
Seorang wanita keluar dari kamarnya dan terkejut melihat suasana sangat ramai dan yang menjadi pusat perhatian wanita itu adalah kedatangan sang suami yang begitu ia rindukan.
" Mas Malvin " Gumam Sindi bergetar.
Malvin yang sedang menggendong Doni menoleh kebelakang dan mematung menatap wanita yang selama ini memberinya cinta.
" Sindi " Lirih pria itu nanar.
Semua orang menoleh kearah wanita itu dengan tatapan yang sulit dimengerti.
Sindi mendekati Malvin dan berdiri dengan kokoh.
" Yank " panggil Malvin mengambil tangan Sindi tapi naas Sindi menolak dengan kasar.
" Sindi " Panggil Malvin sedih.
" Kenapa kamu kesini ?" Tanya Sindi datar.
" Aku merindukan kamu dan anak2 kita sayang " Jawab Malvin.
" Cih,kami tidak punya hubungan apapun dengan mu lagi " Balas Sindi.
Malvin menggeleng pelan.
" Aku tidak mau berpisah dan jangan harapkan itu terjadi " Kata Malvin tegas.
" Kau sudah menerima suratnya bukan,cepat tanda tangani agar semua drama ini berakhir !" Kata Sindi tak kalah tegas.
" Aku tidak akan pernah menceraikan kamu " Balas Malvin berusaha tenang.
" Jangan egois Malvin " Kata Sindi kesal.
" Kau yang egois !" Balas Malvin geram.
" Aku tidak ingin lagi berkubang didalam neraka kehidupan! aku muak dengan segalanya !" Teriak Sindi.
" Aku mohon,jangan lakukan ini sama aku Sindi " Pinta Malvin bersimpuh didepan perempuan itu.
" Bisa kau bicara seperti itu sekarang tanpa memikirkan bagaimana perasaan aku dan anak ku !" kata Sindi emosi.
Yuni dan Winda diam melihat Sindi mulai mengeluarkan isi kepalanya.
Romi membawa Doni keluar karna bocah itu terlihat kebingungan dengan adegan yang ada didepan matanya saat ini.
" Sindi " Panggil Papa Malvin mendekat.
" Terima kasih atas keikutandilan kalian selama ini Pa,kalian berhasil menghancurkan aku " Ucap Sindi kepada lelaki itu.
" Dengarkan penjelasan Malvin Nak,ini tidak seperti yang kamu pikirkan " Kata Pria tua itu membujuk.
" Apa yang harus aku dengar lagi,dia juga ikut menyakiti aku,apa kalian buta,kalian tidak melihat bagaimana kehidupan kami sekarang,apa tidak ada rasa belas kasih kalian kepada anak ku Winda yang sedang sakit atau putra ku Doni yang masih butuh bimbingan,apakah disini hanya aku yang egois ingin anak ku bahagia !" kata Sindi geram.
" Mama hiks hiks " Ucap Winda menangis melihat wajah ibunya yang penuh luka mendalam.
Yuni mengusap bahu putri sahabatnya,wanita itu juga merasa sangat sedih dengan keadaan Sindi sekarang apalagi wanita itu terlihat begitu terpukul.
" Beri aku waktu bicara berdua sama kamu sayang,aku akan mengungkapkan semuanya " Pinta Malvin serius.
__ADS_1
" tak usah,aku lelah mendengar penjelasan,aku gak nyangka Mas kamu tega sama aku,kamu tau kan gimana aku dikeluarga kamu,ternyata musuh ku bukan orang tua dan kakak beradik mu,melainkan kamu sendiri !" kata Sindi menampar dada pria itu.
Malvin terdiam,manik Sindi mulai berair,terlihat sekali istrinya begitu menderita.
Tanpa bicara lagi,Malvin menarik tangan Sindi kekamar.
Sontak Sindi langsung mengamuk histeris tidak mau disentuh.
" Mamaaaaaaaa " Teriak Winda ingin membantu ibunya.
" Jangan sayang,biarkan Mama dan Papa mu bicara " ucap Yuni menahan pinggang Winda.
" Gak Bi,Papa lepasin Mama Pa,jangan sakitin Mama aku Paaaa " Teriak Winda mengamuk.
" Winda jangan Nak " ucap Papa Malvin ikut menahan.
" Lepas ! jangan sentuh anak haram ini !" Teriak Winda mengibas tangannya.
Deg...
Papa Malvin tersentak kaget dengan ucapan cucu perempuannya itu.
