Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
448


__ADS_3

Tak terasa sudah 1 bulan Sindi dan Malvin berada dipenjara,setiap hari Winda selalu datang mengunjungi orang tuanya.


Wanita itu tak menangis lagi saat berkunjung,Winda mencoba tegar menghadapi setiap persoalan hidup,ia tak sendiri masih ada orang baik yang selalu mendukung dirinya dan sang adik.


Doni belum bisa tinggal dirumah bersama Winda,kerjaan Samuel masih lontang lantung lelaki itu juga sering pulang kerumah orang tuanya karna Winda tak mau hubungan Samuel dengan sang mertua menjadi berantakan.


Seperti hari ini selesai sarapan,Samuel berpamitan pergi.


Ia harus datang kepengadilan mencabut tuntutan cerai yang dilayangkan orang tuanya.


" Kamu hati2 ya " Ucap Winda menyalami sang suami.


" Iya sayang,ini buat beli makanan Mama dan Papa " Balas Samuel memberi uang 100 ribu.


" Kamu gimana ?" tanya Winda khwatir.


" Aman,nanti siang aku makan dirumah Mama " Jawab Samuel tersenyum.


" Ya udah,aku ambil ya " kata Winda menyelipkan uang merah tersebut ke kantong celana.


Samuel mengangguk,lelaki itu memberi kecupan dikening dan melambaikan tangan.


Pria tersebut pun pergi dari rumah dengan sepeda motornya.


Winda menghela nafas panjang,hidup mereka sangat sederhana.


Uang yang diberi Samuel hanya cukup untuk makan tapi Winda tak mengeluh,wanita itu ikhlas karna Winda tau suaminya sudah berusaha.


" Alhamdulillah bisa bawa makanan buat Mama dan Papa " Gumam Winda tersenyum hangat.


Wanita itu pun menutup pintu dan mulai membersihkan rumah.


Sebenarnya Winda tak perlu repot2 membawakan makanan karna di lapas Sindi dan Malvin sudah mendapatkan jatah 3x sehari dan kadang Yuni juga mengirimkan makanan untuk sahabatnya,tapi Winda sebagai seorang anak tak mau tinggal diam,ia akan berusaha memberi yang terbaik meski sulit.


Drt drt.


Hape Winda berdering,wanita yang sedang menyapu rumah itu mengernyit.


Winda melihat nama dilayar dan terdiam sesaat.


" Mama " Gumam Winda pelan.


Nama Lutfia tercetak di layar hapenya,sudah lama sekali mereka tidak berbicara maupun bertemu karna Wanita itu memblok nomor hape menantu nya.


" Duh aku angkat gak ya ?" Gumam Winda ragu.


Hape terus berdering,karna merasa tak enak Winda pun mengangkatnya meski dengan tangan bergetar.


" Halo assalamualaikum " Sapa Winda sopan.


" Waalaikumsalam " Jawab seseorang dengan nada datar.


" Apa kabar Ma ?" tanya Winda basa basi.


" Tidak usah sok perduli " Jawab Lutfia ketus.


Winda terdiam.


" Temui saya di cafe X siang ini " Ucap Lutfia tegas.


" Aku mau ke kantor polisi Ma " jawab Winda.


" Saya tidak perduli,jam 11 datang tepat waktu " kata Lutfia datar.


Winda melihat jam,terlihat didinding sudah menunjukkan pukul 9.44 Wib.


" Tapi Ma...


" Tidak usah banyak alasan jika masih mau melihat Samuel " Potong Lutfia.


deg....

__ADS_1


Winda langsung terdiam mendengar nama suaminya.


" Baiklah " Balas Winda setuju.


Tut.


Panggilan terputus sepihak,Winda menatap hapenya dan mengusap dada sabar.


" Aku gak boleh gegabah,Mama masih marah pada ku " Gumam Winda tenang.


" Aku harus kasih tau Sam apa nggak ya ?" gumam Winda ragu.


Ia sudah berjanji kepada Samuel akan memberitahu apapun yang terjadi kepadanya,tapi Winda kadang merasa tak enak jika harus melibatkan Samuel dalam segala hal,lelaki itu sudah banyak pikiran dan Winda tak mau menambah lagi.


" Ahh gak usah lah,dia juga cape " Putus Winda yakin.


Winda kembali membersihkan rumahnya dengan cepat,ia harus datang tepat waktu agar Lutfia tak marah.


Ditempat lain,Lutfia menaruh hapenya dengan kesal.


Beberapa minggu ini ia menerima laporan bahwa Samuel membatalkan perceraian dan mengaku kepada hakim bahwa ia mencintai istrinya dan tak mau berpisah.


Lutfia merasa malu sekaligus geram dengan sang anak..


" Samuel benar sudah dibodohi gadis itu,harusnya aku tidak usah percaya dengan semua kebohongannya." gumam Lutfia geram.


Bukan hanya masalah sang anak yang harus ia hadapi,Lutfia juga terlibat perkelahian dengan Rafael karna lelaki itu tidak setuju dengan tindakan tiba2 sang istri.


