Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
359


__ADS_3

Winda dilarikan kerumah sakit,terlihat Malvin begitu panik menggendong anaknya dan berteriak ditempat umum.


Samuel mengikuti mereka dari belakang dengan wajah tak kalah paniknya.


perasaan kedua lelaki itu saat ini begitu berantakan.


Beberapa orang dokter langsung membawa Winda menuju ruangan.


Malvin di tahan masuk oleh seorang perawat yang menahan pintu.


" Tolong anak saya Suster " Ucap Malvin bersimpuh dikaki wanita itu.


" Iya Pak,kami akan berusaha menyelamatkan anak anda,tolong beri kami waktu " Jawab Suster itu membantu Malvin berdiri.


Samuel ikut membantu dan mendudukkan Malvin di kursi tunggu.


" Tolong selamatkan dia Suster " Ucap Samuel sungguh2.


Suster mengangguk dan menutup pintu ruangan.


Malvin menjambak rambutnya frustasi sambil menangis meratapi nasib anaknya.


" Ya Tuhan aku mohon selamatkan putri ku " Ucap Malvin berderai air mata.


" Om " Panggil Samuel ikut duduk bersama.


" Samuel ini semua salah Om,seharusnya Om gak memaksa kamu bawa Winda sekarang " Ucap Malvin frustasi.


" Om tenang lah,Winda akan selamat " Ucap Samuel menenangkan.


" Dia sekarat Sam,Om takut Winda tak kuat,dia sudah banyak menderita Sam " Kata Malvin terus menangis.


Sungguh hancur hati lelaki dewasa itu,belum selesai satu masalah kini muncul masalah baru yang akan membuat cerita hidupnya tamat.


Tadi Malvin menelfon Samuel bertanya apakah Winda datang menemui pria itu atau tidak,tapi jawaban polos Samuel membuat Malvin girang bukan main dan meminta lelaki itu membawa anakny kerestoran.


" Apa aku harus memberitahu Tante ?" tanya Samuel hati2.


Malvin terdiam,jika Sindi tau ia akan tau apa yang akan terjadi dan Malvin merasa belum siap menerima semuanya saat ini.


" Om " panggil Samuel menegur Malvin yang malah bengong.


" Jangan " kata Malvin lirih.


" Kenapa ?" Tanya Samuel kaget.


" Mama nya pasti mengamuk " Jawab Malvin nanar.


" Aku tidak tau apa yang terjadi kepada keluarga kalian,tapi Tante berhak tau apa yang terjadi kepada Winda " kata Samuel tegas.


" Dia akan benar2 meninggalkan aku Sam,aku tak punya siapapun sekarang,hanya mereka yang aku miliki !" Kata Malvin keras.


Samuel lagi2 terdiam,pria itu diambang kebingungan apa yang harus dilakukan.


" Sam " Panggil Malvin serius.


" Iya om " Jawab Samuel.


" Kau punya berapa ginjal ?" Tanya Malvin.


" Hah " pekik Samuel kaget.


" Ke kenapa ?" Tanya Samuel deg2an.


" Ah tak apa,dimana ruangan pemeriksaan ?" Tanya Malvin berdiri.


" Mau ngapain ?" Tanya Samuel melotot.


Malvin langsung berjalan tanpa menjawab pertanyaan dari pria itu.


" Mau apa Om Malvin " Gumam Samuel ikut berdiri menatap punggung Malvin dari kejauhan.


Saat pria itu ingin menyusul tiba2 pintu ruangan terbuka dan keluar lah seorang dokter.

__ADS_1


" Keluarga pasien " Panggil Dokter berkaca mata tersebut.


" Ya Dok " Jawab Samuel berbalik badan.


Pria itu mendekati Dokter yang menunggu diambang pintu.


" Apa kalian sebelumnya sudah tau jika pasien punya sakit ginjal kronis ?" tanya Dokter.


" Iya " Jawab Samuel mengangguk.


" Keadaan nya semakin parah ia harus segera mendapatkan donor ginjal karna jika terlambat nyawa gadis itu akan melayang " Ucap Dokter serius.


" Apa tidak bisa hidup dengan satu ginjal ?" tanya Samuel berusaha tenang.


" Ginjal satunya lagi juga bermasalah,sistem darahnya tak mengalir dengan lancar membuat pertahanan tubuh gadis itu melemah " Jawab Dokter.


Samuel terdiam,sedikit banyak ia memang tau Winda punya sakit yang membahayakan.


" Dia akan sadar sebentar lagi,kami akan memindahkannya diruang rawat inap " Ucap Dokter.


" Tak bisakah dia pulang saja ?" tanya Samuel.


" Kau ingin membuatnya mati ! Gadis itu sebenarnya harus dirawat insentive " Kata Dokter sedikit terkejut.


Glek...


Samuel tersentak kaget dimarahi dokter dewasa tersebut.


" Iya Dok maaf " kata Samuel menciut.


" Saya permisi " Pamit Dokter berjalan menjauh.


