Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Empat Tiga "TSJC"


__ADS_3

Bandara Soekarno Hatta



Citra dan Riko sudah berada di bandara sejak pukul 7 pagi, setelah ada pemberitahuan bahwa pesawat mereka akan berangkat, mereka pun menuju pesawat dan naik ke pesawat.


Di dalam pesawat Citra dan Riko mencari tempat duduknya, setelah Riko mendapat tempat duduknya diapun duduk, sementara Citra yang sangat bersemangat masih sibuk melihat-lihat setiap sudut pesawat sambil memotretnya.


Tiba-tiba seorang pramugari menghampirinya. Citra kemudian mengajak pramugari itu berfoto, setelah berfoto pramugari itu meminta tiket Citra, tapi Citra yang sudah tidak fokus dia mengira pramugari itu ingin melihat foto mereka, lalu Citra memperlihatkannya.


"Bukan itu, tapi tiket." ucap pramugari itu lembut.


"Ahhh, tiket. ini?" ucap Citra lalu menyerahkan tiketnya dan pramugari itu hanya tersenyum dan mengambil tiket Citra.


Riko hanya menatap tingkah Citra sambil geleng-geleng kepala.


"Kursi anda disini." ucap pramugari itu menunjukkan kursi Citra tepat di samping Riko.


"Terima kasih.. ahhh salah. Khamsahamnida." ucap Citra mengubah bahasanya berbicara ala korea karna dia hendak ke korea.


Pramugari itu hanya tersenyum ke arah Citra, karna menurutnya Citra sangat lucu, Citrapun membalas senyuman pramugari itu.


"Jika butuh sesuatu, panggil saya." tawar pramugari itu lagi.


"Nee." ucap Citra antusias menggunakan bahasa korea lagi.


Pramugari itu kemudian meninggalkan Citra sambil senyum ke arah Riko juga dan Riko membalasnya.


Riko kemudian menatap Citra geli, Citra kemudian berbalik dan menatap Riko, Riko segera memalingkan wajahnya dari Citra.


"Ihh kok kak Riko duduk disitu sih." protes Citra karna Riko duduk di samping jendela.


"Ini kan memang kursi aku." ketus Riko.


Citra kemudian duduk dengan raut wajah kesal.


"Ngga peka banget sih, ngga bisa apa dia bilang aja, oh kamu mau duduk disini, kita tukaran, harusnya dia bilang kayak gitu.." gumam Citra mengomel menyindir Riko.


Riko mendengar sindiran Citra membuat dia serba salah.


"Lagian kan dia udah sering naik pesawat, apa salahnya sih di mengalah kali ini. gerutu Citra lagi.


Citra masih terus mengomel dan membuat Riko semakin tidak tahan mendengar omelan Citra yang dari tadi menyindirnya.


"Ok,, apa kamu mau tukaran tempat." ucap Riko tiba-tiba


Citra terkejut dengan perkataan Riko kemudian berbalik ke arah Riko.


"Aku mauu." ucap Citra refleks dan segera berdiri agar Riko bisa keluar dari tempat duduknya.


"Cepetan.." ucap Citra tidak sabaran untuk segera duduk di dekat jendela.


Setelah Citra duduk di dekat jendela dia merasa puas.


"Kak Riko baik deh." ucap Citra berbalik ke arah Riko memuji Riko.

__ADS_1


Riko hanya melirik sinis Citra dan mendengus tidak percaya, karna baru aja Citra selesai mengata-ngatainya.


Di dalam pesawat Citra sibuk memotret pemandangan dari luar pesawat.



Sementara Riko sudah tertidur karna kelelahan, semalam dia begadang menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum berangkat ke Korea.


Tifak lama kemudian Citra juga tertidur setelah memotret, karna semelam juga dia tidak bisa tidur memikirkan liburannya ke korea.


Setelah 6 jam penerbangan mereka, Riko terbangun karena pengumuman di dalam pesawat yang mengatakan pesawat sebentar lagi mendarat dan diharapkan penumpang untuk mengenakan sabuk pengamannya.


Setelah Riko selesai memasang sabuk pengamannya, dia kemudian melirik Citra yang sedang tertidur dengan posisi membungkukkan badan dan belum mengenakan sabuk pengamannya.


Riko kemudian memperbaiki posisi tidur Citra dengan menyandarkannya di sandaran kursi, lalu memasangkan sabuk pengaman Citra.


Setelah memasang sabuk pengaman Citra, Riko menatap wajah Citra lalu leher Citra yang mulus membuat Riko menelan ludah.


Riko menyadarkan pikiran kotornya lalu kembali bersandar di kursinya, sambil sesekali melirik Citra.


Tidak lama kemudian pesawat pun mendarat, Riko dan Citra kemudian masuk ke dalam bendara.


Dia sedang menunggu seseorang yang sudah di tugaskan mamanya untuk menjemput dia di bandara.


