
Dian tengah sibuk membersihkan halaman rumah Doni yang kondisinya tidak bisa dibilang bersih karena sudah terlalu lama ditinggal pemiliknya pulang kampung. Pagi-pagi sekali dia memulai aktivitasnya itu, dan kini halaman yang tadinya dipenuhi daun-daun kering itu sudah terlihat bersih.
Di tengah aktivitasnya yang sedang menyapu halaman rumah, tiba-tiba saja pandangannya teralihkan pada sosok pria putih dengan helm full face yang membuat wajah tampannya tertutupi.
Pandangannya terus mengikuti pria itu saat awal masuk ke halaman rumah hingga pria itu berhenti tepat di depan rumah dengan memarkirkan motor ninja hitamnya.
Rasa penasaran saat ini menyelimuti Dian, siapa dia? hanya itu yang terlintas dalam benaknya, tak ingin terlalu pusing gadis cantik bertubuh tinggi itu kembali fokus ke pekerjaannya. Bukannya cuek! Dian hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya dulu, setelahnya baru dia menghampiri pria bermotor ninja itu. soalnya nanggung banget kalau harus ditinggal karena hampir selesai.
Sementara pria berkulit putih itu masih stay di jok motornya setelah melepas helm full face nya kini nampaklah wajah tampannya, berparas setengah bule itu. Namun saat ini netra coklatnya tertuju pada gadis berambut panjang tidak jauh darinya, yang masih asyik menyapu tanpa memperdulikannya. Siapa dia? pikirnya. Sejak motornya masuk melewati gerbang rumah hingga parkir di halaman depan rumah, tatapannya terus tertuju pada gadis itu dan tentu saja tidak terlihat karena helmnya menghalanginya.
Sebuah senyum tipis menghias bibir pria berambut hitam itu setelah dia menyadari bahwa gadis yang ditatapnya itu terlihat menarik.
"Maaf! anda siapa? dan sedang mencari siapa?"
Pertanyaan itu hampir saja membuatnya terkejut, untung saja dia tengah duduk, jika tidak, bisa dipastikan dia sudah terjengkang.
Berdehem untuk mereda rasa gugupnya, karena tiba-tiba saja gadis yang sejak tadi dia perhatikan sudah berdiri tepat di sampingnya, dan jika dilihat dari dekat dia terlihat sangat cantik. Bulir bulir keringat di wajahnya menjadi pelengkap, membuatnya terlihat sangat cantik.
Dahinya mengerut saat pertanyaannya tidak dijawab dan yang ditanya malah senyum tidak jelas. membuat Dian semakin aneh menatap pria di depannya ini.
"Heiii!! Kak!! Hello!" Dian kembali mencoba menyadarkan pria tampan itu, dengan melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah pria tampan itu namun tampak sedikit sedeng. pikirnya.
Pria itu kembali terkesiap, dan untuk kesekian kalinya dia berdehem dengan mengalihkan pandangannya, masih belum menjawab pertanyaan Dian.
Untung Dian tipikal cewek yang sabar, jika tidak!! sudah bisa dipastikan sekop sampah yang ada ditangan kanannya sudah mendarat di wajah pria itu.
Menghela nafas pelan, Dian menyerah akhirnya dia melangkahkan kakiknya untuk masuk ke dalam rumah.
"Tunggu!!!" Suara berat itu berhasil menghentikan langkah Dian yang baru selangkah, Dian hanya menatap pria itu dengan tatapan datar namun tetap cantik, pikir pria itu.
"Ini benar rumahnya Doni?" tanyanya ragu, karena dia takut salah rumah, namun detik berikutnya dia merasa lega, saat Dian mengangguk pelan.
"Apa dia ada di dalam?" tanyanya lagi dan lagi-lagi Dian hanya mengangguk pelan.
"Bi_
Ucapannya tertahan dan terpaksa harus dia telan kembali, saat sosok gadis itu sudah melesat masuk ke dalam rumah.
Masih termangu di tempat dengan alis mengerut heran. "Gercep juga dia!!" sungutnya merasa kesal di tinggal begitu saja.
Bermenit-menit telah lalu, namun pria berkulit putih itu masih enggan meninggalkan motornya, dia semakin kesal saat sinar matahari yang panas sudah menyengat kulitnya. Menggerutu dalam hati, merutuki gadis tadi, karna tak kunjung muncul.
"Woyyy!!! Lo ngapain disitu?"
Tatapan sinis pria itu tertuju pada sumber suara yang tengah tersenyum tak berdosa.
Sementara dia masih setia di jok motornya itu, enggan untuk turun karena masih kesal! bagaimana tidak, pria yang katanya memiliki sejuta pesona untuk memikat hati setiap gadis hanya melalui tatapan mautnya gadis langsung terpikat. Tapi apa yang baru saja terjadi? tiba-tiba saja dia ditinggal begitu saja oleh seorang gadis bahkan membuatnya menunggu kepanasan di halaman.
"Ehhh, malah diam! Sini masuk dulu, lo ngga takut apa? nanti kulit lo item, karena terbakar sinar matahari."
