
Kebesokan paginya,Histi kembali masuk semua orang sangat heboh menanyai kabar gadis itu.
Histi mengobrol hangat didepan ruangan kerja sang dokter praktek.
suasana masih sepi para Dokter pun banyak yang belum datang.
" Jadi kamu gak papa cuma demam doang ?" Tanya perawat khawatir.
" Iya,sekarang udah sembuh " Jawab Histi tersenyum.
" Oh syukurlah,gak ada kamu suasana sepi banget apalagi ruangannya Dokter Serkan,Dokter Sinta aja gak berani masuk " ujar perawat ngeri.
" Kenapa ngak berani ?" Tanya Histi kaget.
" Ya mood nya Dokter Serkan kurang bagus,dia bahkan gak makan dikantin " Jawab perawat menghela nafas.
Histi terdiam,ia tau Serkan memang kurang bersosialisasi dengan orang asing bahkan kepadanya pun harus Histi yang mulai duluan.
" Mungkin dia kangen kamu kali " Goda Risa menyenggol lengan Histi.
" Hah mana ada " Balas Histi melotot.
" Ya siapa tau aja,kemarin2 pas ada kamu dia lebih manusiawi,pas ngak ada kamu uhh udah kayak monster,aku juga takut buat minta tanda tangan " kata Risa merinding.
" Iya aku juga,kemarin waktu aku kesana nganterin berkas,Dokter Serkan dingin banget,ngomongnya juga ngirit bikin aku mati kutu " Sahut Angelica teman gadis itu.
" Masa sih Dokter Serkan kambuh lagi ?" Batin Histi sedikit khawatir.
Asik2 mengobrol,seorang pria pun datang dari arah kejauhan.
Semua gadis itu langsung bangun menunduk kepada si Dokter muda penuh misteri.
" Selamat pagi Dok " Sapa mereka semua hangat.
Serkan mengangguk kecil dan berjalan kearah ruangannya.
" Tuh liat Dokter lihat kamu barusan " Kata perawat menyenggol lengan Histi.
" Aku masuk dulu ya " Pamit Histi tak enak.
" Ya,semangat ya moga aja kamu gak di unboxing sama si Dokter ganteng " Olok Risa.
" Kalo gak kuat lambaikan tangan Put " Celetuk Angelica.
Histi tersenyum canggung lalu berlari masuk keruangan lelaki dingin tersebut..
" Huh semoga aja Putri selamat " Ujar Perawat khawatir.
" Iya Kak,,nasib Putri harus dapat Dokter bimbingan kayak gitu " Kata Risa iba.
Ketiga gadis itu pun berpisah saat Dokter bimbingan mereka satu persatu menjemput.
Didalam ruangan Serkan,suasana sepi tak ada suara apapun kecuali Serkan menaruh tasnya dibawah laci.
Histi tiba2 merasa canggung karna kedekatan mereka berapa hari yang lalu,apalagi kini Serkan benar2 berubah seperti pria yang ia temui pertama kali.
" Dokter apa kabar ?" Tanya Histi memecah keheningan.
Serkan yang sedang mengambil laporannya di tas langsung berhenti bergerak mendengar pertanyaan gadis itu.
" Baik " Jawab Serkan dingin lalu kembali bergerak.
Glek...
__ADS_1
Histi meremas tangannya merasa deg degan dengan kedinginan lelaki itu.
" Siapkan semua peralatan hari ini banyak pasien " Ucap Serkan tenang.
" Iya " Jawab Histi mengangguk hormat.
Serkan kembali diam menyingkap laporan lembar perlembar bahkan lelaki itu tak melihatnya sama sekali.
" Dokter Serkan kenapa ya kok cuek banget ?" Batin Histi merasa aneh.
Merasa Histi belum juga bergerak akan perintahnya lelaki itu mendongak melihat sang gadis yang juga melihatnya.
" Kenapa diam ? kalau tidak mau bekerja silahkan keluar " Kata Serkan tenang.
Deg...
Histi melotot kaget seraya menggelengkan kepalanya.
" Baiklah Dok,em aku harus ngapain ? eh maksudnya ahh iya " Kata Histi kelabakan sendiri.
Mereka mulai bersiap2 menerima pasien masuk.
Histi bekerja dengan benar,gadis itu sangat takut membuat kesalahan karna akan memancing kemarahan pria tak terduga tersebut.
Beberapa lansia pun hadir disana,Histi sedikit kesal karna ibu2 itu tidak mengerti arahannya.
" Tunggu diluar ya Bu,didalam masih ada orang " Ucap Histi sopan.
