Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
TSJC EP "Romi&Silfa " Part 3


__ADS_3

Pria tampan ber alis tebal itu menghentikan mobilnya di depan gerbang sebuah rumah. Namun, tiba-tiba saja dahinya mengerut heran saat dia menoleh dan mendapati gadis yang duduk di sampingnya itu bergeming.


Gadis manis itu terlihat sedang melamun memikirkan sesuatu, Doni bisa menyadari itu dari raut wajah gadis manis itu.


Gadis itu terlihat sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Jika saja tadi dia tidak meninggalkan Silfa, mungkin saat ini majikannya itu masih baik-baik saja. Jika saja dia lebih teliti dalam tugasnya, mungkin dia tidak harus meninggalkan majikannya sendirian di rumah. Pikiran-pikiran itu terus muncul bersamaan dengan rasa bersalah yang gadis itu rasakan saat ini.


Tadi siang saat Silfa memintanya untuk membuat susu, tiba-tiba saja dia teringat jika ternyata dia lupa membelinya saat belanja bulanan kemarin. Apakah Silfa marah padanya? Tidak! Justru dengan tutur kata yang lembut dia hanya memaklumi kecerobohannya itu. dengan tersenyum manis Silfa memintanya untuk keluar membeli susu itu di toko yang jaraknya memakan waktu lima menit jika ditempuh berjalan kaki.


Namun, sesuatu hal yang tak terduga terjadi!!saat dia pulang, Silfa sudah tergeletak tak sadarkan diri di dalam kamar mandi kamarnya, dengan bersimbah darah.


Kepalanya menunduk, penyesalan itu semakin dalam tatkala dia menyadari satu fakta, jika majikannya saat ini masih berjuang melawan mautnya.


"Kita sudah sampai!!!


Seketika tubuhnya terkesiap tatkala suara berat pria di sampingnya itu menembus dinding pendengarannya.


Seketika bola matanya mengerjap, netra hitamnya menatap keluar.


"Ahhh, kita sudah sampai!! gumamnya saat dia menyadari dia sudah sampai di depan rumah majikannya.


Sementara pria tampan itu masih menatapnya, saat dia sedang melepas sabuk pengamannya.


"Berhenti menyalahkan diri kamu sendiri! Cetus Doni berhasil membuat Siti menatapnya.


"Kamu tidak salah!! semua yang terjadi sudah ada yang mengaturnya!! kita ini hanya pemain dari segala skenarioNya!! sambungnya lagi membuat Siti kembali tertunduk.


"Aku tanya? apakah jika kamu hari ini tidak keluar meninggalkan rumah, tidak akan terjadi apa-apa pada Silfa? apakah jika kamu terus berada disisi Silfa membuat kamu bisa terus menjaganya? Doni menatap gadis di depannya itu, gadis yang terlihat sebaya dengan adiknya.


"Siti! liat aku!! Gadis manis itu mengangkat pandangannya dan menatap Doni.


"Kita tidak boleh menyalahkan takdir!! dengan kamu menyalahkan diri kamu sendiri seperti ini, itu sama halnya kamu menyalahkan takdirNya!! yang harus kamu tahu!! apa yang sudah terjadi pasti ada hikmah dibalik semua itu. Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hambaNya. Allah lebih tahu apa yang hambaNya butuhkan. Sesuatu yang baik menurut kita belum tentu itu baik untuk kita menurut Allah, dan apa yang buruk menurut kita, belum tentu buruk untuk diri kita menurut Allah. dan Allah lebih mengetahui segalanya." Nasihat yang panjang itu membuat Siti sedikit menyadari, jika perkataan Doni memang benar, dia tidak berkuasa dengan apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Rasa bersalah membuatnya berfikir negatif.


Doni memberi nasihat, namun nasihat itu sepertinya lebih mengarah kepada dirinya sendiri. Yah,, segala sesuatu yang terjadi antara dirinya dan Mita, semuanya adalah takdir yang tak bisa dia salahkan. itu yang dipikirkannya.


"Sekarang!! berhenti menyalahkan diri kamu sendiri! ok. sambungnya lagi dan diangguki pelan oleh gadis itu.


Melihat gadis itu mengangguk patuh, membuat dia tersenyum simpul, refleks tangan kanannya mengulur lalu mengacak rambut gadis itu dengan gemas.


Tubuhnya tersentak kaget saat Doni melakukan hal itu padanya, jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Dan wajahnya terasa panas.


Apa ini? kenapa seperti ini? dia menjadi salah tingkah, sementara Doni hanya bersikap biasa saja setelah melakukan hal itu, karena dia sudah terbiasa melakukan hal itu.


"Kalau gitu aku permisi pak!! ucapnya lagi dan diangguki oleh Doni. Dengan cepat dia segera turun tanpa menoleh ke arah pria yang berhasil membuatnya salah tingkah.


Setelah turun dan berdiri di depan gerbang rumah majikannya, Doni pun menjalankan mobilnya lagi sambil membunyikan klakson untuk Siti.


