
Sehari setelah acara pernikahan Indah dan Kevin. Silfa berpamitan kepada orang tua Citra dan juga Citra untuk kembali ke Jakarta sendiri.
Awalnya Citra tidak mengizinkannya, karena dia khawatir dengan keadaan Silfa yang kemarin sempat tidak sehat, namun Silfa meyakinkan bahwa saat ini kondisinya sudah lebih baik dan dia harus segera pulang karena ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin dia lakukan.
Citra mengalah, dia berusaha mempercayai Silfa dan mengizinkannya untuk kembali ke Jakarta, meskipun begitu, tetap saja dia merasa khawatir, akhirnya diapun memesankan tiket pesawat untuk Silfa agar dia bisa lebih nyaman dalam perjalanan dan agar lebih cepat sampai tujuan. Dan penerbangannya nanti di sore hari.
***
Setelah perjalanan lelah kemarin membuat Silfa kembali merasa tidak enak badan, meskipun dia sudah istirahat semalaman, namun tetap saja aroma pesawat masih terekam jelas di memori ingatannya membuat perutnya tidak nyaman dan merasa mual.
Dan saat ini posisinya sedang berada di dalam kamar mandi, setelah beberapa menit yang lalu dia muntah-muntah namun tak mengeluarkan apa-apa.
Dia berdiri didepan cermin dengan raut wajah yang harap-harap cemas, terlihat sebuah benda berbentuk seperti stick berwarna putih, benda itu tergeletak didepannya, sudah lebih dari 20 menit benda itu belum disentuh oleh Silfa.
Perkataan dari tente Santi yaitu mamanya Mita di hari itu terus terpikirkan olehnya, itulah mengapa dia ngotot ingin kembali ke Jakarta dengan alasan ingin melakukan sesuatu hal yang penting, dan inilah sesuatu yang penting itu.
Mengatur nafas berulang kali karena merasa gugup dan takut jika ternyata hasilnya tidak sesuai keinginannya.
"Bismillah." hanya kata itu yang terucap dari bibir Silfa sebelum akhirnya dia meraih test pack itu.
Setelah melihat hasilnya, tiba-tiba saja ekspresi wajahnya berubah terkejut, matanya membulat tajam dan bahkan dia tak sadar mulutnya menganga.
"Alhamdulillah." Refleks dia mengucap kata syukur setelah mengetahui hasilnya ternyata positif.
Silfa mendekap benda itu penuh haru, dia sangat bahagia, akhirnya keinginannya untuk menjadi seorang ibu terkabulkan dan dia tidak menyangka jika Tuhan memberikan amanah kepadanya secepat itu.
Tanpa sadar cairan bening mengalir bebas dipipi Silfa, dia akhirnya menangisharu sambil bibirnya terus mengucap syukur.
***
Setelah beberapa hari yang lalu dia mengetahui bahwa saat ini dirinya sudah berbadan dua, Silfa sekarang menjadi calon ibu yang super siaga, dia mulai mengatur pola hidup sehat, lebih banyak makan sayur dan buah dan dia juga sangat hati-hati dalam melakukan segala sesuatu agar anak dalam rahimnya sehat selalu.
Dia juga sudah tidak sabar memberitahu berita bahagia ini kepada Romi yang memang masih belum kembali dari pekerjaannya bersama Riko dan hari ini dia akan kembali.
Silfa sengaja tidak memberitahu Romi sebelum Romi kembali ke rumahnya. katanya tidak spesial jika dia memberitahukan suaminya melalui sambungan telefon, dia ingin melihat langsung ekspresi suaminya itu.
Dan hari ini adalah hari dimana Romi kembali ke rumah, itu membuat Silfa terlihat sangat antusias bahkan tak henti-hentinya bibirnya terus tersenyum.
***
Malam hari sepasang suami istri Romi dan Silfa sedang berada di kamar mereka. Setelah makan malam bersama kini mereka bersiap untuk tidur.
