
Winda menjalani pemeriksaan dengan baik,wanita itu masih merasa deg2an dengan perasaannya.
Ia begitu takut mengetahui hasil yang tak ia inginkan.
" Tenang jangan panik " Ucap Restu menegur.
" Iya Mas " Jawab Winda dengan tangan dingin.
Dokter masih memeriksa hasil seraya melihat kearah Winda.
" Semua nya baik,ginjal baru pun berfungsi dengan baik " Ucap Dokter beberapa saat.
" Beneran Dok ?" tanya Restu semangat.
" Iya Pak,pola makan sama istirahatnya dijaga lagi " Jawab Dokter tersenyum.
" Alhamdulilah " Ucap Restu penuh syukur.
" Oh iya Dok,hm kalo nanti istri saya hamil lagi apa aman ?" Tanya Restu malu2.
" Oh aman2 saja " Jawab Dokter tersenyum.
Restu mengangguk cepat,ia sudah tak sabaran lagi ingin punya keturunan.
" Ya udah kalo begtu kami permisi " kata Restu pamit.
Dokter mengangguk dan mempersilahkan mereka keluar.
Winda masih diam menggendong Nur yang juga diam dari tadi.
" kenapa sayang ?" tanya Restu heran.
" Hm gak papa Mas,ayo pulang " ajak Winda.
" Iya " jawab Restu setuju.
Mereka pun melangkah keluar,tapi belum sampai didepan tiba2 hape Restu berdering.
Lelaki itu berhenti sejenak dan menerima panggilan.
" Siapa ?" tanya Winda mengernyit.
" Halo " Sapa Restu sopan.
" Halo selamat siang apa ini benar dengan Pak Restu ilahi ?" tanya Seorang diseberang.
" Iya saya sendiri " Jawab Restu mengernyit.
" Ya apa anda bisa datang kekantor X untuk melakukan wawancara ?"
" Wawancara ? sekarang ?" tanya Restu syok.
" Iya Pak,sudah ditunggu pimpinan " Jawab orang asing itu.
" Hm ya tapi sekarang saya lagi dirumah sakit,tapi saya langsung kesana " Balas Restu tanpa pikir panjang.
" Baiklah kami tunggu selamat siang "
Tut.
Panggilan terputus,Restu mengucap syukur melihat istrinya.
" Kayaknya aku diterima kerja deh " kata Restu girang.
" perusahaan mana ?" tanya Winda.
" Aku disuruh kesana dulu,gak tau kerja apaan,boleh ya ?" pinta Restu memelas.
" Terus kerjaan kamu dikampung gimana ?" Tanya Winda bingung
" Nanti aku urus yang disana,yang penting sekarang bulan ini kamu dapat uang belanja " Jawab Restu terkekeh.
Winda diam,uang didompetnya masih tersisa 200 ribu yang mana itu uang untuk mereka pulang kampung..
" Terus sekarang gimana ?" tanya Winda lagi.
" Aku langsung kesana,kamu mau ikut atau pulang sendiri ?" tanya Restu tak enak.
" Hm pulang aja " Jawab Winda lesu.
" Ya udah,kita pisahnya disini ya,tunggu Papa pulang ya sayang " ucap Restu mengecup pipi anaknya.
__ADS_1
Nur tersenyum mengangguk..
" Hati2 Mas " Ucap Winda khawatir.
Restu mengangguk dan mencuri kecupan dibibir wanita itu.
Lelaki itu pun melesat lari keluar dengan senyum mengembang.
Winda menghela nafas panjang,ia tak bisa melarang suaminya yang ingin merubah hidup.
Meski sedikit tak rela tapi apa boleh buat,Winda juga tak mau Restu setres memikirkan biaya hidup mereka.
" Ayo sayang kita pulang,doain Papa ya biar rejekinya lancar " ucap Winda kepada Nur.
Nur hanya tersenyum menampilkan pipi gembulnya yang menggemaskan.
Keduanya melangkah keluar,saat sudah didepan rumah sakit tiba2 sebuah mobil berhenti.
Winda mencoba menyingkir dari sana tapi maniknya malah melihat seorang lelaki memakai jas hitam baru turun dari mobil.
" Papa " Ucap Winda terbelalak.
Lelaki perfectionis itu mendongak dan kaget melihat seorang wanita yang masih ia kenal.
" Winda " Gumam Rafael tersentak.
Winda menundukkan wajahnya dan mencoba berlalu.
" Tunggu !" Ucap Rafael menahan.
Winda masih menunduk dengan kaki gemeteran.
" Winda " Panggil Rafael pelan.
Winda mendongak dan menatap lelaki itu nanar.
" Ini benar kamu ?" tanya Rafael tak percaya.
" Maaf " ucap Winda ketakutan.
" Kenapa kamu bisa ada disini ?" tanya Rafael bingung.
" Maaf saya permisi " jawab Winda sopan.
