
Setelah memarkirkan mobilnya, dengan sigap Romi keluar dari mobil dan segera melesat masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah yang tergopoh-gopoh.
Langkahnya terhenti saat dirinya sudah sampai di ruangan yang di beri tanda dengan nama ruang operasi.
Tiba-tiba saja matanya kembali terasa panas saat dirinya menyadari bahwa saat ini istrinya berada di dalam ruangan itu.
Sebuah ruangan yang dimana hidup dan mati seseorang di perjuangkan di dalam sana. Sebuah ruangan yang menaruh harap besar bagi setiap insan yang menunggu di luar ruangan itu. Apakah suara tangisan atau segaris senyuman yang menjadi putusan di akhir ikhtiar mereka.
Dan Romi menginginkan segaris senyuman di akhir ikhtiarnya.
Netra coklat Romi menatap tajam ke arah gadis yang tengah menangis terisak. Dengan ekspresi marah, Romi menghampiri gadis berkulit sedikit gelap itu.
Pria berambut hitam itu, langsung mencengkeram kuat pundak gadis itu, membuat tubuh gadis itu terkesiap karena merasa sakit pada pundaknya.
"Aku mempekerjakanmu untuk menjaga istriku, bukan mencelakakan istri dan anakku!!" Romi yang tersulut emosi berteriak marah sambil menguncang keras tubuh gadis itu yang ternyata adalah ARTnya.
Tidak ada perlawanan, gadis itu hanya terus menangis terisak. Karena merasa bersalah dan juga merasa sangat sakit pada pundaknya.
Doni yang melihat tindakan Romi yang sangat kasar itu tidak tinggal diam, dia langsung menghampiri Romi.
"Kamu jangan kasar begini Rom? kamu ngga liat dia kesakitan." Doni berusaha menghentikan Romi yang masih mencengkeram pundak gadis itu, dan berhasil.
"Jika terjadi hal yang buruk pada istri dan anakku, kamu liat saja!!" ancam Romi lagi masih menatap tajam gadis itu karena sangat marah.
Gadis itu hanya menunduk menangis terisak, sambil tangannya mendekap tubuhnya yang terasa sakit semua akibat guncangan Romi.
Doni hanya menatap iba gadis itu, dia tau bahwa dia tidak sepenuhnya bersalah, meskipun Doni tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi selama belum ada penjelasan yang pasti, pikiran kita bisa salah. pikirnya.
Dan sahabatnya ini sedang terbawa emosi, makanya dia bertindak seperti ini, pikirnya lagi menatap sendu Romi, sementara Romi masih menatap tajam gadis yang bernama Siti itu.
"Maaf, apa anda suami dari pasien?"
Suara itu berhasil mengalihkan perhatian mereka.
"Saya Dok." Jawab Romi cepat.
"Mari ikut saya sebentar pak."
Dokter itu sudah pergi, namun Romi masih berdiri di tempatnya, tiba-tiba kakinya terasa berat untuk melangkah. Pikiran buruk terus terintas di pikirannya tatkala dia melihat gurat khawatir tergambar jelas di wajah dokter itu.
Tubuhnya terkesiap tatkala Doni menepuk pelan pundaknya. Romi menoleh menatap Doni dengan cemas, dan Doni hanya mengangguk meyakinkan Romi bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dengan langkah gontai akhirnya Romi tiba di ruangan dokter itu dan sekarang duduk tepat di depannya.
Romi masih terdiam, jujur saja saat ini batinnya tidak siap mendengar perkataan dokter itu.
Dokter itu menatap Romi dengan tatapan kasihan.
"Maaf pak, kami harus segera membuat keputusan, dan keputusan sepenuhnya ada di tangan bapak."
Romi mengangkat pandangannya menatap dokter itu.
"Anak bapak harus segera kami selamatkan, jika tidak- kalimatnya menggantung.
"Jika tidak? kenapa dok? tanya Romi.
"Jika kami tidak segera menyelamatkan anak bapak, maka keduanya tidak akan tertolong.
"Lalu bagaimana dengan istri saya dok? bagaimana dengan kondisinya?
"Istri bapak kondisinya sangat kritis, dia banyak kehilangan darah, dan juga benturan keras di kepalanya mengakibatkan pendarahan yang sangat hebat di otaknya pak, jadi-
"Jadi apa dok?
