Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Sembilan Delapan "TSJC"


__ADS_3

Setelah selesai makan malam bersama, para wanita sedang berada didapur membersihkan perabotan masak dan makanan, karna bi Ina sedang tidak enak badan, jadi mereka yang melakukannya, sedangkan para pria sedang berada di ruang kerja Riko. Sementara orang tua Citra dan orang tua Riko sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing.


Terlihat Mita sedang menyabuni piring dan Vivi membilasnya, Silfa menyusun piring yang sudah di bilas oleh Mita Dan Indah merapikan dapur. Sedangkan Citra hanya duduk melihat mereka, karena mereka mencegah Citra untuk melakukan apapun.


"Jadi, kak Silfa sekretarisnya kak Riko?" ucap Mita penasaran dan Silfa hanya mengangguk pelan.


"Tadi kan dia udah ngomong Mit, kenapa nanya lagi sih." gerutu Vivi.


"Yah,, sebagai penegasan aja." ketus Mita.


"Kalian kenapa sih selalu berantem, bikin pusing aja." ketus Indah pusing.


"Ngga usah di tegur Ndah, mereka akan berhenti sendiri kok, kalau mereka udah capek." ucap Citra.


"Yah, ini karna dia yang mulai." ketus Mita menyalahkan Vivi.


"Enak aja, main nyalahin orang." ketus Vivi membela diri.


"Emang kamu yang mulai." Ketus Mita lagi sambil menyipratkan air bekas sabun kepada Vivi dan tidak sengaja mengenai wajah Silfa.


"Ahh, maaf kak, aku ngga sengaja." ucap Mita panik dan langsung meraih tissue dan membersihkan wajah Silfa dari bekas air.


"Ngga ppa kok, aku ngga ppa." ucap Silfa berusaha menghentikan Mita dan Mita pun berhenti membersihkan wajah Silfa dan memberikan tissue kepada Silfa.


"Kamu sih Mit, ngga hati-hati." celetuk Citra kesal dengan Mita.


"Maafin kita yah kak,, kita udah ngga sopan sama kak Silfa." ucap Citra merasa tidak enak dengan Silfa karena Silfa lebih tua dari mereka.


"Ngga ppa kok, ini biasa terjadi diantara pertengkaran adek, dan imbasnya ke kakak." ucap Silfa merendah.


"Kak Silfa baik banget sih, kak Romi ngga salah pilih, aku merestui kalian bersama." ucap Mita dan membuat Silfa bingung.


"Ahhh,, aku lupa memperkenalkan diri aku, aku sepupunya kak Romi kak, aku dari Bandung, nama aku Mita." ucap Mita lagi.


"Ahh, kamu sepupunya Romi, salam kenal yah." ucap Silfa sambil mengulurkan tangannya.


"Salam kenal kak." ucap Mita membalas uluran tangan Silfa dan tersenyum satu sama lain.


Skip Ruang Kerja Riko


Terlihat Romi sedang dilema dan galau, sementara Anton dan Arman masih sibuk mengunyah cemilan yang tersedia didepan mereka.


"Sampai kapan sih, lo terus menerus ngegantung perasaan lo, sampai kapan Rom?" tanya Riko frustasi.


"Iya, lagian nih yah, kalau dilihat-lihat dari samping, Silfa itu juga suka sama lo." ucap Arman.


"Kok dari samping sih?" tanya Anton bingung.


"Yah, kan dari tadi gue ngeliat Silfa dari samping doang." jelas Arman dan Anton hanya mangguk-mangguk paham.


"Gue udah ungkapin perasaan gue ke dia." ucap Romi pasrah membuat semua fokus kearah Romi.


"Terus, dia jawab apa?" tanya Riko penasaran begitupun dengan Anton dan Arman yang kepo.


"Dia ngga nerima gue." ucap Romi lagi.


"Whattt." teriak Arman sok terkejut membuat yang lainnya juga terkejut dengan teriakannya.

