
Suara berat motor itu berhasil mengusik aktivitasnya lagi, suara motor yang menggema diluar halaman rumah bahkan sampai ke dalam rumah.
Gadis ber gigi ginsul itu sudah mengenal suara motor siapa itu, karena baru tadi pagi dia mendengarnya, sekarang terdengar lagi. Tentu saja dia mengenalnya. Itu adalah motornya Arman sahabat Doni kakaknya.
Dengan ekspresi bingung, dia masih berfikir. Kenapa pria itu datang kesini lagi? ada perlu apa? pikirnya.
Tidak mungkin dia pulang bersama Doni, karena baru 10 menit yang lalu Doni mengabarinya bahwa dia pulang agak sore. jadi untuk apa dia kesini lagi?
Tubuhnya terkesiap saat suara bel berbunyi membuat dia tersadar dari pikirannya. Tidak butuh waktu lama diapun melesat pergi membuka pintu untuk Arman.
"Haiii!! sapanya berusaha ramah, setelah melihat wajah cantik Dian berdiri di depannya dan hanya dibalas senyum kaku dari Dian.
Karena merasa canggung, Arman langsung menyodorkan sebuah bungkusan plastik yang berisi makanan ke arah Dian.
Tidak langsung mengambilnya, Dian malah terlihat berfikir.
"Tangan aku pegel iniiii!!! cetusnya berhasil membuat Dian tersadar dari pikirannya dan refleks mengambil bungkusan itu.
"Ini apa kak?" Tanyanya penasaran.
"Makanan." Cetusnya lagi.
"Buat siapa kak?"
Kening Arman mengerut heran mendengar pertanyaan polos Dian.
"Yah buat kamu lah, emangnya disini ada orang lain selain kamu."
"Tapi_
"Itu dari Doni! Sergahnya cepat memotong ucapan Dian yang sepertinya ingin menolak, kening Dian kembali mengernyit.
"Tadi Doni nelfon aku, katanya dia pulangnya agak sorean, jadi dia ngga sempat beliin kamu makanan, makanya dia nitip ke aku." jelasnya membuat Dian manggut manggut paham.
"Tapi, kamu lagi ngapain sih di rumah?" tanya Arman lagi saat dia melihat wajah cantik gadis itu dipenuhi bulir bulir keringat.
Tubuh Dian terkesiap mendengar pertanyaan Arman lagi, sebenarnya dia masih sedikit takut dengan pria asing di depannya ini, bukan tanpa alasan, dia baru mengenalnya tadi pagi, tapi kenapa pria ini bertingkah seolah mereka sudah kenal lama. Jadi dia belum sepenuhnya percaya pada pria bernetra abu-abu ini.
"Kamu ngga usah takut sama aku. aku pria baik-baik, kamu itu adik dari sahabat aku, itu artinya kamu juga adik aku. aku ngga akan menghancurkan persahabatan aku sama kakak kamu, dengan menyakiti adiknya." Jelasnya saat menyadari ekspresi wajah Dian yang seperti takut kepadanya.
Memangnya ada apa dengan wajahku, kenapa dia takut? perasaan aku ini tampan, sangat tampan malahan. pikirnya kepedean.
Mendengar ucapan Arman barusan membuat Dian sedikit tenang dan mencoba percaya.
"Jadi kamu lagi ngapain, kamu keringetan banget?" tanyanya lagi.
"Aku ngga melakukan hal yang penting kok kak, aku cuma pengen nonton TV aja, tapi ngga nyala, aku udah coba colokin ke colokan listrik, aku cabut, aku colokin lagi, tetap ngga nyala Kak." tuturnya panjang lebar.
"Mungkin colokan listriknya koslet atau rusak." ucap Arman lagi dan Dian hanya mengedikan bahu tanda tak tahu.
"Coba aku liat." Cetusnya bersamaan dengan langkah panjangnya yang langsung menerobos masuk ke dalam rumah, membuat Dia terkesiap, refleks pintu terbuka lebar karena tubuhnya terdorong kebelakang yang bersandar di pintu, beberapa menit dia masih termangu di tempatnya berdiri.
