Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Sembilan Enam "TSJC"


__ADS_3

Malam hari Papa Indra, papa Bram, pak Cecep dan Riko sibuk menata halaman belakang rumah orang tua Riko. Mereka meletakkan meja makan di halaman tersebut untuk mereka tempati makan bersama.


Sementara para wanita sibuk didapur menyiapkan makanan, setelah makanannya siap, Citra kemudian membawa makanan tersebut satu persatu ke halaman belakang.


"Sayang, biar aku aja." ucap Riko lalu mengambil makanan yang dibawa oleh Citra.


Citrapun tersenyum kepada suaminya, lalu dia kembali ke dalam rumah, tidak lama kemudian bel rumah orang tua Riko pun berbunyi.


"Biar aku aja yang buka bi." ucap Citra mencegah bi Ina untuk pergi, Citra kemudian keluar dan membuka pintu.


"Haiii.." sapa Citra kepada teman-temannya saat pintu terbuka dan mereka juga tersenyum melihat Citra.


"Wah,, rumah mertua kamu besar banget Cit." ucap Vivi memuji rumah mertua Citra sambil terus menatapnya dengan kagum.


"Udah ngga usah lebay, rumah kamu kan juga besar." ketus Mita.


"Iya, tapi ngga sebesar ini." ucap Vivi membela dirinya.


"Udah, ngga usah berantem, sekarang kita ke dapur yuk." ajak Citra lalu membimbing mereka menuju dapur.


"Kevin mana Ndah?" tanya Citra sambil berjalan menuju dapur.


"Dia ngga bisa dateng Cit, soalnya dia lagi sibuk ngerjain tugasnya." ucap Indah lagi.


"Ohh gitu yah." ucap Citra.


"Halo tante-tante cantik." sapa Mita sok akrab.


"Hai juga cantik." sapa mama Ayu senang melihat kedatangan mereka.


"Apa yang bisa kita bantu tante?" tanya Indah menawarkan diri.


"Semuanya udah selesai, semuanya tinggal dipindahin aja ke halaman belakang." ucap Citra.


Lalu Citra dan Indah pun meninggalkan dapur dengan membawa makanan tersebut menuju halaman belakang.


Sementara Mita sedang sibuk menatap makanan yang berada didepan Mama Ayu.


"Boleh aku coba ngga tante?" ucap Mita berharap.


"Silahkan sayang, makanan ini dibuat memang untuk kalian." ucap mama Ayu.


"Makasih tante." ucap Mita lalu mengambil sendok dan mencicipi makanan tersebut.


"Emmm enak tan... Akhhhhhh.. pekik Mita kesakitan saat Vivi memukul pundak Mita.


"Jangan kayak gitu dong sayang, kasihan temen kamu, nanti keselek gimana." ucap mama Ayu sambil mengelus pundak Mita yang dipukul Vivi, dan Mita pun bertingkah manja.


"Habis dia malu-maluin tante." ucap Vivi lagi.


"Ngga kok, justru tante senang saat kalian dateng kerumah tante, rumah tante jadi ramai." ucap Mama Ayu lagi.


Mita merasa menang karena mama Ayu membelanya, diapun menatap Vivi dengan menjulurkan lidahnya dan Vivi menatapnya sinis. Mama Ayu tersenyum menatap tingkah mereka.


"Ya udah sekarang kita kebelakang yah." ucap mama Ayu lembut.


"Iya tante." ucap Mita dan Vivi bersamaan.

__ADS_1


"Mita sayang, tolong bawa itu dong." pinta mama Ayu lembut kepada Mita. Mita merasa senang mendengar perkataan mama Ayu yang sangat lembut.


"Kenapa dia ngga jadi mertua aku aja yah." gumam Mita berhayal.


"Kamu ngomong apa sayang." tanya mama Ayu yang sedikit mendengar gumaman Mita.


"Ehh ngga kok tante." ucap Mita malu sambil mengambil sayur yang diperintahkan mama Ayu tadi.


"Ya udah kita kebelakang sekarang." ucap mama Ayu lagi.


"Iya mah... ucap Mita membuat mama Ayu berbalik menatap Mita.


"Ehh salah, tante." ucap Mita salting membuat Mama Ayu tersenyum menatap tingkah Mita lalu mereka pun menuju halaman belakang.


Semuanya sudah berkumpul dihalaman belakang kecuali teman-teman Riko yang belum datang.


"Temen-temen kamu belum datang Rik?" tanya papa Indra penasaran.


"Bentar lagi pah." ucap Riko, tidak lama kemudian bel pun berbunyi.


"Nah itu mereka udah dateng." ucap Riko lagi, dan merekapun muncul dihalaman rumah karna bi Ina membuka pintu untuk mereka.


Anton, Arman dan Romi datang bersamaan.


"Halo semuanya, wahhh itu yang berasap apaan?" ucap Arman antusias lalu berjalan kearah panggangan daging yang dia maksud berasap.