Namun, ada yang aneh bagi Romi, sejak kedatangannya tadi sore, istrinya ini menjadi berubah, bukan fisiknya tapi sifatnya. Sejak dia datang Silfa menjadi sangat manja dan ingin terus nempel, bahkan yang membuat Romi semakin risih, Silfa terus menerus senyum tidak jelas ke arahnya. Menurutnya sifat yang seperti itu wajar. Namun, jika seperti ini, menurutnya itu berlebihan.
Begitupun dengan saat ini, Silfa yang sudah berbaring di tempat tidur dengan selimut yang sudah menutupi setengah tubuhnya, terus menatap Romi yang sedang mengenakan atasan piyamanya dengan masih tersenyum aneh.
Menghembuskan nafas Berat, akhirnya Romi memberanikan diri untuk bertanya. "Kamu itu kenapa sih, Yang? dari tadi senyam senyum terus, ngga capek apa?" tanyanya masih memasang kancing bajunya.
Silfa menggeleng pelan dengan bibir yang masih tersenyum.
"Kalau kamu ngga capek, aku yang capek liat kamu kayak gitu sayang.. ucapnya lalu mendekat kearah ranjang ukuran king size itu.
Pandangan Silfa terus mengikuti pergerakan suaminya. "Eithhs, mau ngapain?" cegatnya dengan cepat saat suaminya sudah ingin menyatukan pantatnya dengan kasur, namun karena di cegat oleh Silfa akhirnya dia kembali berdiri dengan alis yang bertautan karena bingung.
"Kenapa? aku mau tidur, kok kamu larang sih." keluhnya.
"Sikat gigi dulu sana!"
"Tadikan udah, waktu aku mandi."
__ADS_1
"Yah, kan tadi kamu udah makan, jadi sikat gigi lagi sana." usirnya lagi.
"Sayang, tadi kan aku makan dulu, habis itu mandi, jadi udah bersih giginya."
Alasan yang tak pernah habis, tapi tetap tidak mempan untuk Silfa.
"Sikat gigi!!!" Cetus Silfa dengan geram sambil melotot ke arah suaminya.
Kalau sudah seperti Itu, Romi tak bisa berkutik lagi. yah apalagi kalau bukan menuruti keinginan istrinya.
Menghela nafas berat akhirnya dia berjalan dengan malas ke kamar mandi. Lebih baik mengalah dari pada perang, pikirnya.
Saat sudah di depan wastafel dia kemudian meraih sikat giginya yang terletak di samping kiri keran air, namun matanya tertuju pada benda yang bentuknya panjang berwarna putih, dia merasa aneh dengan benda itu, tapi detik kemudian dia mangacuhkannya dan melanjutkan tujuan utamanya. biar cepat selesai. pikirnya
Sementara Silfa yang masih berbaring di tempat tidur, terus menerus melirik ke arah pintu kamar mandi menunggu suaminya yang masih berada didalam sana untuk keluar. Tadinya dia berharap setelah suaminya melihat testpack itu dia segera keluar dan langsung memeluknya itu ekspektasinya.
Hal itu ternyata sudah direncanakan Silfa sejak sore tadi, meletakkan benda itu di dekat sikat gigi lalu dengan dalih menyuruh suaminya sikat gigi agar bisa melihat benda itu. Namun realitanya membuat Silfa kecewa, sudah lebih dari 10 menit Romi di dalam kamar mandi dan masih belum keluar juga.
"Dia ngapain sih lama banget di dalam?" gerutunya mulai kesal.
Tidak lama kemudian Romipun keluar dengan tersenyum sangat lebar dengan tujuan memamerkan barisan giginya yang sudah bersih karena sudah di sikat. Namun, tingkah konyolnya bukannya membuat Silfa merasa tergelitik malah sebaliknya.