Dian mendelik heran saat Dian sudah berada di ruang tamu dan mendapati Arman sedang menyervis colokan listrik itu. Dan yang membuat Dian semakin heran adalah dengan sebuah wadah persegi panjang tempat kunci-kunci itu tersimpan sudah berada di sisi kiri Arman.
Dari sini Dian bisa mengambil kesimpulan, bahwa persahabatan antara Doni dengan Arman memang sangat dekat, buktinya Arman tau letak benda itu tersimpan, sementara dia yang sejak pagi membereskan rumah ini tidak melihat benda itu sama sekali.
"Nah, Udah selesai!! seru Arman setelah selesai dengan aktivitasnya, mendengar itu Dian tersenyum bangga, namun Arman tak melihat senyum itu, bisa kepedan lagi dia nanti.
"TV nya udah nyala tuh." serunya lagi seraya menunjuk kearah layar TV tapi pandangannya ke arah Dian.
Dahi Dian mengernyit saat melihat tampilan TV itu, yang hanya menampilkan gambar bintik hitam dan putih, menyadari ada yang salah dengan ekspresi Dian, Arman pun mengarahkan pandangannya ke arah TV.
"Wah, sepertinya TVnya sudah ru_
Kalimat Arman terputus bersamaan dengan perubahan ekspresi wajahnya heran, matanya terbuka lebar mulutnya mengaga, tatkala dia melihat Dian memukul-mukul bagian atas TV itu.
"Nah,, sekarang udah nyala." Seru Dian setelah dia berhasil menampilkan gambar sebenarnya di layar TV itu dan sebuah iklan sedang tayang.
Detik itu juga Dian menatap Arman dengan menampilkan senyum polosnya, dan Arman hanya ber haha hehe menanggapi Dian. Padahal batinnya sudah merutuki perkataan Doni tadi pagi. Katanya sepupunya ini polos, kenyataannya bar-bar juga. batinnya
Setelah selesai dengan aktivitasnya, akhirnya Arman berpamitan untuk pulang, dan Dian mengantarnya lagi hingga halaman rumah.
"Aku pulang dulu yah, itu jangan lupa makanannya di makan dan di habisin!" cetusnya lalu memakai helmnya, Dian hanya mengangguk pelan mengiyakan.
"Makasih juga karena kak Arman udah mau repot anterin ke rumah." tuturnya lembut dan Arman hanya mengangkat jempolnya tanda tidak masalah, karena dia sudah menggunakan helm full facenya, jadi dia hanya bisa menggunakan bahasa tubuh, karena percuma dia ngomong tidak akan terdengar oleh Dian ditambah suara motornya yang keras.
__ADS_1
Detik berikutnya Arman menancap gas motornya.
"HATI-HATI!!" teriak Dian sekali lagi saat motor itu masih di halaman rumah, dan Arman hanya membunyikan klaksonnya sekali sebagai tanda iya.
Setelah kepargian Arman, Dian tersenyum. dia merasa Arman itu orang baik, dan penuh perhatian. Buktinya Arman inisiatif membeli makan siang untuknya dengan alasan bahwa itu adalah titipan dari Doni. Padahal saat tadi Doni memberinya kabar, dia meminta agar dia memesan makanan di gra*food saja.
Menghela nafas kasar, Dian merutuki dirinya yang tadi pagi sempat mengatai bahwa pria itu aneh dan sedeng.
Belum tau saja kamu, kalau Arman itu ada udang di balik batu :D
***
Suara derap langkah yang berjalan ke arahnya berhasil mengalihkan pandangan wanita cantik yang sedang hamil tua itu.
Tatapannya terus tertuju pada sosok pria tinggi nan tampan yang berstatus suaminya. Netra mereka bertemu tatkala jarak mereka semakin dekat dan refleks mereka saling melempar senyum manis.
Pria itu langsung mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut tatkala dia sudah berdiri tepat di samping sofa dimana istrinya duduk, sementara wanita hamil itu meraih tangan suaminya untuk salim.