"Tingkat keselamatan istri bapak sangat kecil." tutur dokter itu dengan berat.
Mendengar penuturan dokter itu, seketika membuatnya termangu tak berdaya, sekujur tubuhnya seketika terasa ngilu, tulang-tulangnya terasa seperti tertusuk benda tajam, hatinya tersayat, sangat perih!! hingga membuat nafasnya tertahan di rongga dadanya, sangat sulit untuk bernafas saat ini. Lidahnya terasa keluh tak mampu berkata-kata lagi.
Dokter itu semakin menatap iba pria tampan di depannya ini, namun dia bisa berbuat apa? menghela nafas pelan dokter itu menyodorkan kertas untuk ditandatangani oleh Romi.
"Silakan bapak membuat keputusan." ucapnya lagi.
Romi yang masih termangu, menangis dalam diam tak mampu untuk berbuat apa-apa lagi, apa saat ini dia harus merelakan istrinya pergi untuk selamanya!?
__ADS_1
Apa dengan menandatangani kertas ini sama halnya dia membunuh istrinya!? tapi dokter itu mengatakan bahwa hanya satu nyawa yang harus dia selamatkan!?
Dengan isakan yang tertahan, Romi menangis dalam diam. Katanya kalau aku terlambat mengambil keputusan keduanya akan pergi meninggalkan aku!? ucap batinnya sangat terluka.
Namun, detik berikutnya, Romi mengangkat pulpen bertinta hitam itu, entah mendapat kekuatan dan keyakinan darimana Romi berhasil menggoreskannya di atas kertas.
Dokter itupun segera beranjak dari kursinya untuk segera melakukan pekerjaannya. Namun langkahnya terhenti saat Romi tiba-tiba memegangi kedua pundaknya.
"Selamatkan anak dan istri saya dok." ucapnya memohon dengan nada yang lirih disertai dengan tatapan sendu ke arah dokter itu.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin pak." jawab Dokter itu.
Tertunduk kecewa mendengar penuturan dokter itu, detik itu juga air matanya tumpah membasahi pakaian serbah putih itu.
"Jika, dokter tidak bisa menyelamatkan istri saya, bagaimana dengan anak saya dok, bagaimana dengan anak saya!? Romi berucap dengan isakan. Dokter itu menepuk pundak Romi pelan.
"Bapak jangan bergantung pada saya, saya bukan Tuhan yang menentukan hidup dan mati seseorang, harusnya bapak memohon dan bersimpuh pada yang Maha Menghidupkan.
Dokter itu menjeda ucapannya, Sementara Romi sudah tak mampu lagi untuk berkata-kata dia semakin terisak.
"Saya hanya perantara dari setiap doa dan ikhtiar seorang hamba, sementara keputusan ada ditanganNya, bapak berdoa semoga saja ada keajaiban." Sambungnya lagi.
"Saya harus melakukan tugas saya sekarang pak, pak Romi harus kuat." tutur dokter itu lagi lalu melesat pergi meninggalkan Romi yang masih menangis terisak, namun sebelum pergi dokter itu menepuk pundak Romi sekali lagi sebagai penyemangat.
Setelah kepergian dokter itu, Romi masih termangu di tempatnya dengan isakan yang sangat dalam.
Sakit!!? iya sangat sakit!! itu yang dirasakan Romi saat ini.
Lemah!? iya saat ini dia merasa menjadi lelaki yang paling lemah.
Saat ini bagaimana mungkin dia bisa kuat!? Bagaimana mungkin dia bisa dia tidak sakit! saat kekuatannya tengah berjuang dengan maut.
Doni yang menyaksikan sejak tadi dari luar. hanya mampu menatap iba sahabatnya yang saat ini, punggung sahabatnya itu terlihat bergetar sangat hebat.
Doni melangkahkan kakinya masuk mendekati Romi, menyentuh pundaknya pelan membuat tubuh Romi refleks berbalik.
Detik berikutnya Doni memeluk sahabatnya itu sambil menepuk-nepuk pelan pundaknya. Sahabatnya ini butuh kekuatan, Dia mungkin tidak bisa memberikan kekuatan pada Romi, tapi dia bisa memberi sedikit ketenangan untuk sahabatnya itu.
