
Skip..
Setelah kejadian tadi pagi, Riko yang tadinya berniat untuk pergi kampus di batalin karna dia ingin menjaga Citra yang juga tidak ke kampus karna dia masih kesakitan (ngerti aja yah readers).
Citra memasak sarapan, sementara Riko membantu Citra dengan membersihkan rumah. Riko menyapu dan mengepel.
Setelah Riko membersihkan seluruh rumah dia kemudian menuju ke dapur dan menyapu di sekitar dapur sambil menatap istrinya yang sedang memasak.
Setelah semuanya bersih, Riko kemudian menarik kursi di meja makan dan duduk disitu sambil menopang dagu terus menatap Citra.
"Kak Riko ngapain ngeliatin aku?" tanya Citra malu karna Riko terus menerus menatap Citra.
"Emangnya salah yah kalau aku natap istri aku." ucap Riko lagi lalu tersenyum kepada Citra.
Citra pun melanjutkan pekerjaannya tanpa memperdulikan Riko yang terus menatapnya.
Ting.. tong..
Bel rumah Riko berbunyi, Citra dan Riko saling menatap bingung siapa yang datang.
"Ya udah biar aku yang buka pintu." ucap Riko lalu beranjak membuka pintu.
Ceklek...
Riko membuka pintu dan melihat sosok yang dia kenal berdiri di depannya dengan tatapan serius.
Rikopun terkejut dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba, Citra yang sedang di dapur juga merasa penasaran siapa yang datang, Citra kemudian bergegas menuju pintu, saat tiba di samping Riko, Citra juga terkejut menatap mereka.
"Kenapa kalian berdua bengong, apa kita tidak di suruh masuk." ucap mama Ayu.
"Ahhh, silahkan masuk mah, pah." ucap Riko mempersilahkan orang tua dan mertuanya masuk.
Mereka pun masuk, Riko dan Citra hanya mengekor di belakang mereka bingung.
"Kak kenapa mereka bisa datang?" tanya Citra heran berbisik kepada Riko dan Riko hanya menggeleng tanda tidak tau apa-apa.
Mereka semua duduk di ruang tamu, Citra dan Riko pun ikut duduk.
"Kapan mama sama papa dari Singapura, kok ngga kasi kabar ke Riko?" tanya Riko heran.
"Mama sama papa memang sengaja ngga kasi tau kamu tentang kepulangan mama dan papa." ucap papa Indra serius.
"Mama sama Papa juga kapan ke Jakarta, kok Citra juga ngga tau." tanya Citra juga.
"Papa juga sengaja ngga ngasih kabar." ucap papa Bram serius.
Mereka berdua semakin bingung dengan perkataan mereka yang sangat serius.
"Kok kalian seperti ini, apa ada sesuatu yang salah." tanya Riko serius.
__ADS_1
"Ada yang ingin kami tanyakan sama kalian berdua, sebenarnya pernikahan ini kalian anggap apa hah." ucap papa Indra dengan nada sedikit tinggi.
"Maksud papa apa? Riko ngga ngerti."
"Rik, papa sangat sayang dengan anak papa satu-satunya, papa memberikan kamu kepercayaan untuk menjaga Citra tapi kamh tidak bisa, kamu anggap apa anak papa apa?" ucap mertuanya dengan nada kecewa terhadap Riko.
Sementara istri mereka hanya berusaha menenangkan suami mereka.
"Riko beneran ngga ngerti dengan maksud kalian." ucap Riko bingung karna dia memang tidak mengerti dengan ucapan mereka.
"Rik, tujuan kami kesini untuk menjemput Citra pulang ke Bandung." ucap mama Ratna.
Sontak Riko dan Citra terkejut dengan perkataan mereka.
"Maksud mama apa, kenapa Citra harus pulang ke Bandung." tanya Riko bingung kepada ibu mertuanya.
Riko pun menatap orang tuanya, yang tidak melakukan apa-apa dan hanya diam saja.
"Kenapa kalian diam saja, apa maksud dari semua ini?" ucap Riko bingung.
"Kamu ngga pantas jadi suami Citra,Riko, papa Kecewa sama kamu." ucap papa Indra dengan penuh penekanan.
Riko dan Citra semakin bingung dengan perkataan mereka, sebenarnya apa yang terjadi sampai-sampai mertuanya ingin menjemput Citra.
"Apa kalian tidak bisa jelaskan lebih jelas, biar aku ngerti, aku benar-benar tidak mengerti dengan perkataan kalian." ucap Riko frustasi.
Citra menenangkan Riko, Rikopun menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"Tapi kenapa ma?" tanya Citra lirih kepada mamanya.
"Mah,, Citra mau disini sama kak Riko." ucap Citra lagi dan menatap Riko. Papa Bram dan Mama Ratna tidak menghiraukan Citra, mereka malah meninggalkan mereka di ruang tamu menuju lantai atas untuk membereskan barang-barang Citra.
Citra pun berlari mengikuti mereka. Papa Bram dan Mama Ratna masuk ke kamar Citra dan mengambil semua pakaian Citra di lemari dan memasukkannya ke koper.
"Bahkan kalian berdua tidak tidur di kamar yang sama." gerutu papa Bram marah.
