
Romi masih dalam perjalanan menuju rumah Silfa, sebelum Romi tiba di rumah Silfa, Romi membeli buah untuk dia bawa ke rumah Silfa.
Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya Romi tiba di halaman rumah Silfa, Romi merasa gugup saat dia hendak turun,, rasa-rasanya dia ingin langsung membelokkan mobilnya kembali ke rumahnya, karna dia belum pernah bertamu ke rumah Silfa secara pribadi, dia hanya bertamu dengan alasan pekerjaan.
"Tokk... tokkk.. hy Silfa, gimana keadaan kamu,, Riko bilang kamu lagi sakit, makanya aku kesini buat jenguk kamu. kamu baik-baik aja kan, nih aku bawain kamu buah, hehehe." gumam Romi berbicara dengan dirinya sendiri, dia latihan di depan kaca yang ada di mobilnya sebelum dia berhadapan dengan Silfa.
Romi mencoba mengumpulkan nyawa dengan menarik nafasnya dalam-dalam melalui hidungnya, kemudian dia keluarkan pelan-pelan melalui mulutnya.
Setelah merasa percaya diri, diapun hendak melangkahkan kakinya menuju pintu rumah Silfa, tapi tiba-tiba
Braakkkk..
"Awwww.. pekikan suara Silfa dari dapur.
Mendengar suara itu, Romi langsung berlari masuk ke dalam rumah Silfa tanpa permisi, Romi langsung berlari ke arah sumber suara, dan Romi terkejut melihat Silfa terluka karna pecahan kaca mengenai kakinya.
Romi langsung mengangkat Silfa menuju sofa lalu mendudukkannya, Romi terlihat sangat panik melihat keadaan Silfa yang sangat pucat. Sementara Silfa heran dengan kedatangan Romi yang tiba-tiba.
"Dimana kotak obatnya?" tanya Romi khawatir.
"Di dapur." ucap Silfa dengan nada lemas.
Romipun kembali ke dapur untuk mencari kotak obatnya dan ketemu, lalu dia kembali ke sofa dan mengobati luka Silfa.
"Ada perlu apa lo kesini Rom? bukannya pak Riko udah masuk kantor yah." ucap Silfa dengan nada lemas sambil menatap Romi yang mengobati luka di kakinya.
Romi tidak merespon perkataan Silfa, dia hanya fokus mengobati kaki Silfa yang terkena pecahan gelas kaca.
"Rom,, kok lo ngga jawab sih,, lo ngapain kesini?" tanya Silfa lagi.
"Bisa diam ngga lo,, lo kalau lagi sakit, ngga bisa ngomong udah diam aja." ucap Romi dengan nada marah serta khawatir.
Silfa seketika terkejut mendengar perkataan Romi, yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Mereka selalu berantem dan tidak ada kecocokan sama sekali, dan bahkan tidak ada yang perduli satu sama lain.
Tapi yang dilihat Silfa hari ini, berbeda dengan Romi yang biasa dia kenal. Silfa masih terus menatap Romi dengan tatapan yang tidak bisa di tebak.
Setelah Romi mengobati luka Silfa, dia kemudian menatap wajah pucat Silfa, Dia pun kemudian menggendong Silfa menuju kamarnya, Silfa hanya pasrah menerima gendongan Romi, dia hanya mengaitkan lengannya di leher Romi karna takut jatuh.
Setelah Romi membaringkan Silfa dan menutupi Silfa dengan selimut, dia kemudian duduk di kursi samping tempat tidur Silfa.
"Udah sekarang lo tidur." pinta Romi lembut.
Silfa masih menatap Romi penasaran.
"Lo belum jawab pertanyaan gue, sebenarnya lo ngapain kesini?" tanya Silfa lagi.
"Emangnya gue ngga boleh ke rumah lo." ketus Romi.
"Bukan gitu Rom...
kruukkkkkkkkk
"Lo ternyata laper, ya udah gue buatin lo makan." ucap Romi lalu berusaha meninggalkan kamar Silfa, tapi Silfa menahannya.
"Ngga usah,, nanti biar gue yang bikin." ketus Silfa.
"Dengan keadaan lo yang kayak gitu, udah lo ngga usah sungkan sama gue,, gue itu oramg baik, jadi gue ngga akan naroh racun ke dalam makanan lo." ketus Romi lalu meninggalkan Silfa.
