Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Tiga Tujuh "TSJC"


__ADS_3

Rumah Sakit Singapura


Setelah Mama Ayu berbicara dengan bi Ina, dia merasa khawatir dengan keadaan Citra karna dia paham betul dengan sifat anaknya yang sangat cuek dan dingin itu. Riko tidak mungkin mau membujuk Citra duluan apalagi sampai meminta maaf.


Mama Ayu melirik Papa Indra yang sedang tidur, kemudian dia keluar dari ruangan dan menelfon mama Ratna lalu menceritakan semua apa yang bi Ina ceritakan tadi.


Mama Ayu dan Mama Ratna sepakat untuk membujuk mereka kemudian merencanakan sesuatu untuk mereka berdua.


Skipp.


Rumah Riko


Riko kembali ke rumahnya untuk menenangkan pikirannya sambil memeriksa berkas-berkas penting di komputernya.


Riko terlihat tidak fokus dengan pekerjaannya, dia terus memikirkan perkataan Citra.


"Jangan kasi aku harapan, kalau kak Riko ngga suka sama aku.." kata Citra.


"Apa maksud dari perkataannya itu, gue kan cuma khawatir sama dia, kenapa dia tiba-tiba nangis, dan apa salah gue,, siapa juga yang ngasih dia harapan.. Apaan sihh.." gerutu Riko kesal.


Riko mengacak-acak rambutnya karna frustasi memikirkan Citra, dia kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sambil menutup matanya untuk menenangkan pikirannya.


Tiba-tiba ponselnya berdering, Riko kemudian meraih ponselnya dan melihat ternyata mertuanya yang menelfonnya. Riko terkejut saat melihat mertuanya menelfon, dia menjadi panik, karna dia fikir Citra sudah menceritakan semuanya ke mamanya.


"Gawaattt,, gue harus bilang apa.." gumam Riko panik.


Riko menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya kasar.


"Lo tenang Rik,, lo santai aja.." gumam Riko lalu mengangkat telfon mertuanya.


"Halo mahh.." sapa Riko sopan.


"Halo sayang,, kamu lagi sibuk yah,, kok angkat telfon mama lama sih." ucap mama Ratna di seberang telfon.


"Bukan gitu mah,, tadi Riko di kamar mandi,, jadi angkatnya lama." ucap Riko ngeles.


"Ada apa mama nelfon, ngga biasanya, apa terjadi sesuatu?" tanya Riko cemas kalau misalnya memang ada sesuatu.


"Ngga, mama cuma pengen nelfon aja, soalnya tadi mama telfon Citra, tapi telfon mama ngga di angkat, kalian baik-baik saja kan." tanya mama Ratna yang membuat Riko salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kayaknya mama belum tau permasalahan kita,, sekarang gue harus bilang apa?" batin Riko cemas.


"Rikkk, kamu denger mama kan." ucap mama Ratna.


"I..iya mahh, Riko denger kok,, emmm, Citra lagi di dapur mah,, ponselnya dia silent makanya ngga kedengaran, dan kita berdua baik-baik aja kok mah." ucap Riko gelagapan karna terus menerus bohong.


"Gitu yah nak,, syukur deh kalau kalian berdua akur. Nak, mama mau minta maaf sama kamu,, kalau misalnya Citra ngerepotin kamu bikin kamu susah, mama minta maaf sekali." ucap Mama Ratna membuat Riko bingung kenapa tiba-tiba mertuanya bicara seperti itu.


"Maksud mama apa?, Riko ngga ngerti, kenapa mama harus minta maaf." ucap Riko bingung.


"Riko, mama ingin kasi tau kamu sesuatu tentang Citra. Citra itu sebenarnya anaknya dewasa, ceria, baik dan penyayang. Hatinya sangat lembut dan dia sangat kuat, dia juga bisa menjadi pendengar yang baik. Tapi di lain sisi dia bisa berubah jadi sosok wanita yang manja, wanita yang rapuh, tiba-tiba dia nangis karna dia tidak bisa mengungkapkan isi hatinya sendiri. Jadi kalau misalnya suatu saat dia seperti itu,, mama mohon sama kamu Rik, jangan sekali-kali kamu kasar sama dia, karna itu akan semakin melukai perasaannya. Mama minta kamu sabar menghadapi dia dengarkan saja perkataannya, dia cukup di dengarkan maka hatinya akan baik kembali." ucap Mama Ratna panjang lebar dan membuat Riko berfikir keras dengan perbuatannya tadi pagi terhadap Citra. Dia menyadari kalau ternyata dia salah karna sudah bertindak kasar dengan Citra.