Tatapan Silfa berubah tajam, ekspresi datarnya memancarkan aura dingin. Melihat itu membuat Romi bergidik dan dengan refleks bibirnya yang tadi tersenyum lebar kini perlahan mengerut dan tertutup rapat.
"Apa lagi sekarang?" batinnya merasa cemas.
"Kamu ngapain aja sih, lama banget?" tanya Silfa dengan nada datar.
"Sikat gigi lah sayang apa lagi." jawab Romi jujur karena memang itu kenyataannya.
"Hanya itu?" tanyanya lagi masih ekspresi datar.
"Hmm." Romi hanya berdehem singkat dibarengi dengan anggukan.
"Apa kamu tidak melihat sesuatu yang aneh di dalam sana?" tanyanya sekali lagi memastikan pikirannya.
Tidak langsung menjawab, Romi malah terlihat sedang berfikir, mengingat-ingat hal apa yang aneh di dalam sana?
Detik selanjutnya dia mengangguk pelan tanda dia melihat sesuatu yang aneh itu, seketika batinnya antusias, berharap suaminya melihat benda itu.
"Apa?"
"Aku lihat benda yang bentuknya aneh, mirip sikat gigi, tapi aku perhatikan dengan seksama ternyata bukan."
Mata Silfa membulat sempurna mendengar penjelasan Romi.
"Terus?" Sekali lagi Silfa bertanya untuk memastikan. Karena perasaannya tiba-tiba tidak enak.
"Aku buang."jawabnya enteng.
Seketika tubuh Silfa terkesiap mendengar pengakuan Romi, dan ternyata apa yang dia khawatirkan benar.
Dengan sigap tubuhnya turun dari ranjang, berdiri tepat disamping Romi. Netra hitamnya menatap sinis Romi. Tatapan yang sangat mengintimidasi Romi.
Romi yang merasa tidak melakukan kesalahan apapun hanya mengerutkan dahi heran.
Kerutan di dahinya semakin jelas tatkala Silfa mendesis kesal di barengi dengan sentakan kakinya di lantai.
Dengan raut wajah yang sangat kesal, Silfa melesat meninggalkan Romi yang masih termangu di tempatnya, sementara Romi yang menyadari kepergian istrinya itu berbalik menatap punggung Silfa yang langsung hilang ke kamar mandi.
__ADS_1
Masih dengan ekspresi yang sulit untuk ditebak, intinya saat ini Romi merasa dirinya sedang disalahkan, namun dia tidak tau apa kesalahannya.
Silfa yang sudah berada di kamar mandi, masih menggerutu di dalam hati merutuki kepolosan suaminya itu, entah dia polos atau bego. hardiknya dengan pandangan yang masih mencari dimana persisnya Romi membuang testpack itu.
Detik berikutnya diapun menemukannya, dengan sigap dia meraih benda dan segera keluar, dan langsung meletakkannya di atas tempat tidur tepat di depan Romi, dengan ekspresi yang masih sama. Datar dan dingin.
Romi yang tengah bersandar di kepala ranjang dengan kakinya ditutupi selimut, kembali merasa heran melihat benda itu tergeletak tepat di hadapannya. Dengan ekspresi bingung dia masih menatap benda itu bergantian melihat istrinya yang tengah berdiri di sampingnya dengan ekspresi yang masih sangat kesal.
"Ap_
Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, dia terkesiap dengan Silfa yang tiba-tiba memotong ucapannya.
"Itu test kehamilan aku!! cetusnya membuat Romi kembali terkejut, dengan ekspresi setengah berfikir lalu kembali menatap Silfa yang deru nafasnya tak beraturan karena masih marah, detik berikutnya Romi langsung beranjak dari posisinya dan langsung menarik Silfa ke pelukannya.
Kini dia menyadari penyebab dari kekesalan istrinya adalah karena ketidaktahuannya tentang benda itu.
"Maafkan aku sayang, aku ngga tau kalau ternyata benda itu adalah_
"Nyebelin banget sih, sebenarnya kamu itu polos atau bego sih!" sungutnya masih kesal.