" Saya cuma mau lihat doang Neng " Jawab si Ibu.
" Ya tapi ngak boleh,itu privasi pasien " Jawab Histi gemas.
" Hah si Neng mah,lelaki itu mantan saya Neng,saya ini bukan orang asing " Kata si Ibu kesal.
" Ya walaupun mantan Bu,tetep gak bisa " Kata Histi mulai terpancing.
Serkan yang sedang memeriksa mata pasien pun menatap kearah mereka.
" Ada apa ?" Tanya Serkan tenang.
" Ibu ini ingin melihat proses pemeriksaan Dok " Jawab Histi.
Serkan menggeleng pelan tanda gadis itu harus bekerja extra mengeluarkan si ibu dari ruangannya.
" Haist,nih emak2 bikin masalah aja " Batin Histi kesal.
" Ayo Bu keluar,nanti kalo ibu gak mau keluar penyakitnya malah nular ke Ibu " Kata Histi menakuti wanita itu.
" Hah beneran Neng ?" Tanya si Ibu kaget.
" Iya,makanya Dokter pake kaca mata badut biar ngak nular,nah ibu gak pake kaca mata bearti bakal loncat ke ibu sakit bapaknya !" Kata Histi memasang wajah serius.
Serkan yang disebut badut menoleh cepat kearah gadis itu.
Histi cengengesan lalu menyeret paksa si ibu keluar.
" Udah tenang disini,gak boleh masuk,dilarang do you understand !" Kata Histi ingin menggigit wanita tersebut.
" Iya Neng,maaf Neng " Jawab si Ibu menciut.
" Good Job,dah duduk sana nanti saya panggil " Kata Histi tersenyum cerah.
Si ibu menurut lalu duduk dibangku bersama antrian yang lain.
__ADS_1
Histi mengusap dadanya sabar menghadapi setiap pasien yang membuat ulah.
Serkan sudah selesai memeriksa si bapak yang berbaring dibrangkar.
" Udah selesai " Ucap Serkan tenang menaruh alat2nya di meja.
Histi mendekat merapikan alat pria itu ketempat semula.
" Dok,pasiennya pingsan ?" Tanya Histi mengernyit.
" Ha enggak " Jawab Serkan.
" Kenapa ngak bangun ?" Tanya Histi bingung.
Serkan mendekat dan memeriksa nafas lewat hidung pak tua tersebut.
" Masih hidup " Gumam Serkan pelan.
" Jadi bapaknya tidur ?" Tanya Histi terbelalak.
" Masa sih ?" Tanya Serkan kaget.
" Kayanya iya deh Dok " Jawab Histi serius.
Serkan membangunkan lelaki tua itu perlahan,tak ada jawaban.
Histi melepas barang2 ditangannya lalu menggoyang pelan lengan lelaki tua itu.
" Pak bangun udah siang " Kata Histi terkekeh.
Serkan mengulum senyum mendengar ucapan gadis itu.
" Waduhh kayaknya udah dialam mimpi Dok " Kata Histi heboh.
" Coba bangunkan lagi " Titah Serkan berjalan menjauh.
Histi mengangguk lalu membangunkan pak tua tersebut dengan caranya.
" Ayam ayammm " Teriak Histi menggelegar.
" Hah ayam ayam kokokkriiiuuukkkk " Ucap si Bapak tiba2 bangun terkejut.
Histi dan Serkan ikut terkejut.
" Heh si bapak malah enakan tidur,ini rumah sakit Pak " Kata Histi gemas.
" Saya belum meninggalkan ?" Tanya si Bapak khawatir.
" Belum,ini ruangan Dokter bukan kamar mayat " Jawab Histi sedikit kesal.
" Uh untung lah " kata pak tua itu bangun merenggangkan otot2 tubuhnya.
Serkan menggeleng pelan,baru kali ini ia memeriksa pasien sampai ketiduran.
" Nih tebus obatnya diapotik biar panjang umur " Kata Histi memberi kertas yang sudah ditulis Serkan secara acak.
" Beneran panjang umur Neng?" tanya si bapak polos.
" iyaaa,kalo malaikat ngak khilaf " jawab Histi terkekeh.
" Ah si Eneng bikin saya takut aja " Ucap si bapak menampar gemas lengan Histi.
Gadis itu tertawa,mereka pun berjalan keluar setelah mengucapkan terima kasih kepada Serkan.
__ADS_1
Serkan yang melihat Histi tertawa renyah sedikit menyunggingkan senyumnya.
Gadis itu punya cara tersendiri membuat para pasien merasa nyaman tidak tegang seperti biasanya.