Anton dan Romi tidak perduli dengan Arman, merekapun langsung duduk setelah papa Indra mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Rom, lo dateng sendiri?" tanya Riko menatap Romi sedikit kesal.


"Silfa mana?" tanya Riko lagi.


"Kok lo nanyain Silfa ke gue sih, gue kan ngga serumah dengan dia." ucap Romi tidak mengerti maksud Riko.


Riko mendengus kesal mendengar perkataan Romi yang sama sekali tidak paham dengan maksudnya.


"Emangnya kenapa kak?" tanya Citra penasaran dengan ekspresi Riko.


"Ngga ppa kok sayang." ucap Riko, Tidak lama kemudian bel pintu rumah berbunyi lagi.


"Rom, buka pintu!" pinta Riko.


"Kok gue?" ucap Romi bingung.


"Udah buruan." ketus Riko, Romipun pasrah lalu berjalan keluar untuk membuka pintu.


*******


"Halo bi." ucap Silfa menyapa bi Ina saat melihat bi Ina yang membuka pintu.


"Halo non Silfa." balas bi Ina.


"Pak Riko dimana Bi?" tanya Silfa lagi.


"Dia lagi dihalaman belakang non, non silahkan kesana bibi anter." ucap Bi ina lalu mereka pun berjalan menuju halaman belakang.


Saat Silfa baru sampai diruang tamu, Romi pun muncul dari halaman belakang.

__ADS_1


"Silfa." ucap Romi bingung dan canggung melihat kehadiran Silfa.


"Lo disini Rom, ngapain?" tanya Silfa canggung.


"Gue diundang Riko." ucap Romi canggung.


"Oh gitu yah." ucap Silfa canggung.


"Terus, lo sendiri ngapain disini?" tanya Romi lagi.


"Ah,, gue disuruh pak Riko untuk membawa berkas yang sangat penting kesini, katanya dia butuh banget." ucap Silfa lagi.


"Oh gitu yah." ucap Romi lagi. Lalu percakapan pun berakhir, karena diantara mereka masih canggung akibat kejadian dua hari yang lalu. Semenjak kejadian itu tidak ada yang saling memberi kabar satu sama lain.


Bi Ina merasa heran melihat sikap mereka, yang tidak seperti biasanya, karna bi Ina sudah kenal betul dengan tingkah mereka yang seperti tom dan jerry yang selalu bertengkar.


"Non Silfa, tadi katanya non mau bertemu dengan den Riko." ucap Bi Ina memecah suasana.


"Ah iya bi, aku lupa, ya udah anterin aku kesana." pinta Silfa, lalu bi Ina pun mengajak Silfa dan meninggalkan Romi.


Setelah Silfa dan bi Ina pergi, Romipun mengacak rambutnya pusing, karna dia belum bisa memenuhi syarat dari Silfa.


"Kok tiba-tiba gini sih, gue kan belum ada persiapan sama sekali." gerutu Romi pusing lalu diapun berjalan menuju halaman belakang.


*******


Saat Sifa tiba di halaman belakang Silfa merasa heran melihat keramaian di halaman belakang.


"Kok Ramai kayak gini sih?" batin Silfa bertanya tanya.


"Silfa kamu sudah dateng, ayo duduk." ucap Riko mempersilahkan Silfa duduk.


"Ah makasih pak, tapi saya kesini untuk membawa dokumen yang baoak minta." ucap Silfa sambil menyerahkan dokumen itu kepada Riko.


"Ini ngga penting Sil, ini hanya alasan supaya kamu dateng kesini, karna kalau bukan karna ini, kamu ngga akan kesini." ucap Riko lagi.


"Ya udah ayo duduk." pinta Riko lagi lalu duduk, Silfapun memenuhi permintaan Riko, diapun duduk didekat Anton dengan kursi kosong diantara mereka yaitu kursi Romi.


"Pak, selamat atas wisuda bapak, saya minta maaf tadi saya ngga bisa hadir karna saya ada urusan pribadi." ucap Silfa canggung dengan situasi yang dipenuhi dengan orang-orang baru.


"Iya ngga ppa." ucap Riko santai.


Silfa masih canggung dan merasa malu untuk bergerak.


"Ayo dimakan kak." ucap Citra menawarkan makanan kepada Silfa sambil tersenyum ramah, Silfa pun membalas senyuman Citra sambil terus menatap Citra dengan penasaran.


"Kenalkan Sil, dia Citra istri saya." ucap Riko memperkenalkan istrinya kepada Silfa.


"Jadi, dia istri bapak." ucap Silfa.


"Halo kak, aku Citra istri kak Riko." ucap Citra sambil mengulurkan tangannya.


"Silfa." ucap Silfa membalas salaman Citra dan tersenyum.


"Wah, istri pak Riko masih muda banget dan Cantik." Batin Silfa kagum dengan Citra.


"Ayo dimakan kak, ngga usah segan, lagian ini semua dibuat untuk di habisin." ucap Citra lagi membuat Silfa tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2