Silfa hanya pasrah melihat Romi meninggalkan kamarnya,, toh dia memang juga sangat kelaparan, tapi karna keadannya yang sedang tidak sehat membuat dia tidak bisa membuat makanan untuk dirinya sendiri.
Romi menuju dapur dan Romi melihat pecahan gelas, diapun membersihkannya, setelah itu dia memasak bubur untuk Silfa. Ada perasaan bahagia di hati Romi, karna dia bisa memberikan perhatian untuk Silfa.
Setelah beberapa menit, bubur itupun masak, kemudian dia menghidangkannya dan membawanya masuk ke dalam kamar Silfa, tapi Silfa sudah tidur.
Next...
__ADS_1
Riko sudah selesai menandatangani semua berkas penting yang ada di mejanya, diapun kembali memikirkan istrinya dan dia merasa rindu dengan istrinya itu.
Diapun mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke Istrinya, setelah mengirim pesan itu, Riko menunggu balasan dari istrinya, 1menit, 2 menit, 3 menit bahkan hampir setengah jam Riko menunggu balasan dari istrinya tapi tidak ada balasan.
"Apa dia masih tidur?" gumamnya.
Dia kemudian mencoba menelfonnya, tapi tidak ada jawaban.
Riko masih bersabar karna dia fikir Citra masih tidur.
Ternyata yang dipikirkan Riko salah, sekarang Citra sudah menjadi boneka dari ibi-ibu rempong.
Mama Ayu dan Mama Ratna sedang berada di mall untuk berbelanja, mereka terus memilihkan Citra berbagai macam pakaian dengan berbagai model, kemudian mereka menyuruh Citra mencobanya. Citra terus mencoba pakaian itu dan mereka terus memberi komentar tentang pakaian itu. Hampir 1 jam Citra keluar masuk dari ruang ganti untuk terus mencoba pakaian yang mereka pilihkan untuknya.
Citra sudah terlihat sangat lelah dan pusing akibat ulah mertua dan mamanya.
Tidak puas sampai disitu, mama Ayu mengajak Citra dan mama Ratna untuk masuk ke toko gaun pengantin. Mama Ayu kemudian memilihkan Citra berbagai model gaun untuk Citra coba, karena memang mama Ayu berniat untuk mengadakan pesta pernikahan besar-besaran untuk anak dan menantunya itu.
"Saya pilih ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini dan itu." perintah mama Ayu kepada pegawai itu, pegawai itu pun membawa semua gaun yang di tunjuk mama Ayu untuk di coba oleh Citra.
Citra merasa frustasi dengan ulah mertuanya, rasanya dia ingin segera menghilang, karna memang dia sudah sangat lelah.
Citra kembali ke ruang ganti untuk mencoba gaun pengantin yang dipilih oleh mertuanya, terkadang pakaian itu mencekik di tubuh Citra karna memang bukan ukurannya. Citra keluar masuk dari ruang ganti hampir 10x karena semua penilaian mereka tidak suka, tidak cocok, terlalu terbuka, kelihatan tua, terlalu pendek, terlalu panjang..
"huffff rasanya pengen muntah." batin Citra kesal.
Mereka berkeliling di Mall hampir 3 jam, dan Citra hanya menemani mereka putar-putar saja, Citra tidak di beri kebebasan untuk memilih pakaian untuk dirinya sendiri, semuanya harus pilihan mereka.
Wajah Citra terus menerus cemberut sambil berjalan di belakang mengikuti mereka. Citra merindukan suaminya, karna Riko adalah yang paling mengerti dengan keadaanya, kalau Riko yang menemaninya pasti Riko memberinya kebebasan.
"Ahhh, aku rindu suamiku." gumamnya merengek sambil terus mengikuti ibu-ibu itu masuk ke dalam supermarket yang ada di dalam Mall.
Mama Ayu dan mama Ratna fokus mengambil berbagai macam barang di rak dan memasukkannya ke dalam keranjang.
__ADS_1
Sementara Citra yang masih mengekor, merasa bosan, kemudian berniat untuk menghubungi suami yang dia rindukan itu. Saat Citra membuka ponselnya, dia sangat terkejut melihat panggilan tak terjawab Riko yang sudah puluhan dan pesannya juga puluhan. Ponsel Citra masih dia silent sejak kemarin. Diapun kemudian membalas pesan Riko.