
Pagi ini suasana hati Samuel sedikit cerah,tak ada pertengkaran yg terjadi antara dirinya dan sang istri.
Leni pun begitu profesional menjalani statusnya sebagai istri,pagi2 sekali wanita itu sudah memasak dan menyiapkan perlengkapan kerja Samuel layaknya istri yg lain.
" Kau tidak keluar rumah ?" tanya Samuel melihat istrinya bersantai ria dikursi.
" Hmm aku lagi mager " Jawab Leni menoleh.
" Terus ?"
" Ya aku akan berdiam diri saja " Balas Leni santai.
Samuel mengernyit dan berjalan keluar.
" Kau makan siang dimana ?" Tanya Leni menahan.
" Dikantor " jawab Samuel tenang.
" Boleh aku datang ke kantor mu ?" Tanya Leni menggigit jarinya.
" Untuk apa ?" tanya Samuel balik.
" Hm ya untuk melihat2 " Jawab Leni terkekeh.
Samuel diam melihat lagi wanita cantik itu terlihat burik dengan baju tidurnya.
" Terserah " Ucap Samuel berjalan keluar.
" Yessss " Pekik Leni girang.
" Uhhhh akhirnya aku bisa melihat cara dia menghasilkan uang " Gumam Leni senang.
Wanita itu bernari ria seorang diri,tiba2 pintu kamar terbuka lagi membuatnya seketika terdiam.
" Apa yg kau lakukan ?" Tanya Samuel mengernyit.
" Hah em tidak " Jawab Leni kelabakan.
" Dasar gila " Cibir lelaki itu melongos mengambil jasnya yg tertinggal di kursi.
Samuel berangkat bekerja,Leni hanya menemani sampai depan pintu kamar saja.
" Hati2 Sam " Ucap Leni tersenyum.
Samuel memasang wajah datar dan keluar dari apartemen.
" Huh dia lelaki yg sulit ditebak " Ucap Leni menggeleng pelan.
Ditempat lain,seorang gadis baru terbangun dari tidurnya.
Matahari sudah meninggi,suasana kamar begitu tentram dan sunyi.
" Astaga aku terlambat bangun " Ucap gadis itu kelabakan.
Sania turun dari ranjang dan berlari menuju pintu.
Ceklek....
Pintu kamar tiba2 terbuka...
" Aaaaaa " Pekik Sania kaget.
" Nooooooo " Pekik bocah didepannya ikut kaget.
Braakkkkkk.....
Keduanya bertabrakan tak bisa lagi mengerem.
Bruaaaaaarrrrrrrr.....
Nampan yg dibawa bocah itu seketika berhamburan kelantai.
" Yaaahhhhhh " Ucap Sutar lesu melihat susu dalam cangkir plastiknya tumpah.
" Aduhhh " Ringis Sania mengusap bokongnya.
" Kakak gak papa ?" Tanya Sutar mengulurkan tangan.
__ADS_1
" Kenapa kamu nabrak Kakak ?" Tanya Sania kesal.
" Hah kan Kakak yg nablak aku " Jawab Sutar bingung.
" Ck kenapa kamu berdiri depan pintu ?" Tanya Sania malas.
" Aku mau kasih susu ke Kakak " Jawab Sutar menunduk.
Sania melihat wajah bersalah bocah itu langsung merasa tak enak saat menyadari dirinya memarahi penghuni rumah.
" Hm maaf Sutar,maksud Kakak bukan gitu " Kata Sania memegang bahu bocah tersebut.
" Ini memang salah Sutal Kak " Balas Sutar sedih.
" Gak,kamu gak salah,ini salah Kakak kenapa lari " Kata Sania menyalahi dirinya.
" Gak Kak,ini salah Sutal kenapa beldili depan pintu " Kata Sutar tak mau kalah saing.
Keduanya saling berdebat menyalahkan dirinya sendiri hingga seorang pria datang dengan wajah bingungnya.
" Ada apa ini ?" Tanya Serkan bersedekap dada.
" Eh maaf Om,aku gak sengaja numpahin susu " Jawab Sania menunduk.
" Hah kok Kakak ? kan Sutal yg tumpahin " Kata Sutar kaget.
" Gak Om,ini Sania yg tumpahin " Balas Sania.
Serkan melihat kedua bocah itu bergantian,dirinya ikut bingung kenapa mereka mengakui kesalahan dengan serempak.
" Jadi yg salah siapa ?" Tanya Serkan menggaruk kepala.
" Aku !" Jawab Sania dan Sutar mengangkat jari mereka.
Serkan melongo mendengar jawaban keduanya,tak lama Histi datang mendekati ketiga orang itu.
" Astaga ini kenapa Susu gak dibersihin tumpahannya " Kata Histi heboh.
" Iya Te,ini aku mau bersihin " Balas Sania menunduk.
" Ya udah,gih sana ambil pel " Titah Histi tegas.
