Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Delapan Enam "TSJC"


__ADS_3

Riko sudah siap dengan pakaian kantornya, sementara Citra masih tidur. Disaat Riko sedang mengenakan dasinya di depan kaca, perlahan-lahan Citra mengeliat dan membuka matanya. Pandangan Citra langsung tertuju pada Riko yang sudah sangat rapi dan genteng seperti biasanya.


"Kak Riko." ucap Citra dengan suara seraknya khas bangun tidur.


Rikopun berbalik menatap Citra dengan tatapan dinginnya yang membuat Citra selalu jatuh cinta dan selalu membuatnya rindu.


"Ada apa sayang." ucap Riko sambil menatap wajah bantal istrinya yang selalu cantik dimatanya.


Citra hanya memberi kode kepada Riko, agar Riko mau mendekatinya. Rikopun berjalan mendekati kearah Citra, lalu duduk disamping Citra.


"Kenapa?" tanya Riko lembut, dan Citra hanya menepuk kasur di sampingnya tanda agar Riko berbaring disampingnya.


Riko merasa tingkah istrinya ini terlihat sedang menggodanya.


"Sayang jangan kayak gini dong, aku udah selesai mandi, aku udah rapi." ucap Riko salah paham dengan tingkah Riko.


"Hemmm.. gumam Citra masih menepuk kasur meminta Riko berbaring di sampingnya.


Rikopun pasrah, lalu berbaring di samping Citra, seketika Citra memeluk suaminya yang sudah sangat wangi.


"Hari ini kak Riko pasti sangat sibuk, seharian di kantor, dan kita tidak ada waktu untuk bertemu, jadi biarkan kita seperti ini selama 1 menit kak." ucap Citra lembut sambil memeluk dada bidang suaminya.


Riko pun memeluk erat istrinya, kemudian mereka pun bertatapan. Lalu Citra pun mengecup bibir suaminya.


"Morning kiss." gumam Citra dan Rikopun tersenyum, lalu mengecup bibir Citra sekali lagi.


"Nanti kamu kuliah jam berapa?" tanya Riko.


"Jam 9 kak." jawab Citra.


"Ya udah, sekarang kamu tidur lagi, ini masih jam 7 pagi, kalau kamu merasa lapar, kamu turun sarapan yah,, nanti ke kampus kamu diantar sama pak Cecep dan juga di jemput sama pak Cecep." ucap Riko lagi yang sudah duduk disamping Citra, Citra hanya mengangguk menuruti perkataan suaminya.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu aku berangkat yah sayang." ucap Riko lalu menecup kening istrinya, kemudian Rikopun pergi meninggalkan Citra, sedangkan Citra mencoba kembali untuk tidur.


"Selamat pagi pah.. mah.." sapa Riko yang sudah di ruang makan.


"Pagi sayang." jawab mama Ayu dan papa Indra bersamaan.


"Apa Citra masih tidur Rik?" tanya mama Ayu.


"Iya mah, tadi dia udah bangun, tapi Riko suruh dia untuk tidur kembali, karna kelihatannya dia masih ngantuk mah." jelas Riko sambil memakan sarapannya.


"Sayang, harusnya kamu tidak boleh menyuruh Citra untuk tidur terus menerus disaat dia sedang hamil, itu juga tidak baik untuk kesehatannya." ucap mama Ayu.


"Riko ngga tau mah, mama aja yang nasehatin dia, kalau Riko yang nasehatin dia, nanti dia ngambek lagi, kasihan nasib Riko nantinya kalau dia ngambek." ucap Riko lagi.


Mama Ayu bingung dengan perkataan Riko, sementara Papa Indra tersenyum kecil mendengar perkataan Riko, karna Riko percaya lelucon papanya.


"Ya udah mah, pah,, Riko berangkat dulu." ucap Riko pamit kepada kedua orangtuanya untuk ke kantor.