Doni menakuti pria itu, agar pria itu mau masuk! Bukan tanpa alasan dia menakutinya, Karena Doni tahu betul bagaimana sifat pria itu yang ternyata adalah sahabatnya, dia sangat memperhatikan penampilannya terutama tubuhnya, dan yang paling penting adalah wajahnya! Katanya wajahnya itu adalah aset baginya.
Jadi! jangan heran jika kemana-mana pria itu selalu berpenampilan tertutup saat keluar rumah, meskipun jaraknya dekat dia pasti selalu mengenakan helm full face nya agar wajahnya terlindungi dari paparan sinar matahari.
__ADS_1
Di antara mereka ber empat bersahabat, pria itulah yang paling modis dan yang paling modus.
Dan saat ini Doni sudah mulai naik pitam saat melihat sahabatnya itu masih enggan untuk turun dari motornya.
Alis tebalnya bertaut saat menatap wajah kusut sahabatnya itu,selain rempong dan modis soal penampilan dia juga punya sifat suka ngambek, dan itu terjadi jika ada yang mengganggu suasana hatinya.
Pasti saat ini ada yang membuatnya bad mood makanya wajahnya kusut. Dan bisa dipastikan saat ini dia ngambek lagi! ngambek nggak jelas. Udah ngalahin cewek aja. batin Doni tidak habis fikir.
"Arman!!" Doni menyentak sahabatnya itu karena kesabaran Doni perlahan mengurang.
Menghela nafas berat, akhirnya pria yang ternyata adalah Arman itu turun dari motor dan menghampiri Doni yang masih berdiri di ambang pintu menunggunya.
"Ada apa lagi sih?" pertanyaan itu terucap setelah Arman sudah berdiri di depannya dan sedang melakukan tos persahabatan mereka.
"Ngga ada apa-apa, cuma lagi bete aja gua." jawabnya dengan tidak bersemangat.
Menghela nafas berat, "Ya udah sini masuk dulu, tenangin pikiran, biar ngga bete lagi." ucap Doni lagi merangkul pundak Arman masuk ke dalam rumahnya.
Bukannya semakin tenang, Arman mungkin malah semakin bete jika masuk ke dalam rumah itu dan bertemu lagi dengan gadis tadi.
"Lo duduk dulu!! tunggu gue disini!! gue siap-siap dulu!!"
Dahi Arman mengerut mendengar perkataan Doni. "Harusnya lo itu udah siap-siap dari tadi!!!" Gerutunya merasa kesal.
Doni hanya tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Yah, gimana lagi, gue harus beres-beres dulu, lo tau kan rumah gue lama tak berpenghuni, kotor dan berdebu banget, makanya gue bersihin dulu. Doni menjeda ucapannya. "Lagian ini juga masih pagi banget kali, lo yang kecepetan datangnya, bukan gue yang Ke_
Dengan senyum kemenangan, Doni segera melesat pergi menuju kamarnya untuk bersiap, sementara Arman segera menghempaskan dirinya ke sofa ruang tengah, sambil mengedarkan pandangannya memeriksa dimana gadis tadi.
Setelah tiba di Jakarta tengah malam tadi, membuat Doni dan Dian sibuk membereskan rumah pagi ini, karena tidak mungkin melakukannya semalam. Namun belum selesai Doni berberes, sahabatnya Arman sudah menjemputnya untuk pergi ke kantor Riko, karena memang dia akan bekerja disana, atas permintaan Riko.
Sebenarnya Arman tidak ada urusan di kantor Riko, dia hanya bertugas mengantar saja. Tujuan Arman sebenarnya adalah ke kampus, karena arahnya sama makanya Doni meminta dia untuk menjemputnya, karena kebetulan mereka tinggal di kompleks yang sama, jadi yah apa salahnya membantu teman, itung-itung mambah pahala, pikir Arman.
Setelah berkali-kali menguap, karena memang dia masih mengantuk. Pria berparas sedikit bule ini kembali tersentak, saat sosok yang membuatnya bete tiba-tiba muncul di depannya. Namun yang berbeda adalah perasaan yang tadinya kesal, misuh-misuh ngga jelas, baperan kini berubah menjadi tentram dan damai, tatkala melihat wajah polos Dian.
"Di minum dulu kak!!" tutur Dian lembut sambil meletakkan cangkir berisi kopi itu di depan Arman. Tak lupa Dian tersenyum hingga menampilkan ginsulnya yang khas membuat senyum itu sangat manis.
"Terima kasih." ucapnya tersenyum kikuk.
Pikirannya tentang gadis itu ternyata salah, dia menyangka gadis itu cuek, angkuh dan sombong ternyata lembut banget. kan jadi ada kesempatan. pikirnya.
Sambil terus tersenyum bego Arman masih terus menatap punggung gadis itu yang berjalan ke dapur dan perlahan menghilang di balik tembok pembatas antara ruang tamu dan dapur.