Deg...
Jantung Winda seolah berhenti berdetak saat telinganya mendengar kata Nak keluar dari mulut lelaki itu.
" Samuel sakit " Ucap Rafael.
Winda tak menjawab,ia masih syok bertemu dengan mantan mertuanya.
" Bisa kita bicara ?" Tanya Rafael tenang.
" Saya harus pergi " Jawab Winda sopan.
" Maafkan keluarga besar saya " ucap Rafael sungguh2.
Winda mengangguk pelan.
" Ayo masuk,disini panas " Kata Rafael membuka pintu mobil.
" Tidak usah Pak terima kasih " kata Winda menolak.
" Saya akan mengantar kamu pulang,jangan takut " Ucap Rafael serius.
Winda melihat anaknya,terlihat Nur berkeringat dan mulai rewel karna memang sudah jam makan siang.
" Ayo " Ajak Rafael lagi.
Winda menghela nafas dengan anggukan kecil.
" Jalan Pak " Ucap Rafael kepada supir.
" Kita tak jadi masuk ?" Tanya Supir bingung.
" Cari restoran " Jawab Rafael tegas.
Supir mengangguk paham dan mulai menjalankan tugas.
Winda diam duduk mendekap anaknya,sungguh perasaan wanita itu campur aduk saat ini.
__ADS_1
Dikota yang besar membuat Winda tak menyangka akan bertemu dengan orang2 terdekat Samuel apalagi orang tuanya langsung.
" Sekarang kau tinggal dimana ?" tanya Rafael membuka suara.
Winda tak menjawab,wanita itu tak mau banyak cerita.
Rafael mengangguk paham dan mencoba tenang meski otaknya berpikir keras.
Tak lama mereka sampai disebuah restoran mahal dengan nuansa sepi senyap.
" Ayo " Ajak Rafael lembut.
Winda mengangguk dan membawa anaknya serta.
Mereka duduk berhadapan,Rafael meminta pelayan menyiapkan makanan khusus untuk bayi mungil yang sudah tau duduk tersebut.
" Hm saya mulai " Ucap Rafael khas pria dewasa.
Winda mengangguk pelan.
" Kapan kau datang ?" Tanya Rafael.
" 2 hari yang lalu " Jawab Winda.
" Apa ini anak mu ?" Tanya Rafael menujuk Nur.
" Ya dia putri ku " Jawab Winda.
Nyessss....
Jantung Rafael terasa tertusuk dengan jawaban tegas Winda.
" Apa ini darah daging Sam ?" Tanya Rafael lagi.
" Tidak,ini anak ku dengan pria lain " Jawab Winda.
" Maksud mu ? kau menikah lagi ?" Tanya Rafael mengernyit.
" Ya " Jawab Winda seadanya.
Rafael terdiam melihat Winda nanar.
" Apa kau tau keadaan Sam sekarang ?" Tanya Rafael.
" Itu bukan urusan ku lagi " Jawab Winda.
" Dia masih menginginkan mu " Balas Rafael.
Winda mendongak menatap lelaki itu tajam.
" Jika dia menginginkan ku,kenapa dia tak mencari ku ?" Tanya Winda tersulut.
" Ya itu kesalahan kami " Jawab Rafael mengakui.
" Jadi aku tak ada hubungan lagi dengan Sam,aku berharap dia bahagia " Balas Winda tersenyum getir.
" Tapi Winda,Sam...
" Sudah cukup Pak,kalian yang menginginkan semua ini,aku sudah menuruti semua keinginan kalian,jadi aku harap jangan meng ganggu lagi " pinta Winda serius.
Rafael menghela nafas dengan anggukan kecil.
" Maaf dulu saya tidak bergerak dalam masalah kalian " Ucap Rafael merasa menyesal.
" Tak masalah,saya sudah bahagia dengan keluarga kecil saya " Jawab Winda tenang.
" Hm bagus lah,saya harap akan terus begitu,saya bersyukur bisa ketemu kamu lagi untuk meminta maaf "
" Kondisi Sam sebenarnya masih sama seperti dulu,ia harus ketergantungan obat dan sekarang...
" Dia akan sembuh seperti saya " Potong Winda cepat.
Rafael terdiam dengan anggukan kecil.
Lelaki itu melihat Nur dan hatinya kembali teriris.
" Jika saja anak ku dan Winda masih bersama mungkin sekarang aku juga sudah punya cucu secantik ini " Batin Rafael menatap Nur sedih.
Nur yang tau ditatap memberikan senyum terbaiknya untuk lelaki tua tersebut.
Tak mau hilang kesempatan,Rafael mentraktir ibu dan anak itu makan sepuasnya,Winda tak menolak karna ia tak enak hati kepada Rafael yang memang tak bermasalah kepadanya,dan Winda juga memberi kesempatan Rafael menggendong sang putri meski ia harus menahan tangis.
__ADS_1
❤❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.