Tidak lama kemudian seseorang menghampirinya dan menyapa Riko dan Citra menggunakan bahasa Inggris, lalu mereka pun menuju tempat penginapan yang juga sudah di siapkan mamanya.


Dalam perjalanan menggunakan mobil Citra kembali tertidur, karna dia masih sangat mengantuk, Citra bersandar di pundak Riko tanpa sadar dan Riko hanya membiarkannya.


Setelah 1 jam perjalanan dari bandara menuju penginapan, akhirnya mereka pun tiba di penginapan, salah satu penginapan tradisional yang ada di korea.


"Istri kamu cantik." ucap Ajumma menggoda Riko dengan menggunakan bahasa korea.


Riko hanya tersenyum, kemudian Riko meminta di tunjukkan kamarnya dimana, lalu ajumma itu mengantar Riko ke kamarnya sambil mengobrol ringan.


Riko sudah mengenal dengan pemilik penginapan tersebut, karna pemilik tersebut adalah sahabat mamanya, mereka sudah sering menginap di tempat itu saat keluarga Riko sedang berlibur ataupun Riko sedang perjalanan bisnis di Korea.


Citra sudah tidak memperdulikan mereka lagi, sekarang dia berada di dunianya sendiri, dia berkeliling di rumah itu sambil terus memotret, tiba-tiba ada tempat yang membuat dia tertarik dan dia ingin berfoto, tapi tidak ada yang memotretnya, dia kemudian menuju ke kamar untuk meminta Riko memotretnya, tapi Riko tidak merespon sama sekali, Riko terus saja menutup matanya berbaring diatas tempat tidur.


Citra terus mengguncang tubuh Riko, tapi tetap saja Riko tidak perduli.


Citra kemudian meninggalkan Riko dengan wajah kesal.


"Ngapain juga minta tolong sama es batu." gerutu Citra kesal sambil berjalan menuju tempat tadi.


Citra kemudian selfie sendiri, sambil menggunakan pose imut.


Skip..


Indah terlihat sedang fokus membaca buku di perpustakaan, tiba-tiba Doni menghampirinya dan duduk di depan Indah.


"Hayy.." sapa Doni


"ehh kak Doni." ucap Indah terkejut dengan kedatangan Doni.


"Kamu lagi ngerjain tugas?" tanya Doni.

__ADS_1


"Iya kak, aku lagi ngerjain tugas Sosiologi Hukum." ucap Indah.


"Masih lama?" tanya Doni lagi.


"Hmm, bentar lagi selesai kok kak." ucap Indah.


"Kak Doni sendiri, ngapain ke perpus?" tanya Indah.


"Aku lagi minjem buku, buat referensi tugas akhir aku." ucap Doni.


"Terus pinjemnya udah selesai?" tanya Indah lagi.


"Iya." ucap Doni singkat sambil terus menatap Indah.


"Terus kak Doni ngapain masih disini?" tanya Indah lagi tanpa melihat Doni yang terus memperhatikannya.


"Aku lagi nungguin kamu." ucap Doni.


Indah terkejut mendengar perkataan Doni lalu menatap Doni, Indah menjadi salting saat dia melihat Doni sedang menatapnya.


Indah kemudian menutup bukunya lalu berdiri hendak pergi.


"Udah selesai?" tanya Doni lagi.


"Iya kak." ucap Indah.


"Kamu udah mau pulang?" tanya Doni lagi dan Indah hanya mengangguk.


Doni segera meraih pergelangan tangan Indah dan menarik Indah keluar perpus.


"Aku anterin kamu pulang." ucap Doni sambil menarik Indah.


Tiba di depan perpus Indah melepaskan genggaman Doni, dia merasa tidak enak karena semua mata sudah melihatnya.


"Kak Doni ngga usah anterin aku, aku bisa pulang sendiri." ucap Indah sopan.


Doni menyadari kalau Indah merasa canggung karena tatapan semua mahasiswi yang ada di perpustakaan.


Doni kemudian meraih pergelangan Indah lagi tapi Indah melepaskannya lagi.


Di sisi lain Kevin melihat perlakuan Doni kepada Indah, Kevin pikir kalau Doni hendak berbuat jahat sama Indah.


Kevin segera menghampiri Indah dan menarik Indah meninggalkan Doni, Indah terkejut dengan tindakan Kevin yang tiba-tiba.


Doni hanya melihat mereka pergi.


"Bukan rejeki lo Don, sabar." batin Doni yang ternyata ingin berusaha dekat dengan Indah.


Kevin masih terus menarik tangan Indah menuju parkiran kampus.


Kevin berhenti menarik Indah saat sudah tiba di parkiran kampus.


"Ada apa Vin?" tanya Indah khawatir.


"Ada yang mau aku omongin, kamu masuk." perintah Kevin lalu masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Indah pun masuk ke dalam mobil Kevin, lalu Kevin pun melajukan mobilnya.


__ADS_2