
Beberapa jam berlalu akhirnya pesawat landing..
Para penumpang bisa bernafas lega mendarat dengan sempurna tanpa adanya gangguan.
Seorang wanita duduk diam dibangkunya menatap lapangan yg bègitu luas.
Yap,Leni berhasil sampai dititik ia harus berada.
" Aku kembali " Gumam wanita itu pelan.
Selama diperjalanan,ia banyak diam pikiran Leni melayang jauh.
Bahkan wanita itu sempat menghayal punya anak seperti wanita yg ia temui beberapa waktu lalu.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam,perjalanannya belum usai ia harus turun dari pesawat.
" Terima kasih " Ucap Leni saat ada salah satu pramugari membantunya menurunkan alat2.
Leni berjalan keluar dan menghirup udara segar.
" Ahhh suasana yg berbeda " Gumam Leni tersenyum kecil.
Wanita itu berusaha mengembalikan mood yg dari tadi tak karuan.
Leni harus bersikap dewasa dan tenang,ia tak mau menunjukkan kesedihannya didepan banyak orang.
Dengan langkah yakin wanita itu berjalan keluar dari pekarangan bandara.
Terlihat didepan sudah ada yg menunggu dirinya,Leni tersenyum kecil dengan helaan nafas panjang.
" Kau kembali " Ucap seseorang tersebut ikut terharu.
" Ya,bawa aku pergi " Balas Leni menahan tangis.
Wanita itu mengangguk,keduanya pun langsung menaiki mobil.
" Apa kau ingin bertemu Mama mu ?" Tanya Santa hati2.
" Ya,aku harus menjadi anak yg berbakti " Jawab Leni.
" Meski tau apa konsekuensinya ?" tanya Santa lagi.
" Iya " Jawab Leni yakin.
Santa mengangguk dan menggenggam tangan wanita tersebut.
Leni tak banyak bicara,jantungnya sedikit deg degan tapi apa boleh buat ia harus bertanggung jawab.
Disebuah rumah seorang wanita duduk tenang menatap langit malam.
Suansa sepi dan dingin terasa menusuk tulang,sudah 20 menitan ia duduk disana tanpa bicara.
Yuni menatap langit yg dipenuhi bintang bersinar dari atas langit.
Penghuni rumah sudah pada tidur,kedua cucunya sudah tertidur pulas meski tadi sempat cakar cakaran.
Ceklek...
Pintu rumah terbuka,nampaklah seorang lelaki keluar dengan sebatang rokoknya.
" Ibu !" Ucap lelaki itu kaget.
Yuni menoleh kebelakang memasang wajah datar.
" Ibu kenapa duduk sendirian ?" Tanya Serkan mengernyit.
" Gak papa " Jawab Yuni tersenyum kecil.
Serkan mendekat dan mengambil posisi duduk disamping sang ibu tiri.
__ADS_1
" Gimana keadaan Mama mu ?" Tanya Yuni tenang.
" Mama ?" Ulang Serkan.
" Kau sering mengujunginya ?" tanya Yuni.
Serkan diam dan menaruh rokoknya disamping lantai.
" Jarang Bu " Jawab Serkan menunduk.
" Kenapa ?" Tanya Yuni mengernyit.
" Hm aku tak punya banyak waktu " Jawab Serkan menggaruk kepala.
" Temui dia Serkan,bagaimana pun kamu tetap anak kandungnya dan dia membutuhkan kamu " Ucap Yuni tegas.
" Waktu ku sangat sedikit Bu,bahkan berkumpul bersama kalian pun sangat sempit " Ucap Serkan menghela nafas.
" Ibu dan Dia sama2 orang tua kamu,kami sangat sayang sama kamu,tapi jangan pernah melupakan dia " Ucap Yuni menasehati.
" Kadang aku juga merasa bersalah Bu,tapi biasanya Histi berkunjung kesana sekedar menanyai kabar " Balas Serkan.
" Histi berbeda,dia hanya menantu dan kamu anaknya,Ibu akan merasa kesepian jika anak ibu jarang berkunjung " Kata Yuni lembut.
Serkan kembali diam,memang ia akui beberapa tahun ini jarang mengunjungi Camelia karna pekerjaan yg padat dan sering keluar kota,bahkan impian Sutar ingin punya adik pun tertunda membuat Histi menjadi gila karna tuntutan anaknya yg belum terelasasikan.
" Aku akan kesana besok " Kata Serkan memutuskan.
" Ya kau harus kesana,kasihan dia " kata Yuni iba.
" Hmm,Mama tinggal bersama anak nya Riki " Ucap Serkan mengingat.
" Adiknya Mba Nisa ?" Tanya Yuni.
" Ya,istrinya meninggal dan Rifki sering keluar karna tugas dan aku dengar sekarang dia menikah lagi " Jawab Serkan.
" Dan kau masih tega membiarkan mereka sendirian ?" Tanya Yuni menatap wajah fotocopyan Romi tersebut.
