
Dilarutnya malam seorang gadis termenung didepan sejadah setelah menyelesaikan solat tahajudnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam tapi gadis itu masih betah dengan manik terbukanya.
" Huuuuftttt " Helaan nafas kembali terdengar.
Tak terhitung berapa banyak nafas yang ia hembuskan malam ini,Winda merasa sesak dan butuh oksigen banyak untuk tetap hidup.
" Jika ini akan berakhir bahagia maka kuatkan aku Tuhan,dan jika ini berakhir tak seperti yang aku inginkan maka kuatkan aku dan orang tua ku juga untuk menerima semua yang engkau takdirkan " Ucap Winda lirih dengan tangan menadah didada.
" Aku tidak marah kepada mu karna menakdirkan aku hidup penuh dengan rintangan,aku tau engkau mempunyai maksud yang belum bisa aku pahami semuanya,aku berharap adik ku atau setelah ku tidak merasakan hal yang sama,saat ini aku begitu pasrah akan ketetapan mu,aku tidak tau lagi harus memohon kepada selain kepada mu pemilik alam ini "
" Jika Samuel memang engkau tetapkan untuk ku,menjadi belahan jiwa ku maka mudahkan jalan kami,aku tau jalan yang aku ambil ini salah,tapi engkau pasti tau apa maksud ku " Lanjut Winda dengan tetesan air mata yang berjatuhan tanpa henti.
Ia tak berniat menangis tapi saat mencurahkan isi hatinya kepada sang pemilik hidup membuat hati gadis itu bergetar hingga air mata itu turun dengan sendirinya..
Ceklekk...
Pintu kamar terbuka perlahan,berdirilah seorang pria menatap anaknya yang masih duduk didepan sejadah dengan mukena menutupi seluruh tubuh.
Malvin menggigit bibirnya kelu,pria itu tau gundah gulana yang sedang Winda rasakan,sebagai seorang ayah Malvin merasa sangat bersalah,karna dirinya Winda dan Sindi menjadi korban meski ia tak pernah ada niatan untuk mencelakai keluarganya sendiri.
" Maafin Papa Nak " Ucap Malvin lirih.
Tak sanggup menahan tangis,Malvin mundur dan kembali ke kamar..
Lelaki itu hanya mengecek keadaan Winda saja takutnya sang anak sakit ditengah malam.
Karna merasa ada yang memperhatikan,Winda menoleh kebelakang dan melihat pintu kamar terbuka.
Gadis itu bangun menghapus air matanya dan berjalan keluar.
Sepi..
tak ada siapapun,pintu kamar juga tertutup.
" Pasti Papa " Gumam Winda tersenyum kecil.
Gadis itu mengambil obatnya dinakas dan mulai minum.
Winda juga harus minum obat tidur karna sejak Samuel pergi dari rumah,Winda sulit tidur.
Tak terasa hari H pun sampai.
Rumah Sindi kedatangan beberapa tamu kerabat terdekat.
Disana juga ada orang tua Malvin tanpa sanak keluarga lain,bahkan pria yang dulu sempat berteman dengan Winda tak hadir disana karna lelaki tersebut sudah diluar negeri melanjutkan kuliah.
Alexi dan keluarganya datang membawa kado yang begitu besar.
" Ehh mau kemana ?" pekik Salsa menarik tangan Alexi.
" Apa ?" tanya Alexi menoleh kaget.
" Bawain " kata Salsa menunjuk kado.
" Gak bisa sendiri ?" tanya Alexi.
" Kamu nyuruh aku bawainya ?" Tanya Salsa melotot.
" Hehe becanda sayang yaelah marah2 mulu " kata Alexi cengengesan.
" Huh bodo " Kata Salsa mendengus dan menyusul Yuni kedalam.
__ADS_1
Alexi terkekeh dan melihat sang adik yang asik bercermin di hape.
" Byaaaannnn " Panggil Alexi manja.
" Aku sibuk angkat sendiri ya " Jawab Byanca dengan gaya alaynya.
" Sialan " Umpat Alexi pelan.
Byanca berjalan cepat takut2 ia di suruh Alexi bawa kado.
Alexi mendengus sendiri dan menggendong kado tersebut masuk kerumah.
Terlihat acara akan segera dimulai,Yuni tak menegur orang tua Malvin yang duduk di karpet,wanita itu masih merasa kesal.
" Apa kabar Om " Sapa Romi kepada Papa Malvin.
" Baik " jawab pria dengan rambut putih itu tersenyum.
Mama Malvin diam melihat Yuni yang ogah menatapnya..