Samuel mengangguk lemah dan terdiam melihat Winda dari kejauhan dikelilingi 2 suster.


" Ya ampun kenapa begini ?" Gumam Samuel mengurut kepalanya pusing.


Saat Samuel ingin duduk tiba2 suara hapenya terdengar,lelaki itu merogoh saku celananya dan mendapati nama dilayar.


" Huuufftty " Pria itu menghela nafas.


" Kamu dimana sih ? kenapa gak bisa dihubungin ?" Tanya seseorang diseberang.


" Iya ini mau jalan " Jawab Samuel datar.


" Ck bilang jalan dari tadi tapi gak nyampe2,luntur bedak aku nungguin kamu !" Marah Naya pacar Samuel.


" Iya maaf,ini aku otw kesana " Balas Samuel masih dengan wajah tenangnya.


" Cepetan ya aku tunggu !" Ucap Naya ketus.


" Hm " jawab Samuel cuek.


Tut.


Panggilan terputus,Samuel menarik nafas panjang.


Lelaki itu mulai bimbang harus menunggu Winda atau pergi menemui Naya yang sudah menunggunya dari tadi.


" Apa yang harus aku lakukan ?" gumam Samuel pelan.


Samuel menunggu Malvin sebentar tapi pria dewasa itu belum juga kembali.


Naya kembali menelfon,membuat Samuel tak bisa lagi berdiam diri disana.


" Biar lah,lagian Winda ada Papanya,ini bukan urusan ku juga " Gumam Samuel berpikir masa bodoh.


Lelaki itu pun berlari keluar rumah sakit menuju rumah pacarnya.


Diruangan,Malvin terdiam mendengar penjelasan Dokter yang menangani anaknya tadi.


" Jadi kalau saya yang mendonorkan apakah bisa ?" tanya Malvin serius.


" Jika ginjal bapak cocok,maka bisa2 saja Pak " Jawab Dokter ikut serius.

__ADS_1


" Baiklah Dok,pakai ginjal saya saja " Kata Malvin tegas.


" Bapak yakin ?" tanya Dokter kaget.


" Ya saya yakin,demi putri saya Dok saya akan melakukan semuanya " Jawab Malvin meremas kedua tangannya erat.


" Baiklah,besok kita cek kondisi ginjal bapak,jika tak ada masalah maka akan kita lakukan pencangkokan " Ucap Dokter tersenyum.


" Baiklah " Balas Malvin mengangguk setuju.


Pria itu pun keluar ruangan dan mendekati ruangan putrinya.


" Mana Samuel ? apa dia sudah pergi ?" gumam Malvin heran.


Pria itu terus berjalan hingga pintu ruangan terbuka dan keluarlah Winda dibantu suster


" Winda " Panggil Malvin berlari.


Winda diam mendongak melihat lelaki yang begitu ia kenal.


" Dia memaksa ingin pulang Pak " Ucap Suster was2.


" Kenapa sayang ? kamu harus istirahat " Kata Malvin lembut.


" Aku mau Mama,mereka pasti sudah menunggu ku " Kata Winda datar


" Tapi kamu...


" Aku tidak perduli,aku tidak mau mati disini tanpa ibu ku !" Kata Winda tegas.


Deg...


Malvin terdiam dengan suara kesal anaknya.


" Baiklah " kata Malvin mencoba tenang.


Winda mengibas tangannya dan berjalan sendiri keluar rumah sakit.


" Gak papa Sus,dia anak yang kuat " Ucap Malvin menahan Suster yang ingin mengejar.


" Kondisi nya sangat lemah Pak bahkan tangannya berdarah bekas suntikan tadi " Kata Suster iba.


Malvin mengangguk paham dan berpamitan.


Winda merasa kepalanya sangat pusing tapi gadis itu berusaha untuk kuat,ia ingin pulang berkumpul bersama Sindi dan Doni.


" Ayo Win kamu gak boleh mati konyol gini,kasihan Mama " Ucap Winda menguatkan dirinya.


Gadis malang itu terus berjalan meski air mata mulai membasahi wajahnya.


Hati gadis itu begitu hancur,fisik dan mentalnya benar2 ditempa dengan keras.


Malvin mengikuti langkah sang anak dengan wajah nanar.


Pria itu tak kalah sakitnya melihat kondisi keluarganya yang begitu berantakan.


" Dari mana Sindi tau,apa ada yang memberitahunya ? tapi siapa ?" Batin Malvin teringat akan masalah sebelumnya.


Brughhh...


Winda kembali jatuh terduduk dilantai karna tak sanggup lagi berjalan.


" Winda " Pekik Malvin langsung memeluk anaknya dan menahan kendaraan yang lalu lalang didepan rumah sakit.


" Papa " Ucap Winda lirih dengan air mata terus mengalir.


" Papa bantu ya " Ucap Malvin lembut.


Winda memejamkan matanya dan memeluk leher lelaki itu..


Malvin mengendong sang putri berjalan menuju mobilnya.


Winda terus menangis mendekap lelaki itu dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


❤❤❤


Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.


__ADS_2