Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Delapan Delapan "TSJC"


__ADS_3

Riko sudah selesai meeting dengan kliennya, Setelah menandatangani kerja sama mereka. Riko pun bersalaman dengan kliennya lalu diapun pergi.


Riko masih berada di ruang rapat sambil memeriksa ponselnya, Riko kemudian melihat pesan Citra.


My Wife : "Aku kangen 😭"


Riko tersenyum membaca pesan Citra, dia kemudian memeriksa lokasi Citra dan lokasi Citra sedang berada di kampus.


Riko berniat untuk pergi menemui istrinya sekalian bertemu dengan dosennya, untuk memastikan kapan tepatnya kampus mengadakan wisuda.


Riko kemudian memanggil Silfa dan juga Romi untuk masuk ke dalam ruang rapat.


"Iya pak." jawab Silfa dan Romi bersamaan dan membuat mereka saling tatap selama beberapa detik.


Lalu merekapun masuk ke dalam ruang rapat secara bersamaan juga membuat mereka bertabrakan saat diambang pintu, itu kembali membuat mereka berdua salah tingkah. Riko mengangkat sebelah alisnya saat memperhatikan tingkah mereka yang terlihat canggung satu sama lain.


"Lo duluan." pinta Romi mengalah dan mempersilahkan Silfa masuk. Silfa pun masuk dengan wajah datarnya.


"Ada apa pak?" tanya Silfa kepada Riko.


"Siapa yang akan saya temui lagi hari ini?" tanya Riko.


"Selanjutnya bapak akan bertemu dengan Pak Danur salah satu pengusaha properti yang ada di Jakarta pak, dan hari ini kita hanya perlu menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan mereka pak." jelas Silfa.


"Jadi cuma tandatangan kontrak?" tanya Riko lagi.


"Iya pak." jawab Silfa.


"Bagus, kalau begitu sekarang kalian berdua pergi menemui pak Danur, biar Romi yang menandatangani kontrak itu." pinta Riko.


"Hanya kita berdua yang pergi pak?" tanya Silfa lagi.


"Iya, kamu dan Romi, sekarang kamu urus surat kontrak kita, setelah itu kalian berdua temui mereka." jelas Riko lalu hendak pergi.


"Tapi pak,, apa ngga sebaiknya biar pak Romi aja yang pergi sendiri." ucap Silfa membuat Romi sedikit kecewa karna tadinya dia sangat senang karna disuruh Riko untuk pergi bersama Silfa.


"Aku mohon Rik." batin Romi berharap agar Riko menyuruh Silfa untuk pergi dengannya.


"Ngga bisa, kamu harus pergi dengan Romi, kamu kan sekretaris aku dan Romi asisten pribadi aku, jadi kemanapun aku pergi kamu harus ikut, nah begitu halnya dengan Romi karna dia asisten aku yang menggantikan posisi aku saat aku berhalangan." jelas Riko lalu meninggalkan mereka menuju parkiran untuk ke kampus menjemput istrinya yang juga sudah sangat dia rindukan.


Romi dan Silfa masih diam di ruang rapat.


"Ngapain lo diem, lo ngga denger yang Riko bilang, dia nyuruh lo nyiapin surat kontrak." ketus Romi lalu keluar dari ruang rapat.


Silfa hanya mendengus kesal mendengar perkataan Romi, lalu diapun mengikuti Romi keluar dari ruang rapat.


*********


Citra sedang duduk di bawah pohon dekat lapangan basket. Citra masih terlihat kesal dengan perkataan Anton yang mengatakan kalau dia gendut.

__ADS_1


"Apa aku gendut." gerutu Citra kesal sambil memperhatikan dirinya, dia kemudian menepuk-nepuk pipinya yang tembem, dan dia pun menyadari kalau ternyata memang dia sedikit gemukan.


"Apa karna aku kebanyakan tidur." gumam Citra lagi sedikit sedih.


"Ok, mulai sekarang aku ngga akan banyak tidur lagi." gerutu Citra lagi memberi saran kepada dirinya sendiri.


Dia komitmen untuk tidak banyak tidur lagi, tapi baru beberapa menit dia mengucapkan hal itu, dia sudah melanggarnya.


Citra tertidur di sebuah kursi panjang di bawah pohon sambil kepalanya dia sandarkan di sandaran kursi.


*******


Riko yang sudah selesai bertemu dengan dosennya, dan bertanya mengenai kapan tepatnya wisuda akan di adakan dan dosennya mengatakan bahwa wisuda akan dilaksanakan besok lusa.


Riko pun berjalan menuju ruangan Citra, untuk mencari Citra tapi dia tidak menemukannya. Riko kembali mengecek lokasi Citra dan menunjukkan dia berada di dekat lapangan basket.


"Ngapain dia disitu." gumam Riko lalu mencoba menelfon Citra, tapi Citra tidak mengangkat telfon Riko karna dia sedang tidur.


