
Sudah 30 menit Riko duduk di ruang tv sambil bekerja tapi dia tidak melihat tanda-tanda adanya Citra di sekitarnya.
Dia kemudian beranjak menuju dapur untuk mengecek apa Citra berada disana atau tidak. Tapi Riko hanya mendapati Bi Ina di dapur tanpa Citra.
Bi Ina terkejut saat Riko berdiri di sampingnya.
"Den Riko,, kapan den Riko tiba?" tanya bi Ina.
"Semalem Bi." ucap Riko ramah, sambil matanya mencari-cari Citra.
"Dia ngga disini, apa dia di kamar." batin Riko.
Bi Ina menatap ekspresi Riko yang sedang mencari sesuatu.
"Den Riko butuh sesuatu?" tanya bi Ina..
"Ngga ada kok bi, ya udah bibi lanjutin." ucap Riko lalu meninggalkan bi Ina menuju ke kamarnya.
Sampai di kamar Riko melihat sekeliling, dia tidak melihat Citra, dia merasa kalau Citra tidak ke kamar karna tempat tidur masih berantakan.
Riko kemudian beranjak merapikan tempat tidur, setelah merapikan Riko meraih ponselnya dan mencoba menelfon Citra, tapi ponsel Citra ada di kamar.
"Kemana dia?" gumam Riko lalu dia kembali ke dapur untuk bertanya ke Bi Ina.
Bi Ina kembali terkejut saat melihat Riko datang lagi ke dapur tiba-tiba.
"Apa bibi tau Citra dimana?" tanya Riko.
"Ya ampun ternyata den Riko dari tadi nyariin non Citra,, non Citra ada di kamar bibi den lagi tidur, kasian dia tadi habis nangis." jelas bi Ina membuat Riko khawatir.
"Nangis, di kamar bi Ina, Citra kenapa bi?" tanya Riko khawatir.
"Bibi juga ngga tau bi,, tadi non Citra tiba-tiba aja datang ke kamar bibi terus nangis, katanya dia kangen sama mamanya." jelas bi Ina tanpa memberitahu kalau Citra menanyakan perihal Rani.
Riko yang mendengar penjelasan bi Ina, langsung meninggalkan bi Ina dan menuju kamar bi Ina.
Setelah Riko sampai di depan kamar bi Ina, Riko melihat Citra sudah keluar dari kamar bi Ina sambil membawa guling.
__ADS_1
Riko tepat di depan Citra, membuat Citra terkejut, Citra segera menutup wajahnya dengan guling itu karna dia tidak ingin Riko melihat wajah sembabnya dan mata bengkaknya, tapi terlambat karna Riko sudah mengetahuinya.
Citra merasa canggung karna Riko terus menatapnya, dia kemudian meninggalkan Riko secepat mungkin karna dia malu kalau sampai Riko tau dia menangis karna dia.
Citra mempercepat langkahnya dan Riko mengikutinya, langkah Riko dan langkah Citra sangat berbeda jauh. Riko menyeimbangkan jalannya dengan Citra sambil terus bertanya ke Citra ada apa dengannya, tapi Citra masih menghindar bahkan dia sampai berlari.
Riko merasa frustasi dengan tingkah Citra, akhirnya Riko mengejar Citra dan menggendong Citra di pundaknya membuat Citra terkejut dan meronta-ronta.
Riko tidak perduli dengan teriakan Citra dia hanya fokus berjalan menuju kamarnya.
Bi Ina mendengar suara teriakan Citra bi Ina panik dan keluar melihat apa yang sedang terjadi, bi Ina terkejut melihat Riko menggendong Citra.
"Sebenarnya mereka itu kenapa?, ya tuhan kenapa mereka bertingkah seperti itu." batin Bi Ina frustasi melihat tingkah majikan mudanya.
Riko masuk ke dalam kamar dan mendudukkan Citra di atas kasur. Riko menatap Citra tapi Citra tidak mau melihat Riko dia terus menundukkan kepalanya.
Riko lalu berjongkok di depan Citra untuk melihat mata Citra, tapi lagi-lagi Citra memalingkan wajahnya.
Riko membuang nafasnya kasar melihat tingkah Citra.
"Jelasin apa yang terjadi, membuat kamu kayak gini" ucap Riko lembut.