Tinggalah Serkan dan putranya yg ditatap Histi dengan nyalang.
" Bukan aku Yank " Ucap Serkan merasa ada aura penuduhan.
" Terus kalo bukan kalian berdua siapa lagi hah,kan kalian yg sering bikin ulah " Kata Histi berkacak pinggang.
" Suer bukan aku Yank,ini tuh mere..."
" Permisi Te " Ucap Sania tiba2 datang dengan kain pel.
Histi berpindah tempat dan merebut ganggang pel gadis tersebut.
" Gak usah,biar Om Serkan aja yg bersihin " Kata Histi tegas kepada Sania.
" Hah " Pekik Sania dan Serkan bersamaan.
" Nih Yank,pel sampe kinclong ya " Kata Histi menyerahkan tugas tersebut kepada sang suami.
" Kok aku Yank ?" Tanya Serkan bingung.
" Ya terus siapa lagi Yank,mau jawaban gak nih " Jawab Histi bersedekap dada.
Glek....
Serkan menelan ludah kasar,dirinya memang sedang menunggu jawaban sesuatu dari mulut istrinya terkait suatu hal yg serius.
" Kan aku gak bersalah Yank " Rengek Serkan manja.
" Oh ya udah kalo gak mau,biar aku aja yg pel " Kata Histi merebut lagi kain pelnya.
" Heh jangan " Pekik Serkan,Sania dan Sutar bersamaan.
" Mama jangan " Kata Sutar menggeleng.
" Papa kamu gak mau nolongin Mama Nak " Kata Histi mendrama.
__ADS_1
Sutar menatap Serkan nyalang,wajah bocah itu menunjukkan bahwa dirinya siap melawan jika harus berhadapan dengan Serkan.
" Biar aku aja " Kata Sania panik sendiri.
" Jangan,kamu ikut Tante kedapur " Sahut Histi.
" Tapi Te yg bkin tumpah itu ak....
" Iya Tante tau kamu gak salah,enjoy aja dirumah ini " Potong Histi tersenyum.
" Hah " Kata Sania melongo..
Tanpa basabasi lagi,gadis cilik itu diseret Histi mendekati dapur untuk membantunya menyiapkan sarapan.
Serkan dan Sutar saling melihat.
" Hehe " Sutar cengengesan melihat Papanya yg begitu polos.
Baru Serkan ingin menghela nafas tiba2 Sutar langsung berlari kencang.
" Sutaaaaarrrrrr jangan kabur kamu !!!" pekik Serkan kesal.
" Mamaaaaa tolonhhggggg " Pekik Sutar terbirit birit.
" Woiii anak sia....eh gak boleh " Kata Serkan tak jadi melanjutkan kata2nya.
" Huh untung aja gak kecoplosan " Gumam lelaki itu menepuk bibirnya sendiri.
" Resiko banget sih punya istri modelan Histi,kan seharusnya dia yg urus beginian bukan aku !" Gerutu Serkan seraya mengayunkan kain pel.
Mau tak mau lelaki itu yg membersihkan lantai bekas tumpahan sang anak hingga bersih.
Didapur,Sania melihat Histi dengan wajah ngeri.
Ia begitu takut nanti akan dimarahi Serkan habis2an apalagi mengingat lelaki itu tak banyak cakap.
" Te " Panggil Sania pelan.
" Kamu ambil sayuran di kulkas kita bikin burger " Potong Histi tenang dengan tangan yg mulai aktif.
Sania mengangguk pelan dan menjalankan tugas.
" Sutar " panggil Histi melihat putranya yg mengambil gelas untuk minum.
" Hm " Jawab Sutar.
" Kamu mau ikut Mama apa Papa ?" Tanya Histi.
" Kemana ?" tanya Sutar.
" Kalo ikut Mama pastinya jalan2,kalo ikut Papa ya ke kantor " Jawab Histi tenang.
" Hm aku mau dilumah aja " Balas Sutar tenang.
" What ?? rumah sendirian ?" Tanya Histi kaget.
" iya Ma,aku banyak Pl " Jawab Sutar mengkrucut.
" Pr apa emang nya gak dikerjaain ?" tanya Histi berkacak pinggang.
" Melukis Ma,Papa gak bisa bantu Sutal " jawab Sutar kesal.
" Papa kamu gak bisa lukis ?" tanya Histi mengernyit.
Sutar mengangguk polos.
" Tapi kok Papa kamu pinter ya warnain hidup Mama " Gumam Histi terkekeh.
" Ehh " Pekik Sania melotot.
" Hehehe " Histi cengengesan geli melihat wajah terkejut Sania.
" Tante lebai deh " Cibir Sania geli.
" Hahahah " Histi tertawa ngakak..
Serkan melewati ketiganya dengan wajah menggerutu dan mendapat colekan dari Histi.
__ADS_1
❤❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa vote,Like,Coment ya