Siti masih menatap mobil itu yang sudah semakin menjauh, dia menyentuh dadanya yang masih berdetak tidak normal itu. Bagaimana bisa hanya dengan mengacak rambutnya perasaannya bisa sekacau ini. Siti mengakui jika pria itu selain tampan, sifatnya yang hangat membuat pesonanya semakin terpancar.


Doni memang pria penuh pesona, dan itu yang membuat Mita menjadi bucin hingga gagal move on. Mbak Siti jangan seperti Mita yah, karena move on itu syusah.


...****************...

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul 00.24. Namun yang terlihat pintu coklat itu masih tertutup rapat, sementara dua orang tua itu masih menunggu dengan guratan wajah, sedih, cemas, takut bercampur menjadi satu.


Yah kedua orang tua itu adalah orang tua Silfa, mereka tiba di rumah sakit tiga jam yang lalu! Mereka hanya berdua saja? Iya, karena setelah kepergian Doni dua jam yang lalu, bersama Siti yang atas permintaan Romi untuk diantar pulang.


Sedangkan Romi 30 menit yang lalu juga pergi, dia pergi untuk menenangkan dirinya. Hatinya di penuhi kegelisahan, kecemasan, ketakutan.


Karena sebelum dia pergi tadi terjadi sesuatu!? yah, Romi tersentak saat melihat seorang perawat dengan tergopoh-gopoh melesat masuk ke dalam ruangan operasi itu dengan membawa banyak kantong darah, itulah yang membuat dia semakin gelisah dan takut, hingga terbesit di hati kecilnya untuk menenangkan dirinya.


Kemana dia menenangkan dirinya? Di rumah Rabbnya!


Setelah menyelesaikan sholat dua rakaatnya, Romi bersimpuh di depan Rabbnya.


Saat ini istrinya tengah berjuang dengan mautnya, bukankah Romi juga harus berjuang meminta belas kasih kepada sang Pemilik Jiwa seluruh makhluk.


Tangannya menengadah meminta kepada sang Maha Pemberi, meminta agar operasi istrinya berjalan lancar, agar istrinya baik-baik saja.


Romi merendahkan dirinya, kepada sang Maha Tinggi, berharap doanya terkabulkan, karena Dialah Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya, Romi mengaduhkan segala keluh kesah yang meresahkan hati dan pikirannya. Karena sejatinya, tak ada lagi tempat dia mengaduh jika bukan kepadaNya sang Maha Pemurah.


Tak ada lagi yang lebih mengetahui bagaimana perasaannya saat ini? Bagaimana kondisi hatinya saat ini, kecuali Dia sang Maha Mengetahui segala sesuatu.


Tak ada lagi yang bisa memberinya pertolongan saat ini, kecuali Dia yang Maha Besar.


Perlahan-laha Romi merasakan nikmat tatkala setiap kalimat kalimat yang terucap di lisannya mengalir tanpa tersendat. Romi sadar jika saat ini tak ada lagi tempat curhat ternikmat kecuali Dia sang Maha Mendengar.


Romi semakin terisak, tatkala dia dengan hikmat terus berdoa tanpa henti. Isakannya semakin dalam membuat dadanya semakin sesak tatkala dia terus menerus memohon, meminta kepada Tuhannya agar menyelamatkan istrinya.


Dia tak peduli lagi jika ada yang mencibir dan menghina dirinya saat ini. Dia tak peduli, dia hanya mengharap ridho dan kasih sayang dari Rabbnya yang maha Pengasih lagi maha Penyayang.


Setelah mengucapkan permohonannya itu seketika lidahnya menjadi keluh tak mampu lagi untuk berbicara, hanya isakan tangis yang terdengar saat ini. Sungguh saat ini dia butuh kekuatan dari sang Maha Kuat.


...****************...


Setelah mengaduhkan setiap keluh kesah di dalam hatinya, Romi kini berjalan menyusuri koridor rumah sakit, langkah gontainya akan membawanya kembali ke tempat dimana istrinya berada.


Dengan tatapan yang sendu serta raut wajah yang lesu, samar-samar pandangannya tertuju pada sosok yang tengah berlari mendekat kearahnya, Romi mengenali sosok itu, dan semakin jelas ketika sosok itu berdiri di hadapannya, dengan nafas tersengal serta raut wajah yang terlihat panik, cemas dan sedih. Semua bersatu di wajah itu.


"Rom!!


ucapan disertai tatapan sendu itu, sudah bisa terbaca oleh Romi.


Romi langsung berlari secepat kilat, tatkala pikiran buruk terlintas di benaknya. Romi sudah berlari secepat mungkin, namun entah kenapa dia merasa koridor rumah sakit terlalu panjang, Romi terus dan terus berlari sambil menyeka kasar air matanya yang entah sejak kapan mengalir begitu deras membasahi pipinya.


...****************...


Riko berjalan lunglai menuju sebuah ruangan dimana istrinya berada. Langkahnya terhenti di depan pintu berwarna coklat. Ada keraguan, kecemasan, kesedihan di wajah itu. Apakah dia harus memberi tahu mereka tentang ini? bagaimana caranya? pertanyaan itu yang mengganggu pikirannya sejak tadi. Namun, mereka berhak tahu!! pikirnya lagi.