Di sisi lain

__ADS_1


Rumah Riko.


Citra sudah mulai tenang, dia kemudian berdiri di depan cermin lalu memandangi wajahnya yang berantakan di tambah dengan matanya yang bengkak.


Citra merasa dia sangat bodoh sudah menangis seperti itu tadi pagi, dia kemudian memberikan pencerahan terhadap dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal-hal bodoh itu lagi, sudah cukup dia sakit hati karna laki-laki. Dia juga memberikan motivasi terhadap dirinya sendiri untuk berhenti menyukai Riko dan fokus untuk kuliah. Supaya saat masa kontrak mereka habis dia tidak rugi menjadi janda, toh pendidikannya sudah terpenuhi.


Citra menatap wajah semangatnya di cermin dan yakin dengan keputusannya.


"Fighting." teriak Citra menyemangati dirinya sendiri, dia hendak melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Citra kemudian mengambil ponselnya di atas lemari nakas lalu melihat ternyata mertuanya yang menelfon.


"Kok mama Ayu nelfon, ada apa?" batin Citra bingung, dia kemudian mengangkat telfon dari mertuanya.


"Halo mahh.." ucap Citra lembut.


"Halo sayang,, emmm suara ini, sudah sangat lama mama ngga dengerin suara manis menantu mama, mama sangat kangen sama kamu Cit." ucap Mama Ayu di seberang telfon.


"Hehe iya mah, Citra juga kangen sama mama, oh yah mah, gimana keadaan papa dan mama di sana, apa mama baik-baik saja, kalau papa gimana apa sudah ada perubahan?" tanya Citra khawatir.


"Emmm, iya sayang mama baik dan papa sekarang juga udah mulai membaik, tapi belum boleh di ijinin pulang sama dokter." ucap mama Ayu lembut.


"Kalau kamu sama Riko gimana sayang, kalian baik-baik aja kan, Riko ngga kasar sama kamu kan sayang?" tanya mama Ayu lagi.


"Ehhh, ngga kok mah, kita baik-baik aja, dan juga kak Riko ngga kasar kok sama aku mah." ucap Citra berbohong.


"Syukur deh kalau kayak gitu,, mama sangat berharap hubungan kalian selalu baik-baik saja. Cit, kamu harus sabar yah menghadapi sifat Riko, yang cuek, dingin. Sebarnya Riko itu anak yang baik sayang dia lembut, cuman kayak gitu sifatnya kadang-kadang. Tapi kalau kamu udah kenal sama dia, mama yakin kamu pasti menemukan sisi perhatian dan sisi hangatnya Riko." ucap Mama Ayu.


Setelah beberapa menit pembicaraan antara Mama Ayu dan Citra selesai. Begitupun juga dengan Mama Ratna dan Riko.


Tanpa mereka sadari bahwa bi Ina yang membocorkan semuanya.


Skipp...


Rumah Riko


Setelah berbicara dengan mertuanya Riko semakin sakit kepala, dia juga semakin khawatir sama keadaan Citra sekarang.


"Apa gue yang salah." batin Riko khawatir


Riko kembali menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sambil memijit-mijit kepalanya karna merasa pusing.


Tiba-tiba ponselnya kembali berdering dan itu adalah panggilan dari mamanya. Riko melirik ponselnya dan melihat mamanya yang menelfon.


""Apa lagi sekarang." gumam Riko frustasi.


Riko meraih ponselnya lalu membuang nafasnya dengan kasar, kemudian mengangkat telfon dari mamanya.


"Iya mah.." ucap Riko lemas.


"Kamu kenapa nak, kenapa kamu lemes bicara sama mama." ucap mama Ayu kecewa.


"Riko lagi pusing mah,, mikirin kerjaan Riko, Riko juga capek mah, Riko baru pulang dari Amrik semalem." ucap Riko lemas.

__ADS_1


"Kamu pusing mikirin pekerjaan kamu, atau pusing mikirin Citra." ucap Mama Ayu.


"Maksud mama apa sih?" tanya Riko tidak mengerti.


"Mama udah tau semuanya Rik dari bi Ina, kamu udah bikin Citra nangis." ucap mama Ayu.


