Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
483


__ADS_3

Hari berlalu dengan cepat,kehidupan berjalan dengan sendirinya tanpa diminta menunggu ataupun menetap,tak terasa kini sudah 3 tahun berlalu.


Kehidupan keluarga kecil Serkan terasa damai dan aman,buah hati mereka bernama Sutar pun kini sedang aktif2 nya bermain,Histi yang menjadi ibu muda pun harus punya stok sabar dan kekuatan yang sangat banyak,seperti sekarang hari yang ditunggu selama ini ternyata sudah sampai.


Serkan baru saja pulang kerumah dengan membawa sebuah amplop berisi berita lepas dinasnya.


Lelaki itu sudah diperbolehkan pulang oleh pihak tempat ia bekerja dan pemerintah setempat.


Lelaki itu tak tau harus berekpresi seperti apa,ia bingung harus bersedih atau gembira dengan kabar nyata tersebut.


" ini beneran Yank ?" tanya Histi tak menyangka.


" Iya Yank,bukan hanya aku,tapi semua dokter nanti akan ada dokter pengganti yang bakal masuk kesini " Jawab Serkan duduk diambang pintu rumahnya dengan sebatang rokok.


" Jadi semua yang ada dikampung dibalikin ke kota gitu ?" tanya Histi belum ngeh.


" Iya,kalo buka klinik juga udah diizinin " jawab Serkan tenang.


" Astagaa Yank,aku gak nyangka hari ini sampai " Ucap Histi menggeleng.


" Aku juga " jawab Serkan menghela nafas.


Hanya ada mereka berdua dirumah karna Sutar sedang di ajak bermain oleh Ibu Sania kerumah tetangga yang sedang hajatan,karna bakal makan gratis dan hemat beras jadi Histi tak keberatan jika ada yang menyewa anaknya.


" Terus kapan balik ?" tanya Histi.


" Hm paling lusa,soalnya ada acara perpisahan juga diadain dikampung " Jawab Serkan.


" Yaaahhh bakal pisah dong sama Sania " Balas Histi lesu.


" Hm mau gimana lagi " Ucap Serkan tenang.


Histi mendesah lesu,ntah mengapa perasaannya merasa tak rela harus meninggalkan kampung yang sudah membuat banyak perubahan dalam hidupnya,apalagi disana juga tempat lahir sang anak.


" Ya udah,aku mau mandi dulu " kata Histi melepas surat tersebut dimeja.


Serkan mengangguk dan kembali menyesap rokoknya.


Ntah apa yang dipikirkan lelaki itu,Serkan terlihat menyimpan beban didalam kepalanya.


Malam hari Sutar pulang diantar Sania dan bapaknya.


Kedua anak itu terlihat sangat akrab membuat Serkan selalu tersenyum.


" Papaaaaa " Pekik Sutar melihat Serkan menyambut.


" Halooo " sapa Serkan hangat.


Bocah itu berlari memeluk kaki jenjang papanya.


" Pa adi aku mamem lendang " Ucap Sutar dengan logat khasnya.


" Mamem rendang sama siapa ?" tanya Serkan terkekeh.


" Ama Kak Nia lah " Jawab Sutar menunjuk Sania.


" Dia makan lahap banget Om,sampe aku cuma kebagian buntutnya " Kata Sania mengkrucut.

__ADS_1


" Hehe tan kakak bilang utut enak " Balas Sutar terkekeh.


" Ya emang enak tapi kan sedikit " kata Sania mengkrucut.


" Hehe anti aku beliin yang banak buat Kakak " balas Sutar yakin.


" Beneran ?" tanya Sania menggoda.


" Iya,Mama ilang Kakek aku olang kaya " jawab Sutar serius.


" idihhh sombong " Cibir Sania.


" Benelan Kak,iya kan Pa ?" Tanya Sutar menatap Serkan.


" Hm " Jawab Serkan cuek.


" Tuh Kak " Kata Sutar polos.


" Nanti Om ganti " kata Serkan terkekeh geli.


" Hehe ganti sama paha ya Om " Jawab Sania ikut terkekeh.


Keduanya tertawa geli,Sutar memeluk leher Serkan manja,kini bocah itu sudah bisa berbicara lancar diumur segitu dan mengenali lawan bicaranya.


Kadang Sutar juga menjadi komentator handal atas ibunya yang sering lupa menyapu lantai rumah,setiap hari Sutar marah2 kepada wanita itu meski dibalas cuek oleh Histi.


Setelah bercanda cukup panjang,akhirnya Sania pulang,Sutar mengantar gadis baik itu sampai ambang pintu rumahnya.


" Dadah ecok main agi ya " Kata Sutar melambaikan tangan.