Menenangkan diri sejenak sebelum akhirnya dia membuka pintu itu. Namun, belum sempat seluruh tubuhnya melewati pintu itu, mamanya menghampirinya.


"Bagaimana nak? tanyanya tanpa basa basi. Riko tidak langsung menjawab, pandangannya tertuju pada wanita berparas cantik tengah duduk di atas brankar rumah sakit, terlihat wanita itu sedang menyusui putra mereka yang lahir. Netra wanita itu juga menatapnya penuh tanya.

__ADS_1


"Rik!! ucapan dibarengi goncangan pelan di lengan kanannya berhasil menyadarkannya.


Riko menatap lekat netra wanita berstatus ibunya itu. Dengan perasaan sedih Riko menggeleng lemah.


Ayu termangu sejenak sebelum akhirnya dia berlari meninggalkan ruangan itu. Indra yang sudah mengerti situasinya pun mengikuti istrinya.


Tiga manusia yang tersisa di ruangan itu, merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi. Mereka pun kompak menatap pria yang masih termangu di tempatnya.


"Ada apa? kenapa mamah sama papah tiba-tiba berlari!?" pertanyaan Citra disertai dengan tatapan menuntut penjelasan.


Riko melangkah mendekati istrinya. Sementara wanita paruh baya yang berdiri di samping Citra langsung mengambil alih cucunya yang berada di pangkuan Citra.


"Ada apa!? apa yang terjadi!? kenapa wajah kamu terlihat sangat sedih!? kenapa mamah sama papah tiba-tiba pergi!? mereka kemana!? Pertanyaan bertubi-tubi itu keluar begitu saja menghujani Riko yang saat ini duduk di atas brankar di samping Citra.


"Sayang!! ucap Riko lirih sambil meraih tangan istrinya dan menggenggamnya kuat.


Citra semakin yakin memang saat ini terjadi sesuatu, tatkala dia menyentuh kulit Riko terasa sangat dingin.


"Jawab aku!! tuntut Citra lagi.


Sementara kedua orang tua yang ternyata adalah orang tua Citra hanya menyaksikan anak dan menantunya itu. Sambil Ratna menggendong cucunya, jujur saja mereka juga penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak tahu apa-apa karena memang mereka baru saja tiba 20 menit yang lalu.


"Kenapa kamu diam!! jawab aku!! ada apa!! Citra menyentak saat Riko masih belum menjawabnya.


Riko meneteskan air matanya bersamaan dengan genggamannya menguat, membuat Citra semakin merasakan dingin di tangan suaminya.


"Ada apa!? Tolong jawab aku!?" kali ini Citra memohon dengan tatapan sendu karena melihat suaminya meneteskan air mata.


"Silfa meninggal!!" Riko berucap lirih setelah beberapa saat yang lalu kalimat itu hanya menggantung di tenggorokannya.


Citra termangu sejenak sebelum akhirnya dia merasakan sesak di dadanya, lidahnya keluh beberapa saat tak mampu berucap. Otaknya masih berusaha mencerna, sedangkan hatinya menolak perkataan Riko barusan.


"Kamu itu ngomong apa sih? haa! Tolong jangan bercanda sayang, ini itu masih terlalu pagi untuk kamu bercandain aku." ucapnya lirih dia berusaha menolak, namun air matanya mengalir deras.


Riko menggeleng pelan "Aku ngga bercanda sayang!!" ucapan Riko terdengar begitu lirih.


Detik itu juga tangis Citra pecah saat mendengar kalimat suaminya itu, Riko yang tidak tega langsung menarik istrinya ke pelukannya.


"Sayang, bilang sama aku kalau itu tidak nyata, itu tidak benar!! Citra memukul-mukul dada suaminya, masih berusaha menolak apa yang barusan dia dengar.


Bagaimana bisa hatinya dengan mudah menerima berita buruk itu, sementara baru kemarin pagi dia berbicara dengan Silfa melalui panggilan video, mereka tertawa bersama, lalu kenapa saat ini dia harus menangisi sahabat yang sudah seperti saudaranya itu.


Tubuh Citra bergetar sangat hebat saat dia tiba-tiba mengingat hal itu, isakannya semakin dalam. Sementara Riko hanya bisa merengkuh kuat tubuh istrinya ini, dia sudah tau jika ini akan terjadi pada istrinya.


Ratna dan Bram juga ikut menangis, tidak mungkin mereka baik-baik saja di saat wanita yang sudah mereka anggap seperti anak kandungnya sendiri pergi untuk selamanya.


...****************...


Jika, mereka yang bukan siapa-siapa saja bisa sesakit itu saat kehilangan Silfa, lalu bagaimana lagi dengan Romi yang sejatinya adalah pasangan hidupnya, kekasih hatinya, belahan jiwanya.


-tbc-

__ADS_1


...Hey apa kabar readers? masih ada yang setia menunggu kelanjutannya. Sebelumnya mau tanya nih? di extra part ini kalian paling nunggu partnya siapa? dan paling greget sama siapa? hayooohhhh di jawab di kolom komentar yah....


__ADS_2