
Disebuah kampung terlihat sangat ramai,hari ini para warga meliburkan diri dari aktifitas mereka bertani dan memanen sawah.
Semua berkumpul disebuah lapang olahraga dengan panggung kayu seadanya.
Bunyi toa pun terdengar nyaring meminta para warga berkumpul ditempat inti.
" Selamat pagi para warga sekalian "Ucap kepala desa membuka sambutan.
" Pagi " Sahut para warga heboh.
" Ya hari ini kita berkumpul disini untuk melepaskan para malaikat baik kita selama ini dari kampung " Ucap kepala desa sedih.
" Bagaimana pun kita menahan,mereka akan tetap pulang ke tempat asal mereka,saya sebagai pemimpin dikampung ini merasa sangat sedih dan bahagia,para dokter baik ini telah merubah desa kita menjadi lebih baik dan anak2 kita sehat tanpa kurang satu apapun,saya mewakili desa sangat berterima kasih dengan program pemerintah yang sudah berjalan dalam kurun 5 tahun ini " Ucap kepala desa panjang lebar.
" Sebagai pelepasan,para dokter ini kita beri penghormatan sehormat2 nya,dan saya pribadi berharap agar kalian semua dilindungi oleh Tuhan dan dibalas kebaikannya dengan berkali lipat " Lanjut kepala desa.
" Aminn " Sahut para warga dan dokter ramah.
" Baiklah,mari kita mulai acaranya " ucap kepala desa membunyikan bedug yang tertera disana.
Dungg....
Acara dimulai,dibelakang layar seorang bocah menangis sesegukkan dengan pakaian adat yang ia kenakan,kali ini Sania akan menarikan sebuah tarian tradisional kampungnya untuk pelepasan para dokter.
" Jangan nangis lagi,,kita akan tampil " Ucap seorang bocah menenangkan gadis itu.
" Hiks hiks aku gak mau mereka pergi huhu " Kata Sania masih terisak.
" Aduh gimana ini kita harus maju sekarang udah dipanggil " Balas teman lain khawatir.
Sania mencoba tenang tapi air matanya terus menetes tanpa ia minta,sakit hati bocah itu harus melepaskan para malaikat yang selama ini membantu kesehatan mereka secara gratis terkhususnya Serkan family.
Tabir dibuka,masuklah seorang perempuan muda dengan baju yang sama.
" Ayo tunggu apa lagi " ucap gadis itu heran.
" Sania masih nangis Kak " Jawab bocah berkuncir 1 bingung.
" Loh kenapa nangis ?" Tanya gadis itu syok.
" Aku gak tau huhuhu " Jawab Sania semakin histeris.
" Aduhh gimana ini ?" tanya gadis itu bingung sendiri.
Diluar para warga sudah menunggu anak2 mereka tampil,tapi sudah 5 menit dipanggil para penari itu belum juga menampakkan diri.
" Ada apa ya ?" tanya Histi berbisik kepada suaminya.
Pasangan itu duduk paling depan dengan seragam yang sama copelan dengan Sutar juga.
" Kak Nia kok dak ada Ma ?" tanya Sutar tak sabaran.
" Iya nih,kenapa Sania gak keluar ya ?" tanya Serkan heran.
Semua orang kebingungan,kepala desa yang sudah menunggu juga terlihat tak sabaran.
" Histi " Panggil seseorang dari sebelah.
" Hah iya kenapa Mba ?" tanya Histi kepada istri dokter lain.
__ADS_1
" Sania nangis dibelakang " Jawab wanita bernama Sarma tersebut.
" Hah !" pekik Histi kaget.
" Cepetan kamu temuin,ntar kita gak pulang " kata Sarma gemas.
" Waduh Yank,Sania nangis dibelakang pantesan gak nongol2 " Kata Histi menghadap Serkan.
" Ya udah kamu liatin gih " Kata Serkan ikutan panik.
" Ikut " rengek Sutar tak mau diberiikan kepada Papanya.
" kamu tunggu disini aja ya,Mama sebentar " Kata Serkan menenangkan.
Sutar mengangguk pasrah,bocah itu pun duduk dipangkuan Papanya dengan bersedekap dada.
Histi seketika belari kebelakang dengan cepat dan berpapasan dengan Ibu Sania yang juga berlari.
" Sania kenapa ?" tanya Histi bingung.
Beberapa orang bergerumul mengelilingi bocah itu,Histi melihat Sania dan kaget riasanan yang dari subuh ia tempelkan kini tak jelas berbentuk apa.
" Kamu kenapa Nak ?" tanya Ibu Sania panik.
Sania menggeleng mengusap wajahnya.
" Astaga,kamu kenapa Sania ?" tanya Histi heran.
