
Dalam kurun waktu satu minggu rumah Histi selalu ramai pengunjung.
Warga bergantian menjenguk wanita itu beserta anaknya.
Serkan sudah mulai bekerja,setiap hari selalu ada tetangga yang berbaik hati merawat anak istrinya,mulai dari masak hingga mencuci baju.
Seperti pagi ini,pria itu bersiap seorang diri,Histi sedang mandi air hangat begitupun anaknya dimandikan oleh Ibu Sania yang memang setiap pagi selalu hadir untuk memandikan bayi tersebut.
" Yankkkk " Panggil Histi.
" Iyaaa " Jawab Serkan dalam kamar.
" Sini dulu " Pekik Histi.
Serkan yang masih bertelanjang dada dengan cepat memasang kemeja nya.
" Ada apa ?" Tanya Serkan mendekati wanita itu.
" Air nya tambahin lagi dong " Ucap Histi bersimpit kain.
" Masih kurang ?" Tanya Serkan.
" Iya,rasanya lengket banget " Jawab Histi.
Serkan melihat penampilan istrinya,seketika pria itu menelan ludah kasar melihat badan mulus Histi yang tercetak terkena kain basah.
" Yank " Panggil Histi melambaikan tangan.
" hah em ya ?" Tanya Serkan tersadar.
" Air Yank " Kata Histi malas.
" Iy ya ini aku ambil lagi " Balas Serkan langsung berbalik badan.
" Ada apa sama dia,pagi2 udah melamun " Kata Histi heran.
Serkan mengambil air dikompor uniknya,setiap pagi menjelang subuh lelaki itu sudah sangat sibuk mengurus keperluan Histi ditambah anaknya selalu begadang dan bangun pagi membuat pasangan itu kelelahan menjaga.
Selesai mandi,Serkan juga memasangkan baju ke tubuh Histi,meski bingung dengan banyaknya kain yang tak ia temui di kota tapi lelaki itu tetap melakukan perintah yang diutus langsung oleh si Mbah agar badan istrinya tetap bagus.
" Udah Yank,nih aku pakein bedak dulu " Kata Serkan keluar mengambil bedak bayi anaknya.
Histi hanya diam memperhatikan lelaki tersebut.
" Waaah anak Papa udah ganteng " kata Serkan melihat bayinya udah siap..
Ibu Sania tersenyum seraya memasangkan atribut seperti kaos kaki dan tangan untuk bayi itu.
Serkan membawa bedak anaknya dan mulai merias Histi.
" Aku merasa kayak anak bayi juga Yank " Kata Histi terkekeh.
" Iya bayi gede " jawab Serkan tersenyum.
" Kamu siang pulang gak ?"
" Kayaknya pulang deh,gak bawa nasi soalnya " Jawab Serkan.
" Maaf ya gak bisa layanin kamu " Kata Histi menunduk.
" Iya gak papa " Balas Serkan lembut.
__ADS_1
Keduanya berjalan keluar,Histi pun duduk disinggasana bersama sang anak.
" Udah selesai Bu ?" tanya Histi.
" Udah,tinggal kamu susuin aja " Jawab Ibu Sania.
" makasih ya Bu,selalu merepotkan Ibu " Kata Histi menggaruk kepala.
" Iya gak papa " jawab ibu Sania ramah.
" Oh iya nanti ibu masak dirumah aja ya,terus siang Sania yang bakal jaga kamu soalnya ibu mau ke sawah nemenin bapak " Jelas ibu Sania.
" Iya Bu " Balas Histi paham.
Serkan diam memperhatikan,meski mereka orang asing dikampung tapi warga disana begitu baik dan ramah.
Semakin hari berlalu Serkan sudah bisa menerima keadaan hidup mereka yang penuh kesederhanaan.
Pria itu pamit pergi bekerja,tapi saat ingin turun dari rumah,Serkan melihat seekor anak anjing yang menatap dirinya didepan pintu.
Serkan diam memperhatikan,binatang itu pun mendekati Serkan.
" Apa ?" tanya Serkan memainkan alis.
Hewan itu terus menatap Serkan dengan wajah melas,Serkan memperhatikan tubuhnya dan mulai paham..
" Kamu lapar ?" Tanya Serkan tenang.
Anak anjing itu diam masih memperhatikan.
" Tunggu bentar ya " kata Serkan berbalik badan masuk kerumah lagi..
" Kenapa Yank ?" Tanya Histi mengernyit melihat Serkan balik.
