Kini Winda tak gugup seperti dulu lagi jika melihat tubuh Samuel,dirinya mulai biasa melihat Samuel bertelanjang dada didepannya.
Setelah semua selesai,lelaki itu kembali berbaring.
Winda pun ikut berbaring melihat Samuel.
Keduanya saling bertatapan hingga lelaki itu membalik badan.
" Aku rasa kau begitu merindukan ibu mu " Ucap Winda pelan.
" Hm " jawab Samuel jujur.
" Sebenarnya kita bisa melihat ibu mu diam2 " Kata Winda hati2.
" Ya tapi aku belum mau melakukannya " Balas Samuel.
" Hanya melihat Sam,biar tidur mu nyenyak " Kata Winda membujuk.
" Kau tidak takut Mati,Kakek ku sangat garang,dia bisa saja membunuh anggota keluarga mu tanpa jejak " Kata Samuel serius.
" Benarkah ?" Tanya Winda
" Ya " Jawab Samuel.
" Aku merasa hidup dalam jeruji Sam,ruang gerak ku terbatas,aku tak bisa melakukan apapun sesuai keinginan ku lagi " Ucap Winda sedih.
" Aku tidak menerima sesi curhat malam ini,ayo tidur " Kata Samuel tenang.
" Hehe iya " kata Winda terkekeh.
Samuel memejamkan matanya meski hatinya masih teringat akan mimpi tadi.
Samuel merasa itu semua nyata,ia memang begitu merindukan sosok Mamanya dan kadang Samuel beruntung Winda mau menggantikan itu meski tak sama.
Tapi dengan kelembutan Winda membuat Samuel merasa nyaman dan tak banyak nuntut.
Kebesokan paginya,Winda bangun terlambat.
Saat gadis itu membuka mata ia melihat Samuel sudah tak ada lagi di ranjang.
" Hoaaam kemana Sam ?" gumam Winda lesu.
Gadis itu bangun dan mendapati handuk tersangkut dengan rapi dan terlihat basah.
" Dia sudah mandi " Gumam Winda pelan.
Gadis itu pun merapikan tempat tidurnya dan berjalan keluar.
Saat pintu kamar terbuka,nampaklah seorang polisi berada diambang pintu rumah berhadapan dengan Malvin.
" Ya Tuhan " gumam Winda terbelalak.
" Sam " Lirih Winda teringat akan lelaki itu.
Malvin berbalik badan menatap putrinya dengan wajah yang sulit dimengerti.
❤❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.
__ADS_1