__ADS_1


"Santai aja dong, yang di tolak dia bukan elo." gerutu Anton kesal sementara Romi dan Riko hanya menatap sinis Arman.


"Sorry, gue terlalu terbawa suasana." ucap Arman, dan mereka kembali fokus kepada Romi.


"Terus lo nyerah gitu aja." ucap Riko lagi.


"Itu yang membuat gue pusing Rik,, masalahnya yah, dia nolak gue tapi dia nyium bibir gue dan ngasih gue syarat yang ngga bisa gue penuhin." Jelas Romi lagi membuat Riko bingung.


"Wahhh,, dia yium bibir lo, gimana ceritanya dia nolak lo, tapi dia juga nyum bibir lo." ucap Anton heboh sambil memegang bibirnya.


"Itu ciuman perpisahan namanya." celetuk Arman membuat Riko semakin murka dengan tingkah mereka berdua.


"Kalian berdua bisa diam ngga sih, di keadaan seperti ini." gerutu Riko kesal.


"Ngga bisa Rik, sebelum ada kopi." ucap Arman.


"Bener Rik, kita dari tadi makan tapi belum minum, leher kita serek." celetuk Anton.


Emosi Riko memuncak, rasanya dia ingin segera menendang mereka keluar dari rumahnya, tapi mereka tetap sahabat Riko, jadi Riko menahannya.


"Ok,, gue ambilin kopi, Arman mesen kopi, kalau lo?" tanya Riko kepada Anton.


"Gue apa aja Rik yang penting bisa ngilangin dahaga, tapi lebih bagus lagi kalau kopi." ucap Anton


"Itu artinya lo mau kopi, muter-muter aja lo." gerutu Riko kesal dan Anton hanya memasang wajah polos.


"Kalau lo Rom?" tanya Riko lagi.


"Samain aja." ucap Romi.


"Ya udah, gue ambilin." ucap Riko lalu meninggalkan mereka.


"Memangnya gue pelayan." gumam Riko kesal sambil berjalan menuju dapur.


Skipp dapur.


Setelah para wanita selesai membersihkan mereka beristirhat dengan duduk di kursi meja makan.


Sementara Citra sibuk menyiapkan mereka cemilan berupa kue yang mama dan mertuanya buat tadi siang, Citra juga membuatkan mereka teh hangat karna mereka pasti kedinginan setelah bermain dengan air. Saat Citra sedang sibuk membuat teh, tiba-tiba Riko muncul di dapur dan langsung mendekati istrinya tanpa melirik kearah Mita, Vivi, Indah dan juga Silfa.


"Gila cuek banget." gerutu Vivi.


"Pak Riko memang kayak gitu." ucap Silfa membenarkan sifat atasannya.


"Tapi, sikapnya berbeda saat dengan Citra." ucap Indah bangga melihat sahabatnya yang berhasil menjinakkan beruang kutub.


"Bikin iri." celetuk Mita.


"Lagi ngapain sayang?" tanya Riko yang sudah berdiri disamping Citra.


"Eh, kak Riko, aku lagi bikin teh kak, buat mereka." jelas Citra.


"Kak Riko sendiri ngapain disini?" tanya Citra penasaran.


"Aku juga mau buat kopi, untuk teman-teman aku." ucap Riko.


"Oh, ya udah, biar aku aja yang buat kak." tawar Citra.

__ADS_1


"Ngga usah sayang, kamu udah capek buat teh itu, sekarang biar aku aja yang buat kopi." ucap Riko menolak.


"Ngga usah kak, biar aku aja, lagian aku juga udah buat teh, sekalian aja sama kopi." tawar Citra lagi membuat Riko kesal dengan Citra yang keras kepala, Riko lalu menyentil jidat Citra dan membuat Citra mengeluh kesakitan.


"Kamu itu yah, ngga pernah mau nurut sama aku, selalu membantah, dasar kepala batu." ucap Riko.