"Keduanya."
Mendengar pengakuan itu, membuat Silfa merasa gemas dan langsung mencubit perut suaminya itu, membuat Romi mengadu kesakitan
"Jangan salahin aku dong, kalau aku ngga tau hal-hal yang seperti itu." tuturnya setelah melepas pelukannya. "Lihat sendiri kan, saat kamu dengan susah payah mempersiapkan hal seperti ini, kamu malah kecewa sendiri, karena yang kamu inginkan tak menjadi kenyataan." sambungnya lagi panjang lebar saat melihat istrinya masih kecewa.
Silfa mendongak menatap wajah suaminya, kenapa dia bisa tau. pikirnya. detik berikutnya Silfa membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, karena jujur saja saat ini dia merasa sangat malu, saat suaminya tau jika dia sedang kecewa karena gagal dengan misinya.
Senyum Romi langsung mengembang melihat tingkah istrinya yang saat ini bersembunyi di dadanya. Imut sekali, pikirnya sambil tangan kanannya mengusap pucuk kepala Silfa, sementara tangan kirinya memeluk pinggang Silfa.
"Harusnya bicara langsung aja sayang, ngga usah pake acara begini segala!" kata Romi lagi.
"Yah, aku kan pengen momen yang spesial." cetus Silfa masih bersembunyi di dada Romi.
"Spesial sih spesial!! tapi kalau sudah seperti ini, jatuhnya bukannya bermakna malah kecewa." tuturnya lagi berhasil membuat Silfa mendongak menatap suaminya dengan ekspresi cemberut menampilkan pipi tembemnya dan itu membuat Romi gemas dan langsung mencubitnya.
"Kamu kan udah tau suami kamu ini seperti apa sayang." cetus Romi lagi
Silfa menghela nafas berat dan langsung menghempaskan dirinya ke kasur. Memang susah punya suami kaku banget. cercanya dalam hati.
Menyadari jika istrinya kecewa, Romi jadi merasa bersalah, dia sadar jika sebenarnya tujuan Silfa mempersiapkan ini adalah untuk mengejutkannya, tapi bukan sepenuhnya salahnya juga kalau dia tidak mengetahui benda-benda seperti itu.
Romi pun duduk disamping istrinya itu.
"Maafin aku!!
ucapan itu berhasil meluluhkan hati Silfa. Dia menatap nanar suaminya, tangan Romi meraih tangan istrinya lalu menggenggamnya kuat.
"Kamu kecewa karena semua yang sudah kamu persiapkan tidak sesuai harapan kamu. Jika tujuan awal kamu untuk mengejutkan aku, aku akui saat ini aku sangat terkejut dengan berita itu dan aku bahagia mengetahui jika saat ini kamu tengah hamil." Romi menjeda ucapannya lalu tangannya mengusap perut Silfa yang masih datar dengan lembut.
"Aku bersyukur karena secepat ini Allah memberi kepercayaan kepadaku untuk menjaga amanahnya yang masih tumbuh di rahim kamu, aku harap dia selalu sehat disana sebelum akhirnya dia melihat kita." tutur Romi lembut, detik itu juga Silfa langsung menghambur kepelukan suaminya.
Dia sadar jika dalam masalah teknologi suaminya kudet dan polos, tapi jika soal kata-kata pasti selalu membuat Silfa selalu tersentuh, karena perkataannya selalu tulus.
"Udahan sedihnya, sekarang kita tidur, aku ngga mau kalau kamu sampai kecapean." tuturnya lagi dan hanya diangguki pelan oleh Silfa.
Silfa pun melepas pelukannya, dan Romi mengusap air mata istrinya. dan mereka pun bersiap untuk tidur.
...-Semoga dedeknya sehat-...
__ADS_1
-TBC-
Tunggu Extra Part selanjutnya.