Citra berusaha menghentikan mereka yang terus membereskan barang-barangnya dan memohon agar mereka tidak membawanya pergi meninggalkan Riko.
Sementara Riko berusaha meminta penjelasan dengan papanya, tapi papanya tidak menghiraukan Riko. Riko memohon agar mereka tidak memisahkan mereka. tapi tetap saja mereka kecewa terhadap Riko.
Orang tua Citra pun turun dan membawa koper Citra, Riko langsung menghampiri mertuanya dan memohon agar mereka tidak membawa Citra.
Papa Bram menarik Citra yang terus menempel dengan Riko.
"Pah, Citra mau disini sama Riko, lagian Citra juga kuliah, Citra mau ikut ke Bandung asalkan kak Riko ikut ke Bandung." ucap Citra lirih berusaha menahan air matanya.
"Kamu ngga bisa hidup dengan laki-laki seperti dia, papa kecewa sama dia, ayo ikut." ucap papa Bram sambil menarik Citra ke mobil, setelah masuk Papa Bram kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Riko.
Riko terus berteriak memanggil Citra, dia kemudian kembali ke dalam dan melihat papanya terlihat kecewa dengan Riko.
__ADS_1
"Pah, apa maksud semua ini, kenapa Citra di jemput sama papa Bram, kenapa kalian tidak menghalangi mereka untuk tidak membawa Citra pergi." ucap Riko yang sudah menangis.
"Ini salah kamu Rik, papa sangat kecewa sama kamu." ucap papa Indra lagi.
"Riko ngga ngerti apa maksud papa, kenapa papa terus menerus bilang papa kecewa dengan Riko, memangnya Riko melakukan kesalahan apa?" ucap Riko dengan nada tinggi ke arah papanya.
"Orang tua Citra mengetahui semua perjanjian bodoh kalian, dan membuat mereka kecewa dan akhirnya ingin mengambil anak mereka kembali." teriak papa Indra ke Riko, Riko terkejut mendengar perkataan papanya.
"Perjanjian?, apa karna kontrak itu." Batin Riko.
"Mereka tau dari mana soal perjanjian itu?" tanya Riko penasaran karna memang setahunga hanya mereka berdua yang mengetahui.
"Rik, papa tanya sama kamu, apa kamu mencintai Citra?" tanya papa Indra serius.
"Pah, Riko ngga akan seperti ini, kalau seandainya Riko ngga Cinta sama Citra" ucap Riko sambil menangis.
Papa Indra dan Mama Ayu senang menedengar perkataan Riko, tapi disisi lain mereka juga kasihan dengan Riko karna Riko terus memohon agar istrinya di kembalikan.
Dalam perjalanan menuju ke Bandung, Citra terus menangis, kenapa hal ini bisa terjadi dengan hubungan mereka, mereka baru saja menikmati masa-masa pacaran mereka setelah mereka menyadari perasaan masing-masing.
Mama Ratna terus menenangkan Citra yang menangis terseduh-seduh.
"Berhenti menangisi laki-laki brengsek itu." ucap papa Bram.
"Kak Riko bukan laki-laki yang brengsek, dia laki-laki yang baik, dia suami Citra, dan Citra sayang sama dia." ucap Citra sambil terisak membela Riko.
Skip..
Setelah menjelaskan sesuatu panjang lebar kepada Riko, Papa Indra kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Rumah Riko.
Riko menahan tangan mamanya.
"Mah.." ucap Riko lirih kemudian menatap mamanya, mama Ayu merasa kasihan dengan anaknya lalu memeluk anaknya dengan erat.
"Kamu sabar yah sayang, kamu turuti kata papa kamu." ucap mama Ayu sambil mengecup kening putranya lalu meninggalkannya.
Riko kembali mengikuti mereka menuju pekarangan.
"Kalian egois, kenapa kalian menikahkan kami kemudian memisahkan kami, kalian menikahkan kami sepihak tanpa persetujuan dan sekarang kalian juga memisahkan kami tanpa persetujuan kami, dan sekarang papa meminta hal yang tidak masuk akal, sebenarnya apa mau kalian." teriak Riko penuh emosi kepada papanya.
Pak Cecep yang melihat Riko seperti itu terkejut, karna ini kali pertama pak Cecep melihat Riko berbicara tidak sopan kepada orang tuanya.
"Jalankan saja apa yang papa perintahkan, kalau kamu istri kamu kembali." ucap papa Indra santai, Riko semakin geram melihat papanya seperti itu. Papa Indra kemudian menyuruh pak Cecep untuk melajukan mobil. lalu mereka pun meninggalkan rumah Riko.
Riko segera masuk ke dalam rumahnya dengan penuh amarah, dia membanting pintu dengan keras lalu berjalan menuju kamarnya, dan kembali membanting pintu kamarnya dangan keras, Riko kemudian duduk di meja kerjanya, memikirkan perkataan papanya dan apa yang sudah terjadi.
Next..
Setelah beberapa jam perjalanan Citra pun sampai di Bandung, setelah mobil berhenti di depan rumah, Citra segera berlari menuju kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
__ADS_1
Citra kemudian membenamkan wajahnya di bantal dan menangis sejadi-jadinya.