Riko kemudian mengarahkan wajah Citra agar menghadap ke arahnya.
"Tatap aku kalau aku lagi ngomong, begini cara kamu berbakti sama suami kamu, suami kamu ngomong aja kamu ngga mau lihat wajahnya." ucap Riko masih berusaha tenang.
Citra menyingkirkan tangan Riko dari wajahnya dengan kasar.
"Kak Riko ngga usah bertingkah seolah-olah kak Riko itu suami aku." ucap Citra kesal.
"Maksud kamu apa Cit?" tanya Riko bingung.
"Kita itu cuma di jodohkan, dan diantara kita ada kontrak, jadi aku mohon kak Riko jangan bertingkah seolah-olah kak Riko itu suami yang baik, jangan memberi harapan ke aku kak kalau memang kak Riko ngga suka sama aku." ucap Citra dengan suara bergetar.
Riko semakin bingung dengan perkataan Citra.
"Kamu ini bicara apa sih, aku nanya kayak gini karna aku khawatir." ucap Riko masih berusaha sabar.
__ADS_1
"Jangan khawatirin Citra kak, itu hanya membuat Citra sakit hati." ucap Citra dengan suara bergetar.
Riko merasa frustasi, karna dia tidak mengetahui apa yang terjadi sama Citra.
Citra berdiri dan meninggalkan Riko, tapi Riko langsung menarik Citra dan membuat Citra terjatuh di atas kasur.
Riko langsung menindih Citra dan membuat Citra terkejut dengan kelakuan Riko.
Riko mendekatkan wajahnya ke wajah Citra ingin mencium Citra, Tapi Citra langsung memalingkan wajahnya kemudian menangis sejadi-jadinya dan membuat Riko semakin panik.
Riko segera berdiri dan menatap Citra yang masih nangis. Riko bingung apa yang sudah dia lakukan sehingga membuat Citra seperti ini. Riko tidak tau harus berbuat apa, dia tidak tau bagaimana cara membujuk perempuan.
Riko merasa frustasi dengan situasi sekarang, akhirnya dengan wajah yang kesal dia meninggalkan Citra yang masih menangis di tempat tidur.
Setelah Riko keluar dari kamar, Citra kemudian duduk dan melipat tangannya lalu membenamkan wajahnya sambil menangis terisak-isak.
Citra semakin sakit hati dengan perlakuan Riko. Citra merasa bahwa Riko hanya ingin menjadikannya tempat pelarian hawa nafsunya lalu pergi meninggalkannya bersama Rani.
Dengan wajah kesal Riko keluar dari rumah, dan bi Ina melihat Riko.
"Apa lagi sekarang, kenapa wajah den Riko terlihat kesal sekali, terus bagaimana dengan non Citra apa dia baik-baik saja." batin bi Ina sambil sesekali menatap Riko dan menatap ke arah kamar Riko, khawatir dengan Citra.
Tiba-tiba telfon rumah berbunyi membuat bi Ina terkejut.
"Haloo.." ucap Bi Ina.
"Haloo bi,, gimana kabar bibi, apa bibi sehat?" tanya Mama Ayu.
"Iya bu, bibi sehat." ucap Bi Ina.
"Semuanya baik-baik aja kan bi, pak cecep kabarnya gimana?" tanya mama Ayu lagi.
"Iya bu, pak Cecep juga sehat, tapiii...." ucap Bi Ina ragu-ragu.
"Tapi apa bi?" tanya Mama Ayu penasaran.
Lalu bi Ina menceritakan semuanya apa yang sedang terjadi antara Riko dan Citra. Mama Ayu hanya mendengarkan cerita bi Ina kemudian memutuskan telfon.
__ADS_1
Sebenarnya tujuan mama Ayu menelfon adalah ingin memberi kabar kepada Bi Ina bahwa sebentar lagi mereka akan kembali ke Jakarta karna papa Indra sudah di per boleh kan untuk kembali ke rumah dan istirahat di rumah. Tapi, bi Ina yang ember bocor mengatakan semuanya kepada mama Ayu. dan membuat mama Ayu membatalakan rencananya untuk segera kembali ke Indonesia dan menyiapkan rencana lain untuk Riko dan Citra agar mereka semakin dekat.