" Tantee huaaaaaaaaaa " Sania langsung berlari dan memeluk wanita itu dengan erat.
" ada apa ?" tanya Histi lembut mendekap gadis mungil itu.
Deg...
Histi tersentak,ia teringat hari ini terakhir mereka berada dikampung bahkan semua alat2 sudah diangkut oleh supir truck kemarin.
Semua orang terdiam melihat kedekatan keduanya,Ibu Sania menghela nafas panjang,ia tau anak gadisnya pasti sangat kehilangan jika Histi dan Serkan pergi dari kampung.
" Tante harus pergi " Ucap Histi bergetar.
" Gak mau Tee huhuhu " Balas Sania menggeleng cepat.
" Oke Tante gak pergi,tapi kamu harus tampil dulu ya sekarang,kan mau jadi penari " kata Histi membujuk.
" Aku gak mau lagi jadi penari,tarian itu untuk melepas Tante pergi dari aku hiks hiks " Balas Sania menolak.
" Gak sayang,Tante gak kemana2,sekarang Tante bantu siap2 lagi ya habis itu nari,kan udah latihan,Tante cape lo ajarin gaya ngebor nya " Kata Histi terkekeh.
Sania diam menatap wanita itu penuh selidik.
" Aduuh tangan tante juga cape nih harus riasin kamu lagi,mana ngantuk sbuh tadi belum hilang lagi " Kata Histi pura2 drama.
Sania meraba wajahnya,ia teringat pagi2 sekali mereka sudah berkutat didepan cermin setelah subuh.
" Mau ya ?" Bujuk Histi memelas.
Sania mengangguk lemah,Histi tersenyum hangat dan menghela nafas lega.
" Dialihkan saja dulu dengan yang lain,10 menit mereka tampil " Kata Histi memberi perintah.
__ADS_1
" Tapi Mba yang harus tampil pertama itu anak2 ini " Ucap gadis penari yang lain.
" Sudah saya yang tanggung jawab,lakukan saja " Kata Histi tegas.
" Ya udah,Mba yang tanggung ya " Kata gadis itu ngeri.
Histi mengangguk dan meminta Sania mengikutinya.
Bocah itu mulai berhenti menangis,meski manik Sania tak lepas menatap Histi yang sibuk sendiri.
" Ya Tuhan kenapa rasanya berat sekali meninggalkan gadis ini " Batin Histi membersihkan make up yang luntur diwajah polos Sania.
Ia ingin sekali menangis,hatinya teriris melihat Sania terisak tak mau berpisah dengannya.
" Lima tahun aku disini,bocah didepan ku ini mengajarkan banyak hal Tuhan,nanti jika ia dewasa izinkan kami bertemu lagi " Pinta Histi dalam hati.
" Te " Panggil Sania lembut.
" Iya " jawab Histi serak.
" Gak papa " Jawab Sania terkekeh.
" Gak usah ngelawak nanti nangesss " Cibir Histi.
" Haha iya " Kata Sania patuh.
Histi tersenyum kecil mencubit lembut pipi gadis polos itu.
Diluar Sutar sudah goyang2 kepala,hari ini kampung sedikit ramai dari biasanya karna ada orgen dadakan,meski tak ada listrik tapi mereka bisa menggunkan gengset untuk sementara waktu.
Tekad Serkan ingin menghidupkan kampung itu begitu kuat,ia bersama tim dokternya akan mengajukan proposal untuk pemerintah agar warga diberi penerangan seperti kampung2 yang lain.
" Gak usah joget " tegur Serkan.
" api aku mau " Balas Sutar mendengus.
" Ck,udik banget sih denger musik aja joget " Cibir Serkan.
" Macalah uat lo " Balas Sutar cuek.
" Ehhh " Pekik Serkan melotot.
Sutar terkekeh dan berlari mendekati anak dokter yang lainnya yang juga tak kalah heboh.
" Bocah semprul,ini pasti Histi yang ngajarin " Tebak Serkan gemas.
Sutar mencak2 mendengar dentuman musik klasik dicampur dangdut apalagi para penari terlihat asik menggoyangkan badan mereka.
" Ciuuu ciuuuuuuuuu teweeeekkkk " Pekik Sutar saat maniknya melihat grub Sania keluar.
Histi langsung duduk disamping suaminya yang melongo melihat sang anak.
" Udah gak papa namanya juga pertumbuhan " Tegur Histi cuek dan tersenyum melihat Sania tampil.
" Tapi Yank Sutar....
Ucap Serkan tak bisa berkata kata lagi dengan aksi anaknya.
❤❤❤❤
__ADS_1
Hay guys absen dong kalian dari mana aja biar author semangat Up hehe,jangan lupa Vote,Like,Coment juga ya😘