" Apa aku boleh membawa anak itu kemari ?" Tanya Serkan hati2.
" Anak mantan mu ?" Goda Yuni.
" Shuuttt Ibu jangan kenceng2 nanti kedengeran Histi " Jawab Serkan ngeri.
" Hahaha kau takut istri recehmu mengamuk ??" Goda Yuni lagi.
" Aku malas mendegar ocehannya Bu,Histi kalau marah seperti orang mau perang,cuma Sutar yg berani sama dia " Kata Serkan ngeri.
" Kan dia yg lahirin " Sambung Yuni terkekeh.
" Hehe iya " Kata Serkan terkekeh geli.
Ibu dan anak itu kembali bercerita,Serkan begitu terbuka kepada ibunya dan tak jarang lelaki itu mengadu kepada Yuni tentang tingkah Histi yg masih bocil.
Yuni sebagai mertua dan Ibu harus pintar mengambil posisi apalagi ia tahu Serkan dan Histi bertolak belakang dari segi sifat dan tingkah laku.
Hingga tengah malam,keduanya asik mengobrol sampai Romi menegur untuk keduanya tidur.
***
Kebesokan paginya,suasana sedikit menegangkan karna sudah 1 harian anggota keluarga tidak pulang.
Yap,sudah 1 hari Leni tak pulang,Samuel mulai merasa ada yg aneh dengan kehilangan wanita tersebut.
" Bagaimana ini Kek ? kita harus cari Mama kemana ?" tanya Nur khwatir.
Rafael yg semalam baru tiba diam sambil menyeruput kopi panasnya.
" Kau sudah mencarinya ?" tanya Lutfia kepada Samuel.
__ADS_1
Samuel yg dari tadi diam tak menjawab.
" Pa bagaimana nnti kalau Mama di culik ?" Tanya Nur ngeri.
" disini aman " Ucap Rafael tenang.
" iya Nur,Leni gak diculik " Celetuk Lutfia.
" tapi Mama gak pulang Nek,mana diluar kan salju pasti Mama kedinginan " Kata Nur ingin menangis.
Samuel mengusap wajahnya mencoba berpikir tenang.
Semalam ia tak banyak tidur karna masih menunggu Leni.
No hape wanita itu tak bisa dihubungi,Samuel tak tau istrinya berada dimana.
" Sam coba kau cari sesuatu mungkin Leni meninggalkannya dikamar kalian " Kata Lutfia memberi nasehat.
Samuel mengangguk,detik berikutnya lelaki itu berjalan meninggalkan dapur.
Sesampainya dikamar,Samuel celingak celinguk mencari apapun,saat ia membuka laci pria itu tersentak melihat adanya kertas putih disana.
" Apa ini ?" Gumam Samuel pelan.
Dengan hati2 Samuel mengambilnya dan membuka lipatan.
Deg....
Seketika manik pria itu melotot melihat kertas kesepakatan cerai mereka sudah ditanda tangani dan cap jempol.
" Dia melakukannya ?" Gumam Samuel masih syok.
Kertas yg berisi akte cerai tersebut masih menunggu bubuhan tanda tangan Samuel sebagai penggugat,jika lelaki itu menaruh tinta pena disana maka keduanya resmi berpisah.
" Leni " Ucap Samuel tanpa sadar.
Lelaki itu terduduk di ranjang dengan memegang kertas keramat tersebut.
" Apa yg sudah aku lakukan ?" Tanya Samuel nanar.
Pria tersebut melihat sekeliling dan hanya ada satu koper diujung dinding yg mana saat mereka sampai kemarin masih ada koper berwarna biru disana bersama dirinya.
Plakkkkkkkkkk.......
Tamparan keras terdengar menggema dirumah berlantai dua.
Pagi ini seorang wanita mendapat sarapan dahsyat dari sang Papa yg selama ini menyayangi dirinya.
" Begini kelakuan kamu dibelakang kami hah !!! " Bentak pria itu emosi.
" Maaf Pa,Leni membuat kalian kecewa " Ucap Leni mencoba tegar dengan kepala tertunduk dikaki Papanya.
" Kau sungguh keterlaluan,kau ingin membuat kita semua menjatuhkan harga diri didepan orang banyak !" bentak lelaki itu menggema.
" Aku tidak bermaksud melakukannya,ini karna aku...." Ucap Leni menggantung.
" Karna apa Hah ! karna kau terpengaruh oleh Santa yg menyukai sesama perempuan !" Bentak lelaki itu geram.
Leni mengepalkan tangannya dengan erat,raut wajah perempuan itu terlihat menahan emosi yg meledak2.
" Karna aku melihat kau menunggangi ****** itu dibelakang Mama !!! " Bentak Leni menggelegar.
Jedderrrrrr....
Semua orang melotot kaget begitupun Mama Leni yg terlihat sangat terkejut.
" Len " Ucap Santa menelan ludah kasar.
Leni bangkit dari runtuhnya dan menatap lelaki besar tinggi itu dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.