" Ada dibelakang,buat apa ?" Tanya Histi.
Lelaki itu tak menjawab dan kembali melangkah.
" Serkan kenapa ?" tanya Ibu Sania.
" Gak tau " Jawab Histi memasang wajah bingung.
Serkan keluar lagi membawa nasi dan lauk sisa semalam.
" Buat siapa Yank,itu dah basi " Kata Histi melotot.
Serkan hanya tersenyum saja tanpa bicara.
Lelaki itu keluar rumah dan benar saja anak anjing tadi menunggu si pemilik rumah berbaik hati kepadanya.
" Ayo sini " kata Serkan menuju semak2.
Hewan itu mengikuti Serkan dan mulai makan nasi dan lauk sisa tersebut.
" Maaf ya cuma bisa ngasih ini,kami gak ada lagi yang bagus istri ku belum bisa masak sekarang " Ucap Serkan berjongkok melihat anak itu makan dengan lahap.
Setelah selesai Serkan pun mulai pergi bekerja..
Ntah mengapa kini Serkan merasa begitu sensitif,ia kini mulai tau rasanya jadi orang tak punya.
Dulu saat hidup dikota,pria tersebut begitu cuek dengan keadaan sekitar bahkan untuk pengemis sekalipun Serkan sering merasa risih tapi kini sejak hidup diperdalaman dengan banyak kekurangan membuat jiwa sosial Serkan membara.
__ADS_1
Serkan merasa hidupnya kini lebih berwarna,ditambah ucapan mbah dukun yang meminta dirinya banyak2 sedekah agar nanti sang anak tidak menjadi orang yang kikir.
Siang harinya keadaan rumah mulai sepi,jam rawan mulai mendekat membuat Histi mengantuk.
Hanya ada ibu dan anak itu saja,hari ini tak banyak kunjungan hanya ibu rt yang membawakannya buah rambutan sekantong.
" Huh sepinyaa " gumam Histi merentangkan tangan.
Tak banyak yang bisa ia lakukan,bayangkan saja disana tak ada hape dan listrik untuk menghibur.
Suasana pun senyap,Sania belum pulang sekolah.
" Sutar gimana kalo kita keluar aja,Mama butek nih " Kata Histi menegur anaknya yang belum terpejam.
Bayi itu diam melihat atas mengerjab pelan.
" Nanti kalo Mama tidur bisa gawat,ntar bangun2 kamu hilang " Ucap Histi ngeri.
Bayi itu masih diam dengan gerakan kecil.
Karna lelah juga dan matanya begitu berat,Histi pun mengangkat anak itu membawa keluar rumah.
" Uhhhh nyamannya " Gumam Histi menghidup udara.
" Gimana sayang,disni lebih enakan kan " Kata Histi tersenyum.
Bayi itu tersenyum kecil seolah setuju dengan perkataan ibunya..
Kedua berjalan pelan mondar mandir sambil Histi menyanyikan lagu untuk memberatkan mata anaknya.
Tiba2 suara anjing menggonggong dengan keras dari bawah rumah Histi.
Wanita itu kaget melihat anak anjing mengejar sesuatu kebelakang rumah.
" Oeeekkkk oeeekkkkk " Anak Histi langsung menangis bersamaan.
" Cup cup cup sayang,ada apa Nak ?" tanya Histi langsung panik.
Bayi itu terus menangis,suara anjing pun terus menggonggong masuk semak2.
" Duh2 gimana ini " kata Histi panik sendiri.
Angin berhembus sedikit kencang,karna takut terjadi sesuatu,Histi pun langsung masuk kerumah menyelamatkan diri.
Ditempat lain,sepasang anak manusia bersembunyi dibalik pagar sebuah rumah.
Hari ini Samuel menganjak Winda berkunjung kerumah orang tuanya.
Lelaki itu sudah bertekad untuk pulang,Samuel tak mau lagi bersembunyi apalagi ia melihat langsung bagaimana paniknya Winda saat bermimpi malam tadi.
Malvin dan Sindi tak bisa lagi menahan,karna semakin mereka bersembunyi maka nasib Romi juga tak akan selamat.
" Kamu siap ?" tanya Winda melihat lelaki itu.
" Aku pastikan semua akan baik2 saja !" kata Samuel tegas.
Winda menunduk,badan gadis itu sudah sangat dingin dan pucat,Winda tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
" Ayo !" Kata Samuel berdiri tegak.
❤❤❤❤
__ADS_1
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.