Rafael berpikir masalah anaknya pasti akan terselesaikan dengan jalan damai,tapi pihak keluarga Lutfia masih kekeh ingin Samuel berpisah karna merasa sakit hati serta belum mau mencabut tuntutan atas Malvin dan Sindi.


" Ma " Panggil Tania mendekat.


" Apa ?" Tanya Lutfia menoleh.


" Papa keluar kota " Jawab Tania.


" Keluar kota ? kapan ?" tanya Lutfia kaget.


" Tadi bilang sama aku " Jawab Tania sedikit ngeri.


" Ya udah " Kata Lutfia berusaha sabar.


" Acara ulang tahun aku tetap dirayain kan ?" tanya Tania lagi.


" Nanti " kata Lutfia mengusap wajahnya kasar.


" Ma " Rengek Tania kesal.


" Tania nanti " Kata Lutfia sedikit membentak.


Tania langsung diam dan berlari menjauh.


Lutfia berdecak geram,kepalanya hampir pecah memikirkan banyaknya masalah.


Tanpa keduanya sadari diambang pintu seorang pria mendengar semua obrolan.


Lutfia berdiri dan terkejut melihat Samuel menatap dirinya dalam diam.


" Sam " Ucap Lutfia pelan.


Samuel mendekat dengan wajah tenang.


" Kapan kamu datang ?" tanya Lutfia kembali duduk.


" Baru " jawab Samuel ikut duduk didepan perempuan itu.


" Kau sudah makan ?" tanya Lutfia.


" Sudah,Winda masak " Jawab Samuel.


" Tak usah menyebut namanya dirumah ini " Kata Lutfia kesal.

__ADS_1


" Dia istri ku " Balas Samuel santai.


Lutfia memutar mata malas mendengar Samuel mengakui Winda.


" Ada apa memanggil ku kemari ?" tanya Samuel.


" Kau bertanya ?" tanya Lutfia kesal.


" Ya aku harus bekerja " Jawab Samuel.


" ini rumah mu Sam !" kata Lutfia geram.


" Rumah ku tak sebagus ini,cat rumah kami sudah mengklupas " Balas Samuel.


" Jangan kurang ajar sama Mama " Kata Lutfia tersulut.


" Aku tidak membangkang "


" Hah sudah tidak usah membahas itu lagi " Kata Lutfia tak mau marah.


" Datang keperusahaan Kakek mu " Kata Lutfia tenang.


" Ngapain ?"


" Minta kerjaan sama dia kalo kamu gak mau kerja sama Papa " Jawab Lutfia.


" Dan kalian mengharamkan istri ku memakan uang nya ?" tanya Samuel terkekeh.


" Dia bisa kerja sendiri bukan? kan istri mu itu gadis mandiri ?" Sindir Lutfia.


" Ya dia selalu mandiri,tapi sekarang aku melarangnya bekerja keras " Jawab samuel.


Lagi2 Lutfia kalah dengan ucapan sang anak,kini Samuel sangat berani menyahut omongannya dengan brutal.


" Kau akan menyesal durhaka kepada Mama " Kata Lutfia tegas.


" Aku tidak durhaka,kadang bukan hanya anak yang berdosa tapi orang tua juga jika mengajarkan yang tidak baik " Kata Samuel tak kalah tegas.


" Sam !" Bentak Lutfia emosi.


" Jika hanya ingin membicarakan keburukan istri ku,lebih baik aku pergi saja aku tak butuh omong kosong " Kata Samuel berdiri.


" tunggu " Pinta Lutfia cepat.


Samuel menghela nafas,ia berusaha tetap sopan kepada wanita yang sudah melahirkannya,tapi jika Winda disebut yang bukan2 Samuel bisa emosi mendengarnya..


Lelaki itu percaya bahwa istri nya bukan gadis yang dituduhkan Lutfia,ia tau bagaimana perjuangan Winda selama ini dalam bertahan hidup.


" Datanglah keperusahaan Kakek mu dan bicarakan baik2 " kata Lutfia melemah.


" Jika hanya akan menambah masalah,aku memilih tidak mengandalkan kalian,aku ingin hidup tenang tanpa banyak drama seperti ini " Ucap Samuel dari hati.


" Ya pergi saja dulu dan....


" Apa ?" Tanya Samuel mengernyit.


Lutfia mengambil tasnya dan memberikan bungkusan.


" Apa ini ?" Terima Samuel dengan wajah bingung..


" Obat dan vitamin,kau akan membutuhkannya dan istri mu juga " Jawab Lutfia pelan diakhir..


Samuel tersenyum kecil,mendengar Lutfia menyebut istrinya membuat lelaki itu sedikit tenang.


" Terima kasih dan acara ulang tahun Tania dilaksanakan saja dia sudah menunggu hari itu tiba,meski nanti aku tidak tau akan datang atau tidak." ucap Samuel sebelum pamit.


" Ya " Balas Lutfia mengangguk.


Samuel langsung pergi seraya mengantongi obat yang diberi ibunya.


Lutfia menarik nafas dalam,berbicara dengan Samuel sekarang membuat perempuan itu harus punya stok sehat..

__ADS_1


❤❤❤


Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.


__ADS_2