Rikopun bergegas menuju lokasi dimana Citra berada, karna Riko khawatir kalau terjadi sesuatu dengan Citra apalagi kalau sampai Citra tidur disitu.


"Kak Riko." sapa Mita saat tidak sengaja berpapasan dengan Riko. Riko hanya tersenyum kaku ke arah Mita sambil terus berjalan menuju lokasi Citra.


Mita kemudian menatap sinis punggung Riko yang sudah jauh.


"Dasar es batu." gumam Mita kesal, masih menatap arah Riko.


"Eh kak Doni, ngga kok kak, aku ngga butuh es batu." ucap Mita dengab nada lembut saat mengetahui bahwa itu adalah Doni.


"Terus, kamu lagi liatin siapa?" tanya Doni lagi sambil menatap arah yang tadi Mita tatap.


"Ngga ada kok kak, ya udah aku duluan yah kak." ucap Mita lagi sambil terus menatap Doni dengan tatapan aneh.


"Kamu mau kemana?" tanya Doni lagi.


"Kesana.. ehh kesana, ehhh salah kesana.".ucap Mita bingung sambil menunjuk arah yang salah dan akhirnya menunjuk kearah parkiran.


"Ya udah kita bareng." tawar Doni menarik tangan Mita. Mita terlihat senang saat Doni memegang tangannya.


******


Riko sudah sampai di lapangan basket, dia terus mencari-cari keberadaan Citra. Riko kemudian mencari Citra di barisan penonton yang semuanya terdiri dari wanita yang sedang bersorak-sorak tidak jelas.


"Dia tidak mungkin ada disana." gumam Riko tidak mempercayai istrinya berada diantara penonton, karna Riko kenal dengan kondisi istrinya yang selalu mager dan hanya ingin tidur.


"Dia dimana sih." gumam Riko khawatir karna dia tau istrinya pasti sedang tidur.


Saat mata Riko sibuk mencari-cari keberadaan Citra, tiba-tiba Arman melempar bola kearah Riko, dan Riko refleks menangkap bola itu lalu menatap tajam Arman yang memang sengaja melemparkan bola kearahnya.


"Lo ngapain disini?" tanya Arman penasaran dengan keberadaan Riko yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Gue lagi nyari Citra." ucap Riko datar.


"Oh Citra.. itu dia disana." ucap Arman sambil menunjuk ke arah pohon yang dibawahnya ada Citra yang sedang tidur.


Riko langsung melempar bola basket itu dan berlalari menuju kearah Citra.


"Tuh anak bikin gue susah aja, bukannya bolanya di kasi ke gua, malah dilempar, kan gue susah ngambilnya lagi." gerutu Arman kesal sambil berjalan kearah bola yang sudah dilempar Riko.


Riko menatap Citra yang sedang tertidur pulas dibawah pohon, dan banyak mahasiswa dan mahasiswi yang lalu lalang melirik Citra sedang tidur.


Riko menghampiri Citra dan duduk disamping Citra untuk mencoba membangunkan Citra.


"Sayang." gumam Riko sambil mengelus pipi Citra dengan lembut.


Mahasiswi yang setingkat dengan Riko sedang lewat dan mendengar perkataan Riko yang memanggil Citra dengan kata sayang.


"Siapa perempuan itu, kenapa Riko memanggilnya sayang." bisik mereka sambil berjalan melewati Riko dan Citra.


Perlahan-lahan Citra mengeliat dan membuka matanya dan melihat Riko sudah berada didepannya.


"Kak Riko." ucap Citra tersenyum melihat Riko.


"Kamu kenapa tidur disini sayang." ucap Riko sambil merapikan rambut istrinya berantakan.


"Aku tidur disini?" ucap Citra heran,karna tadinya dia tidak ingin tidur.


Riko hanya mengangguk menjawab pertanyaan Citra.


"Ngga, aku ngga boleh banyak tidur." ucap Citra panik.


"Kenapa?" tanya Riko bingung.


"Banyak tidur membuat aku semakin gendut kak." ucap Citra lagi dan membuat Riko semakin bingung.


"Emang apa salahnya kalau kamu gendut sayang." ucap Riko mencoba menenangkan istrinya tapi kenyataannya.


"Kak Riko juga bilang aku gendut." gerutu Citra kesal dengan perkataan Riko.


"Ngga sayang, aku ngga bilang kamu gendut... cum..


"Berisi aja.. ketus Citra memotong perkataan Riko dengan kesal.


"Ngga sayang.. bukan gitu." ucap Riko membela dirinya.


"Udah, kak Riko sama aja kayak kak Anton ngatain aku gendut." ketus Citra kesal lalu meninggalkan Riko.


"Anton... jadi penyebabnya Anton.." gumam Riko kesal kepada Anton, karna penyebab istrinya marah berawal dari Anton..


"Sayang." gumam Riko lalu mengejar Citra yang sudah berjalan jauh meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2