"Gimana keadaan kamu sayang? apa perut kamu sudah tidak sakit lagi?" tanyanya sesaat setelah dia duduk disamping istrinya sambil tangan kirinya mengelus lembut perut istrinya, sementara tangan kirinya merangkul pundak istrinya.
Wanita berkulit putih pucat itu mengangguk pelan menjawab suaminya.
"Syukurlah." gumam pria itu merasa lega.
Memang sudah 3 hari berturut-turut perutnya sering sakit, menurut ARTnya itu adalah tanda-tanda kontraksi jika sang bayi sedang mencari jalan keluar. Dan benar saja, hal itu juga sudah dia konfirmasi ke dokter. Wanita yang usia kandungannya sudah 9 bulan itu memang sedang menunggu waktunya melahirkan. Kapan itu masih belum pasti. Menurut perhitungan dokter sih, waktunya kurang dari seminggu lagi, dan dokter itu mengatakannya seminggu yang lalu, berarti tersisa beberapa hari lagi.
"Gimana kerjaan kamu hari ini di kantor sayang?"
Pertanyaan Citra memecahkan keheningan sesaat.
"Lancar aja kok, seperti hari-hari biasanya." jawabnya dan Citra hanya berdehem pelan.
"Hari ini! hari pertama Doni kerja di kantor aku." perkataan suaminya itu berhasil membuat Citra berhenti sejenak melakukan aktivitasnya yang tengah mengunyah cemilan.
"Doni?" Beonya bingung.
Riko mengangguk pelan, lalu berkata "Sahabat aku!"
Bibir Citra membulat tanda paham.
Sementara Riko dahinya sudah mengernyit heran dengan pertanyaan istrinya itu.
"Siapa bilang dia udah nikah." Cetusnya.
"Bukannya dia ninggalin Mita karena mau nikah yah, Yang?"
"Iya. tapi pernikahannya batal." cetusnya lagi berhasil membuat Citra tersentak dan melepas posisi nyamannya yang tadinya bersandar di dada bidang suaminya, langsung duduk dengan tegak menatap Riko penuh tanya.
"Kok bisa?" Tanyanya tidak sabaran.
"Yah bisalah, kenapa ngga bisa coba!."
"Maksud aku itu, alasannya apa? kenapa?, humm." tanyanya antusias dan sangat penasaran.
Dahi Riko mengernyit saat melihat istrinya terlihat begitu penasaran tentang masalah ini, detik berikutnya kerutan di dahinya semakin jelas tatkala Citra memukul lengannya.
"Jawab!! tuntut Citra.
"Kok kamu jadi semangat, mau tau masalah ini sih?" tanyanya heran
"Yah pengen tau aja." ketusnya.
"Ngga usah dibahas, ngga penting.. Riko menjeda ucapannya membuat Citra bingung.
"Nanti kamu marah lagi sama aku!! kayak waktu itu kamu marah sama aku!! Kamu nuduh aku lebih ngebela Doni." Cercanya. Berhasil membuat Citra mendengus kesal.
"Situasinya waktu dengan sekarang itu beda!! cetusnya membela diri.
"Emang apa bedanya?"
"Waktu itu aku masih naif." ceritanya lagi membuat Riko tersenyum tipis.
"Ngaku juga akhirnya." gumamnya pelan, namun masih bisa terdengar jelas ditelinga Citra membuatnya mendapat pukulan di lengan dan tatapan sinis membuat Riko terkekeh.
"Ngga usah haha hehe, buruan jawab!!" ketusnya lagi.
__ADS_1
"Pernikahannya batal karena mamanya Doni meninggal sebelum pernikahan." jelasnya cepat.
"Batal!? karena mamanya meninggal!?" beonya masih belum mengerti.
"Iya sayang, karena perjodohan itu kan atas keinginan mamanya Doni." jelasnya lagi membuat Citra kini manggut - manggut paham.
"Harusnya dia nikah aja, walaupun mamanya sudah meninggal." gumamnya pelan tapi masih di dengar oleh Riko.