Sania mengangguk tersenyum,bocah itu pun menaiki punggung bapaknya seperti biasa.


Bocah kecil itu mengangguk paham dan menutup pintu rumah..


" Maaa " Panggil Sutar mencari Histi.


" Mama kamu lagi galau " Jawab Serkan pelan.


" Galau ?" Ulang Sutar mengernyit.


" Hm udah kamu sama Papa aja sini kita rebahan " Jawab Serkan masuk kamar.


" Mama galau tenapa Pa ?" Tanya Sutar bingung.


Serkan membalas dengan senyuman,keduanya berbaring bersama menatap langit2 kamar.


Sebenarnya Serkan juga merasa berat meninggalkan kampung yang sudah membesarkan anak dan namanya,bahkan pria itu kemarin sempat diminta warga menjadi kepala desa disana karna menurut warga Serkan cocok berpartisipasi,tapi lelaki itu menolak dengan alasan tak mampu mengurus kampung.


Selain itu Histi juga menolak,Histi tak mau Serkan terlalu lelah bekerja apalagi ditambah mengurus kampung..


Hingga tengah malam Histi baru balik kekamar,manik wanita itu sembab dengan isakan yang masih tersisa.


Terlihat Sutar sudah tertidur meringkuk memeluk tubuh Papanya,hati Histi kembali teriris.


Dengan kesederhanaan,bocah itu tumbuh dengan cepat dan aktif,bayangkan saja umur masuk 4 tahun Sutar sudah pintar dalam melakukan apapun,karna selama ini Sutar tak lepas dari bimbingan warga yang sayang kepada dirinya.


" Histi " Tegur Serkan membuka mata.

__ADS_1


" Hah em " jawab Histi tersentak.


" Kamu kenapa sayang ?" tanya Serkan berusaha bangun dengan hati2.


" Gak papa Yank " Jawab Histi serak..


Serkan menghela nafas dan mendekati istrinya,pria itu terkejut dengan penampilan Histi yang sedikit berantakan..


" Ada apa ? apa yang kamu pikirin ?" tanya Serkan mengusap wajah wanita itu.


" Aku sedih aja bakal pindah " Jawab Histi.


" Lah bukannya kamu dulu pengen pindah cepet2 ?" tanya Serkan terkekeh.


" Iya dulu,sebelum aku mengenal orang2 disini " Jawab Histi.


" Terus gimana dong ? rumah ini bakal dipakai orang lain nanti " Balas Serkan.


" Aku masih merasa berat aja Yank,aku pikir bakal kangen banget sama suasana disini " Balas Histi melas.


" Iya aku juga,tapi ini pekerjaan dan tugas kita udah selesai,kita harus pulang " Jawab Serkan lembut.


Histi mendesah lesu menyenderkan kepalanya di bahu sang suami.


Pikiran Histi masih campur aduk,perasaan tak rela masih dirasakan,Histi benar2 merasa sudah menjadi keluarga dikampung tanpa penerangan tersebut.


" Nanti kita kesini lagi " Kata Serkan tersenyum.


" Beneran ?" tanya Histi mendongak.


" Iya,tapi belum tau kapan " Jawab Serkan cengengesan.


Histi kembali melesu dengan jawaban tak semangat suaminya.


" Hm Yank kamu ada kepikiran mau bawa Sania gak ?" Tanya Histi hati2.


" Apa !" Pekik Serkan melotot..


" Aku rasanya pengen adop dia deh,tapi dikasih ngak ya sama emaknya ?" Tanya Histi serius.


" Jangan ngada2 deh Yank,Sania itu anak perempuan pertama dikeluarganya,kamu mau bawa dia yang ada kita dikelek sama bapaknya " Jawab Serkan gemas.


" Aku udah klop sama dia Yank,pusing kepala aku " Kata Histi manja..


" Gak bisa Histi,mengurus adopsi juga gak mudah " Kata Serkan menghela nafas.


" Terus gimana dong ?" rengek Histi.


" Nanti kamu kasih alamat kita ke orang tuanya,kelak kalo Sania udah gede dan dia mau kekota bisa temuin kita disana " Jawab Serkan.


" Itu tahun berapa Yankkk ?? Sania aja baru 10 tahun " Kata Histi gemas.


" Hehe paling tunggu 10 tahun lagi kalo dia dah dewasa " Balas Serkan menggaruk kepala.


Histi memutar mata malas,wanita itu menjatuhkan diri memeluk anaknya yang sudah terlena,bahkan Histi baru menyadari putranya memakai baju berby Sania yang pernah ia beli saat dikota..


❤❤❤❤

__ADS_1


Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.


__ADS_2