***
Citra masih berjuang mengejan sekuat yang dia bisa, jujur saja saat ini Citra sudah lelah, namun dia harus tetap bertahan. Dia harus kuat demi anaknya.
Sementara Riko yang berdiri disisi kanan kepala Citra, terus memberinya semangat. Pria itu menatap lembut wajah istrinya yang dipenuhi bulir-bulir keringat, Riko mengenggam kuat tangan istrinya untuk memberi kekuatan pada istrinya itu.
Riko sesekali mengecup kening istrinya, karena merasa sangat kasihan melihat istrinya kesakitan seperti ini tapi masih berusaha berjuang demi anak mereka.
"Kamu kuat sayang, kamu kuat." bisiknya ke telinga Citra saat istrinya itu lelah dalam mengejan.
Riko yang sangat cemas, sesekali melirik kearah bawah, tiba-tiba saja dia merasa ngilu saat melihat darah yang begitu banyak.
Kini Riko bisa menyadari, kenapa melahirkan itu antara hidup dan mati. Memikirkan hal itu membuat dia semakin menyayangi istri dan ibunya. Ibunya yang berjuang antara hidup dan matinya melahirkanku, sementara istrinya berjuang hidup dan mati melahirkan keturunanku.
Tatapan penuh cinta tergambar jelas di netra hitam pria tampan itu, Citra bisa merasakannya, tatkala netra mereka bertemu.
Dokter wanita yang menangani Citra kembali meminta Citra untuk mengejan dengan kuat. Lalu saat Citra kembali mengejan dengan kuat, dokter itu mendorong perutnya, begitu seterusnya hingga anaknya berhasil keluar.
Suara tangisan bayi yang sangat nyaring itu seketika memenuhi seluruh ruangan. Setelah kurang lebih dari tiga jam Citra berjuang setengah mati, dan seketika itu juga Citra merasakan sangat lega dan bahagia. Bibirnya tersenyum menatap suaminya yang masih setia menemaninya, begitupun dengan Riko. Riko tak berhenti mengucap syukur dalam hati sambil mengecup kening istrinya berkali-kali karena bahagia.
"Selamat yah,, bayi kalian laki-laki."
Seorang perawat mendekati mereka dengan bayi kecil dalam gendongannya. Raut wajah Riko yang tadinya tersenyum bahagia seketika langsung berubah bingung ketika sang perawat itu menyodorkan bayi laki-laki itu ke arahnya.
Citra tersenyum melihat wajah kikuk suaminya itu.
Perawat itu mengernyit heran saat melihat Riko menarik ulur tangannya, antara mau menggendong anaknya dan tidak. Karena memang saat ini Riko tidak tau harus bagaimana? dia takut menggendong bayinya karena dia tidak punya pengalaman dalam menggendong bayi.
"Tolong di gendong bayinya pak!! pinta perawat itu lagi.
"Saya harus bagaimana? saya tidak tau caranya menggendong bayi." balasnya jujur membuat perawat itu tersenyum tipis.
"Ulurkan kedua lengan bapak!
Secepat kilat lengannya terulur, Lalu perawat itu perlahan memindahkan bayi tampan itu ke lengan ayahnya.
__ADS_1
"lengan satunya letakkan disini pak. Perawat itu memindahkan lengan kanan Riko ke atas tubuh bayinya, detik itu juga Riko langsung merengkuh tubuh kecil putranya.
"Bapak akan terbiasa!! ucap perawat itu saat menyadari kegugupan Riko karena saat dia menyentuh tangan Riko, terasa dingin dan bergetar.
Riko hanya tersenyum kikuk kearah perawat itu.
"Silakan bapak adzani putra bapak." setelah berucap perawat itu kembali ke tempatnya semula.
Riko pun menuruti perkataan perawat itu dan langsung mengadzani putranya.
Riko pun mengembalikan putranya pada perawat tersebut setelah dia selesai mengumandangkan adzan di telinga kanan putranya.
Dengan sigap perawat itu mengambil alih bayi mungil itu yang wajahnya terlihat sangat damai.
"Silakan bapak keluar dulu!! Pinta perawat itu lagi, Karena memang mereka masih harus melakukan sesuatu pada Citra yang masih terbaring lemah di brankar rumah sakit.
Riko mengangguk pelan, pandangannya kini tertuju pada wanita cantik yang masih terbaring lemas.