Tak lama Rena pun sampai bersama Tito dan duduk bersampingan.
" Mempelainya belum datang ?" Bisik Rena pelan.
" Belum Ma,aku tanya Winda dulu " Jawab Yuni.
" Iya " balas Rena mengangguk setuju.
Acara masih 30 menit lagi,mereka datang cepat untuk membantu Sindi beres2.
Didapur Sindi sangat sibuk,wanita itu terlihat menata kue yang baru diantar orang.
" Winda mana ?" tanya Yuni mendekat.
" Kamu yakin dengan ini ?" Tanya Yuni.
" Tidak usah bahas lagi " Kata Sindi kurang suka.
" Aku hanya khawatir Sin,Winda...." Ucap Yuni menggantung.
" Kami akan menanggung semuanya " Potong Sindi cepat.
" Aku harap rencana kalian berhasil dan tidak ada yang tersakiti " Balas Yuni pasrah.
Sindi mengangguk,Yuni menatap sahabatnya nanar.
Meski Sindi bisa menyembunyikan dari orang banyak tapi tidak dengan Yuni,wanita itu begitu tau apa yang sedang Sindi rasakan sekarang.
Takut haru bercampur menjadi satu,disisi lain Sindi bahagia putrinya menikah tapi disisi lain Sindi tau sang anak sudah menunggu ajal yang mungkin akan menjemput.
Dikamar,Alexi terdiam melihat sang sahabat sudah cantik luar biasa.
" Lex ngedip " Tegur Winda terkekeh.
Salsa melirik lelakì itu dan mendapati Alexi menganga dengan wajah bengong.
" Plaaakkkk "
Salsa menampar lengan lelaki itu membuat Alexi melonjak kaget.
" Sakit Sa " Kata Alexi mengusap lengannya.
" Jangan bengong !" Kata Salsa geram.
__ADS_1
Winda terkekeh pelan,Alexi mengangguk dengan bibir mengkrucut.
" Kamu cantik banget Win,aku gak pernah lihat kamu dandan gini sebelumnya " Kata Alexi nanar.
" Masa sih ?" tanya Winda malu.
" Iya Win,cantik banget " Sahut Salsa.
" Ahh kalian bisa aja " kata Winda bersemu.
" Oh iya mempelainya udah otw belum ?" Tanya Salsa.
" Aku gak tau " jawab Winda.
" Hah " Pekik Salsa dan Alexi bersamaan.
" Maksud kamu gak tau gimana ?" tanya Alexi serius.
" Dia gak ada ngasih kabar sama aku " jawab Winda.
" Kamu gak telfon ?" tanya Salsa syok.
Winda menggeleng pelan.
" Kenapa ?" tanya Pasangan itu serentak.
Winda hanya tersenyum saja,ia tak bisa memberikan alasan karna Winda pun tak tau bagaimana keadaan Samuel akhir2 ini.
Selama pisah rumah,Samuel tak pernah mengirimi dirinya pesan.
Alexi berjalan cepat keluar kamar dan terdiam melihat Malvin masuk menyambut rombongan keluarga yang Alexi kenali.
" Itu kakek Malvin " Gumam Alexi pelan.
" Lex mereka datang " Ucap Salsa ikut mematung.
Winda keluar kamar dan terdiam melihat seorang pria dengan pakaian senada berjalan masuk digandengi 2 bocah perempuan.
Keduanya saling melihat dari kejauhan,Samuel begitu gagah dengan setelan putihnya.
" Waw lihat itu siapa ?" Bisik Lutfia kepada sang anak.
Samuel diam melihat Winda yang tak bisa ia kenali lagi.
Gadis tersebut benar2 berubah,dengan bibir kemerahan membuat Winda terlihat begitu elegan.
" Ayo acaranya akan dimulai " Ucap Pony menegur.
Adik Lutfia melihat keperut Winda,terlihat gadis itu tidak seperti orang hamil membuat lelaki itu bingung sendiri.
Tak mau membuat kekacauan semuanya pun memilih diam mengikuti acara.
Sindi dan Yuni mengarak Winda mendekati keluarga Samuel.
Malvin tersenyum hangat melihat sang putri yang sangat mirip denganya.
" Apa sudah siap ?" tanya penghulu melihat pasangan yang sudah duduk bersampingan tersebut.
Winda dan Samuel saling melihat,,keduanya diam sesaat hingga anggukan kecil diberikan.
" Baiklah kita mulai acaranya " Kata penghulu membuka acara.
❤❤❤
__ADS_1
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.