Dan Riko hanya melirik istrinya dengan alis terangkat. Yah ngga mungkin dilanjutlah!! Doni kan ngga cinta. batin Riko. Riko pun menggeleng pelan karena bingung dengan pikiran istrinya.
"Apa Doni tau kalau Mita ke LA?" tanyanya lagi antusias dengan cepat Riko mengangguk.
"Terus?"
Menghela nafas kasar, Riko fokus menghadap dan menatap istrinya. "Doni sedih karena kepergian Mita! Dia juga merasa bersalah udah nyakitin perasaan Mita." jelasnya,
"A_
Kalimat Citra tertahan dan kembali dia telan saat Riko kembali berbicara panjang lebar.
"Doni masih mencintai Mita, dia masih mengharap Mita kembali dan dia akan setia nungguin Mita sampai pulang ke Indonesia." Jelasnya lagi panjang lebar, karena dia tau pasti istrinya bertanya lagi.
"Aku sih ngga yakin, kalau Mita bakalan kembali sama dia!!" cetusnya.
"Tau dari mana?
"Perasaan aku aja sih." cetusnya membuat Riko mencebikkan bibir.
"Kalau menurut aku sih, Mita bakalan kembali ke Doni deh." Cetusnya juga.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Soalnya setiap wanita yang jatuh hati kepada Doni, sangat susah untuk move on."
Kalimat yang diucapkan suaminya itu membuatnya merasa kesal. Seperfect itukah Doni sampai susah untuk dilupakan, rutuknya dalam hati. "Tau dari mana?" Cetusnya mulai kesal.
"Yahhh, karna dia sahabat aku." kata Riko lagi yang berhasil mengundang kekesalan Citra.
"Aku sih 100% yakin Mita ngga akan kembali." balasnya tak mau kalah.
"Kenapa?" Riko masih meladeni istrinya karena masih belum sadar.
"Karena dia sahabat aku." Ketusnya dibarengi dengan dengusan kekesalan, membuat Riko mengeryitkan dahinya saat sadar ternyata istrinya mengikuti kalimatnya karena kesal.
"Tuh kan, aku bilang juga apa! kamu pasti bakalan marah lagi kalau membahas tentang masalah ini." Riko menjeda ucapannya saat melihat istrinya sudah cemberut.
"Katanya, waktu itu masih naif! terus sekarang apa? makin naif!?" Cercanya lalu tertawa mengejek, detik itu juga pukulan mendarat di dada bidangnya yang membuat dia mengadu kesakitan.
"Udah ahhh, ngga usah bahas orang lain." ucapnya menghentikan tangan Citra yang memukulnya.
"Mending kita bahas tentang kita aja!" sambungnya lagi.
"Emang mau bahas apa tentang kita?" tanyanya penasaran.
"Kita nambah anak lagi yah, setelah kamu ngelahirin." cetusnya berhasil membuat Citra semakin kesal.
"Ini aja belum keluar, kamu udah mau nambah lagi!!!"
Kalimat dari istrinya itu berhasil membuat Riko tertawa puas, karena berhasil menjahili istrinya.
Dan sekarang pukulan bertubi-tubi terus mendarat di dadanya tanpa henti, membuat Riko terus merintih kesakitan, tapi tidak dihiraukan Citra. Siapa suruh mempermainkannya. pikir Citra.
Karena tak mau berhenti, akhirnya Riko merengkuh istrinya dengan kuat agar tak bisa lagi memukulnya. Citra memberontak tapi tak mampu karena lengan kekar Riko sangat kuat, begitupun dengan bayi di dalam perut Citra menendang-nendang kuat hingga terasa di perut Riko.
"Kamu sedang nyelamatin bunda kamu yah!? tapi maaf sayang. Ayah sedang menyandera bundamu." Riko berbicara kepada bayinya yang menendang nendang, membuat Citra tersenyum lembut menatap suaminya.
-tbc-
...-Aduh harmonis sekali keluarga ini :),...
...author jadi iri deh-...
...tun**ggu kelanjutannya yah!!...
...Love you readers...
__ADS_1