*******


Terlihat raut wajah kesal Mita akibat melihat tingkah Kevin dan Indah yang seolah-olah tidak mengindahkan kehadiran Mita.


Kevin dan Indah saling berbicara dengan santai, bermesraaan, tanpa perduli bahwa Mita berada di dalam mobil itu.


Saat mereka tiba di parkiran kampus, Kevin hendak mencium kening Indah, tapi tiba-tiba Mita berdehem dengan keras, agar mereka menghentikan aksi mereka. Kevin dan Indah pun langsung menghentikan aksinya dan berbalik menatap Mita yang sudah murka melihat mereka.


"Kira-kira dong kalau lagi berbuat sesuatu, ada orang nih.." ketus Mita kesal lalu turun dari mobil sementara Indah dan Kevin hanya saling bertukar pandang lalu tertawa melihat tingkah Mita yang ngambek.


"Nyebelin banget sih, pagi-pagi udah bikin orang syok aja." gerutu Mita sambil berjalan masuk kampus.


"Hay Mit." sapa Doni yang datang tiba-tiba dari arah parkiran, ternyata dia melihat Mita turun dari mobil dengan wajah ditekuk saat dia juga memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


"Eh kak Doni." ucap Mita tiba-tiba lembut saat melihat yang menyapanya adalah Doni.


"Pagi-pagi udah kesel aja, kenapa?" tanya Doni penasaran.


"Ngga kok kak, aku ngga kesel." ucap Mita dengan tingkah sok imut sambil menyeka rambutnya kebelakang telinganya.


"Tadi aku lihat muka kamu di tekuk gitu." ucap Doni lagi memastikan.


"Iya, itu tadi saat aku belum ketemu kak Doni, tapi sekarang udah ngga lagi. hehe" ucap Mita lagi dan Doni hanya tersenyum.


"Ya udah kita masuk yuk." ajak Doni dan Mita hanya mengangguk. lalu merekapun berjalan masuk ke dalam kampus bersama.


Sementara Indah dan Kevin melihat Mita dan Doni.


"Kenapa mereka tiba-tiba deket?" gumam Indah penasaran.


"Kenapa? kamu cemburu." ketus Kevin.


"Ngga kok, aku ngga cemburu. Aneh aja, melihat tingkah Mita yang tiba-tiba sok imut dengan kak Doni, ngga biasanya dia kayak gitu." ucap Indah lagi.


"Apa Mita suka sama kak Doni." gumam Indah lagi.


"Udah ngga usah urusin mereka, kalau Mita suka sama kak Doni bagus dong, aku doain mereka segera jadian. Supaya si Mita ngga gangguin kita lagi." ucap Kevin sambil merangkul pundak Indah lalu berjalan masuk kampus.


"Tapi apa kak Doni juga suka sama Mita?" gumam Indah lagi, yang membuat Kevin merasa heran dan cemburu.


"Kamu tuh kenapa sih,, kenapa kamu tiba-tiba begitu perduli dengan perasaan kak Doni, kamu cemburu kalau misalnya kak Doni suka sama Mita." ketus Kevin cemburu sambil melepaskan rangkulannya dan berjalan duluan meninggalkan Indah.


"Bukan gitu Vin, aku bukannya perduli dengan perasaan kak Doni, tapi aku khawatir sama Mita, nanti dia sakit hati gimana." gerutu Indah sambil mengimbangi langkahnya dengan Kevin yang masih ngambek.


"Itu masalah mereka, kenapa kamu harus ikut campur." ketus Kevin lagi dan membuat Indah menghentikan langkahnya mengikuti Kevin, Kevin juga menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Kamu tuh yah, ngga ada rasa simpatinya sama sekali. Yah jelas aku perduli dengan Mita, dia sahabat aku." ketus Indah kesal lalu meninggalkan Kevin..


Kevin yang merasa bersalah dengan ucapannya, kemudian mengejar Indah sambil minta maaf.


__ADS_2