"Kamu itu yah, ngga bisa apa ngga nyentil jidat orang, sakit tau." gerutu Citra meniru suaminya dan tingkah Citra berhasil membuat Riko tersenyum.


"Sakit yah, ya udah aku obatin." ucap Riko sambil mengelus jidat Citra lalu mengecupnya.


Teman-teman Citra yang dari tadi melihat mereka mendengus kesal sambil memalingkan wajah mereka, sedangkan Silfa hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang menurutnya lucu apalagi yang melakukannya adalah atasannya. Menurut Sikfa itu merupakan pemandangan yang langka menurutnya, karna dia tidak pernah melihat atasanya seperti itu selama dia bekerja diperusahaan Riko.


Citra yang menyadari situasi hanya tersenyum lalu mengantarkan teh dan cemilan ke mereka, lalu dia pun bergabung dengan mereka.


Sementara Riko melanjutkan pekerjaannya dengan membuat kopi. Disaat Riko sibuk membuat kopi, terlihat Mita terus memperhatikan Riko, raut wajahnya mengatakan bahwa dia sangat ingin bertanya sesuatu kepada Riko, tapi dia ragu-ragu. Mita yang sudah sangat penasaran menghilangkan keragu-raguannya dan memutuskan bertanya.


"Kak Riko, aku boleh tanya sesuatu ngga?" ucap Mita.


"Silahkan." ucap Riko sambil mengaduk-aduk kopi tanpa melihat Mita, sementara yang lain sudah sangat penasaran apa yang ingin ditanyakan Mita kepada Riko.


"Kok kak Doni ngga dateng?" tanya Mita sedikit sedih.


Rikopun berbalik melihat Mita sambil memegang nampan yang berisi kopi yang telah dia buat.


"Doni ngga dateng, dia lagi pulang kampung ke Garut, untuk bertemu dengan orang tuanya." jelas Riko.


"Kapan?" tanya Mita penasaran.


"Tadi siang." jelas Riko lagi lalu hendak pergi.


"Pak Riko." ucap Silfa tiba-tiba menghentikan langkah Riko.


"Ada apa sil?" tanya Riko.


"Saya mau pamit pulang pak, soalnya ini udah malem banget." ucap Silfa.


"Kamu pulang sama siapa?" tanya Riko.


"Sendiri pak." ucap Riko lagi.


"Ngga boleh, kamu itu perempuan ngga boleh pulang sendiri, bahaya. kamu tunggu disini sebentar." ucap Riko lalu hendak pergi.


"Hm, pak Riko, pak Riko ngga usah repot-repot untuk anterin saya." ucap Silfa GR membuat Riko bingung sambil mengerutkan keningnya.


"Bukan aku yang anterin kamu, tapi aku akan minta Romi untuk mengantar kamu, tunggu disini." ucap Riko lagi lalu pergi meninggalkan mereka.


Silfa hendak menghentikan Riko untuk tidak menyuruh Romi mengantarnya, tapi Riko sudah pergi.


Skip ruang kerja Riko


Riko masuk dengan membawa nampan berisi 3 gelas Kopi.


"Rom, lo harus balik sekarang." ucap Riko sambil meletakkan nampan diatas meja. Romi, Arman dan Anton bingung dengan perkataan Riko.


"Lo ngusir gue?" tanya Romi heran.


"Gue ngga ngusir, Silfa udah mau balik, dan gue mau lo anterin dia pulang." pinta Riko lalu Romipun menyetujuinya, diapun segera mengambil jaketnya lalu hendak pergi tapi Riko menahan tangan Romi.

__ADS_1


"Rom, kalau lo beneran sayang sama Silfa, lo harus ungkapin dengan ketulusan hati lo, gue ngga tau syarat apa yang diajuin Silfa ke elo, tapi lo harus bisa nunjukin keseriusan lo kepada dia, bilangin ke dia, kalau lo itu beneran tulus mencintai dia tanpa syarat." ucap Riko memberi saran dan Romi hanya tersenyum sambil mengangguk lalu diapun pergi.


__ADS_2