"Siapa yang bikin Citra nangis mah,, dia nangis sendiri, Riko ngga ngapa-ngapain dia." ucap Riko membela dirinya.


"Rik, kamu itu ngga tau dia itu nangis bukan karna kamu melukain fisiknya tapi perasaannya." ucap mama Ayu.


Riko semakin bingung dengan perkataan mamanya dia ingin membela dirinya tapi mamanya terus memberikan pencerahan kepadanya dan Riko hanya jadi pendengar.


Mama Ayu menceritakan kejadian di rumah sakit saat bi Ina dan Citra bertemu dengan Rani. Dan Rani mencoba memanas-manasi Citra membuat Citra cemburu, karna Rani tau kalau mereka sudah menikah.


"Mah,, ngga mungkin Citra nangis karna masalah kak Rani, semalem dia baik-baik saja mah, dann....


Perkataannya terputus saat Riko mengingat, bahwa tadi pagi ternyata dia menerima telfon dari Rani, dan apa mungkin Citra mendengar pembicaraan mereka lalu menangis karna itu. Batin Riko.


"Rik.. Riko.." Panggil mama Ayu karna Riko tidak melanjutkan perkataannya.


"Iya mahhh.." ucap Riko merespon mamanya.


"Kenapa kamu tidak melanjutkan perkataan kamu nak,, dann.. dan apa?" tanya mama Ayu penasaran.


"Ngga ada kok mah.." ucap Riko datar.


"Sayang,, mama udah kenal sifat kamu,, tapi sekarang status kamu berbeda nak, kamu sudah menjadi kepala keluarga, jadi kamu ngga boleh egois, kamu harus bisa merubah sifat kamu nak. Kamu harus bisa memahami bagaimana sifat wanita. Wanita itu sifatnya sensitif sayang karna dia lebih mengedepankan perasaannya di bandingkan dengan akal, jadi wajar kalau sedikit saja hal-hal sensitif akan membuat dia mudah tersinggung. Jadi mama mohon supaya kamu mau memahami Citra, meminta maaf duluan tidak akan menjatuhkan harga diri kamu, karna kamu yang salah." ucap Mama Ayu menasehati.


Riko tidak merespon mamanya, sekarang dia semakin frustasi karna mendapat pencerahan dari ibu-ibu.


"Rik, kamu dengerin mama kan?" tanya mama Ayu.


"Iya mah, Riko denger kok." ucap Riko datar.


"Ya udah, kamu dimana sekarang?" tanya mama Ayu.


"Riko di rumah Riko mah." ucap Riko datar.


"Kamu ninggalin Citra di rumah mama, sementara kamu di rumah kamu." ucap Mama Ayu memarahi Riko.


"Nanti sore Riko jemput Citra mah, lagian Riki masih ada pekerjaan yang harus Riko selesain, dan semuanya ada di komputer Riko." ucap Riko.


"Ya udah,, ingat kamu kamu harus bersikap baik sama Citra, kamu ngga mau kan kalau papa sampai tau masalah ini, jadi kalian harus segera berdamai." ucap Mama Ayu mengancam.


"Iya mah." ucap Riko lemas.


Lalu pembicaraan mereka pun berakhir. Kepala Riko terasa berat di serang 2 wanita sekaligus, yaitu mamanya dan mertuanya. Dia kembali berfikir perkataan apa yang di lontarkan Rani dan membuat Citra secemburu itu, dan Riko ngga percaya kalau ternyata Citra cemburu karna Rani.


Riko tersenyum bahagia, karna Citra cemburu itu artinya Citra ada sesuatu terhadapnya. Batin Riko lalu senyum-senyum sendiri.


Kemudian dia kembali memikirkan bagaimana cara dia untuk berdamai dengan Citra.


Sementara Citra yang sudah kembali ceria seperti biasanya dan yakin akan tidak menyukai Riko. Sedang membuat kue dengan bi Ina dengan riang.

__ADS_1


Bi Ina semakin bingung dengan tingkah Citra yang kembali normal seperti tidak terjadi sesuatu padahal matanya masih bengkak.


"Bagaimana bisa non Citra langsung melupakan kejadian tadi pgi, sementara bibi masih khawatir sampai sekarang, apa non Citra ngga lagi sakit." batin bi Ina bingung sambil terus menatap Citra.


__ADS_2