"Aku keluar dulu yah!" tuturnya lembut saat tubuhnya sudah berdiri disamping istrinya.
Citra hanya mengangguk pelan, detik berikutnya Riko mengecup kening istrinya untuk kesekian kalinya sebelum akhirnya dia melesat keluar meninggalkan ruangan.
Dua manusia yang sudah berumur setengah abad itu, tersentak saat mendengar suara pintu terbuka. Pandangan mereka terangkat menatap pria tampan baru saja keluar dari ruang bersalin itu.
"Bagaimana keadaan anak istri kamu sayang?" Tanya wanita itu dengan tidak sabar saat kakinya sudah berdiri di depan Riko.
"Alhamdulillah, mereka semua baik-baik saja mah! anak aku lahir dengan sehat dan segar, dan Citra juga baik-baik aja mah! hanya lemas saja."
"Alhamdulillah!! beo kedua orang tua itu bersamaan setelah mendengar penuturan Riko.
"Cucu papa cowok atau cewek?" kali ini Pria berumur namun masih terlihat tampan bertanya antusias.
"Cowok pah, dia tampan seperti aku." tuturnya dengan pujian untuk dirinya sendiri.
"Jangan lupa!! wajah tampan kamu itu asalnya dari papah!!. ketusnya lagi membuat semuanya tertawa.
"Papah kamu ini terlalu kepedean Rik." sergah Ayu cepat membuat pria tinggi itu langsung cemberut.
"Itu memang benar mah." cetus Riko membela papahnya. Dengan bangga Indra mengacungkan jempol bangga kearah Riko.
Riko tidak salah, dia berkata jujur, meskipun sudah berumur papahnya itu masih terlihat tampan.
"Mamah kamu ini memang kadang tidak pandai bersyukur, jika papah tidak tampan, mamah tidak mungkin tertarik kepada papah." Cercanya pada istrinya membuat Riko dan Indra kembali tertawa.
Sementara objek yang jadi bahan tawa mereka sudah menatap sinis mereka.
Riko merangkul mamahnya dengan hangat, saat menyadari mamahnya ini tengah kesal "Tenang saja, mamahku ini juga sangat cantik." pujinya, yang berhasil membuat mamahnya tersipu malu dan salah tingkah, sebuah pukulan berhasill mendarat di dada bidang Riko membuat Riko mengeluh.
Detik berikutnya gelak tawa dari suara berat kedua pria itu lepas begitu saja saat puas mengerjai wanita yang berstatus istri dan juga ibu itu.
Di tengah suasana yang harmonis itu, tiba-tiba raut wajah Riko berubah menjadi penasaran.
"Pah, mah!! bagaimana dengan mamah Ratna dan Papah Bram? tanyanya.
Riko merasa khawatir karena memang dia belum mengabari mereka.
"Kamu tenang aja Rik, tadi papah sudah menghubingi mereka saat papah dalam perjalanan kesini, dan mungkin saja saat ini mereka sudah tiba di Jakarta." tuturnya membuat Riko mengangguk pelan merasa lega.
"Oh yah Rik!!
Pandangan Riko tertuju pada papahnya, dahinya mengernyit saat melihat ekspresi bingung papahnya.
"Ada apa pah? Tanya Riko penasaran.
"Tadi!! saat papah baru tiba di rumah sakit, papah tidak sengaja melihat Romi dan Doni berlari dengan sangat cepat masuk ke dalam rumah sakit- Dia menjeda kalimatnya sesaat saat dia teringat sesuatu. Sementara Riko dan Ayu sudah memasang wajah penasaran.
"Papah melihat Romi berlari dengan ekspresi yang sangat ketakutan begitupun dengan Doni. sambungnya kemudian menatap Riko dengan tatapan yang masih bingung, begitupun dengan Riko, dahinya mengkerut, bola matanya mengerjap berusaha mencari tahu, apa yang mereka lakukan disini dan kenapa mereka berlari dengan ketakutan. pikirnya.
"Apa terjadi sesuatu pada mereka."
Suara lembut disertai sentuhan lembut di lengan kanannya, menyadarkan Riko dari pikirannya. Kepalanya menggeleng pelan tanda tidak tahu!! untuk menjawab pertanyaan mamahnya.
-tbc-
__ADS_1