Sementara Doni yang sudah siap dengan setelan jas berwarna hitam dipadukan dengan kemeja putih polos, dasi berwarna hitam sebagai pelengkap, membuat pempilannya semakin tampan sempurna dengan aura karismatik yang terpancar.
Doni menatap Arman heran saat sahabatnya itu tidak berhenti tersenyum bego, dia juga sempat melihat sekilas punggung Dian, dan itu artinya Arman sedang memperhatikan adiknya.
"Ekheeeeemmmm!!! Doni berdehem keras untuk menyadarkan Arman. Sahabatnya yang satu ini suka lupa diri kalau soal urusan perempuan. Dan sialnya adiknya yang jadi sasaran.
"Pengen di colok sebelah mana dulu, kanan apa kiri?" Sarkasnya membuat Arman melongo tak paham dengan maksud Doni yang sudah berdiri disampingnya.
"Mata!!" ketusnya membuat Arman tersentak terkejut dan refleks langsung menutup matanya dengan tangannya. Doni hanya menatap sinis, lalu netra hitamnya menatap cangkir yang bertengger di atas meja.
__ADS_1
"Ini apa?" tunjuknya ke arah cangkir itu.
"Air comberan!! Sungut Arman kesal berhasil membuat Doni menatapnya tajam.
"Yah, lo ngga liat apa? itu isinya warna item, yang artinya itu adalah kopi." jelasnya dengan sedikit kesal.
"Oh..
Doni ber oh ria lalu menjeda ucapannya, detik kemudian "Mana tau itu air got, kan warnanya sama, sama-sama item." ketusnya lagi membuat Arman tercengang.
"Ya udah ayok kita berangkat sekarang!!" ajaknya.
"Ehh, bentar dulu!!" Sergah Arman cepat menghentikan langkah Doni.
Doni berbalik menatap penuh pertanyaan.
"Ini kopinya belum gue minum, main pergi-pergi aja! kan sayang ini! mubazir tau!!" tuturnya lagi sambil menyesap kopi itu.
Belum sempat tertelan, Doni tiba-tiba berkata. "Itu kopi taun kemarin." cetusnya, langsung membuat mimik wajah Arman berubah.
Hampir saja Arman menyemburkan kopi itu keluar dari dalam mulutnya, tapi langsung dicegat oleh Doni.
"Awas aja kalau lo semburin kopinya ke lantai, lantainya udah bersih, udah gue pel tadi! " cetusnya lagi membuat Arman kembali menahan kopi itu di dalam mulutnya.
Tidak ada pilihan lain akhirnya Arman mengembalikan kopi itu ke cangkirnya dengan ekspresi pasrah. Dalam hati dia sudah mengumpati Doni.
"Din!!!" teriaknya memanggil adiknya, tidak lama kemudian sang pemilik nama akhirnya datang dan berdiri tepat di depan Doni.
"Aku mau ke kantor dulu, aku ngga lama kok, siang nanti aku pulang. Jadi! nanti makan siangnya aku beli di luar buat kamu." jelasnya dan hanya diangguki oleh Dian.
"Ya udah, aku berangkat yah. Kalau capek istirahat!! jangan di paksa beres-beres rumah terus!!" Titahnya saat mereka sudah berada di halaman rumah dan Dian kembali mengangguk.
Pandangan mereka kemudian tertuju pada sosok pria tampan namun sengklek yang tengah sibuk meludah demi menghilangkan kopi yang masih tersisa di dalam mulutnya itu.
Termangu saat sadar ternyata dua pasang mata sudah menatapnya, membuat dia salting.
"Dian, kopi yang di dapur kamu buang aja yah, soalnya itu kopi taun kemarin." cetus Doni lagi membuat Dian berfikir mungkin itu sebabnya Arman tak berhenti meludah, sementara Arman kembali merutuki Doni di dalam hatinya. Jika saja terlambat sedetik saja Doni memberitahunya, alamat dia akan mencret.
"Aku minta maaf kak!! aku ngga tau kalau kopi itu ternyata sudah lama." tutur Dian lembut merasa bersalah membuat Arman bingung harus bereaksi bagaimana.
"Ngga usah minta maaf! lagipula dia ngga minum kopi itu kok." cetus Doni lagi.
"Nyambar aja nih kaleng susu." sinis Arman dalam hati. Lalu tersenyum kikuk kearah Dian.
"Alhamdulillah, syukur deh." ucapnya lagi.
"Ya udah, Man!! buruan ambil motor lo!! Udah siang ini!!" cetus Doni lagi memerintah.
Matanya kembali menatap Doni sinis "Yah ini juga karna elo!!" sarkasya lalu menghampiri motornya, tidak lama kemudian suara berat motor itu memenuhi seluruh halaman. Doni pun naik ke jok belakang, detik kemudian mereka pun berangkat dengan klakson singkat Arman untuk Dian.
-tbc-
...Hai-hai gimana dengan extra part bagian ini, seru atau biasa aja. tungguin extra part selanjutnya yah, masih ada terus kok selama masih ada tulisan -tbc- di akhir cerita....
__ADS_1