Nafas Winda memburu,Winda mengibas tangannya yang dipegan Yuni dan berlari mengejar Sindi yang terus diseret Malvin masuk kamar.
" Winda tolong Mama Nak " Teriak Sindi berontak
" Ikut aku Sindi !" Bentak Malvin keras.
" Aku gak mau,kamu lelaki bajingan !" Teriak Sindi kesal.
Tangan Malvin terayun,Winda berhenti melangkah menatap tangan sang Papa akan melesat ke pipi sang ibu..
Malvin melihat Winda,terlihat gadis itu menatapnya dengan tatapan tajam penuh ancaman.
" Akhhhh **** !" Umpat Malvin menurunkan tangannya kesal.
" Kenapa ? kamu malu dilihat anak mu ?" Tanya Sindi tersenyum miring.
" Jangan memancing emosi ku Sindi " Jawab Malvin mencoba tenang.
" Cihh jangan kira aku hanya diam saja melihat tingkah mu seperti pria biadab lainnya !" Kata Sindi keras.
" Ya Tuhannn " kata Malvin mengusap wajahnya kesal.
Mendengar Sindi berucap aneh2 membuat darah Malvin mendidih,tapi ia tak berani memukul wanita itu apalagi dihadapan anaknya.
" Ayo ikut aku,jangan buat aku berbuat yang bukan2 " Kata Malvin lemah.
Sindi melihat Winda,gadis itu masih mematung menatap keduanya.
" Baiklah " kata Sindi mengalah.
Malvin mengangguk dan menarik lagi tangan Sindi masuk kekamar.
" Tenang Winda,biarkan orang tua mu menyelesaikan ini " ucap Sindi menegur.
" Papa mau menampar Mama Bi" Ucap Winda nanar.
__ADS_1
" Gak sayang,Papa kamu lagi emosi aja tadi,lihat sekarang mereka baik2 saja bukan " kata Yuni menenangkan.
" Ayo duduk kita tunggu mereka keluar " ucap Yuni lembut.
Winda mengangguk lemah dan mengikuti langkah ibu keduanya tersebut.
Papa Malvin diam memperhatikan wajah Winda dengan serius,masih terbayang ucapan Winda tadi yang mengakui dirinya anak haram.
" Ada apa lagi sebenarnya ? kenapa Winda sampai bicara jelek seperti itu ?" Batin Papa Malvin bingung.
" Pergi dari sini " kata Winda melihat lelaki yang ia anggap Kakek tersebut.
" Winda yang sopan Nak " Tegur Yuni.
" Mereka ikut mengacaukan keluarga kami Bi" Kata Winda berkaca kaca.
" Apa saja yang kamu dengar dari mulut Nenek dan Bibi mu Nak ?" Tanya Pria itu nanar.
Winda tersenyum miring dengan gelengan pelan.
Romi masuk bersama Doni yang sudah mengantuk.
" Dimana kamar kalian ?" Tanya Romi polos.
" Taruh disini aja Mas,Sindi sama Malvin lagi berunding " Jawab Yuni menepuk sofa disebelahnya.
Romi mengangguk mengerti dan memberikan bocah itu kepada sang istri.
Dengan hangat Yuni mendekap anak sahabatnya dengan senyum hangat.
" Mau mama Bi " Ucap Doni dengan mata sayu.
" Iya,nanti ya sayang sekarang sama Bibi dulu ya " kata Yuni lembut.
" Mau susu " Rengek Doni.
" Susunya masih ada ?" tanya Yuni kepada Winda.
" Udah gak minum susu lagi Bi " Jawab Winda.
" Kenapa ?" tanya Yuni kaget karna yang ia tau bocah itu masih minum susu saat akan tidur.
" Mama udah ganti susu kotak ditoko " Jawab Winda menyembunyikan kebenaran.
Yuni melihat Romi,pria itu menghela nafas panjang dan mengeluarkan uang didompetnya.
" Ini nanti beli susu yang biasa Doni minum." Ucap Romi tersenyum hangat.
" Gak usah Ayah,nanti dima..
" Ambil aja,sekalian buat kamu jajan " Potong Romi.
Winda menunduk,seharusnya diumurnya yang sekarang ia bisa bertanggung jawab membantu perekonomian tapi apa daya dengan keadaannya yang mudah sakit membuat ia tak bisa bekerja lama2.
Doni diam menatap wajah Kakaknya hingga manik bocah itu tertutup rapat menikmati tidur siang yang terlambat.
❤❤❤
__ADS_1
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.